Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD106. Bersenda gurau


__ADS_3

Aku bersenda gurau dengan nyanyian Alfonso yang tidak aku pahami artinya. Ia banyak menggunakan kata 'hahay' dalam lirik lagunya, menurutku itu lucu.


“Coba kau nyanyikan lagi Indonesia.“ Ia memberikan mikrofon padaku.


“Oke.“ Tiba-tiba aku terlintas lagi Indonesia Raya.


Alfonso menepuk jidat berkali-kali, berakhir ia mematikan mikrofonku. Padahal aku baru setengah jalan menyanyikannya.


“Jangan lagu nasional, aku pernah dengar masa sepak bola Indonesia nyanyikan itu.“


Aku terbahak mendengar komplainnya.


“Kau gila, Ria! Sejak tadi kau tertawa terus.“ Alfonso mencarikan lagu lainnya lagi.


“Kita dangdutan aja. Kau bisa kan?“


Dangdut mendunia rupanya.


“Nah itulah. Masalahnya, aku tak pernah nyanyi. Gimana kalau aku yang dengar kau nyanyi aja?“ Aku menaikturunkan alisku.


“Tapi kau kenapa ketawa terus? Kau bahkan ikuti gerakan konyolku.“ Alfonso bising sekali mulutnya.


“Kau lucu, aku suka.“ Aku kembali mentertawakannya.


“Aku tak suka sama kau, Ria. Kau jelek, macam cangkang telur.“


Aku yakin ia pria muda baik-baik. Di ruang tertutup seperti ini, ia bahkan tak bersentuhan kulit denganku. Sejauh aku mengenalnya pun, ia tidak memiliki kekasih. Tapi coba aku tanyakan, aku hanya iseng saja.


“Katanya kau mau nikah sama Hana.“ Aku mengalihkan pembicaraan.


Matanya langsung membulat. “Kepala kau layang-layang! Aku tak berniat nikah, sebelum disuruh orang tua.“


Hei, ada juga begitu?


Aku terkekeh geli. “Kenapa kau tak mau nikah sebelum disuruh?“ tanyaku kemudian.


“Masa aku pendidikan menengah atas dulu, aku dipindahkan ke sekolah lain lantaran ketahuan mojok di kelas. Aku malu sekali, orang tua pun kena tegur. Sejak itu aku tak mau kenal atau punya status sama perempuan lagi, karena khawatir buat malu aja nantinya. Lagi pun tak bebas, Ria. Aku diminta untuk makan, mandi, terus antar jemput dia, aku direpotkan karenanya.“ Eh, ia malah curcol.


“Jadi kau mau punya status sama laki-laki aja kah?“ Aku memasang mimik serius.


Ia langsung memelotoiku, sontak saja aku tertawa lepas. “Otak kau geser, Ria. Malunya aku ini, kalau punya mama lebih besar dari papa.“

__ADS_1


Aku mengerti dan aku lebih kencang tertawa. Alfonso pun ikut serta dalam tawa, mungkin ia geli sendiri mendengar ucapannya.


“Jadi punya kau kecil ya?“ Aku mencoba mereda tawaku.


“Hmm, standar keknya. Aku pernah dengar cerita teman-teman, katanya milik mereka ini sekian senti dengan lingkar yang besar. Ck, langsung cek aku kan di rumah. Ternyata, aku tak sebesar dan sepanjang mereka.“


Aku terpingkal-pingkal, melihat wajah frustasinya kala bercerita.


“Makanya aku sih, tak mau cari perempuan yang tinggi-tinggi sangat kek kau. Khawatir miliknya itu dalam, terus milik aku tak sampai.“


Woy, aku susah mereda tawaku. Alfonso benar-benar seperti pelawak.


“Kau sambung aja lah.“ Aku menepuk-nepuk punggungnya seperti ia tersedak.


“Kata ayah aku di rumah, tak apa kecil, yang penting skill. Nah itulah, aku tak punya juga.“


Tawaku menggema lagi, padahal baru saja reda sebentar.


“Kau betul-betul lucu, Fonso. Kau kek pelawak,” timpalku kemudian.


“Tapi biarpun tak punya skill, aku tak berniat ngelatih skill. Aku kurang pengetahuan, takut buat hamil dan malu-maluin ayah. Ayah bukan penduduk sipil biasa, ia pasti dicontoh dan dijadikan patokan di lingkungannya.“


“Kau cuma lagi cari pengakuan aja, Fonso.“ Aku mengedikan bahuku.


