
"Kok gitu?" Ia menyatukan alisnya.
Ia punya otak tidak? Kenapa ia bertanya?
"Nyesel aku nikah sama kau! Kau bersikap seolah kau laki-laki yang baik, laki-laki yang tak berbuat aneh-aneh. Nyatanya?! Kau punya hubungan dengan dia di mana kau janjikan dan siapkan pernikahan untuk kita. Kau bajingannya! Kau bukan laki-laki baik!" Napasku kembang kempis. Aku terlampau emosi, aku sulit mencerna emosiku sendiri.
"Kan aku tetap nikahin kau."
Apa itu jawaban cerdas untuknya?
"Hati kau di mana? Kau punya status dengan orang lain, tapi kau janjikan pernikahan untuk aku. Perasaan kau gimana? Apa kau punya perasaan untuk ngerti tentang hati seseorang?" Air mataku merembes beriringan dengan getaran dalam suaraku.
"Bisa diam tak?! Yang penting, aku pilih kau dan nikahin kau?!" Ia memasang tampang menyeramkan.
Oh, jadi ia ingin aku diam? Oke, aku bisa diam selamanya mulai saat ini juga.
"Oke." Aku beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahku.
Aku akan membunuh perasaan ini, meski aku tau dia suamiku. Kekecewaanku padanya, membuat rasa peduli terkikis saat ini juga.
Sudah Maghrib, aku keluar kamar mandi sudah memiliki wudhu. Aku membiarkannya bermain ponsel, dengan Kirei yang melihat isi layar ponsel ayah sambungnya itu.
Jadi begini ya keluarga Riyana itu? Seleksi benar-benar dilakukan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan perempuannya.
Setelah aku selesai sholat, ada yang memanggil namanya. Gavin langsung keluar, sampai terdengar pembahasan tentang panenannya.
Kirei merengek, ia menggosok-gosok wajahnya. Nampak ia sudah mengantuk. Aku pun masih sesak dan dongkol, tidak lapar dan minat makan sama sekali. Lebih baik aku tidur, sambil menyusui Kirei. Karena kegiatan ini memabukkan menurutku.
Entah sudah beberapa lama aku tertidur. Gavin menepuk-nepuk kakiku pelan, dengan permintaan kecilnya.
"Mau makan, Bu." Ia masih berusaha membangunkanku.
Begitu? Butuh juga? Ia ingin aku diam kan tadi? Oke, aku akan selalu diam. Aku lanjut tidur, tanpa ketahuan bahwa sempat bangun.
Helaan napas beratnya terdengar. Kemudian, ada suara sendok yang beradu dengan piring.
"Bangun dulu, Mbu. Kau belum makan." Suaranya sedikit nyaring, diikuti dengan suara televisi yang menyala.
__ADS_1
Peduli apa ia padaku? Tadi, saat di depan pak RT saja ia mengiyakan bahwa kami dijodohkan.
Aku tidak bisa benar-benar tidur, aku mendengar jelas beberapa suara dari aktivitasnya di ruangan ini. Mungkin cukup lama, hingga akhirnya ia berbaring di belakangku dan mengusap-usap tubuhku.
Aku jadi berpikir, bahwa ia menikahiku karena b*****nya. Ia ingin tetap lancar melakukan, dalam hubungan yang halal. Ia ingin kebutuhan biologisnya terpenuhi, tanpa harus mendapat ganjaran dosa nantinya.
"Riut." Tangannya manyingkap dressku.
"Ya Allah." Tangannya hilang dari sana, tapi terasa gerakan lain.
Ia butuh pelampiasan dan aku mengerti jika aku dibutuhkan. Kali ini, aku benar-benar meninggalkannya untuk tidur.
Apa aku akan dilaknat? Tapi bagaimana suamiku yang membuatku kecewa sedemikian rupa?
Bangun lebih pagi, hanya untuk mencuci baju dinasnya. Aku tidak membuat sarapan, sengaja. Aku pergi keluar membawa Kirei, setelah mencuci dan menjemur baju kerjanya.
Aku dan Kirei sudah mandi, aku pergi untuk mengantar baju kotor ke tempat laundry makan sarapan di luar. Entah bagaimana tanggapannya dan apa ia menyadari kesalahannya kali ini.
