
Aku tidak jadi berfoya-foya, karena aku ada ujian seleksi mendadak untuk mendapatkan kelas. Padahal hanya kelas bahasa yang selesai dalam satu bulan, tapi sudah seperti mau masuk perguruan tinggi. Setelah ini pun akan libur selama beberapa hari ke depan, karena masih ada kuota kursi yang belum terisi. Padahal sudah diburu-buru seleksi kelas, tapi ternyata pendaftaran masih dibuka saja. Ya konon katanya sih, biayanya lebih rendah untuk kami yang seleksi lebih awal ini.
Aku langsung memfoto dan mengirimkannya pada bang Givan, surat edaran yang pihak sekolah berikan, untuk biaya dan semacamnya. Aku tetap mendapat jatah lima juta, untuk uang sakuku, ditambah aku tidak bekerja. Aku stress, aku ingin meminta lebih tapi aku tidak berani. Biaya sekolah di sini cukup mahal, aku khawatir bang Givan keberatan. Mana jumlah nilai rupiah dan real Brasil sangat berbeda. Kalau tidak salah, satu real Brasil, setara dengan dua ribu sembilan ratus rupiah.
Jika kebutuhan dapur, itu urusan bang Givan dan pengurus rumah. Aku makan tinggal makan, tidur ya tinggal tidur.
Beberapa hari dari ujian itu, aku banyak bertukar pesan kembali dengan Dika. Ia mengatakan, bahwa ia nanti akan mengambil cuti karena ingin mengantar ibunya kembali ke Inggris.
Aku pun mengatakan, bahwa abang iparku ingin bertemu dengannya. Ia berkata, bahwa bang Givan dan Dika sebaiknya membuat janji temu di bandara saja. Ia akan mengajak bang Givan mengopi dan mengobrol. Ia akan menunggu di suatu tempat, kemudian menghampiri kami yang baru turun pesawat.
Aku mengiyakan langsung, untuk janji itu ya terserah nanti saja. Yang terpenting, aku sudah memberikan nomor kontak Dika ke bang Givan, aku pun memberi nomor kontak bang Givan ke Dika.
Aku juga beralasan menolak lamaran, karena abang iparku belum percaya pada dirinya. Makanya, abang iparku mengajaknya bertemu. Mungkin karena itu juga, Dika mau bertemu dengan bang Givan. Dengan alasan ini juga, aku bisa beralasan pada Dika sehingga bisa berkomunikasi lancar kembali. Jika aku tidak menemukan alasan untuk menolak pertunangan dari Dika, mungkin aku masih sungkan untuk menghubunginya atau meladeni pesan chatnya.
Hingga tiba masanya aku bertolak dari Sao Paolo ke Brasilia, aku diantar oleh sopir pribadi. Jarak tempuhnya amat lama, untungnya aku mengajak Alfonso untuk menggantikan sopir pribadi mengemudi. Ditambah dengan waktu istirahat beberapa menit, meski kendaraan patas, tetap saja ada tersendatnya.
Alfonso anak militer daerah ini. Yang membuatku nyaman menjadikannya teman, karena ia ini selalu jujur apa adanya. Ditambah lagi, aku nyaman karena ia tidak memiliki ketertarikan padaku, ia mengatakan bahwa mukaku lonjong seperti kartun pagi yang sering adiknya lihat. Bukannya aku marah atau tersinggung, aku malah tertawa geli mendengar pendapatnya tentang fisikku.
__ADS_1
Ia sedikit cerewet, bawel dan pandai mengomentari orang. Nyamannya lagi, karena ia orangnya humoris. Ditambah lagi, baru saja ia muncul, ia seperti sudah mengundang humor di sekelilingku.
Aku pun tidak memiliki ketertarikan padanya, karena usianya jauh di bawahku. Ia tidak mengikuti kelas bahasa Brasil bersamaku, karena ia ingin masuk ke perguruan tinggi favoritnya. Ia tidak suka bidang militer, ia malah suka bidang pendidikan guru. Orang tuanya pun mendukung, ia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Ia mulai belajar bulan depan nanti, ia sudah lolos seleksi dan tinggal mulai mengikuti pengenalan dan pembelajaran saja. Alfonso pun tidak menyukai dunia malam, ia malah menolak ketika aku mengajaknya untuk berjalan-jalan di club malam. Ia malah mengajakku ke tempat sejenis pasar malam, kemudian kami jajan bersama. Tentu saja kami pergi bertiga, dengan satu teman wanita bernama Hana, yang orang Panama itu.
