Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD83. Alfonso


__ADS_3

“Abang kangen.“ Aku langsung memeluk panutan yang memberiku banyak pelajaran hidup.


“Hmm, sehat-sehat, Cantik.“ Bang Givan mengusap-usap punggungku, kemudian melepaskannya.


Ia tidak pernah mau lama memelukku. Mungkin, karena ia merasakan part depanku. Atau, karena hal lain.


“Abang kangen.“ Alfonso malah mengikuti yang mendadak memeluk bang Givan yang baru saja melepaskanku.


Aku langsung menarik tangannya, yang baru saja memeluk bang Givan. Aduh, aku jadi malu karena sudah membawanya dan menjadikannya sopir pantas.


“Why? Isn't that how you say hello?“ Wajahnya terlihat polos sekali.


“Not. Ria says, she misses me. I'm his brother-in-law.“ Bang Givan menggerakkan tangannya juga sebagai isyarat.


Aku jadi berpikir, jika orang Indonesia memang terbiasa menggerakkan tangannya untuk memperjelas kosa katanya.


Dialog di atas, Alfonso mengatakan bahwa 'mengapa, bukankah begitu caramu mengapa?' lalu bang Givan menjawab 'bukan. Kata Ria, dia merindukanku. Saya saudara iparnya.' seperti itu yang bang Givan katakan.


“Oh, hi. Ria's brother-in-law.“ Alfonso melambaikan tangannya pada bang Givan.


Aku terkekeh mendengar sapaan Alfonso. Bang Givan terkekeh kecil, dengan menahan tawanya.


“Hi Ria's friend too. You may rest, I will show you a room for your rest.“ Bang Givan mengajak Alfonso masuk, kemudian bang Givan menunjukkan salah satu kamar dan mengantarkan Alfonso ke sana.


Artinya, hai juga sobat Ria. Anda dapat beristirahat, saya akan menunjukkan kamar untuk istirahat anda.


Aku merasa bangga dengan kecakapan bahasa Inggris bang Givan. Padahal, ia kuliah bukan di bidang bahasa.


Dasar, pemuda gigi depan patah sebelah. Dilihatnya memang lucu, tapi gigi itu bisa patah karena kecelakaan atas keteledorannya. Ia menabrak motor yang tengah melaju, padahal ia berjalan kaki. Entahlah, aku agak bingung mendengarnya bercerita dengan bahasa campuran.

__ADS_1


Entah ada percakapan apalagi, karena aku masih berdiri di ambang pintu rumah ini. Aku sudah bertegur sapa dengan Gavin di depan, ia tengah mengajak sopir pribadi yang mengantarku ke sini untuk rehat juga.


Rumah ini, adalah rumah mamah Dinda yang lama. Hanya saja, memang banyak perubahan di sini. Termasuk, rumah anak mantan majikan ibu juga. Karena sekarang, rumah itu menjadi bangunan yang cukup tinggi, dengan pagar depan yang tinggi juga. Mungkin, banyak perbaikan selama ini.


“Sini, Dek.“ Setelah muncul dari sebuah kamar, bang Givan melambaikan tangannya.


Aku menoleh ke sekeliling, sampai akhirnya aku masuk ke dalam rumah yang terlihat begitu kokoh. Banyak rumah-rumah milik mamah Dinda yang terpencar di beberapa tempat, padahal tak jarang juga tidak berpenghuni. Hanya sesekali mereka kunjungi, dengan alasan untuk dijadikan tempat rekreasi saja.


Seperti salah satu rumah megahnya di Cirebon. Rumah itu adalah ganti dari rumah yang dijadikan TKP tindak asusila bang Givan pada mbak Canda, ya sejarah cinta mereka memang berawal dari cerita yang kurang baik.


Rumah aku sempat aku kunjungi, saat menjemput Bunga di Cirebon. Rumah itu cukup terurus, karena abi Haris mengutus asisten rumah tangga dan tukang kebunnya untuk membersihkan rumah mamah Dinda tiap bulann. Meski kosong lama, tapi terurus dan terpelihara.


“Teman kau kocak. Kau nikah aja sama dia, dijamin kau awet muda.“ Bang Givan terkekeh, dengan merangkulku mengajakku ke arah dapur.


“Aku pernah iseng sama dia. Aku bilang, aku suka sama kau, kau suka tak sama aku. Dia bilang, tak, kau jelek, muka kau lonjong, kau lebih mirip cangkang telur katanya. Mau nangis aku ngakak tak udah-udah.“ Aku bercerita tentang pelipur laraku di sini.