Jika ia yang salah, ia akan beranggapan bahwa itu adalah masalah ringan. Jika aku yang bersalah, masalah itu akan berubah menjadi besar dan fatal.
Ah, anak ini. Ia hiburanku, ia temanku berjalan-jalan sendiri.
Toh, Gavin pun sudah biasa bangun siang. Ia tidak akan menyadari bahwa istrinya dan anaknya tidak ada di sisinya. Entah-entah ia akan mencari kami tidak, jika menyadari bahwa kami tidak ada bersamanya.
"Ayah Ken, kentir. Ayah Gavin, saiko. Tak ada yang betul laki-laki ini, Dek." Aku mengacak anak ini berbicara.
Kirei malah menyentuh mulutku, ia excited melihat aku mengunyah. Aku bertambah gemas padanya, alhamdulillah aku diberi anak selucu ini.
Ke mana lagi ya? Aku malas pulang kembali ke rumah. Moodku semakin bertambah buruk, kala gadis muda yang memakai rok span abu-abu itu mengantri di tukang bubur juga.
Tidak sampai di situ saja, ia menunjuk tempat di sebelahku dan ia menghampiriku. Wajahnya mirip cina, sipit begitu, dengan kulit yang putih. Tingginya lebih pendek dariku, mungkin karena ia masih masa pertumbuhan.
"Hai, Adek." Ia malah menyapa anakku.
"Hallo, Kakak." Aku harus mengajari anakku agar menyahuti sapaan juga.
"Nama Adek ini siapa, Kak?" tanya Lina dengan menyentuh tangan Kirei.
__ADS_1
Kirei langsung memperhatikan Lina begitu lekat, senyumnya belum ada di sana. Ia masih belum kenal dengan siapapun di sini.
"Kirei, namanya." Aku menjawab seperlunya ia bertanya.
"Kok sarapan tak sama bung Gavin, Kak?" Ia semakin berani bertanya.
Bung itu apa sebenarnya? Sayang kau begitu? Atau panggilan tambahan seperti contohnya bung Karno begitu?
"Masih tidur." Memang aku harus menjawab apa? Memang suamiku tadinya masih molor.
"Masa sih, Kak? Tadi papasan sama aku. Aku keluar gang, dia belok ke dalam gang."
Oh, sudah keluyuran juga itu orang.
"Keknya tak mungkin bangun siang deh, Kak. Dulu rutin antar aku sekolah."
Oh, nyambi jadi ojol gratisan juga dirinya?
"Oh ya? Baguslah, menghemat uang saku." Memang harus bagaimana aku menanggapinya?
"Iya, Kak. Kakak kenapa tak minta antar aja?"
Apa yang ada di pikiran anak ini? Apa ia ingin membandingkan Gavin ketika dengannya dan dengan istrinya?
"Kan aku bilang tadi dia masih tidur. Kau kenapa tak minta antar aja tadi pas papasan? Katanya dulu rutin antar?" Selera makanku hilang.
"Kan aku bilang dulu, lima bulan terakhir malah tak pernah datang lagi ke rumah."
Lima bulan terakhir? Aku datang dua bulan yang lalu sepertinya.
"Loh? Kenapa? Kan udah cocok betul tuh." Payahnya aku, malah mengorek informasi.
"Bapak tuh nyuruh terus biar aku dikenalkan ke sana. Terus minta tunangan dulu aja katanya, terakhir bung Gavin datang tuh, bapak minta dana untuk gelar pertunangan. Bung Gavin tak mau buru-buru katanya, mau tunggu aku lulus dulu. Tapi kata bapak, kelamaan itu sih, nikah cepat aja dulu tak apa, jangan pikirkan sekolah. Nah, di chatnya itu bang Gavin bilang ke aku begini. Ini bukan tentang ijazah katanya, tapi dia tak mau pendidikan aku terhenti karena dia. Terus gitu dia nyikapinnya, jauhin aku terus. Chat tak selalu dibalas, nyuruh aku pacaran lagi aja sama yang lain katanya. Biar apa coba dia begitu? Sampai akhirnya aku yang mutusin dia, karena capek kek digantung gitu. Bingung juga tentang dia ini, apa gitu kan maunya?"
Kok dia malah curhat? Kenapa juga Gavin tidak memutuskan Lina saja? Kenapa harus menggantung hubungan? Kenapa ia harus menyuruh Lina berpacaran lagi?
...****************...
__ADS_1