
"Berarti tak ada masalah intern tentang sifat kau?" Seiring pertanyaanku, Gavin langsung memicingkan matanya.
"Kau pikir minus aku banyak?!" Ekspresinya alami marah tapi lucu karena matanya sayu.
"Iyalah, makanya jadi duda." Aku tertawa lepas.
"Minus aku cuma barang aku bekas mulutnya dan intinya." Ia berkata dengan bangkit dari kursinya.
Membicarakan barang, aku jadi melirik ke arah resleting celana jeansnya. Lagi pun, kenapa juga ia berdiri? Apa ia ingin memperlihatkan, bahwa inilah yang bekasan itu.
"Kau pelit atau gimana gitu? Aku pernah gagal, jadi harus waspada." Sebenarnya aku lebih ke sadar diri saja.
"N****an! Aku sadarnya itu aja." Ia memperhatikan jam dinding, kemudian menyamakan dengan jam tangannya.
"N****an gimana? Emosian?" Karena n**** itu banyak maknanya.
"Tak, pengen begituan. Emosi sih, tergantung sebab akibat lah." Ia menoleh ke arahku.
"Jam istirahat belum sih?" Ia berjalan mendekat ke mejaku lagi.
"Belum, setengah jam lagi." Aku mulai memakan jengkol itu lagi.
"Kata mamah tuh, minum vitamin B12. Biar mulut dan pembuangannya tak bau, kalah habis makan jengkol atau petai tuh." Gavin duduk di mejaku, dengan satu kakinya menggantung dan satunya menapak. Ia melirik ke arah wadah jengkol yang ia bawa, kemudian memperhatikan aku yang tengah makan.
"Kenapa kau nolak aku?" Nada bicaranya seperti serius.
Aku memandangnya sejenak, kemudian aku melihat ke arah jengkol itu lagi. Aku deg-degan dengan sorot sayu nan dalamnya.
"Terlalu cepat." Sungguh, aku merasa tidak ada alasan lain selain itu.
"Oh ya? Kau kuat nahan-nahan aku terus?" Ia menarik tanganku, dengan jari telunjuk dan ibu jari yang penuh bumbu.
Ia ingin apa? Tatapan dalam sekali, dengan bibir yang sedikit terbuka. Aku meremang seketika, kala tanganku ditariknya dan satu persatu jariku yang penuh bumbu itu masuk ke dalam mulutnya.
Ngeces sudah aku ini melihat pemandangan ini. Hangatnya mulut itu, ketika jariku masuk ke dalam mulutnya. Aku merasa telingaku memerah dan wajahku seperti kepiting rebus sekarang. Minatku langsung naik seketika, dengan serangan ringannya.
Kenapa anak papah Adi saat dewasa begitu menarik seperti ini?
"Seberapa kuat kau nahan aku? Seberapa kuat kau nolak aku? Aku mau dengar, biar aku bisa percaya dan sabar." Tanganku sudah diturunkan kembali olehnya.
Ya ampun, bahkan aku lupa mengunyah jengkol yang berada di mulutku. Aku lekas mengunyah dan menelan, sebelum aku bisa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku tak tau." Aku gugup seketika.
"Kau harus bisa jawab, biar aku bisa ngerti. Kalau kau memang sekuat itu untuk tahan aku, aku pun bisa kasih kau waktu lebih lama untuk mau sama aku." Gavin seperti memaksa.
"Kenapa kau terkesan tak menerima penolakan?" tanyaku dengan memandang wajahnya lagi.
"Untuk apa kau nolak? Kau tertarik sama aku, aku tertarik sama kau, jadi harus nunggu apalagi?" Kini ia menarik daguku.
Anak laki-laki yang aku ceboki beberapa tahun silam, kini mengobrak-abrik hati dan keimananku. Ya Allah, inilah beban akhiratku. Aku sadar, tapi tolong salahkan laki-lakinya juga.
"Kau tak tau inginku, Vin." Aku merasa diriku akan terbang dari kursi ini.
Padahal apa? Padahal aku hanya ditatap olehnya. Matanya yang sayu itu, ternyata memiliki senjata yang kuat.
"Apa aku harus nunggu kau mimisan dulu? Apa aku harus nunggu rok kau basah kuyup dulu?" Senyum usilnya langsung keluar.
Sialan, aku salting setengah mampus!
"Kau ngerjain aku?!" Aku langsung merengek dan mencubit perutnya.
