Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD19. Trauma Keith


__ADS_3

“Iya, biarin. Dia punya hak untuk milih, toh aku pun tak bisa janjikan untuk cepat nikahi,” jawab Keith, ketika aku mampu mendengar suaranya yang tengah mengobrol dengan Putri.


Mereka menoleh secara bersamaan padaku yang sudah rapi dengan selera pakaian yang Keith sukai. Aku selalu menyesuaikan pakaian yang cocok dengan pasangan kencanku, tentunya cocok dengan kenyamananku juga.


“Aku tinggal dulu ya, Put? Mobil putih itu taksi online yang udah aku pesan.“ Keith mengajakku untuk meninggalkan Putri.


Putri hanya mengangguk, ia hanya diam dengan pandangan yang sulit aku artikan. Aku tidak mengerti maksud dari pandangan seperti itu, ia seperti tidak percaya atau seperti heran mungkin.


“Aku mau singgah di resto khas makanan daerah sini, taksi itu nanti antar kita ke sana. Kau rekomendasikan makanan yang menarik ya dari menu nanti, aku tadi makan di mamah sengaja tak banyak.“ Keith membukakan pintu mobil untukku.


Aku hanya mengangguk. Aku duduk manis dan menunggu Keith masuk dari pintu sebelahnya, kami duduk beriringan. Padahal, tadi aku berharap Keith bercerita tentang obrolannya dengan Putri. Bukan tentang resto dan makanan.


“Kau mau beli barang apa, Ria?“ Keith paham menjaga jarak di depan umum.


Jika tidak ada orang, ia selalu menempel denganku. Bahkan, ketika sedang duduk sekalipun. Saat berkendara pun, ia sering kali mengusap lututku dan menggenggam tanganku. Ia cukup romantis, sayangnya ia belum memiliki niat untuk menikah.

__ADS_1


“Ini barang baru aku, beli kemarin.“ Aku menunjukkan tas yang dibeli dengan menggunakan uang bang Ken.


“Bagus, nampak mewah. Mau yang serupa? Atau lain warna aja?“ Keith bukanlah orang yang pelit.


“Aku butuh alas kaki baru, Keith. Aku butuh yang hills-nya tiga centi aja, untuk ganti-ganti kerja nanti.“ Pandanganku tertuju ke arah alas kakiku.


“Boleh, abis makan nanti ke swalayan. Steva lagi ada perjalanan bisnis ke Eropa, aku nitip sepatu sama tas untuk kau. Katanya sih nanti lusa pun dia datang, kau harus kenalan sama dia, kecakapan kerjanya perlu diacungi jempol.“ Dia benar-benar terbuka dalam segalanya, bukan cuma pakaiannya saja padaku.


“Steva tak marah kau beli barang buat aku?“ Aku teringat jika si Steva itu yang diajaknya dinner beberapa waktu lalu.


“Dia pacar kau.“ Aku tertunduk saat menjawabnya.


Entah, apa yang aku rasakan. Aku merasa tidak beruntung saja karena Keith mudah untuk menerima orang baru.


“Kau tak mau, bukan berarti aku cari yang lain. Sekali lagi, aku belum siap untuk nikah. Kau tau, kalau mobil aku masih kredit kan? Rumah aku belum lunas, furniture aku masih banyak yang aku beli dengan kredit. Aku khawatir bayaran aku tak cukup untuk biaya hidup kita berdua nanti, karena cicilan aku masih belum bisa aku atur. Dari galeri pun, belum ada penjualan yang berarti. Aku masih merintis, kawan-kawan aku pun sama. Sedangkan kau tau, penikmat lukisan itu sangat sedikit sekali. Meski mereka berani beli mahal, tapi keberuntungan belum hinggap di diri aku.“ Keith berbisik dengan kepala yang tidak begitu dekat denganku. Hanya seperti wajahnya saja yang menoleh ke arah wajahku yang tidak menghadap padanya.

