
Sudah seminggu dari kejadian itu. Bukan, tepatnya dari kejadian yang kedua. Ini gila dan memang gila, aku malah terlena dengan sensasi yang ia berikan. Aku sudah melakukannya lagi, bahkan kali ini aku melakukannya dengan sadar.
Meski aku paham, bahwa itu adalah bujuk rayunya. Tapi, tetap saja aku terlena dengan bujukannya. Belum lagi dengan caranya memperlakukanku, aku merasa begitu dispesialkan.
Dengan segala macam perimbangan dan keputusan yang matang. Akhirnya, aku dan bang Ken memutuskan untuk pulang ke rumah untuk meminta restu. Tak hanya restu bang Givan, tapi juga restu dari ibu.
Perjalanan yang sungguh tidak biasa, karena bukan hanya hatiku yang terus berdebar. Tapi, di pesawat tadi pun ada sedikit guncangan yang cukup mengkhawatirkan.
Tidak banyak yang kami bicarakan, kami gunakan waktu dalam perjalanan untuk istirahat. Hubunganku dan bang Ken kian romantis, tapi kami tidak memiliki status berpacaran. Namun, pada teman-temannya yang terhubung dengan ponselnya. Ia mengenalkanku sebagai calon ibu sambungnya Bunga.
Cukup membanggakan mendapat sematan itu. Aku berpikir, akulah pemenangnya. Tapi, tidak tahu juga bagaimana cerita akhirnya. Kalaupun aku bukanlah pemenangnya, aku harus berusaha untuk menang.
Perjalanan darat sudah kami tempuh, hanya menunggu beberapa menit lagi, kami akan sampai di ujung gang yang menjadi hunian keluarga besar Riyana. Ya, terkenalnya adalah keluarga besar Riyana. Karena di sana, terdapat studio musik dan video yang menggandeng nama Riyana.
Keren, bukan? Cukup keren, karena studio musik itu telah melahirkan banyak karya orang-orang berbakat dari beberapa kota. Ya memang sih, masih satu provinsi juga. Tapi asal kalian tahu saja, provinsi ini sudah seperti sebuah negara. Di mana, stasiun televisi pun memiliki banyak chanel lokal dan juga produksi dari sini sendiri. Banyak beberapa film, yang menggunakan bahasa daerah sini. Bahkan, jumlah artis lokal yang tenar pun tidak sedikit. Entertainment di sini begitu maju. Aku tidak tahu banyak, tapi aku hanya mendengar informasi tentang itu.
Aku pernah mendengar cerita juga, katanya provinsi ini tidak pernah disentuh oleh Belanda saat penjajahan dulu. Tapi, di provinsi ini pun ada suku bermata biru. Konon katanya, nenek moyang mereka adalah bangsa Portugis yang menikah dengan penduduk asli setempat.
Sebaiknya belajar sejarah saja. Karena jika mendapat informasi dariku, khawatirnya melenceng karena ini sebuah novel, bukan blog tentang informasi sejarah dan berita khusus. Ya mana tahu authornya mengarang, kan namanya juga novel? Novel kan karangan.
Oke, kembali dalam ceritaku. Tanah yang kupijak pertama kali, adalah halaman rumah bang Givan. Entah kenapa, tapi bang Ken beralasan ia akan canggung jika langsung bertemu dengan ibu. Menurutnya, hal ini dibicarakan dulu dengan bang Givan. Jika memang bang Givan dan mbak Canda setuju, barulah kami membahasnya dengan ibu. Aku tahu, ibu tidak muluk-muluk. Tapi, keinginan ibu adalah menantunya seorang bujang. Bukan karena ibu tidak mau memiliki cucu tiri, hanya saja ibu khawatir jika aku memilih duda, maka ia akan bermasalah karena ia sampai mengemban status duda. Jika ia tidak bermasalah, ia akan tetap jadi suami orang. Begitu, menurut pemahaman ibuku.
Lihatlah, anak perempuannya begitu merindukan kami. Bunga sampai menangis terharu, ketika kami datang langsung padanya tanpa mengabari lebih dulu.
Bang Givan pun tahu, bahwa kami baru saja turun dari taksi online ini. Tapi apa? Ia hanya memperhatikan kami saja dari jauh di teras rumahnya.
Ia bersedekap tangan, kemudian masuk ke dalam rumah.
Entah apa yang ia kondisikan di dalam sana. Karena melihat dari jumlah sandal yang terparkir di anak tangga teras, sepertinya sedang ada tamu.
__ADS_1
“Ayah, nanti ajak aku pasar malam ya?“ Bunga memeluk leher ayahnya.
