Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD32. Hantu singkong bakar


__ADS_3

“Terserah kau, Ria. Terserah kau, Dek. Kau tak bakal sampai buat pahami pikiran Abang. Kalau kau pengen kau begitu, ya terserah. Abang pun bakal tetap ke pendirian Abang, Abang bakal tetap komitmen sama diri Abang sendiri. Kau mau kau begini, kau begitu. Ya terserah kau. Waktunya Abang pengen cium kau, ya Abang cium. Kau mau jaga jarak dengan laki-laki, ya itu komitmen kau sendiri. Itu bukan masalah untuk Abang.“ Ia berbicara dengan nada sangat rendah, kemudian ia tersenyum menyeramkan.


“Maksudnya aku bilang begini, biar Abang bisa memposisikan diri Abang.“ Aku mendorong dadanya agar sedikit jauh dari jarak duduk kami.


“Memang, kau siapa? Kenapa Abang harus nurut dan setuju dengan prinsip kau? Prinsip kau, ya berguna untuk diri kau sendiri, Dek. Prinsip Abang, ya Abang pegang teguh untuk pendirian Abang sendiri.“ Ia berkata sangat santai, dengan memasang senyum stabil di samping kalimatnya yang terlontar.


Kenapa ucapannya terasa benar? Prinsip itu, ya harus aku yang menjalankan. Aku tinggal memikirkan, bagaimana caranya agar aku bisa selalu menjaga jarak dengan bang Ken.


“Yuk tidur.“ Ia bangkit dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku.


Ia mengajakku.


“Tidur lah di kamar lain, Bang! Aku tak mau sekamar sama Abang!“ Aku bersedekap tangan dengan memberi tatapan tajam padanya.


“Oke.“ Ia berjalan mendahului.


Aku melamuni ucapannya tadi. Aku berbicara banyak, tapi terasa tidak ada fungsinya.


Benar-benar terasa benar. Tanggapan bang Ken sangat berbeda dengan Keith. Jadi, caranya bagaimana untuk membentengi diriku dari bang Ken? Karena Keith sudah pasti menjauh, ia pasti mengerti dengan ucapanku.

__ADS_1


Aku pusing karena memikirkan hal ini. Baiknya, aku istirahat saja. Karena hari sudah semakin malam, aku harus mulai membiasakan bangun lebih pagi. Agar setelah haid nanti, aku sudah terbiasa bangun pagi untuk sholat Subuh.


Aku masuk ke dalam rumah, dengan mulai membuka mantel tebalku. Mataku sudah mengantuk, tubuhku sudah lelah. Aku pasti tidur nyenyak, dengan beban pikiran yang juga sudah ringan.


Loh, kok gelap? Perasaan, saat aku meninggalkan kamar. Kamar ini dalam keadaan terang, bukan gelap gulita seperti ini. Aku mana bisa tidur jika tidak ada penerangan begini.


Ehh, tunggu dulu. Aku merasa aroma tubuh seseorang, seperti ada orang lain di kamar ini. Jujur, aku mulai takut.


Asal kalian tahu saja, di Singapore pun ada hantu juga. Aku pernah mendengar suara perempuan berteriak, kala pulang malam dari acara perayaan ulang tahun sebuah perusahaan. Padahal aku berada di dalam mobil, tapi suara teriakan perempuan itu sampai masuk ke dalam mobil yang aku kendarai. Hal itu terjadi berulang-ulang, sampai akhirnya aku bercerita dengan kak Ati, asisten rumah tangga asal Sulawesi itu. Dia bercerita, bahwa rumah yang paling depan dari kompleks masuk perumahan ini, baru beberapa yang lalu ada kejadian bunuh diri dengan cara melompat dari lantai dua.


Setelah mendengar cerita itu, aku selalu memutar jalan kala pulang malam dan melewati rumah tersebut. Karena bertepatan dari teriakan itu terdengar, saat aku baru saja masuk dari gerbang kompleks perumahan ini. Ya memang sih kejadian horor itu hanya beberapa hari saja, tapi mulai dari situ aku yakin bahwa di Singapore pun ada hantu.


