Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD70. Luka masa kecil


__ADS_3

“Aku ada perjalanan bisnis sama Keith, Bang.“ Aku menarik tanganku dari hangatnya kepalan tangannya.


“Oh ya? Ke mana? Berapa lama Abang nunggu?“


Aku seperti melihat harapan besar di matanya. Tapi, aku tidak boleh terbawa sorot yang penuh harap itu. Karena ia berhasil memperdayaku dengan sorot seperti itu.


“Abang tak perlu tunggu aku, cari aja perempuan lain. Abang benar, aku terlalu murah, sampai-sampai datang dan menghidangkan diri.“ Aku tersenyum getir.


“Lupain, Bang. Benahi kehidupan kita masing-masing, kita masih keluarga kan?“ Aku begitu sakit memasang senyum selebar ini.


Kalian tahu, aku tengah berusaha menahan air mataku.

__ADS_1


“Kau ngomong apa, Dek? Kau tau Givan angkuh, kesombongan harus dibalas dengan kesombongan lagi.“ Ia mencoba membingkai wajahku. “Kau jangan kemakan omongan Givan.“ Ia mengusap-usap pipiku dengan ibu jarinya.


Aku menepis tangannya. “Apa harus menyombongkan diri dengan merendahkan pasangan? Aku punya hati, Bang. Aku tak bisa dengar pasangan aku merendahkan diri aku sendiri, untuk tetap menjaga wibawa dirinya. Aku berharap, Abang merendahkan diri untuk dapatkan restu, jaga marwah aku. Bukannya kek gitu, Bang.“ Aku bukanlah orang yang pandai menyimpan unek-unek sendiri.


“Sekarang, aku mau fokus tanpa Abang. Tapi, perjuangan Abang akan dipertimbangkan selama enam bulan mendatang. Setelahnya, mungkin kita benar-benar tak akan pernah jadi kita kalau memang Abang tak mau ngalah dari bang Givan. Karena Abang berpendapat, sombong dibalas sombong. Masalahnya, Abang bukan sombong. Abang itu meninggikan diri, dengan merendahkan orang lain. Kalau memang mau sombong, ya sombongkan diri sendiri tanpa menjatuhkan orang lain. Aku paham misal sombong ke orang sombong itu terhitung sedekah. Tapi, itu Abang merendahkan aku, menyombongkan diri dengan merendahkan orang lain, jelas itu nyakitin aku. Kalau memang mau lawan bang Givan, ya tunjukkan kalau Abang lebih unggul dari dia di bidang yang dia kuasai. Kalau memang mau sombong ke dia, tunjukkan kalau Abang bisa lebih dari yang dia cela tentang Abang. Bisnis dia luar biasa, ya tunjukkan kalau Abang pun mampu bergerak di bidang bisnis lebih cakap dari dia. Bukan merendahkan aku dan membanggakan diri karena berkata bahwa aku sebodoh itu. Bang Givan hilang respect sama Abang. Kalau umi Sukma kuat bepergian jauh pun, mungkin bang Givan tak akan datang ke sini. Abang tuh selalu mengolah segala sesuatunya tak betul, Abang keknya bermasalah. Entah itu otak Abang, mental Abang, atau hal lain yang berhubungan dengan prinsip Abang. Mungkin benar Abang butuh psikolog, biar tak banyak ngelukain banyak hati lagi. Udah salah, ngerasa paling benar dan susah diberi paham. Hiduplah dengan diri sendiri aja, kalau memang tak mau dengar nasehat dan pendapat orang lain. Apalagi, Abang ini kan memang tak bisa hargai orang lain. Ya udah, hiduplah dengan kemandirian Abang sendiri dan perasaan Abang sendiri. Ambil anaknya, besarkan sendiri. Jauhi kerabat dan keluarga, hiduplah tanpa sosialisasi.“ Percayalah, ini adalah gabungan kekesalanku padanya.


“Kau cuma paham menilai, Dek. Kau tak akan tau, kenapa seseorang bisa sampai menjadi kek gini. Jangan merasa paling tersakiti, kau tak tau gimana sakitnya perasaan Abang.“ Ia menunduk sendu.


“Masa kecil.“ Ia menghela napasnya setelah mengatakan hal tersebut.