“Aku ini lagi cerita, Bodoh! Mana ada aku cari pengakuan! Biar kau tak anggap bahwa aku ini suka laki-laki. Lagi pun, di keluarga aku udah biasa dijodohkan sih. Aku sengaja tak cari pacar, karena pasti akhirnya dijodohkan juga.“


Oh, ia cari aman ternyata.


“Orang tua kau juga kah?“ Aku memilih untuk duduk di sofa.


“Iya, bahkan adik perempuan aku udah ditunangi.“ Alfonso pun ikut duduk di sofa yang aku duduki.


Ternyata, perjodohan itu ada di mana-mana. Saat aku datang ke pesta ulang tahun pernikahan orang tua Alfonso pun, memang rumahnya terlihat seperti rumah sultan. Tapi begitu sultannya Alfonso, apa ia tidak terpikirkan untuk memperbaiki giginya? Bukan apa-apa, hanya lucu saja dilihatnya.


“Ria, aku mau pesan makanan. Aku capek nyanyi, kau tak mau gantian.“ Ia membuka-buka buku menu yang berada di meja.


“Oke, silahkan. Biar aku yang bayar.“ Karena aku yang mengajaknya.


“Terima kasih, Bestie. Lain kali aku ajak kau berbelanja sepuasnya di pasar ikan.“


Aku terkekeh geli, kemudian memukul lengannya. Ia pun tertawa renyah, dengan mengusap wajahnya sendiri.

__ADS_1


Aku baru memiliki teman yang menjadi sumber tawa dan enak diajak mengobrol juga. Aku nyaman berteman bersamanya, apalagi ia sopan dan segan padaku.


Esok paginya, di mana aku melakukan pengecekan kehamilan lewat testpack yang aku beli. Ternyata, hasilnya membuat tanganku gemetaran.


Aku bahagia. Tapi sungguh, aku takut untuk menerimanya. Aku takut tidak bisa bertanggung jawab dan aku takut tidak bisa menjadi orang tua yang baik.


Alhamdulillah, aku positif mengandung anaknya bang Ken.


Aku tidak akan memberitahunya lewat telepon. Tapi, pasti akan aku beritahu secara langsung.


[Abang harus pulang secepatnya, aku punya kejutan.] Aku menarik senyumanku kala mengetikkan pesan tersebut untuk suamiku.


Mungkin ia sedang sibuk, karena di sana masih jam kerja. Aku melanjutkan aktivitasku, kemudian setelah pulang dari kelas belajarku, aku langsung datang ke rumah sakit untuk meminta saran dokter kandungan karena aku masih merokok.


“Alfonso….“ Aku mengganggunya yang tengah berkumpul bersama teman-temannya.


“Ya.“ Ia mendapat sorak sorai dari teman-temannya.


Hm, dasar anak muda.


“Alfonso, aku butuh bantuan kau.“ Aku menarik lengan kemejanya, kemudian aku menariknya ke tempat yang sedikit sepi dari lalu lalang.


“Apa, Ria? Aku masih ada jam.“


“Di mana rumah sakit terdekat dari sini? Aku punya keluhan yang aku rasakan.“ Aku tidak mungkin jujur padanya.


“Biar aku ketikan di ponsel kau, jadi kau bisa langsung cari lewat Google maps.“ Ia menengadahkan tangannya.


“Boleh, boleh.“


Senangnya aku, karena akan menjadi ibu dan istri yang sempurna. Aku akan disegerakan olehnya dan aku akan dibawa pulang ke keluarga dengan status sudah menjadi suami istri resmi.


Aku akan satu rumah, dengan Bunga yang akan begitu senang bermain bersamaku setiap hari. Ia benar-benar akan menganggap anakku sebagai adiknya, lalu kita menjadi keluarga yang begitu bahagia dengan kelengkapan yang aku berikan pada kehidupan bang Ken dan Bunga.


“Kalau kau kesulitan, kau bisa tunggu kelas aku selesai. Aku akan antar ke sana, Ria.“ Alfonso sudah mengembalikan ponselku.


Masalahnya, ia kenal dan memiliki nomor telepon bang Givan. Aku khawatir Alfonso memberitahukannya pada bang Givan. Kelas itu tak selamat untukku, karena bang Ken pun belum tahu.


“Eummmm….“ Aku menimbang-nimbang tawaran Alfonso.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2