
Hingga akhirnya, mereka mengawalku masuk ke dalam pabrik. Tidak ada mata yang tidak melihat, semua mata terarah ke arah kami. Pasti mereka berpikir macam-macam, apalagi di keluarga kami banyak yang menikah antar sepupu. Pasti gosip-gosip baru bermunculan, dengan subjek keluarga teungku haji.
Cali ikut denganku, tetapi ia berada dalam gendongan ayahnya. Semata-mata, agar Cali mau tenang dan akrab dengan ayahnya sendiri. Gavin pun terlihat cukup senang, karena anaknya berada di dekapannya sendiri.
"Waduh, siapa nih?" Bang Ghifar menyambut dengan senang, kala kami semua masuk ke ruangannya.
Dokumennya sudah menumpuk setinggi setengah meter, aku harus siap-siap bekerja keras. Mungkin orang berpikir kerja kantoran itu enak, aslinya sama lelahnya dan kepala ini pusing sekali. Masalah perusahaan, tapi kita ikut memikirkan. Lebih enak butuh, yang hanya bekerja dengan tenaga saja. Tapi, jelas beda jika posisi butuh yang mengatakannya. Karena mungkin mereka merasakan lelah, lebih dari yang aku pahami.
Cali langsung begitu girang, ia pun berteriak senang. Ia pasti mengenal pakdenya itu, sayangnya di sini tidak ada susunan pakde atau paman. Karena pakdenya, malah dipanggil papa.
"Pa…" Nyaringnya suara gadis kecil ini.
"Alamat tak mau sama aku ini sih." Gavin sudah terlihat frustasi.
"Ya tak, lah. Abang lagi sibuk juga, Abang tak mau ajak Cali." Bang Ghifar mengambil kembali satu dokumen dari tumpukan tersebut.
Cali sudah tidak mau diam di gendongan Gavin, ia bahkan merengek ingin diturunkan. Ia seperti kecilnya Key kalau tidak salah, ia adalah anak yang lebih dari aktif.
"Papa sibuk, Dek. Papa kerja, kerjaan Papa banyak nih." Bang Ghifar memasang wajah lelahnya, dengan menepuk tumpukan dokumen tersebut.
"Tuh, dengerin." Gavin mengeratkan gendongannya pada Cali.
Satu, dua… Tangis Cali langsung lepas saja, anak itu ternyata cengeng juga.
Aku duduk di hadapan bang Ghifar, di kursi putar di seberang meja kerjanya. Belum bekerja, aku malah sudah menguap saja.
"Jalan-jalan yuk sama Ayah, jalan-jalan ya kita naik mobil? Adek mau, Adek? Di sini, Papa tak mau gendong Adek kan?" Gavin sedang mencoba menenangkan anaknya.
Sebenarnya, Cali bukannya ingin ikut denganku. Hanya saja, anak itu senang karena aku yang memberikan media hiburan di mobil tadi.
"Iya gih jalan-jalan, Adek mau uang?" Bang Ghifar mencoba membantu Gavin menenangkan anaknya, dengan cara ia mengeluarkan selembar uang dari sakunya.
Jangan harapkan yang keluar adalah uang merah, biru atau hijau. Karena yang keluar malah uang dua ribu yang baru, mana lecek seperti tercuci lagi.
"Tuh, uang tuh." Gavin berjalan ke arah kakaknya, ia memberi akses anaknya untuk mengambil uang tersebut.
Hanya untuk perantara memenangkan Cali, terbukti karena tangis Cali mereda saat uang itu sudah beralih ke tangannya.
"Lagi sih, Pa! Masa satu?" Ayah Cali yang protes.
__ADS_1
"Ha?" Cali mengulurkan tangan kirinya yang masih kosong.
"Pandainya." Aku tertawa geli. "Tangan satunya masih kosong belum terisi uang."
Gavin menoleh ke arahku. "Iya dong, Adek Cali kan pandai." Gavin mencium anaknya.
Cali sudah tidak peduli, ia tengah memperhatikan bang Ghifar yang tengah melihat isi dompetnya.
"Seratus tuh, Bang. Masa dua ribu lagi?" Ayahnya Cali yang protes saja, padahal anaknya belum mengerti soal uang.
"Uang baru, anak Abang sukanya uang baru." Bang Ghifar masih mencari lembaran di dompetnya.
"Cali mana paham uang baru, Bang. Kan uang untuk ayahnya juga." Gavin terkekeh geli.
"Hilang nanti! Sayang, cuma dipegang-pegang anak kau aja. Nih, dua ribu lagi aja. Jangan diambil, biar dia senang gitu loh. Jadi dua ribu juga tak apa." Uang dua ribuan baru lagi yang diberikan bang Ghifar untuk Cali.
"Akunya, Bang?" Giliran ayahnya Cali yang menengadahkan tangan.
"Nih." Bang Ghifar terkekeh geli dengan memberikan dua ribuan lagi.
"Ish, seratus lah. Jarang loh aku minta uang." Gavin memberikan kembali uang dua ribuan itu.
