
"Ceritanya, aku nikah siri sama bang Ken dan cerai. Aku hamil sama dia, terus punya anak namanya Kireina Aqsa. Gavin nikah muda, cerai sama istrinya dan dia punya anak namanya Calinda Cakra. Terus, aku dan Gavin ada feel dan nikah deh. Baru dua bulanan yang lalu nikah, sekarang udah lagi hamil." Aku mengusap perutku.
"Fehran önce kıyafetlerini giydi."
Aku teralihkan dengan suara lembut dan cangkok asing itu.
"Oh evet." Kak Novi mengangguk, kemudian ia segera bangkit.
Anak laki-laki ini memperhatikan ayahnya saja, ayahnya pun sama memperhatikan anaknya juga. Mungkin ingin mengambil alih Fehran, tapi ia bingung mengajakku berbicara.
Tak lama, kak Novi kembali dengan membawa baju Fehran. Ternyata, perintah suaminya itu untuk memakaikan baju ke Fehran.
"Buradaki iletişim İngilizcedir." Kak Novi memandang laki-lakinya itu.
Hanya anggukan, kemudian laki-laki itu keluar dari dalam rumah. Ia terlihat tengah berbicara dengan papah Adi dan bang Ken di teras rumah, terdengar pun kosa kata yang keluar menggunakan bahasa Inggris.
"Önce giyin Fehran." Kak Novi memakaikan Fehran pakaian.
"Memang harus pakai bahasa sana aja ya?" Aku menahan ketiak Fehran saat ibunya tengah memakaikan Fehran celana.
"Ya bahasa Indonesia sesekali aja, di sana kan bahasa yang dipakai ya bahasa Turki. Nanti dia tak paham lagi orang ngomong bahasa Turki, kalau aku ajarkan bahasa Indonesia." Kak Novi menyelesaikan tugasnya memakaikan Fehran pakaian.
Uhmmm, tambah ganteng saja dia.
"Iya sih, Kak." Aku memeluk Fehran kembali, saat dia selesai mengenakan baju.
Gemas.
"Eh, bukannya Gavin masih kecil ya? Tuaan kau kan? Kau doyan dia masih kecil gitu?" Kak Novi berbicara lirih dan menepuk lenganku.
"Ah, masa iya kecil?" Aku meliriknya dan menahan tawa.
"Iya kan? Kecil kan?" Ia melebarkan matanya dengan memperjelas kata yang ia ucapkan.
"Aku tunjukkan ya fotonya, masa iya segini kecil." Aku mencari foto suamiku di galeri ponselku.
Namun, kak Novi malah menahanku. "Jangan! Jangan! Masa kau mau nunjukin foto…."
Kok ucapannya menggantung? Aku ingin menunjukkan foto suamiku, memang ia kira aku ingin menunjukkan foto apa?
"Ini loh Gavin sekarang." Aku tetap menunjukkan foto suamiku.
__ADS_1
Ia panik sejenak, kemudian ia menghela napasnya. "Huft, aku kira." Ia geleng-geleng kepala.
Memang apa yang ingin aku tunjukkan padanya? Foto anu suamiku? Ya tak mungkin juga, ngaco saja kak Novi ini.
"Ih, udah gede ya? Aku tak tau, di medsos pun tak berteman." Kak Novi fokus memandang layar ponselku.
"Bukan gede lagi, berotot dong." Aku membanggakan suamiku.
Suaminya memang berotot juga, tapi tidak segagah suamiku tentunya. Menurutku, dadanya paling lebar di antara kakak-kakaknya.
"Iya sih, dewasa betul kelihatannya."
Untung, dia tidak mengatakan suamiku tua.
"Iya dong." Aku bangga memiliki suami yang seperti suamiku.
"Gadis kau berarti bukan sama Gavin ya? Bujang Gavin pun berarti tak sama kau ya?" Kak Novi menyangga kepalanya dengan tangannya yang menempel ke sandaran sofa.
Aku menjentikkan jariku "Betul."
"Kenapa doyan sama bang Ken?" Matanya tertuju ke arah bang Ken, yang terlihat dari kaca jendela ruang tamu.
"Kakak aja yang istri orang doyan dia kok." Aku tertawa sumbang.
Eh, ia malah tertawa lepas.
"Bodoh betul ya kita perempuan?" Ia menepuk jidatnya sendiri.
Merasa jadi korban ia rupanya.
"Tapi gimana, Dek? Masih enak dia di usianya sekarang?" Wajahnya menyebalkan sekali.
Aku yang bersembunyi untuk tidak mendapat pertanyaan ini dari kak Riska dulu, tapi malah mendapatnya dari kak Novi.