Aku terdiam, aku memperhatikan wajahnya yang tengah berpaling ke arah lain. Memang bisa, masa kecil menjadikan orang sebaj*****n sekarang? Memang bisa, masa kecil membuat orang sesombong itu dan mudah merendahkan orang lain?

__ADS_1


“Kau tak akan tau rasanya ditinggal sendirian tengah malam di rumah yang besar. Dari tengah malam sampai Subuh, Abang cari sosok wanita yang jadi panutan Abang. Dia tak ada di rumah, dia ninggalin rumah, dia ninggalin anaknya tanpa dititipkan ke siapapun. Bahkan, abi pun tak tau kalau Abang sendirian di rumah tanpa ibunya. Stop berpendapat benar tentang diri sendiri dan pendapat sendiri. Kau tak akan tau luka orang lain, kau tak akan paham perjalanan dan pengalaman hidup orang lain. Meski Abang akhirnya tau pokok permasalahan dan alasannya, tapi Abang terlanjur jadi laki-laki yang punya pengalaman buruk tentang perempuan. Adanya Abang di sini pun, karena ingat alasan di balik perginya umi selain memang ingin berbakti ke orang tua.“


Aku tertegun. Antara tidak percaya dan tidak menyangka, ternyata ia tumbuh dengan kondisi paham yang salah. Kenapa tidak ada yang meluruskan hal itu sejak ia kecil?


Ia tumbuh menjadi seorang laki-laki yang ingin membalas dendam dan menyakiti perempuan, karena ia merasa tersakiti oleh perempuan. Jadi, apa sebaiknya diberitahu sejak dini semisal orang tuanya memiliki konflik? Tapi kan, itu tidak baik untuk pertumbuhan psikisnya juga. Namun, jika dibiarkan dengan pemahaman sendiri pun, pasti akan salah kaprah juga seperti bang Ken.


“Abang harus berubah. Mau berapa perempuan lagi? Mau nyakitin berapa banyak hati lagi? Abang udah tua, ingat umur. Abang pun harus ingat, ada Bunga anak perempuan Abang. kalau Abang tak tengok aku, karena aku cuma mainan Abang. Tapi coba tengok anak perempuan Abang, gimana kalau di masa mendatang dia jadi korban dari laki-laki kek Abang. Memang Abang pasti merasa tak menyakiti, Abang pun pasti merasa benar, tapi nyatanya Abang menyakiti dan mempermainkan wanita. Abang ngelakuinnya mungkin secara tak sadar, karena Abang pernah terluka dengan kejadian ditinggal umi Sukma sendirian. Asal Abang paham aja, kalau pola pikir Abang itu banyak yang harus dibenahi. Maaf, maaf. Tentang freechild juga, Abang bisa ambil pendapat lain. Kalau semua orang berpikir kek Abang, keturunan manusia bisa punah. Daripada Abang mikir, nanti anak gak punya ayah, gak punya panutan, gak punya wali nikah dan gak punya dana untuk masa depan pendidikannya. Lebih baik berpikir dan siapkan dana untuk masa depannya, investasi untuk kehidupan anak dan istri Abang setelah Abang tinggalkan. Karena yang mati dalam ketakutan Abang itu cuma Abang kan? Istri Abang dan keturunan Abang pun tak langsung mati masa Abang dicabut nyawanya kan? Mereka tetap melanjutkan kehidupan mereka masing-masing, istri Abang bertanggung jawab sebagai orang tua tunggal dan urus harta dan investasi yang Abang tinggalkan untuknya dan anak-anak Abang. Anak-anak Abang pun, tetap akan lanjutkan pendidikannya dan masa depannya meski tanpa Abang. Bang Ghifar dulu memang terpuruk, sampai enam bulan malah. Tapi kan setelah itu dia bangkit, bahkan dia nikah lagi sampai dua kali. Dia pun tetap punya keturunan lagi, meski bukan dari dalam rahim almarhum kak Kin. Artinya, kematian itu untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Pasti mereka berduka, satu dua hari, atau satu dua tahun. Tapi di samping kedukaannya, mereka tetap lanjutkan kehidupan mereka kan? Aku mencoba menyadarkannya dan menggali potensi untuk perubahannya.


Setidaknya, aku berharap ia datang dengan prinsip yang sudah berbeda. Aku paham, pasti logika laki-laki itu berjalan seperti yang bang Givan katakan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2