
"Iya, semingguan. Dia bener kok jadi ibu tuh, bukan yang kek putri atau Fira tuh. Fira memang sayang anaknya, cuma ke anak kek ke temen gitu kan. Kek kita begini lah. Kalau Riska sih keibuan, ngemanja, ngurus dan telaten tuh. Mamah juga ngerasa kurang bener jadi ibu, kalau ngeliat cara Riska ini. Riska tak banyak cerewet kek mulut kita begini loh, tak banyak aturan. Tapi di belakang mata kita, ya tak tau juga." Mamah Dinda sampai mengacungkan jempol.
Jika kak Riska memang sudah sehebat itu, kenapa bang Ken bertingkah? Dia lapar mata, karena melihat mantan.
"Tapi mudah kecolongan kalau kata Abang sih, Dek. Dia pun menimbulkan sifat anak yang terlampau ngelunjak, ditambah dia turuti aja. Menurut Adek, cara didik dan asuh kita kurang bagus. Tapi, menurut orang lain ya beda lagi. Karena penilaian orang itu pasti beda-beda, Dek." Papah Adi meneliti kuku kaki Kirei.
Kalian tahu, beliaulah yang rutin memotong kuku cucu-cucunya. Termasuk, ya Kirei juga. Anak dari keturunannya akan diajak duduk bersama di bangku panjang bawah pohon mangga, kemudian mengobrol sembari dipotongi kukunya. Aku sering melihatnya, kala aku pulang bekerja. Ada saja cucu yang kukunya tengah dipotongi. Sedangkan Kirei, saat ia diayun oleh papah Adi. Pasti saja, dirinya meneliti kuku bayiku itu. Sejak aku di sini, aku tak pernah lagi memotong kuku Kirei karena keduluan papah Adi.
Kami berbincang banyak hal, sampai akhirnya aku diminta istirahat. Aku tidak pernah tidur malam, karena paginya aku bekerja. Lepas Isya, aku sudah lelap. Jadi, aku tidak tahu jika di ponselku ada yang spam chat.
Entah telepon, atau pesan chat begitu penuh oleh satu nama kontak saja. Yaitu, Gavin. Aku tahu ini nomornya, dari foto kontaknya. Ia bangga sekali rupanya memiliki anak, dengan status di KTPnya belum menikah. Foto profilnya itu, adalah foto dirinya dan Cali. Tapi teganya Gavin di foto tersebut, karena menggendong anaknya yang tengah dalam ekspresi menangis.
[Kau suruh chat, Riut! Udah dikasih uang, tak ngechat juga!] pesan chat terakhir darinya membuatku melongo.
Pernah ada yang bilang, jika papah Adi adalah orang yang perhitungan. Jadi tidak memutus kemungkinan, jika keturunannya pun tipe yang sama seperti dirinya.
[Biarin!] Subuh ini aku hanya membalas pesan seperti itu.
Aku melanjutkan kesibukanku, seperti menggiling baju Kirei dan bajuku tanpa menilik kembali ponselku. Pagiku selalu sibuk, apalagi aku harus membantu mamah Dinda di dapur juga. Aku harus tahu diri, aku menumpang, aku bukan tamu.
Sampainya selesai briefing di kantor, aku baru mengecek ponselku kembali. Banyak emoji yang Gavin kirimkan, juga banyak ledekan namaku yang diberikan oleh Ra. Ra cukup berjasa, karena ia membuat tenar nama ledekanku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menyambungkan telepon padanya begitu aku sampai ruang kerjaku. Kerjaan hari ini, separuhnya sudah selesai. Karena aku mengerjakannya kemarin hari, saat sepi pekerjaan itu. Bukan aku berniat malas-malasan mengerjakan tugas hari ini yang tinggal setengah, tapi aku ingin tahu maksudnya mengirimkan spam padaku itu.
"Hallo, Kakak tua." Nyaring sekali suara Gavin.
"Hallo, Bocah!" Cepat emosi aku ini.
"Pap ne*** dong."
Hah? Ia tergelak begitu lepas, padahal aku tidak menjawab apapun.
"Kau mesum betul!" Aku merasa Gavin makin berani.
__ADS_1
"Biarin, biar kau beranak lagi." Ringan sekali ucapannya.
"Tak mau aku, sesar lagi nanti." Aku trauma berada di ruang operasi sendirian.
