Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD33. Dilema Ria


__ADS_3

Aku melihat senyum piasnya. Ia malah menahan senyumnya, dengan mengubah posisinya tidur menyamping. Aku tahu, ia pura-pura tertidur saja.


“Abang tidur di kamar lain!“ bentakku cepat.


Ia pura-pura tuli sepertinya.


“Abang!!!“ Aku berteriak cukup keras.


Lihatlah, ia malah melirik dan terkekeh kecil.


Ia menurunkan selimutnya sedikit, hingga dada bidangnya terekspos gagah. Kenapa bapack-bapak empat puluh satu tahun seindah itu?


“Sini bobo.“ Ia menepuk tempat di sebelahnya.


Aku menggeleng dan hendak keluar dari kamar ini. Aku menghindar saja, daripada aku harus mengingkari niat baikku sendiri.


“Loh? Loh? Loh?“ Suaranya semakin mendekat. Tidak disangka, ia melompat dan siap sedia di hadapanku.


Ya ampun, laki-laki ini.


Ia tersenyum lebar dan seolah tidak ada pembahasan serius seperti tadi. Bisa-bisanya, ia terlihat santai saja begitu? Bahkan, ia terlihat ceria.


“Apa sih, Bang?!“ Aku memberinya delikan tajam.


“Ayo tidur, Sayang.“ Ia mencoba menggiringku ke ranjang.


Oh, tidak bisa! Aku memasang telapak tanganku di depan tubuhku. Aku memberanikan diri untuk menatapnya dengan lekat.


“Aku yang keluar kamar, atau Abang yang keluar kamar?“ Aku sering mendengar kalimat seperti ini dalam pernovelan atau sinetron.


“Kita keluar bareng aja lah, Dek.“ Jawabannya di luar nalar.


Aku harus mengingat, jika novel ini adalah novel yang tak umum.


“Abang….“ Aku menghentak-hentakkan kakiku berulang. “Sana Abang pergi!“ Aku merengek mengusirnya.


“Kau betul tak butuh Abang, Dek? Kau yakin, mau Abang pergi?“ Ia menahan dua bahuku.


Aku manggut-manggut. “Iya, Abang! Kenapa sih nanya segala?!“ Aku menghempaskan tangannya yang berada di bahuku.

__ADS_1


“Abang pergi ke Putri, yakin itu tak masalah untuk hati kau?“ Ia kembali menahan kedua bahuku.


Aku menyelami sorot matanya. Apa rasa yang aku curahkan terlalu terlihat, sampai ia memposisikan dirinya agar tidak terlalu dekat dengan Putri? Tapi kita tidak pernah bertukar pesan chat terlalu sering, aku tidak begitu jelas mengutarakan perasaanku padanya. Apa karena aku merespon sentuhannya beberapa kali, sehingga ia berpikir aku akan selalu mau terpedaya olehnya?


“Ayolah, Ria. Kau tak perlu pikirkan hal ini. Kau harus yakin, kalau aku tak pasti bisa kontrol meski di dekat kau. Silahkan berpegang teguh dengan prinsip kau, silahkan cari laki-laki yang baik menurutku. Tapi tolong, jangan batasi interaksi kita.“ Ia menggenggam kedua telapak tanganku.


Hufttt….


“Fungsinya untuk apa?!“ Nada bicaraku naik satu oktaf.


Ia hanya diam, tatapan matanya begitu dalam. Jujur saja, aku membaca seperti ia tengah mengutamakan bahwa dirinya memiliki perasaan padaku. Tapi entah apa masalah terbesarnya, hingga aku tak mampu mengerti kenapa tatapan tidak bisa terlontar dalam ucapannya.


“Ini udah malam, Dek. Lebih baik kita tidur aja.“ Ia menarik tanganku untuk menuju ke ranjang.


Tidak bisa!


Aku menghempaskan tanganku, kemudian melangkah keluar tanpa sepatah katapun. Aku malas berdebat, jika lawan bicaraku begitu sulit diberi pemahaman.


Ia tahu aku memiliki prinsip lain, ia tahu aku memiliki tujuan lain. Tapi, ia seolah ingin aku mengerti akan posisinya di sini. Memang, jika aku mengerti fungsinya untuk apa? Kita akan bagaimana? Toh, tetap Putri yang akan menjadi tujuannya.


Oh, iya. Aku ingat sesuatu, ia pernah berkata bahwa ia ingin perempuan dengan pendidikan yang tinggi. Aku sadar diri untuk itu, aku menjauh darinya karena aku tidak sesuai kriterianya.


Aku jadi ingin menjadi unggul, agar semua orang merasa tercengang padaku. Khususnya, bang Ken. Aku ingin dia sadar, membuka mata dan pikirannya. Bahwa, pendidikan bukanlah segalanya. Aku akan membuktikan, bahwa aku yang tidak berpendidikan bisa lebih unggul dari yang berpendidikan.


