
“Bang, aku di sini aja ya? Aku tak mau pulang ke Indonesia.“ Aku mencoba melobinya, kala aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Hanya dua hari, aku dalam perawatan rumah sakit. Aku benar-benar pulih lebih cepat, hanya saja aku masih lemas. ASIku juga belum keluar lancar, katanya karena aku dalam kondisi stress. Padahal, aku tidak memikirkan apapun. Bang Givan dan mbak Canda pun tidak menyinggung apapun tentang anakku, mereka tidak pernah bertanya siapa ayah dari anakku.
“Tak, nanti hamil lagi.“ Bang Givan bukan hanya melarang, tapi ia menyindir dengan langsung.
“Tak mirip Plonco dia, Mas.“ Mbak Canda tengah membersihkan kotoran di kepala anakku, seperti daki yang mengering.
Kami sudah pulang ke rusun sewaku, kami baru pulang pagi tadi. Keluarga Alfonso sudah menengokku di rumah sakit, mereka membawa parcel buah dan juga gendongan bayi berbahan premium.
Mereka mengucapkan selamat padaku dan satu ucapan ibunya Alfonso yang membuatku terkejut, yaitu ia mengatakan bahwa anakku tak mirip Alfonso. Apa beliau benar-benar berpikir bahwa anaknya menghamiliku? Padahal aku sudah menjelaskan berulang kali, jika aku hamil dengan laki-lakiku dan aku dituduh berselingkuh dengan Alfonso.
“Fonso! Plonco! Plonco! Aku juga tau, Cendol! Plonco itu artinya menarik celana secara paksa. Mulut kau cabul betul!“ Mbak Canda malah tertawa lepas, kala suaminya sewot seperti itu.
“Aku tuh dari kemarin ngurusin, kek yang kenal sama muka begini.“ Mbak Canda berpindah mengecek lubang hidung anakku.
Ia resik sekali mengurus anak. Gusinya pun dilap menggunakan kain kasa, rutin setiap hari malah.
“Jangan bersih-bersih, Canda. Telinga juga tuh, luarnya aja.“ Bang Givan mendekati istrinya yang tengah membersihkan anakku.
“Iya, Mas. Udah ngerti kali, aku juga pelan-pelan bersihinnya.“ Mbak Canda berpindah ke arah telinga anakku.
Aku pernah mendengar tentang kuku bayi yang dipotong saat ibunya selesai nifas, tapi mbak Canda tidak menunggu aku selesai nifas. Kuku bayiku sudah dipotong dengan rapi, hanya rambutnya saja yang tidak dicukur.
“Bentuk telinganya agak lain dari anak-anak aku. Mekar meruncing kek telinga siapa ya? Keknya aku pernah bersihin gitu.“ Mbak Canda memijat daun telinga anakku dengan ibu jarinya dan telunjuknya.
“Bunga, caplang telinganya mekar lancip gitu.“ Bang Givan bangkit dan bergerak ke arah lain.
Mbak Canda terkekeh geli. “Iya ya? Kek tikus.“
Kenapa mereka tidak ada yang berpikir, bahwa Bunga dan Kirei memiliki kemiripan? Apa mereka tidak berpikir, bahwa mereka dari satu benih yang sama? Apa mereka tak berpikir, bahwa mereka satu ayah?
__ADS_1
Bang Givan pun terkekeh geli. “Tapi katanya sih nasibnya hoki, kalau telinganya caplang begitu.“ Bang Givan muncul dengan membawa roti tawar dan susu.
“Entah, buktinya Bunga tak diurus orang tuanya sendiri. Apa hokinya begitu?“ Tajamnya mulut mbak Canda. Untungnya, entah Bunga atau orang tuanya tidak ada yang mendengar.
“Hokinya, karena diurus kita. Coba kalau dia ikut ayahnya yang gila itu? Coba kalau ikut ibunya yang lagi puber kedua itu? Coba kalau dia ikut neneknya yang udah sepuh itu? Apalagi, kalau dia ikut nenek tirinya? Apa tak hancur tuh mental dan pikiran anak itu?“ Bang Givan menambahkan susu full cream ke tengah-tengah roti, lalu menumpuknya menjadi dua susun.
“Aaa….“ Ia menyuapi istrinya.
“Kau juga mau, Dek?“ Ia menoleh ke arahku.
Aku menggeleng. “Tapi abis makan, Bang.“ Mereka romantis sekali, aku ingin rumah tangga yang adem seperti itu.
