
“Bran, suruh ngepel jongkok di kamar atau gimana tuh. Bukan Mamah bawel, biar bisa lahiran normal. Malas-malas kek Canda tuh, yang ada patuhnya,” tegur mamah Dinda, ketika Mariam diminta untuk membangunkan mbak Canda.
“Udah, Mah. Iya nanti aja jawabnya. Mariam cuci bajunya ngegilas gitu, Mah. Baju aku kotor-kotor, jadi katanya jongkoknya udah sekalian cuci baju aja. Jam tujuhan, orang udah pada tak pakai kamar mandi, dia kan sibuk di kamar mandi cuci baju aku yang kena cat, sama sekalian kosrek kamar mandinya. Barulah setelah itu dia masak-masak, repot berbenah. Pagi begini, masih uring-uringan dia untuk kerja.“ Gibran seolah menceritakan aktivitas istrinya yang tidak keluarganya ketahui.
“Memang kemarin tinggal di mana?“ Aku memiliki pikiran bahwa Gibran ikut mertua.
“Di sana, Kak. Awal nikah di sini, terus balik ke sana, barulah sebulan ini di sini. Aku tak betah di sana, waktu tinggal di sana juga, aku pulang kerja, atau makan tidur ya di sini. Nanti Mariam ke sini urus aku. Keluarga sananya tuh di sini aja, di sini aja gitu katanya. Tak bisa aku ikut orang lain, tak bebas mau makan mau apa juga.“ Gibran bercerita sampai mengerutkan keningnya.
Ternyata, rumah tangganya langsung mendapatkan konflik. Aku kira, ia terlihat harmonis seperti sekarang ini sudah dari awal.
“Doyan begadang, tidurnya siang kek kelelawar. Jadi malu lah tinggal sama orang lain,” timpal papah Adi dengan membalikkan tubuh Kirei agar bersandar pada bahunya.
Dot susunya telah dihabiskan. Kirei lebih tenang dan mulai mengantuk, tapi sebentar lagi aku akan membawanya ke rumah sakit untuk mengecek keadaan telinganya. Menurut informasi, umi Sukma dirawat di rumah sakit daerah terdekat. Jadi, aku berencana membawa Kirei ke rumah sakit lainnya saja agar tidak bertemu dengan ayahnya. Menurut mamah Dinda, sebaiknya aku mencoba menghindari bang Ken sampai akhirnya ia kaget sendiri jika aku dan Kirei sudah di sini. Entah bagaimana kejadiannya, jika akhirnya kami dipertemukan dengan ayahnya Kirei.
“Pengennya ngobrol aja, Pah. Aku canggung, aku tak punya topik. Belum lagi nanya aja, mau ke mana, mana ngelarang-larang lagi. Aku kan cari uang, untuk kebutuhan kita. Ditanya ini itu, kok aku risih gitu. Udah gitu, kebutuhan dapur disindir terus. Keteteran sedikit, harap maklum lah. Itu sih diomong tak enak, ya jadi hati aku ini. Kalau Mamah tak ke sana jemput Mariam, aku pun tak akan pulang-pulang untuk penuhi kewajiban aku ke Mariam.“ Raut kesal Gibran terlihat dari reaksinya ketika mengatakan hal tersebut.
Konflik pernikahan di awal? Ceritanya mirip sepertiku, tapi tentu beda kasus. Mereka hampir berpisah, tapi tidak berpisah karena campur tangan mamah Dinda yang menjadi orang tua Gibran.
“Mamah dibuang ibu Risa.“ Papah Adi melirik istrinya.
Ibu Risa itu siapa?
“Mana ada!“ Mamah Dinda menepuk lengan suaminya.
Suara sendawa Kirei terdengar, kami semua reflek mengucap alhamdulilah.
__ADS_1
“Jangan pulang-pulang lagi tak apa, yang penting bahagia di sana.“ Papah Adi menirukan suara lembut seseorang. “Abang masih ingat, waktu Abang bujuk Adek setelah Abang dipukul pakai botol sama Adek itu,” lanjut papah Adi dengan menarik dagu istrinya.
“Iya kasian betul papah sambung Gue, diusir berdarah-darah,” timpal bang Givan yang masih memeluk anaknya itu.
Cala anteng sekali, ia hanya memainkan bulu dagu ayahnya.
“Memang mertuanya galak kah, Bran?“ Aku mengajukan pertanyaan pada pengantin baru tersebut.