__ADS_1


“Aku udah tak berharap sama kau lagi, Keith.“ Aku tidak mengerti, kenapa mulutku tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.


“Aku tau, Ria. Silahkan cari yang cocok, tapi laki-laki yang tak punya ikatan kek aku juga. Aku tak maksa kau harus terpaku sama aku, aku tak maksa kau harus nunggu aku mampu atur cicilan aku sendiri. Aku ngerti kau udah waktunya untuk menikah, silahkan cari yang lain kalau memang tak mau nunggu aku yang tak jelas kapan nikahin kaunya.“ Suara Keith seperti menghantarkan kesedihan.


“Kau bilang begitu, karena kau udah pernah menikah ya? Jadi kau tak menggebu-gebu lagi begitu?“ Lihatlah, ia malah tertawa.


“Mungkin, tapi agak geli juga dengar kalimat yang kau susun. Dulu waktu aku punya istri, kau bayangkan malunya jadi aku yang rutin nidurin dia, tapi tak mampu ngasih makan dia. Bahkan, aku dikasih makan sama mertua. Sindiran tajam orang tua mantan istri aku gini, j****y aja dibayar. Mereka bilang begitu, setelah anaknya aku buat mend****. Aku keluar kamar, cuci kan. Nah, mereka belum tidur dan bilang begitu. Teringat aja sampai sekarang, jadi kek buat trauma sampai sekarang.“ Keith menghadap padaku dan seseorang menunduk.


“Terus kau gimana setelah itu?“ tanyaku lirih.


“Aku masih sekolah, Ria. Aku tak bisa kerja, aku tak punya keahlian apapun. Aku punya istri itu, masa aku masih SMA kelas tiga semester dua. Kan tanggung kalau berhenti, aku mau lulus. Kalau istri aku masa itu SMA kelas satu, dia berhenti setahun, terus di tahun depan dia daftar sekolah lagi di tempat yang agak jauh, yang tak tau tentang masa kelam dia. Jadi pas aku dibilang begitu, ya besoknya aku pulang sekolah tuh mampir ke orang tua dulu, aku minta uang untuk kebutuhan susu dan jajannya Via. Tiap hari aku bujuk Via untuk ikut aku di orang tua, tapi Via tak mau. Saking tak kuatnya dengan banyak sindiran orang tua Via, aku milih tinggal di rumah orang tua aku, dengan aku rutin kasih jajan ke Via dari minta orang tua aku. Dia cerita tuh, aku stress, aku kesepian, aku butuh daeng, tapi aku udah terlanjur sakit hati gitu. Aku tetap tak mau pulang ke rumah orang tua Via, sampai akhirnya Via ngeluh kalau perutnya tak ada pergerakan. Aku bawa dia periksa, terus katanya memang bayi kami udah tak tumbuh, dia meninggal di perut pas kandungan delapan bulan kalau tak salah. Via dioperasi kan itu, karena tak ada dorongan dari bayi untuk persalinan normal. Terus tak lama setelah itu, surat cerai datang ke rumah. Padahal aku urus sama Via tuh, aku nemenin Via di RS, aku urus dia pasca operasi, aku urus jenazah bayi kami juga. Aku merasa, aku udah tanggung jawab. Tapi, tanggung jawab menurut orang tua itu ya menafkahi. Intinya, tentang uang. Itu yang orang tua inginkan dari suami anaknya, anaknya tercukupi dan tidak kekurangan apapun dalam hal materi. Aku belajar dari situ, biar nanti menikah lagi aku tak gelagapan kek dulu lagi.“ Baru pertama kali ini Keith bercerita tentang masa lalunya dengan gamblang.


Perhatianku terkunci pada Keith yang sangat ekspresif dalam bercerita. Ekspresinya begitu pas, dengan gerakan tangannya yang seolah begitu tersakiti dengan keadaan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2