
“Memang siang tadi belum tidur?“ Aku menaruh kantong plastik berlogo swalayan besar itu di kursi terdekat. Kemudian, aku menaruh kotak susu dan termos ini di meja kerja bang Ken.
Bang Ken menggeleng dalam menjawab. Bunga pasti akan rewel, jika tidur menjelang sore seperti ini. Ia masih rutin untuk tidur siang, minimalnya satu jam.
Ia duduk di tepian ranjang. Kemudian, merebahkan tubuh anaknya dengan perlahan. Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping anaknya, karena Bunga langsung memeluk ayahnya ketika ia sadar bahwa dirinya dipindahkan ke tempat tidur.
“Ayah ada, Nak.“ Bang Ken mengusap-usap punggung anaknya.
Aku bisa melihat Bunga terlelap dengan pulas, sepertinya gerakannya tadi hanya kaget karena dipindahkan ke ranjang. Tak perlu waktu lama pun, bang Ken bisa bangkit dari posisinya.
Ia segera menghampiriku yang berdiri di pintu balkon kamarnya. Ia menyugar rambutnya, kemudian mengusap pelipisnya. Gagahnya tubuh atletis yang berkeringat itu.
Percayalah, hanya dalam novel bayangan dokter sekeren ini. Saat aku berada di Saudi pun, dokter rumah sakit tidak seindah kehaluan dalam novel. Ya namanya juga dunia halu, kita iyakan saja.
“Minta jatah kah?“ Senyumnya begitu cabul.
“Mana ada!“ Aku langsung menggeser pintu balkon ini, kemudian aku keluar dari dalam kamarnya.
Pintunya menggunakan fungsi geser.
Aduh, aku lupa membawa rokok dan korek. Sejak tadi pagi, aku belum merokok untuk cuci mulut. Aku tidak menggunakan rokok elektrik booming di Indonesia, karena menurut bang Givan resikonya lebih besar ketimbang rokok tembakau yang banyak dijual di warung dan toko samping rumah.
“Nyari apa?“ tanyanya, ketika aku celingukan mencari sesuatu.
“Minta rokok, Bang.“ Aku bersandar pada pagar balkon, menghadapnya yang tengah bertolak pinggang tepat di pintu balkon.
“Rokok ini lebih besar.“ Ia menunjuk resleting celananya.
Sialan ini laki-laki! Ia mengisyaratkan untuk mengo*** miliknya.
“Bekas banyak orang!“ Aku bersedekap tangan dan tertawa sumbang.
“Masa? Sok tau betul.“ Ia melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Ia keluar dengan sebungkus rokok dan korek berlogo minimarket. Ia orang kaya, tapi tidak mengoleksi korek mahal seperti Keith. Ya, Keith suka mengoleksi korek estetik atau korek api purba. Eh, bukan purba zaman batu juga. Tapi korek api legen, dengan casing besi dan banyak ukiran seperti itu.
“Nih.“ Ia memberikan rokoknya yang ternyata sudah berisi seten bungkus.
__ADS_1
Aku langsung mengambil satu batang, kemudian menyalakan dan menikmatinya. Setelahnya, aku mengembalikan rokok dan korek api tersebut.
“Kapan berangkat, Dek?“ Dari nada bicaranya, ia sudah tidak sedingin saat perdebatan kami di minimarket rumah sakit.
“Malam nanti, jam dua dini hari.“ Aku tidak sengaja menghembuskan asapnya ke wajahnya.
Kalian tahu apa artinya? Artinya, adalah seperti mengajak untuk m***ng love. Aku tidak sengaja menoleh, karena ia mengajak berbicara. Berbarengan sekali dengan waktunya untuk menghembuskan asap rokok.
“Jangan gila!“ Ia memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Maaf, maaf. Tak sengaja.“ Aku menjaga jarak dengannya.
Lagi pun, aku tak ingin menyerahkan diriku padanya di luar pernikahan. Aku ingin aku pasrah digagahinya setelah pernikahan, setelah kami halal.
“Putri marah. Dia nuduh Abang selingkuh dan ada main sama kau, Dek.“ Ia pun menyalakan rokoknya.
“Ya memang selingkuh kok.“ Aku mentertawakannya.
Ia langsung melirikku. “Abang tak begitu orangnya.“ Ia terlihat santai kembali setelah nampak terkejut.
“Masa? Kak Riska ceraikan kan, karena Abang selingkuh sama Pertiwi itu.“ Aku tahu sedikit kasus perceraiannya.