"Nanti aku bantu buka mulut kau, masa kau melahirkan. Biar bayi kau mudah lewatin kerongkongan kau." Bercandanya ekstrim.
Ia kira aku ikan arwana.
"Makanya jangan minta untuk aku ****, bayi kau jadi tumbuh di lambung aku." Eh, ia malah tergelak lepas mendengar sahutanku.
"Kok ngerti ya aku ini? Padahal bujang aku ini. Ya Allah, ya Allah, aku ternodai janda ilegal." Tawanya masih begitu menggema.
Bahagia sekali ia rupanya.
"Kau yang lebih suhu!" Gemasnya aku pada ayahnya Cali ini.
"Ya udah, ya udah. Kirim pap ya? Nanti aku transfer deh."
Ia serius kah?
"Ya udah, m*** aja." Sesantai itu mulutnya mengatakan hal yang vulgar.
"Pap t**** aja dulu sok." Aku menantangnya, aku mau tau keberaniannya.
Eh, ia malah mengalihkan panggilan telepon ke panggilan video. Aduh, aku harus bagaimana? Aku khawatir ia benar akan menunjukannya.
"Terima lah, VC." Gavin memaksa.
Aku harus tenang, aku pun harus berani melaporkan. Anak laki-laki ini terlalu nakal. Mentang-mentang aku janda, bukan berarti ia melecehkanku dengan mudah.
"Tengok uang aku." Ia malah memamerkan uang gepokan merah.
Saiko! Aku kira ia akan menunjukkan miliknya.
__ADS_1
"Huu, sombong!" Aku duduk bersandar di kursiku.
"Kau punya tak? Kau kan lagi kismin." Ringan sekali mulutnya meledek.
"Ada dong, aku mampu kali beli perjaka." Dengan catatan, aku jual mobilku dulu. Benar yang ia katakan, aku kismin. Yang depositku bisa cair, satu tahun mendatang.
"Beli aku aja dong, Tante. Bekas pakai satu perempuan aja nih."
Siapa yang tidak tertawa? Ya ampun, adik kecil.
"Aku bekas orang banyak!" Sungguh, mimik wajahnya langsung berubah beberapa detik. Sebelum akhirnya, ia memasang wajah santainya lagi.
"Tak masalah, yang penting sehat dan udah nganggur lama." Ia memasang wajah sombongnya lagi.
Benar tidak ia berkata?
"Terus terang aja, sebenarnya kau pengen ngerasain perawan kan?" Aku mulai menyudutkannya. Entah mengapa, aku ingin tahu saja. Karena bisa saja ia kecewa, saat nanti mendapatkanku yang sudah seperti ini keadaannya.
"Papah aku yang minta aku carikan menantu perawan. Papah tuh sedihnya, karena dia dulu mabuk janda setengah mati. Jadi, kebanyakan dari kami kek dapat janda. Papah berpikir, kek sayang perjaka kami gitu." Sesi curhat sepertinya akan dimulai.
Memang siapa yang dapat janda? Perasaan, hanya bang Ghifar dan bang Ghavi saja. Bang Ghifar pun, dua kali dapat perawan. Oh, iya. Terhitung dirinya juga, ia mendapatkan Ajeng yang janda anak satu.
"Itu sih tergantung selera aja kali, Vin. Lagi pun, banyak pilihan perawan, tapi kau dan papah juga jatuhin ke janda, kenapa? Kan itu selera kan?" Semoga aku tidak menyinggungnya. Ia tersinggungan soalnya.
"Kasihan aku tuh aslinya." Jawabannya membingungkan.
Apa ia kasihan juga padaku? Tapi aku ingat, ia pernah mengatakan bahwa ia n**** pada Ajeng.
"Kasihan kenapa?" tanyaku kemudian.
"Kasihan, pasti dia korban laki-laki. Eh ternyata, aku yang dibuat trauma karena dijadikan korbannya." Ia langsung berakting menangis lepas.
Aku tertawa renyah. Selera humornya absurd sejak tadi, tapi bisa menarik perhatian dan tawaku. Ia seperti seorang teman, yang lebih banyak membawa canda tawa. Jika mesum, aku yakin itu karena turunan l***** dari ayahnya. Tapi humorisnya yang ekstrim seperti ini, membuatnya nyaman dengannya.
__ADS_1
"Di sini dingin loh, kapan ke sini?" Berputar lagi modenya, padahal tadi sudah menjadi pelawak. Eh, balik lagi menjadi tukang mesum.
...****************...