Masa itu kami tengah membuat api unggun, untuk keperluan membakar ikan, ayam, kambing muda, singkong dan marshmellow minimarket. Tidak jauh-jauh, kami meramaikan malam itu hanya di halaman rumah mamah Dinda. Tiba-tiba angin kencang datang, tapi kami melihat hanya angin di sekitar api unggun saja yang terlihat tidak biasa. Karena pepohonan dan tanaman di sekitar halaman, tidak bergoyang sedikitpun.


Kericuhan muncul, ketika bang Givan langsung berlari masuk tanpa mengatakan apapun. Di saat itu juga, kami menyadari tepat di area atas api unggun ada rupa perempuan bergaun putih dengan rambut acak-acakan tengah terbang di atas sana. Hebohnya lagi, papah Adi malah menyangka itu adalah asap dari api unggun. Karena ia melihat keberadaan putih-putih tersebut, cukup lama sejak kami membenahi pakaian kami yang terbang karena angin. Beliau melihat dengan jelas, karena beliau duduk cukup jauh dari titik api unggun. Tepatnya, beliau duduk di teras rumah dengan istrinya.


Ehh, kok malah cerita horor? Padahal hanya membahas tentang penerangan yang padamu, eh malah jadi membahas cerita horor.


Tapi kejadian itu benar-benar terjadi, jika menurut papah Adi itu karena adanya singkong yang dibakar. Makhluk itu datang, karena sering kali orang sini menyamarkan bau khas bayi baru lahir dengan singkong bakar. Karena konon katanya, banyak pesugihan dari jauh yang datang untuk mencari korban. Ya bisa dibilang, makhluk tersebut adalah makhluk pesugihan. Bukan benar-benar hantu yang bergentayangan. Tapi memang rupanya cukup menyeramkan, cukup membuat kami kalap berlarian masuk.

__ADS_1


Jadi intinya, makhluk pesugihan itu mengerti jika orang kampung sini menyamarkan bau khas bayi baru dengan bakaran singkong. Cara itu pun sudah tidak dilakukan lagi, karena sudah bocor ke mana-mana. Malahan, makhluk tersebut terang-terangan datang jika bau singkong bakar karena dikiranya kami tengah menyamarkan bau bayi.


Tapi, meskipun daerah tersebut pernah mendapat teror pesugihan kuntilanak. Tapi, anak cucu papah Adi yang mayoritas laki-laki. Tidak ada ceritanya yang meninggal, karena korban dari pesugihan. Mungkin pesugihan tahu, jika anak cucu papah Adi sudah terkontaminasi dosa. Ya konon katanya sih, korbannya adalah keturunan yang bersih dari dosa besar.


Uhh, aku jadi takut sendiri. Aku meraba saku mantelku yang berada di dekapanku, kemudian aku mengambil ponselku. Aku langsung menyalakan senter, kemudian mengarahkan ke arah saklar lampu.


Aku mulai takut, karena hawanya memang seperti ada orang lain di kamar ini. Apalagi, baru saja aku tengah mengingat tentang cerita makhluk gaib. Aku adalah manusia penakut dengan rupa-rupa gaib yang sering dicosplay artis-artis di televisi.


Aku malah membayangkan, ketika aku mengarahkan senterku ke suatu sudut, lalu aku menemukan rupa penampakan yang mengagetkan seperti di televisi. Belum lagi latar belakang musik, yang terasa membuat jantung pindah ke panggul.


Kaki pun terasa lama sekali bergerak, untuk segera sampai ke saklar lampu yang belum juga kuraih. Aku pun tidak mengerti, kenapa letak saklar lampu tidak dekat dengan pintu kamar. Tapi, malah dekat dengan pintu kamar mandi kamar.


Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Aku segera mengulurkan tanganku untuk menyalakan saklar lampu. Terang cukup menyilaukan mataku, mataku tidak terbiasa dengan cahaya terang yang tiba-tiba ini.


Setelah mataku terbiasa dengan cahaya, aku berbalik badan dan mengedarkan pandanganku.


“Allahuakbar!!!“ Aku tersentak mundur dengan teriakan yang kacau.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2