"Enakan Gavin." Aku menutupi wajahku malu dengan satu tanganku, karena tangan kiriku menahan Fehran agar duduk anteng di pangkuanku.
Tawanya lepas sekali. "Anak kecil bisa ngenakin ya? Tapi kalau aku boleh jujur, enak tuh ya enak punya mantan suami. Keras tuh, kek kayu. Kalau bule kan, kek kurang kaya kayu. Gimana ya? Tekstur kulitnya aja itu lain sama orang Indonesia, apalagi batangnya." Mulutnya cabul sekali, tapi kami terbahak-bahak membahas hal itu.
"Kalau skill gimana tuh?" Aku teringat tentang ganasnya seorang bule dalam permainan film dewasa.
"Cukup lah, soalnya mantan suami oke juga susah bangun. Ada aja tuh plus minusnya tiap laki-laki tuh, mantan suami begitu, suami baru begini. Tapi ya tetap disyukuri, alhamdulillah setia dan tak pelit. Awal kita komunikasi itu, pakai google translate loh. Aku kurang bisa bahasa Turki, dia kurang bisa bahasa Inggris. Tapi sekarang, dia fasih bahasa Inggris, aku fasih bahasa Turki juga."
__ADS_1
Aku manggut-manggut menyimak ceritanya.
"Terus pacaran dulu kah sebelum nikah?" Sedikit aku ingin tahu tentang kehidupannya di sana.
"Tak pacaran, dia agamanya bagus alhamdulillah. Berteman aja, terus dia banyak cerita, banyak ngenalin ke saudaranya. Terus bilang lah, aku ada ingin punya komitmen sama kau. Alhamdulillah juga, dia bujang." Ia tersenyum lebar di akhir ceritanya.
"Alhamdulillah, aku dapat duda pun tak terasa kok dapat barang bekas juga." Aku pun bersyukur dong bisa memiliki suamiku.
Eh, kak Novi tertawa lagi. "Jadi pengen tau Gavin langsung, ke mana dia?" tanyanya kemudian.
"Bentar ya aku telpon." Aku langsung menghubungi suamiku.
Panggilan telepon ditolak, tapi sedetik kemudian ia melakukan panggilan video.
"Aku ada, Riut. Tuh sama bang Ghifar." Wajahnya sampai satu layar ponsel full. Ia mengarahkan laki-laki yang ada di sampingnya juga, bang Ghifar ada di sana dan melirik ke arah kamera.
"Siapa nih?" Aku mengarahkan layar ponselku ke arah kak Novi.
Bukannya kak Novi yang kaget. Eh, malah Gavin yang kalap di sana.
"Aduhai, cantik that." Mulut suamiku membuatku cemburu.
"Hallo, manis." Kak Novi melambaikan tangannya ke arah ponselku.
"Eh, kek kenal. Siapa ya dia, Bang?" Ponselnya seperti dijauhkan, jadi aku bisa menangkap dua wajah di sana.
"Ehh, Nov. Ada di mamah kah? OTW sekarang."
Ungkapan bang Ghifar membuatku shock. Padahal, ia terlihat alim sekali. Tapi tidak disangka, haus mantan juga.
Malam ini juga, rumah mamah Dinda amat ramai. Singkong, ubi dan jagung mendadak diorder. Meski bukan hari libur, malam ini seramai malam tahun baru.
Sambutan mereka hangat untuk suami kak Novi juga, kebetulan kami semua banyak yang mengerti bahasa Inggris. Suaminya kak Novi pun sampai mengacungkan jempol, saat beberapa cucu Riyana pun bisa berkomunikasi dengannya dengan menggunakan bahasa Inggris.
Tentu saja cucu tertua, seperti Key, Jasmine, Aksa, Kal dan Chandra. Mereka sudah SMP, mereka pu seminggu sekali mengikuti les bahasa untuk bekas bisnisnya di masa depan, jadi mereka bisa melakukan tanya jawab ringan menggunakan bahasa asing.
Bang Ghifar hanya pura-pura kangen saja, karena memang saat sampai di rumah ia terlihat cuek. Malahan, ia repot dengan anak-anaknya sendiri. Hifzah begitu posesif pada ayahnya, ayahnya harus selalu ia gandeng saat ia bermain.
Kalian tahu, titisan mamah Dinda selain Key adalah Hifzah. Malah, wajah Hifzah persis seperti mamah Dinda. Hifzah merupakan cucunya dan cucu dari keponakannya juga, hubungan darah yang dekat membuat Hifzah mirip dengan neneknya. Ya, kak Aca pun terlihat seperti anak mamah Dinda sendiri secara fisik.
...****************...
__ADS_1