Semangat, Ria. Kau harus mengubah semua sisi kehidupanku, agar kedepannya nanti bisa bahagia dengan tujuan yang tercapai.


Aku menempati kamar Keith. Ia tidak memiliki penyakit kulit, ataupun kutu rambut. Aku yakin tidak masalah menempati tempat tidur, yang seprainya belum diganti dan dicuci. Karena setahuku, hanya kamar ini yang memiliki kamar mandi dalam. Selain kamarku dan kamar Ceysa. Kamar Ceysa pun, adalah kamar utama yang dipakai bang Givan sebelumnya. Kamar yang lalu luas, dengan walk in closet yang cukup mewah.


Anak Daeng itu cukup beruntung. Sudah jenius, ayah sambungnya mampu memberinya pendidikan yang tepat. Belum lagi sandang pangan yang tidak pernah kurang, perhatian pun pasti ia dapatkan dari panggilan video mereka. Hampir setiap hari, aku mendapati Ceysa tengah melakukan panggilan video Dengan mbak Canda atau bang Givan.


Tanpa memikirkan hal lain, aku langsung memejamkan mata setelah membaca doa. Biarlah esok pagi aku akan menyelinap masuk ke kamarku sendiri, untuk mengambil beberapa keperluanku untuk bekerja.


Adzan Subuh yang terdengar cukup jauh, karena Islam di sini adalah minoritas, cukup untuk sebagai alarm pagiku. Aku terbiasa bangun pagi, meski tanpa adzan Subuh sebenarnya.


Eh, tapi aku merasa tubuhku sulit bergerak. Apa aku sakit?


Sebentar-sebentar, kenapa ada hembusan napas seseorang di belakang kepalaku. Loh, tangan siapa yang bertengger di atas perutku? Lalu, kaki siapa yang naik ke atas pahaku ini?


Sialan!

__ADS_1


“Bang Ken!!!“ Aku mencoba melepaskan tubuhku dari pelukan hangatnya.


“Hm, hm, hm….“ Dari suaranya terdengar seperti ia tengah terkejut. Kaki dan tangan tersebut terlepas karena gerakanku yang mendorong part belakangku ke belakang.


“Apa sih? Kok begitu? Mulas tau!“


Eh, pantas saja keras. Aku menekan sesuatu yang tengah mendapat serangan fajar rupanya.


Aku menghadap padanya, terlihat ia tengah memegangi tengah-tengah tubuhnya dengan mata merah yang terbuka sempurna.


“Ngapain peluk-peluk aku?!“ tanyaku cepat.


Ia malah menggeliatkan tubuhnya, kemudian memasang senyum samar.


“Kenapa Adek ada di ranjang Abang?“ Ia bertanya padaku, tapi mimik wajahnya seolah ia sudah tahu jawabannya.


Aku bukan pelupa. Aku masih ingat, jika aku meninggalkan kamarku dan masuk ke kamar yang Keith tempati kemarin. Semata-mata, karena untuk menghindarinya. Aku tidak mengerti, kenapa ketika aku terbangun malah ia ada di ranjang yang sama denganku.


“Abang yang masuk ke kamar ini!“ Aku mendorong dadanya.


“Ah masa? Coba tengok kamarnya,“ ucapnya mengundang rasa penasaranku untuk melihat sekeliling.


Loh, ini kan kamarku?


Aku mendelik tajam ke arahnya. “Abang pindahin aku tidur?“ Aku bertanya tapi cenderung menuduh.


Ia tersenyum kuda dan menganggukkan kepalanya. “Dingin, Dek. Lebih baik kita di tempat yang sama. Kan lumayan, ada selimut yang lebih menghangatkan.“ Ia menarik turunkan alisnya.


Jika laki-lakinya modelan begini, baiknya aku harus bagaimana?


Apa sebaiknya, aku melaporkan pada bang Givan? Tapi aku tahu, ia tengah pusing di sana karena sekarang istrinya berada di salah satu rumah sakit kelas internasional. Aku tidak mau menambah beban pikirannya, hanya untuk masalah kenyamananku di sini.


Jika aku mengambil salah satu apartemen terdekat. Bagaimana dengan Ceysa? Bagaimana dengan Shauwi? Aku lebih khawatir, jika bang Ken menyerang perempuan lugu itu. Siapa tahu bang Ken lebih dari b**ingan yang aku sangkakan.


Mengusirnya? Aku sudah melakukannya. Harus dengan cara apalagi, aku membuatnya pergi dari sini?


“Dek, tadi keras betul ya?“ Pertanyaannya yang keluar cukup ambigu.


Apa yang keras memangnya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2