“Ya tapi kan, kita tetap bukan orang tua kandungnya. Waktu pembagian rapot aja, kasian dia nunggu, karena kita antri dan ngutamain anak-anak kita dulu. Padahal itu pun dibagi, aku di sekolah yang kecil, Mas di sekolah yang besar.“ Mbak Canda berbicara setelah selesai mengunyah roti dengan susu tersebut.
“Ya begitulah. Tapi segitu, dia beruntung. Untungnya, bukan dari kalangan tak punya juga.“ Bang Givan menikmati roti bekas gigitan istrinya.
Kenapa aku tidak bisa seperti mereka dengan suamiku? Kenapa rumah tanggaku hanya seumur jagung? Kenapa rumah tanggaku hanya sebentar saja merasakan bahagia?
Aku yang tidak beruntung di sini.
Bang Givan langsung menganga, kemudian ia merapatkan mulutnya dan menahan tawa. “Sekarang kau udah tak ASI tuh, Cendol. Mekar kau nanti kek Aca, terus gym rutin sampai ke tukang pijat rutin karena pegal.“ Bang Givan tetap pergi, mungkin ia ingin membuatkan roti untuk istrinya.
“Aku tadi makan mie rebus tak pakai nasi, Mas. Tak kenyang tuh.“ Wajah kakakku memelas sekali.
“Iya, iya. Nih, aku buatin. Gendut-gendut kau juga part belakang kau aja yang makin gede, udah kek bantal.“ Bang Givan muncul lagi dengan roti tawar tiga rangkap.
“Makasih Yayah ganteng.“ Mbak Canda begitu bahagia mendapatkan rotinya.
Mereka membuatku semakin gerah saja.
“Hmm.“ Bang Givan menjepit rotinya di bibirnya, kemudian ia mengambil alih anakku yang sudah dibersihkan oleh mbak Canda.
__ADS_1
“Kireina Aqsa, anak Yayah. Cepat besar, Nak. Angkat derajat kau, angkat derajat ibu kau.“
Aku begitu terharu, mendengar bang Givan menyebut anakku adalah anaknya. Benar, yang repot lagi adalah keluargaku, orang terdekatku. Bukan orang lain, bukan kerabat lain.
Aku pun sempat berpikir, bahwa jika aku bercerai dengan suami, aku pasti pulang ke keluargaku. Namun, ego ini begitu rakus ingin mendapatkan kasih sayang seorang laki-laki seutuhnya. Sayangnya, kasih sayang tak aku dapatkan untuk waktu yang lama. Aku hanya diberi merasakan sebentar kasih sayangnya dan setelahnya malah nasib buruk akan ketidakberuntungan.
“Ria….“
Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata mbak Canda mendekatiku. Ia sudah ada di sampingku, ia duduk di tepian ranjang.
“Kau diperkosa di mana? Biar mbak minta CCTV-nya.“ Ia berbicara lirih.
“Heh, Cendol! Tak kau minta linknya aja? Untuk kau tonton bareng sama aku, terus aku contohin ke kau? Kau agak-agak ya?“ Suaminya langsung sewot.
Eh, aku malah tertawa. Mereka ada-ada saja.
“Maksudnya, mau aku cari pelakunya.“ Sendirinya saja malah tertawa geli.
“Terus kau mau apa? Kau mau tuntut pelakunya untuk nikahin Ria? Atau kau mau minta ganti biaya rumah sakit Ria kemarin ke pelaku itu?“
Aku tersindir mengenai biaya, aku tau sendiri biaya bersalin di sini luar biasa besar karena aku menggunakan metode erach, bukan persalinan normal. Ditambah, asuransi kesehatan tidak berlaku di sini.
“Suruh dia lihat anaknya, biar berubah kelakuannya. Biar dia sadar, kalau tindakannya kemarin itu buat seseorang jadi hamil. Biar dia tau, kalau anaknya kini lahir dan hidup dari rahim seorang perempuan yang dia perkosa.“
Kenapa mbak Canda sampai memiliki pemikiran seperti itu?
“Tak semua orang mau berubah, Canda.“
Mbak Canda menoleh pada suaminya. “Sekelas b******n kek Mas aja, berubah karena anak kok.“ Ia memukul rata bahwa semua orang bisa seperti suaminya.
“Kalau perempuannya bukan kau, aku tak mungkin berubah. Memang ada aku menjadi lebih baik, masa sama Nadya dulu? Jadi, yang jadi perempuannya pun harus bisa bawa perubahan untuk laki-lakinya.“
__ADS_1
Aku tersindir dengan ucapan bang Givan. Ya, aku sadar. Aku tak mampu memberikan perubahan untuk bang Ken, aku bukan perempuan yang bisa memberikan perubahan untuk kehidupannya.
...****************...