Jika Hana, dia lebih seperti loading lama. Ia bahkan bisa tertawa sendiri, setelah mengingat kisah lucu yang baru ia pahami. Itu juga, cukup mengundang bahan humorku.


“Tapi tak disangka loh, Bang. Ayahnya ini orang militer sini, ibunya sih ibu rumah tangga biasa. Tapi kan si Alfonso ini tak minat di bidang militer, orang tuanya tetap dukung keminatan dia.“ Aku bercerita sedikit tentang temanku itu.


“Orang tuanya berpikir luas. Anak malah didukung itu bisa sukses, yang dipaksakan di bidang lain malah sulit sukses atau bahkan gagal.“ Bang Givan mengajakku ke dapur.


“Abang beli makanan jadi. Abang antar dulu ke kamar kawan kau ya? Kau makanlah dulu. Menurut Abang sih, makanan ini yang paling ramah di mulut Abang.“


Aku manggut-manggut, dengan memperhatikan jenis makanan yang terhidang di meja makan ini. Makanan ini pun, sering aku makan.


“Oke, Bang.“ Aku berjalan ke arah wastafel dulu.


Sedangkan bang Givan pergi kembali, dengan membawa makanan dan sebotol air mineral. Entah sudah berapa hari, bang Givan berada di sini. Dilihat dari tempat sampahnya, sudah cukup banyak terisi sampah bungkus makanan.

__ADS_1


Bang Givan kembali, ia menelpon seseorang di ponselnya. Kemudian, ia mengarahkan kameranya ke arahku.


“Perempuan siapa itu?“


Eh, suara hebih si mbak Canda.


“Gendik Bang Givan,” jawabku dengan menahan tawa.


“Apa??!“ Entah dirinya kaget, atau kurang mendengar.


“Aku Ria, Mbak.“ Aku berjalan ke arah ponsel bang Givan. Aku mengambil alih ponsel tersebut, kemudian kami sama-sama duduk di depan meja makan ini.


“Ohh, kau ke Abang mau?“ tanyanya kemudian.


“He'em.“ Aku melirik bang Givan. “Mbak, bilangin bang Givan suruh tambahkan jatah jajan aku. Lima juta tak cukup untuk kebutuhan jajan di sini.“ Aku sengaja berkata di depan kakakku sendiri, karena aku tidak berani jika berbicara langsung pada bang Givan untuk menuntut uang jajan.


“Ya jangan jajan lah, makan aja di rumah udah.“


Lihatlah, suaminya sampai tertawa lepas dengan mulut terisi makanan. Aku tidak bisa tidak jajan, karena Alfonso dan Hana adalah jenis perut karet sepertiku juga. Kami cenderung tetap kurus, meski makanan yang masuk sudah sebakul. Kadang aku berpikir kalau aku ini cacingan, aku bahkan pernah minum obat cacing.


“Tambahin dua juta dari uang belanja, Mbak.“ Aku sengaja memelas di sini.


“Iya, nanti Mbak bilangin. Tadi Mbak ngomong sama teman laki-laki kau, pacar kau kah?“ Mbak Canda di sana tengah menyusui. Aku bisa melihatnya, yang tengah membenahi kain penutup menyusuinya tersebut.


“Bukan, Mbak. Teman aja, dia masih kecil. Di bawah Gibran umurnya, dia baru dua satuan keknya.“ Alfonso menjadi kecurigaan bang Givan dan mbak Canda sepertinya.


Tapi kami hanya murni berteman. Alfonso pun sesekali mengenalkan temannya padaku, tapi ia bercerita bahwa temannya itu kurang baik, sehingga ia tidak terlalu akrab.


“Ohh, Mbak tanya pakai bahasa yang ditranslate Abang ipar kau. Katanya, aku tak suka Ria, dia tak cantik, dia pun kek tiang lampu penyeberang katanya. Kami berteman aja, soalnya kamu sama-sama doyan makan dan jajan. Mbak dengar translate dari Abang ipar kau ini, ngakak aja, kok lucu gitu. Kek apa adanya betul, kan betul itu kalau mirip tiang lampu penyeberangan.“

__ADS_1


Awalnya aku tersenyum kecil karena merasa geli mendengar cerita mbak Canda, tapi berakhir aku memasang wajah 😑. Mbak Canda pun memang apa adanya juga ternyata.


...****************...


__ADS_2