Bang Ghifar tertawa geli. "Oh, Adek mau lagi? Nih, untuk Adek lagi." Uang dua ribu itu berpindah ke tangan Cali.
"Kau serius kah minta uang? Abang kok geli tengok kau punya ladang berhektar-hektar, tetap minta uang ke kakaknya untuk jajan." Bang Ghifar menarik uang seratus ribu dari dompetnya.
Mereka tidak terlihat kaya sama sekali. Aku tidak mengerti dengan circle orang-orang kaya, mereka tidak terlihat kaya apalagi jika sudah tentang hubungan kakak beradik.
"Makasih Abang Ghifar." Gavin terlihat senang dengan uang tersebut.
"Aneh kau ini!" Bang Ghifar geleng-geleng kepala dengan terbahak.
"Biarin lah! Rasanya seperti nemu uang." Gavin tertawa lepas dan berlalu pergi.
Hebat.
Cali benar-benar teralihkan dengan tiga lembar uang dua ribuan itu.
"Dasar! Anak kecil punya anak," gerutu bang Ghifar pelan dengan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Hei, Bang. Aku ngapain ini?" Aku bingung, karena dirinya lupa dengan keberadaanku.
"Eh, iya." Ia terkekeh geli. "Ayo, daftar finger dulu."
Itu untuk absensi harian.
"Oke, Bang." Aku langsung mengekorinya.
Bang Ghifar adalah yang paling mirip dengan Gavin, karena mereka sama-sama berkulit hitam manis. Hanya saja, wajah bang Ghifar seolah kakak beradik dengan papah Adi. Benar-benar seperti pinang dibelah dua. Namun, mata kirinya lebih kecil jika diperhatikan dengan seksama. Jika hanya sekilas, matanya memang terlihat sama.
Sedangkan Gavin, matanya itu sayu. Ia terlihat alim, tapi anak itu sejak kecil kasus saja. Seperti, malas sekolah. Bangun selalu kesiangan, ditambah kapok jika sudah mendapatkan kesialan. Waktu dipesantrenkan, beberapa kali ia dibotak oleh pihak pesantren karena melanggar tata tertib atau peraturan sekolah. Aku tahu, karena pihak pesantren selalu menelpon ke orang tua.
Ia pun sama, mirip papah Adi juga. Hanya saja, ya sifatnya seolah ditutupi dengan kealiman wajahnya. Padahal ayah dan ibunya tidak ada yang bermata satu seksi seperti itu. Ya mungkin, itu untuk membedakan rupa anak-anak papah Adi dan mamah Dinda.
Pulang kerja, aku ikut nebeng dengan kak Dewi. Ia sudah menikah, ia pun sudah memiliki anak. Anaknya diurus mertuanya, sedangkan ia tetap bekerja. Ia orang Bali, ia menikah dengan orang sini tiga tahun yang lalu. Ia adalah mantan pacar bang Ghifar ketika mereka berada di Bali.
Mataku sudah amat lelah ketika sampai di rumah. Tapi melihat Kirei yang merespon kedatanganku dengan senyum, aku jadi ingin bermain dengannya.
"Mandi dulu, Ndhuk," pinta ibu yang tengah memangku Kirei di depan bangunan kantor bang Ghavi.
Kantor kecil ini masih berfungsi, meski bang Ghavi berganti-ganti pekerjaan. Namun, sudah tutup dari pekerja jika sudah pukul empat sore.
"Nanti anterin ke rumah ya, Bu? ASI aku penuh, tapi sekali nyusu juga langsung habis ini tuh." Aku mencolek pipi anakku.
Ibu mengangguk. "Iya, malam nanti Ibu tidur di rumah mbak kau. Meriang katanya, bantu jagain kembar."
Mbak Canda memang manja, padahal ia memiliki dua pengasuh untuk Cala dan Cali. Tapi mereka suka berganti profesi seperti menjadi tukang cuci piring, tukang berbenah, atau semau mbak Canda memerintahkan. Jadi kan, kedua anak tersebut terkadang tidak dipegang oleh pengasuhnya.
Asisten rumah tangga padahal ada, tapi katanya dibantuin agar cepat mengerjakannya. Ya suka-suka ia saja lah, toh ia sendiri yang membayar.
"Iya, Bu. Kirei sih malam tetap sama aku, cuma kalau siang kan aku kerja." Aku paham maksud ibu, hanya saja aku mencoba tidak tersinggung karena memang kenyataannya aku membutuhkan ibu.
Mamah Dinda memang ada, bahkan ia sering mengurus Kirei karena kami serumah. Tapi, cucu-cucunya yang lain pun banyak dan butuh tangannya juga.
Aku langsung pamit masuk ke dalam rumah untuk mandi, kemudian bersiap untuk mengajak Kirei untuk menikmati ASI. Namun, rupanya Kirei sudah berada di dalam rumah. Dengan… Ayah kandungnya.
Aduh, aku lelah sekali. Aku berharap kehadiran bang Ken di sore ini tidak untuk mengajakku berdebat.
...****************...
__ADS_1