“Nyatanya???“ Aku menyudutkannya.
“Tak selingkuh, Dek. Barulah terserah ribut cerai, Abang ada main sama Tiwi itu. Dengan banyak pertimbangan, Abang pun tak jadi nikahi Tiwi itu. Tiwi pun nolak juga untuk menikah cepat, karena katanya masih berduka. Tanah kuburan suaminya masih basah, masa dirinya udah dibasahi laki-laki lain.“
Jujur, aku sedikit nyaman banyak mengobrol dengan bang Ken. Karena ia orangnya terbuka, ia selalu mengungkap tentang dirinya. Inilah yang membuatnya menarik di mataku, karena ia orangnya asyik diajak mengobrol juga.
“Main begituan kah?“ Aku mengerucut pertanyaanku.
Ia hanya menjawab dengan menaikan alisnya. “Cinta pertama, Tiwi.“ Ia menunduk memperhatikan lantai balkon.
“Sekarang masih cinta ke dia?“ Aku memperhatikan isyarat tubuhnya sejak tadi.
Ia menggeleng. “Ada orang lain, sayang pasti ia bertentangan dengan komitmen Abang sendiri.“
Aku yakin, yang dimaksud oleh dirinya adalah kekasihnya sekarang. Karena ia nampak yakin sekali, pasti sebelumnya ia sudah membicarakan tentang hal itu pada Putri.
__ADS_1
“Kalau dia udah punya anak kek Putri, mungkin Abang bakal utarakan komitmen Abang ke dia. Sayangnya, pasti baru dengar komitmen Abang aja dia pasti tersinggung dan berpikir lain tentang komitmen Abang.“ Ia menghembuskan asap rokoknya di udara.
Rautnya seperti melamun.
“Tentang Abang tak punya anak itu?“ Bang Ken langsung mengangguk dan menoleh ke arahku.
“Dia masih muda, dia harus punya keturunan.“ Ia memalingkan wajahnya ke arah lain kembali.
“Ya Abang pun masih mudah, tak apa beranak pinak juga. Biar rumah sakit Abang ada yang mewarisi, ada yang melanjutkan karir Abang di dunia medis. Abang tau sendiri perjuangan Abang sampai jadi dokter spesialis itu tak mudah, Abang sekolah lagi, ambil pendidikan sertifikat penunjang lagi.“ Aku mengusap lengannya yang bebas tanpa penutup tersebut.
Ia melirik lengannya yang aku sentuh. “Sayangnya umur Abang tak akan sampai ke dia dewasa nanti. Abang telat menikah, karena terlalu mengejar cita-cita. Harusnya kek abi Haris, menikah muda sambil meraih karir.“ Ia membawa lenganku untuk ia genggam.
Hangatnya genggaman itu. Tapi bukan berarti ia tengah demam ya, hanya ibaratnya tuh memang sehangat ini loh kami. Sayang, ia hanya menginginkan status adik kakak.
“Masuk yuk? Dingin.“ Ia menarik tanganku untuk masuk ke dalam kamarnya kembali.
“Belum selesai ini, Bang!“ Aku mengetuk rokokku dengan jariku. Sedangkan, dirinya melempar rokoknya di lantai balkon. Ia membiarkan rokoknya tetap menyala, karena ingin menginjak pun kami tidak mengenakan alas kaki.
“Udah, tak apa. Pintunya tak usah ditutup, biar ada sirkulasi udaranya.“
Eh, eh, eh. Kenapa aku malah tersudutkan di tembok?
“Mau ngapain ini?“ Aku bingung karena ia menahan tanganku untuk tidak bergerak.
“Abang suka perempuan yang pasrah.“ Wajahnya semakin dekat.
Maksudnya bagaimana?
“Abang, aku masih ngerokok.“ Aku melirik pada rokok yang terselip di jariku.
Bang Ken menjatuhkan rokokku di lantai begitu saja. Kemudian, ia mengunciku dan melepaskan hijabku dengan mudah.
“Abang bakal kangen, Bunga bakal kangen, kalau kau lama di sana. Di mana Singaporenya? Apa kita boleh jemput kau di sana? Bunga pasti ngerasa kehilangan sahabatnya, Abang pasti ngerasa kehilangan adiknya ini.“
Ingin minta cium saja, ia banyak sekali bicaranya. Ya, aku yakin sih ia minta cium.
“Kakak beradik tak begini loh, Bang.“ Aku terkekeh sumbang.
__ADS_1
...****************...