Ia tertawa lepas, kemudian menahan tanganku. "Tak, Kak. Aku serius, aku tak lagi bercanda."
"Tapi kita beda sekarang, karena kita udah baligh dan udah sama-sama dewasa sekarang. Kalau perbedaan usia yang kau permasalahkan, nyatanya bang Ghifar sama kak Aca langgeng sampai sekarang." Suaranya hanya lirih, tidak terdengar lembut seperti tutur kata bang Ken ketika ia ada maunya.
"Kan udah jodoh." Aku pun tahu bang Ghifar dan kak Aca sama-sama kuat cintanya.
Karena aku tahu sendiri, konsep rumah tangga mereka itu seperti teman. Yap, teman hidup. Mereka sharing segala macam, dari pekerjaan sampai hal pribadi. Aku tahu, saat ikut berkendara bersama di mobil mereka.
"Ya berarti, kalau kita udah jodoh pun ya bisa aja. Aku tak terima penolakan kau, aku sakit hati dan aku pengen hamili kau." Ekspresinya membuat aku tertawa kepas.
Aku memukul lengannya pelan. Ia humorku sejak ia berada di sini. "Biasanya, sakit hati itu pengen bawa ke dukun kek. Ini sih, malah pengen hamili." Aku geleng-geleng kepala.
"Tak, aku orangnya tak tegaan. Coba dipikirkan ulang aja, aku tak mau kalau harus ditolak. Kalau meski nunggu, pastikan jangan sampai kau hamil duluan ya?"
Hah?
Ia menungguku, dengan aku yang harus bisa melawannya. Jika aku akhirnya tidak mampu melawannya, resikonya adalah hamil. Pandai sekali ia merangkai kata dan menakut-nakutiku.
"Kau pulang dulu aja ke Lampung." Dengan jarak, kami akan aman.
"Iya, besok aku pulang. Makanya, hari mau ajak keluar. Keluar bareng gitu kan?" Ia menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Ahh, aku mengerti apa itu keluar bareng.
"Tak mau ah kalau gitu sih." Katakan tidak untuk zina besar.
"Minta jatah dulu lah, aku kan mau pulang." Ia mengulurkan tangannya dan malah mencubit kedua pipiku berlainan arah.
"Ahh, kau nih." Aku menggunakan make up, aku khawatir make up yang aku kenakan malah geser.
"Ayo, tak pengen kah." Ia mengusap tengah-tengah tubuhnya, kemudian memasang wajah n**** yang dibuat-buat. Konyolnya lagi, ia malah menahan tawa.
Kan aku jadi geli sendiri melihatnya. Ia ada-ada saja, ia bertingkah konyol terus. Memang lain jika bocah beraksi menonjolkan dirinya.
Coba ah aku isengi.
"Keras kah? Coba lihat." Aku mengulurkan tanganku mencoba memencet miliknya.
"Woy!" Ia menepis tanganku, ia langsung turun dari mejaku dengan paniknya.
Aku tertawa lepas, aku tidak berniat untuk benar-benar menekan miliknya. Aku hanya iseng, tapi ia sudah panik.
"Bukan apa-apa, takutnya aku maksa." Ia bolak-balik di depan mejaku.
Kok aku tiba-tiba teringat dengan bang Ken. Miliknya sangat sensitif, hingga aku pernah mengo***nya, tidak lama ia selesai. Ia mengatakan, bahwa memang miliknya sangat sensitif.
"Kalau dipegang, kl*maks kah?" Barangkali, miliknya sama dengan bang Ken.
"Tak juga, tapi takutnya maksa. Kalau udah on fire, rasanya tuh kek harus. Aku tak bisa, kalau nahan-nahan terus. Kepala rasanya mau pecah, mata rasanya mules betul. Udah emosi aja, sensitif dan jadi malas ngapa-ngapain. Jadilah aku begini. Niat hati sih menghindar, tapi malah badan tuh kek tak sadar gerak sendiri." Ternyata, l*****nya menyeramkan juga.
"N****nya besar tuh, punya skill tak?" Aku bersedekap tangan.
Ia menoleh kaget. Sepertinya, aku salah berbicara.
"Cobain kah?" Ia berjalan ke arah pintu kaca yang dilapisi kaca buram tersebut.
Klik….
Silalan! Ia menguncinya.
Anak papah Adi tidak bisa dibercandai.
...****************...
__ADS_1