“Bawel, Kak. Banyak aturan, banyak tanya. Ini itu habis, bilangnya ke aku langsung. Ini itu mahal, bilangnya ke aku langsung. Tak ke Mariam aja tuh, tapi langsung ditembuskan ke aku. Aku pusing loh mikirin pembukuan toko yang masa itu tak sesuai modal, mana harus bayar orang lagi. Suruh ngecat begini, kan tak setiap hari ada juga. Tak betah aku di sana, karena orang tuanya begitu. Balik aku ke sini, mereka berkoar di tetangga.“
Ditambah lagi Gibran masih begitu mudah, masih besar ngambekanya.
“Hampir pecah rumah tangga mereka, Mamah langsung jemput dan minta Mariam untuk ikut Mamah karena anak Mamahnya keras begitu. Mariam tiap hari datang untuk suaminya juga, tapi dia itu pulang ke sana untuk orang tuanya. Tau harus berbakti sama orang tua, tapi dia anak perempuan yang udah milik suaminya. Mamah tekankan, Mamah kasih wejangan untuk tetap di sini dan sesekali nginep di orang tuanya. Di sini juga dia bukan ikut mertua, tapi ikut suami. Istri itu disebutnya ikut suami, bukan ikut mertua. Tapi karena suaminya belum mampu kasih hunian, ya tinggallah di orang tua. Mereka tak punya beras, mereka tak punya garam, kan Mamah sama Papah yang bertanggung jawab.“ Mamah langsung menyelesaikan kalimatnya, ketika Mariam datang dengan tergesa-gesa.
“Aku jadi pengen jadi mantu Mamah.“ Aku cekikikan dengan menempatkan kedua telapak tanganku di pipiku.
Aku pun hanya bercanda.
“Bang, kakak ipar demam.“
Detik itu juga, rombongan manusia berbondong-bondong ke sana. Semua orang menuju kamar Gibran, termasuk denganku juga.
“Sakit betul kepalanya, Mas.“ Mbak Canda meringis dengan wajah yang begitu merah.
Badannya panas, ia benar-benar demam tinggi.
__ADS_1
“Ke rumah sakit aja kah? Apa mau ke dokter dulu? Ada dokter praktek yang buka pagi.“ Bang Givan masih menggendong anak bungsunya.
“Yung….“ Cala sampai manyun-manyun.
“Biyung sakit, Sayang. Bawa berobat yuk?“ Bang Givan berbicara pada anaknya.
“Yuk.“ Imutnya suara Cala.
Kosa katanya belum banyak, tapi ia bisa berbicara sedikit.
“Rumah sakit aja tuh, sekalian bawa berobat Kirei.“ Mamah Dinda memijat telapak kaki mbak Canda.
“Makan dulu ya, Canda? Terus berangkat ke rumah sakit.“ Bang Givan merapikan rambut mbak Canda.
“Sama Mas.“ Mbak Canda sudah menangis saja.
“Iya, ayo bangun. Gibran udah pulang, barangkali dia mau tidur.“ Bang Givan membantu mbak Canda untuk bangkit..
Cala digendong oleh Gibran, sedangkan bang Givan mencoba membantu mbak Canda untuk bangkit. Mbak Canda sepertinya kelelahan, karena ia mengurus anakku juga. Ia memiliki bayi saja, ia tidak benar-benar mengurus bayinya sendiri. Sedangkan pada anakku, aku menggantungkannya karena aku tidak mengerti soal bayi.
Kami semua bahu membahu menyiapkan makanan sarapan untuk mbak Canda dan bang Givan, dengan kami pun ikut makan bersama. Hingga pukul tujuh pagi, kami langsung berangkat ke rumah sakit.
Sayangnya, aku lupa memperingati bang Givan untuk tidak datang ke rumah sakit daerah terdekat menurut saran mamah Dinda. Tapi, bang Givan terlanjur membelokan kendaraan ke rumah sakit di mana umi Sukma pun dirawat.
Aku khawatir berpapasan dengan bang Ken di sini. Aku takut ia melihatku di sini, aku takut ia mempermainkan hatiku lagi. Aku takut, ia membuat wacana yang membuatku tersudut dan menyalahkan semua kesalahan padaku.
__ADS_1
“Sini, Dek.“ Bang Givan menoleh ke arahku yang ketinggalan beberapa langkah di parkiran ini.
...****************...