Ia berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris denganku, sesekali aku meladeninya dengan bahasa Brasil yang aku dapatkan darinya. Awalnya, kami semua mengalami miskomunikasi karena bahasa. Namun, kami semua malah mudah berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Karena, aku tengah kursus bahasa Inggris. Hana dan Alfonso pun tengah kursus bahasa Inggris. Jadi, ya bahasa Inggris kami masih begitu membingungkan. Ingin berkomunikasi dengan bahasa Brasil, jelas aku dan Hana tidak mengerti. Alhasil, bahasa isyarat lah jalan keluarnya. Karena, hal itu lebih mudah dimengerti. Daripada, dengan cara Google translate.
Oh iya, bahasa Brasil itu menggunakan bahasa Portugis ya. Meski Brasil bagian dari Amerika Latin, tapi tidak menggunakan bahasa Spanyol seperti pada umumnya. Jadi, aku tengah belajar bahasa Portugis nantinya.
Jika dibilang sulit, ya sulit karena aku belum tahu kuncinya. Jika sudah tahu, pasti mudah saja.
“Kak Ria, Saya butuh istirahat,” ucap Alfonso, jika menggunakan bahasa Indonesia.
“Boleh, ayo kita nepi dulu.“ Aku merasa, aku kehabisan uang.
__ADS_1
Minta pada bang Givan, bang Givan pun dalam perjalanan. Sebaiknya, aku menggunakan uang dari ATM bang Ken saja. Masalahnya, aku menggunakan saver book tanpa kartu. Jadi, tabunganku tidak bisa diambil. Aku harus ke kantor cabang Bank, untuk mencairkan uang di saver book tabunganku.
Untuk bahan bakar, itu resiko pak sopir. Itu urusannya dan bang Givan, aku tidak tahu menahu juga. Hanya saja, uang makan selama perjalanan tetap saja aku harus mengeluarkannya.
Entah di kota mana ini, aku pertama kali menggunakan kartu ATM milik bang Ken. Jumlahnya luar biasa, namanya juga saver book juga. Ini kan ATM dari saver book miliknya.
Aku melihat sosial medianya dari second akunku, ia sering mengapload tentang perusahaan pengolah kopi yang tengah kami harap di Banjarmasin. Ia pun sering membuat cerita rumah megah, yang bentuknya serupa dengan milik mamah Dinda. Entah kenapa, bang Ken ingin membuatnya sama seperti rumah mamah Dinda. Mungkin, ia berharap ada kenyamanan di rumah barunya.
Aku mendengar kabar, bahwa bang Ken sempat pulang ke Cirebon dan sekarang tinggal di rumah mamah Dinda. Yang artinya, ia tidak ada kembali ke Banjarmasin, tapi proyek dan bangunan tersebut tetap dirampungkan. Yang artinya, bang Ken memiliki tangan kanan dong? Kenapa ia malah pulang dan membawaku ke Banjarmasin, jika ia memiliki orang kepercayaan.
Kenapa aku jadi berpikir jelek? Kenapa aku malah berpikir, bahwa bang Ken ini sengaja ingin memperdayaku di Banjarmasin. Karena, rumah di sana begitu sepi dan juga jauh dari pemukiman warga. Jika aku berteriak-teriak pun, rasanya tidak akan terdengar. Maka dari itu, aku merasa bahwa aku seperti sengaja didekap baik-baik.
Aku merasanya seperti itu, karena pergerakan bang Ken makin ke sini semakin terbaca. Tapi, aturannya ia tidak melakukan banyak tipu daya seperti itu. Cukup berbicara baik-baik denganku, daripada menyusun rencana sebanyak itu dan serapi itu. Terlalu banyak biaya dan terlalu banyak waktu yang terbang percuma.
Aku melakukan pembayaran langsung dengan menggunakan kartu ATM tersebut. Aku pun melakukan penarikan uang yang cukup besar, untuk uang sakuku selama di perjalanan.
...****************...
__ADS_1