
“Kau tau dari mana?“ Aku berbisik pada Alfonso.
“Dari dia, kemarin itu.“
Ohh, saat bang Ken menghampiri Alfonso di depan tempat mesnya itu? Jadi, bang Ken berkoar bahwa aku istrinya? Setelah saat di masjid, ia mengklaim bahwa kami masih suami istri. Kini, ia malah mengaku pada orang-orang bahwa kami menikah.
Memang itu benar, tapi kan lama juga ia tidak memberiku nafkah lahir. Yang menurutku, dengan itu saja kan kami bercerai.
“Kau percaya sama dia, Fonso?“ Aku menarik lengannya lebih erat.
Ia melirikku sekilas. “Ada buktinya, Ria. Kau jangan gila lah! Kau pergi dari suami kau.“
Kami mempertahankan berbisik-bisik.
Hufttt, sangat mengurus kesabaran.
“Kau harus tau, bahwa ada aturan agama dalam pernikahan. Ia tak memberiku untuk kebutuhan hidupku, bisa dikatakan kami resmi bercerai,” jelasku sedikit emosi.
Alfonso mengedikan bahunya. “Terserah kau lah, Ria. Jangan bawa-bawa aku dalam masalah kau, aku cuma teman kau.“
Benar juga sih.
“Tapi aku tak mau mau salah paham, Fonso!“ Aku tidak ingin menariknya dalam permasalahanku juga sebenarnya, hanya saja aku tak mau terlihat salah di matanya.
“Udah tau juga kek mana sebenarnya.“ Setelah itu, ia meminum air mineral kemasan botol.
__ADS_1
“Kek mana memang?“ Aku makin merapat ke Alfonso.
Alfonso menoleh ke arahku, ia memperhatikan wajahku beberapa saat. “Bayi kau buat aku risik, bisa tak perut kau tak nempel ke tukang rusuk aku?!“
Aku tertawa geli.
Aku merasa asing dengan bang Ken, tapi merasa biasa saja dengan Alfonso. Ia menahan tawa, saat melihatku mentertawakannya. Aku tidak sadar, jika bayiku aktif bergerak. Karena biasanya, ia aktif bergerak di malam hari. Apa karena ia merasa dekat dengan ayahnya saat ini?
Hmm, tapi akan aku ajari bahwa yang di samping kiriku bukanlah ayahnya. Tak apa dosa, dosa-dosa seberapa. Ia pun tidak mengakui bayiku sebagai anaknya.
“Bersalin di mana, Dek? Di sini kah di Aceh?“ Bang Ken menyentuh punggung tanganku.
Aku tak berniat menjawab.
Aku bangkit, kemudian meminta jalan pada Alfonso. Aku ingin pulang saja jika begitu, aku risih dengan keberadaan bang Ken di sini.
Benarkah? Biasanya, mommy menghubungiku langsung.
“Apa aku boleh ikut?“ Bang Ken sok akrab sekali.
“Ohh, maaf. Ibuku cuma ngundang Ria, karena Ria teman belanja ibu.“
Aku merasa Alfonso melakukan improvisasi.
“Tapi aku butuh waktu untuk ngomong sama Ria.“ Bang Ken ikut bangkit juga, saat Alfonso meninggalkan bangku kantin.
__ADS_1
“Mungkin lain waktu ya? Saya permisi dulu.“ Alfonso berjalan mendahuluiku. Sontak saja, aku lekas mengikutinya. Daripada nanti akhirnya aku ditarik dan disekap bang Ken, aku kena mental bisa-bisa.
“Alfonso…. Betulkah? Mommy tak ada bilang ke aku.“ Aku mencoba menyetarakan langkahnya.
“Nanti di bus aku kasih tau.“ Alfonso beberapa kali menoleh ke belakang.
Aku pun mengikuti arah pandangnya, ternyata bang Ken pun ikut melangkah tapi memang menjaga jarak dengan kami. Saat kami naik ke dalam bus pun, terlihat ia bergegas menaiki kendaraannya yang terparkir di bahu jalan.
Apa bang Ken mengikutiku terus nantinya?
“Aku punya firasat, kalau suami kau bakal ngekorin kau terus. Kalau kau pulang ke rusun, otomatis dia bakal gangguin kau terus di sana,” ungkapnya, saat bus melaju sedang.
“Dia tau aku ambil fakultas bisnis juga?“ Jika kemarin saat awal ia sering mengantar jemput di bulan pertama kuliah, saat itu aku mengemban pendidikan di bidang kesehatan. Jadi pasti ia tahu tempatku berada.
