Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD34. Tujuan bisnis


__ADS_3

“Abang sehat? Kabar mbak Canda gimana, Bang?“ Aku mengaktifkan speaker dalam panggilan telepon ini.


Setelah meninggalkan duda yang absurd itu ke kamar mandi, aku memilih untuk bersiap lebih dini dengan walk in closet yang aku kunci manual dengan grendel pintu yang terpasang. Setelahnya, aku menuju dapur, menikmati kopi pagiku dengan menghubungi bang Givan. Meninggalkan bang Ken, yang ternyata masih berbalik selimut di atas ranjangku. Ia terlelap kembali setelah gagal mencoba meruntuhkan imanku.


“Sehat, Dek. Biasa, mbak kau masih berjuang melawan rasa sakitnya.“ Setting tempat di sini, sebelum mbak Canda dioperasi tentunya. Tidak sama settingnya dengan novel Retak Mimpi.


“Bang, aku mau sharing.“ Teman sharing yang berkualitas hanyalah abang iparku ini.


“Sharing apa, Dek?“ Aku mendengar suaranya seperti tengah berjalan. Ia seperti ngos-ngosan.


Apa bang Givan di sana tengah melakukan hubungan badan?


“Abang lagi ngapain dulu? Apa aku ganggu?“ Aku tidak mau mengganggu aktivitas dewasanya.


“Abis beli sarapan di luar, Dek. Ini Abang lagi jalan masuk ke kamar mbak kau lagi, dia ada di lantai delapan soalnya.“

__ADS_1


Oh, ternyata. Pantas saja ia sampai ngos-ngosan, rupanya ia tengah melangkah cepat.


“Memang tak dapat jatah sarapan kah, Bang?“ Aku tahu itu adalah rumah sakit mahal, menu makanannya pun ala resto.


“Dapat mbak kau aja, Abang tak dapat. Ya namanya juga Cendol, kadang kan tak kenyang. Apalagi lagi hamil, butuh nutrisi banyak, ngunyah aja.“ Bang Givan menjeda kalimatnya sejenak. “Udah kau mau sharing apa? Ada masalah kah di sana?“ lanjutnya kemudian.


Aku lebih dulu menyeruput kopiku. Kemudian, aku mulai menyusun kalimat dalam benakku. “Bang, aku mau buka distributor atas nama aku sendiri. Aku…. Pengen berdiri di kaki aku sendiri. Bukan aku tak mau ngabdi ke Abang lagi, tapi aku pengen buktikan kalau orang yang tak sekolah pun bisa sukses juga.“ Aku langsung mengutarakan keinginanku.


“Abang support, finansial kau juga Abang modali sampai kau mampu modali sendiri. Tapi, untuk sekarang kau jalani dulu ya? Abang lagi fokus ke mbak kau dulu. Abang tak bisa bantu, tak bisa arahkan juga untuk sekarang sih.“


Aku sudah menebak. Aku ingin diratukan dan diprioritaskan juga seperti mbak Canda, meski laki-lakinya tak begitu baik, tapi ia selalu ingin yang terbaik untuk pasangannya.


“Coba kau amati, usaha apa yang mau kau bangun. Kalau distributor, pasar usahanya dan peluangnya di mana nih? Kau harus pahami itu, Dek. Kau pikirkan resikonya juga, jangan sampai kau cuma modal nekat aja. Meskipun Abang tak bakal minta balik modal usaha untuk kau, tapi kau buatlah seolah kau berhutang ke Abang, biar kau tak cuma cari stabil, tapi cari untung juga biar balik modal. Untuk sekarang pun, kau banyaklah berteman dulu untuk bidang usaha yang mau kau buka. Banyak-banyakin teman bisnis, biar bisnis kau cepat berkembang.“ Bang Givan menjeda kalimatnya beberapa kali, dengan suara pintu dibuka atau ditutup.


“Bawa apa, Mas? Nyicip, Mas.“ Suara menggemaskan itu. Yap, benar-benar buat gemas.

__ADS_1


“Nih, coba buka. Aku lagi ngobrol dulu sama Ria.“ Bang Givan meladeni istrinya yang tengah berbicara itu.


“Iya, Mas,” sahutan dari mbak Canda terdengar jelas, sepertinya bang Givan berada dekat dengan istrinya.