Bang Ken tengah menggendong anak perempuannya itu.
“Oke, Sayang. Udah jam empat nih.“ Bang Ken melirik ke arah jam tangannya. “Mandi, sholat. Ngaji kan di meunasah?“ Bang Ken mencium pipi anaknya.
“Iya, Yah.“ Bunga minta diturunkan.
“Kak Ria….“ Ia menarik-narik tanganku, setelah ia turun dari dekapan ayahnya. “Nanti bobo di rumah aku ya? Aku mau banyak ngadu.“
Aku tertawa geli mendengarnya. “Oke siap, Sayang. Gih, mandi dulu.“ Aku mengusap pipinya dengan ibu jariku.
Ia ceria sekali.
“Ya, Kak. Dadah….“ Ia berlari ke arah rumahnya.
Keith.
Benar, ia tengah duduk berhadapan dengan bang Givan. Percakapan mereka terhenti, saat aku mengucapkan salam dan melangkah masuk.
“Ke mbak kau dulu, Dek. Ajak Bang Ken ke belakang dulu,” pinta bang Givan setelah melihat kehadiranku di sini.
“Ya, Bang.“ Aku menggandeng bang Ken, untuk melewati mereka berdua.
Setahuku, perusahaan dalam kondisi aman. Malah, cenderung tengah tinggi-tingginya. Apa yang membuat Keith datang? Apa, ini di luar tentang pekerjaan.
“Ehh, orang Kalimantan.“
Di manapun tempatnya, mbak Canda selalu menyebut pulaunya, bukan nama kotanya.
__ADS_1
“Loh, jadi kembar kah bayinya?“ Agak bingung aku melihat dua bayi ini.
“Bersih-bersih dulu sana, nanti Mbak cerita. Ajak Bang Ken ke kamar lain dulu, suruh istirahat dulu.“ Mbak Canda menoleh ke arah pintu kamar tamu yang terlihat dari tempatnya.
Ia tengah melipat baju, dengan dua bayi yang ukurannya hampir sama, tengah menendang-nendang tak tentu arah, dengan pandangan tertuju ke arah televisi yang menayangkan orang mengaji. Sepertinya, itu YouTube.
“Ya, Mbak.“ Aku menuruti perintahnya.
Aku meminta bang Ken untuk masuk ke kamar yang sudah ditunjuk mbak Canda, dengan aku yang kembali dan menuju ke kamar pribadi mbak Canda dan bang Givan. Aku ingin mandi dulu, tapi di kamar mandi luar tengah ada bu Muna yang tengah mandi.
Setelah mandi, aku berdandan agar tidak terlihat pucat dan lesu. Kemudian, aku memakai pakaian sehari-hari yang sopan. Pakaian siapa? Ya pakaian mbak Canda. Karena aku pulang ke sini tidak membawa baju, aku hanya membawa tas jinjing yang berisi keperluan selama perjalanan saja. Tidak ketinggalan juga, aku membawa power bank.
Sudah siap.
Aku keluar dan berjalan ke ruang keluarga kembali. Rupanya, tidak hanya ada mbak Canda. Sudah ada bang Ken yang sudah rapi dengan pakaian lain, kak Aliyah dan kak Ifa, sepertinya mereka ditunjuk untuk membantu mengurus dua bayi itu.
Aku tidak tahu itu bayi siapa, karena mbak Canda pun hanya memberitahuku tentang satu bayi yang ia lahirkan kemarin. Eh, tapi kok satu bayi itu tidak mirip bang Givan atau mbak Canda. Ia mirip seperti keluarga papah Adi.
Yaaa, you know lah. Hitam manis, dengan hidung yang cenderung mancung dan kokoh. Bibirnya pun, tipis di bagian bawah. Belum lagi alis dan rambut yang begitu lebat. Apa bayinya Giska? Tapi bayi Giska kan sudah cukup besar. Aku tahu, karena Giska selalu memasang foto anaknya di story WA-nya.
“Jadi, dokumennya gimana?“ Bang Ken terlihat serius bertanya, dengan menggendong bayi yang tidak mirip dengan keluarga kecil mbak Canda itu.
Bang Givan itu tidak ada mirip-miripnya dengan keluarga papah Adi, jadi keturunannya pun tidak condong ke rupa yang mirip papah Adi. Bang Givan hanya anak tiri di keluarga ini.
“Masih gantung, bapaknya sekarang malah butuh psikolog khusus. Putri lagi rekomendasikan, karena kemarin ganti psikolog lagi dengan alasan ngobrolnya kurang nyaman.“
Oalah, Putri ada di sini kah? Aku jadi deg-degan.
...****************...
__ADS_1