“Aku tak bilang kau sekarang di bidang bisnis juga. Sumpah mati, aku tak kasih keterangan yang mungkin membahayakan kau.“ Alfonso sampai mengangkat tangannya di atas kepalanya.
Aku menurunkan tangannya. “Memang dia ada dialog apa sama kau kemarin?“
Dengan ucapan Alfonso, aku curiga bahwa bang Ken banyak berbual pada Alfonso. Alfonso memang ember, tapi ada orang tuanya sendiri. Ia bahkan terima saja, jika teman-temannya memojokkanku dengannya. Ia memiliki alasan tersendiri. Saat aku tanya, ia mengatakan bahwa yang penting aku aman di rantau orang. Karena ia merasa memiliki seorang adik perempuan, ia khawatir ada orang lain menyebarkan aib adiknya, jika Alfonso tidak bersikap baik pada perempuan manapun.
“Dia bilang, bawa anak kau setelah Ria bersalin. Dia bilang, kau istrinya yang aku hamili. Dia pun bilang, tak mungkin anak yang dikandung kau itu anaknya, karena dia paksa kau konsumsi pil KB setiap berhubungan dengan dia. Dia yakin, kalau kau tak akan kebobolan. Karena profesinya dokter, dia paham dosis dan anjuran cara kerja pil KB darurat itu. Sebelum ini, aku kan udah pernah dengar dari kau bahwa kau dituduh berselingkuh dengan aku. Jadi aku tak kaget, masa dia nyangka bahwa anak kau itu anak aku. Cuma yang buat aku tak percaya. Dia ini dokter, kenapa dia kasih pil KB ke kau dengan paksaan. Kau tau, Ria? Ibuku juga pernah konsumsi pil KB, itu bukan karena paksaan, tapi kesepakatan antara ibu dan ayah aku untuk tidak memiliki anak lagi. Sampai akhirnya, di usia yang diizinkan, ibu milih untuk steril. Aku bukan sekolah di bidang kesehatan, obat-obatan, atau kedokteran. Tapi aku tau, kalau pil KB itu pasti mempengaruhi rahim seorang perempuan. Apalagi, kalau dikonsumsi sebelum dirinya punya anak. Kan ada resikonya, dokter di sini pun tidak mengizinkan hal itu. Untuk steril aja, di sini ada aturannya, yaitu di mana jika seorang perempuan sudah tidak berada di usia produktif lagi. Aku rasa, suami kau si dokter itu, perlu dilakukan pemeriksaan kejiwaan. Dia menyalahkan ilmunya menurut aku, atau setidaknya ia diberi sanksi aja. Karena dokter itu kan disumpah kan ya? Aku pernah dengar ini dari ayah.“ Alfonso sesekali menoleh, dengan gerakan tangannya yang membantu bahasanya. Karena ia menggunakan bahasa Inggris campur Brasil, untungnya aku sempat kursus dua bahasa itu.
Karena jika berbicara banyak seperti itu, banyak bahasa Brasil yang masuk ke bahasa Inggris yang ia gunakan ketika berbicara padaku. Karena apa? Karena meskipun sudah kursus, bahasa Inggris tetap tidak mendarah daging dalam pita suara kami. Bahkan, logat dan pengucapannya pun agak berbeda.
“Terus, kau balas apa?“ tanyaku dengan memerhatikannya sejak tadi.
__ADS_1
“Aku biarkan dia banyak omong. Dia tambahkan juga, bahwa aku harus bawa kau untuk persalinan sesar. Karena dia tak mau kalau anak orang lain, lahir lewat jalan lahir kau. Dia mau, cuma anak dua yang lewat dari jalan lahir kau. Aku berpikir, dia udah mendekati gila. Orang yang memiliki pengetahuan luas, pasti tau kalau melahirkan secara sesar itu lebih sakit dan lebih beresiko. Tapi dia malah pengen buat kau ngerasain bersalin dengan cara yang sakit begitu. Memang banyak cara semacam erach, saudara aku ada yang udah pernah soalnya. Tapi kan tetap tuh, ada kontrol satu, dua dan tiga. Di mana, mereka tak bisa benar-benar langsung sembuh. Karena mereka punya luka, di mana butuh waktu lama untuk sembuh. Yang artinya, berbekas dan sakitnya tidak akan habis dalam sekejap.“ Alfonso menghela napasnya, kemudian mengusap wajahnya kasar. “Dia dari sekarang, berencana untuk ambil kau dari aku. Tapi, dia juga berencana untuk pisahkan kau dengan anak yang kau kandung. Aku tak banyak cakap, aku cuma bilang, kalau rambut……
...****************...