“Kau jangan dulu cerita mau buka usaha, serapin dulu ilmunya di bidang tersebut. Kau dengarkan obrolan mereka, biar paham tentang keadaan pasar sekarang lagi gimana.“


Aku manggut-manggut, meski bang Givan tidak berada di hadapanku juga. Aku mengambil sebatang rokokku, kemudian mulai menikmatinya.


“Terus, setelah tau semuanya. Aku harus gimana untuk kenalkan usaha aku ke mereka? Apa mereka bakal welcome dengan usaha yang serupa? Apa mereka tak merasa tersaingi?“ Ini yang ada di pikiranku.


“Kau jangan buat bisnis yang serupa juga. Pasti kawan bisnis kau ada aja yang cakap kalau dia butuh apa atau apa, tapi belum nemu pembisnis yang cocok untuk diajak kerjasama. Nah, pasti tuh mereka ngomong biar kau aja yang jadi relasi mereka. Setelah itu kau buatlah perjanjian pra kontrak, sembari nunggu kau bangun usaha kau. Cara ini bisa kau ambil, atau pakai cara lain yang lebih cepat. Karena cara itu, biasanya makan waktu. Kalau boleh saran sih, mending jadi distributor kopi jenis aranio aja. Jenis arabika, robusta, Gayo, atau jenis lainnya, udah terkenal di sana. Bang Ken ada di sana kan? Nah kau coba rangkul dia, untuk percayakan pasarnya ke kau. Dia kan punya ladang kopi aranio yang produktif. Daripada pasar dipegang orang, ladang dipegang orang, tak tentu arah anginnya. Dia main percaya-percaya aja, kalau dibilang kopi stabil terus. Padahal kan, biji kopi ini cenderung naik pertiga bulannya, kadang telatnya pertahun lah. Dengan dipegang orang sendiri, dia tak perlu keluarkan biaya untuk bayar orang, karena bang Ken nanti jual mentah ke kau, nah kau yang olah dan pasarkan. Kek hubungan bisnis antara mamah papah dan Ghifar aja gitu. Keseluruhan produk mentah ladang kopi mamah dan papah, dibeli mentah sama Ghifar sesuai pasaran umum. Jadi, mamah dan papah pun tak rugi betul. Karena Ghifar tak main curang kan gitu, dia berani harga. Misalkan harganya lagi satu juta tujuh ratus perak perkilonya, Ghifar main tembak satu juta seribu aja. Itu kan dikali per berapa kuintal, tiga puluh perak dikali sekian. Pikirnya, ya itung-itung ke orang tua sendiri. Tapi warga sekitar yang minim ladang, jadi pada jual ke Ghifar, karena mereka kenalnya Ghifar berani harga. Asal bisa muter dananya aja, biarpun berani bayar mahal sedikit, pasti untung kalau pandai cari relasi yang berani beli lebih mahal juga. Kek ayahnya Farida itu, dia mau lebih mahal karena kualitas. Di samping upgrade mesin kan, Ghifar ini mengutamakan cara turun menurun juga. Kek pas sangrai itu, kan tak pernah diganti. Jadi cita rasanya itu khas, tak berubah dari zaman dulu. Gitu, Ria. Jadi, kalau kau mau buat perusahaan. Ya saran Abang sih, kau rangkul aja bang Ken. Biar barang mentahnya, dilempar ke kau semua. Itu tergantung ruang lingkup kau. Kalau mau kek Ghifar, ruang lingkup kekeluargaan aja, biar yang kaya keluarganya aja, ya rangkul bang Ken. Tapi kalau kau lebih minat ke distributor, atau relasi bisnis suatu perusahaan. Ya, ikut saran pertama dari Abang. Kau matangkan dulu tujuan kau, untuk buka usaha apa. Jangan modal nekat aja.“ Aku manggut-manggut berulang, menikmati nasehat abang iparku yang bermakna.


“Tuh, Dek. Abang siap kok.“


Aku segera menoleh ke arah akses keluar masuk dapur ini. Kenandra kentir ada di sana.

__ADS_1


Masalahnya, jika aku mengambil opsi itu. Mau tidak mau, aku akan lebih dekat dengannya.


...****************...


__ADS_2