
“Tak kok, dia memang ada niat jadikan aku untuk jadi baby sitter anaknya soalnya.“ Aku hanya berbicara asal.
Dika pun tertawa lepas. “Kau ini lucu, Ria. Aku jadi ingin cepat-cepat bisa ketemu lagi sama kau. Kalau aku ambil libur nanti, kau sempatkan waktu untuk nemuin aku ya? Kita ketemu di titik tengah.“
Anehnya dan herannya aku. Setelah satu bulan aku sering berhubungan lewat telepon dengan Dika, ia malah berkata ingin bertunangan denganku. Padahal, kami baru satu kali bertemu dengannya saat di Banda saja.
Dengan seringnya komunikasi, aku sudah terbiasa dengan segala pujian dan sanjungan yang Dika berikan. Ya meski tetap tidak nyaman, tapi aku seperti ketagihan dengan sanjungan darinya. Entah kenapa, aku merasa berpuas diri karena sanjungannya.
Kini, barulah aku memberanikan diri untuk bertanya tentangnya setelah sekian lama. Karena biasanya, hanya ia yang aktif bertanya.
[Apa kau pernah punya seseorang yang penting di hidup kau?] Maksudku adalah kekasih. Aku sengaja bertukar pesan, agarlebih leluasa menuliskan dalam pesan.
[Lebih terarah. Maksudnya teman wanita, atau pacar?] Balas Dika cukup cepat.
Setelah beberapa kali penerbangan, ia mengambil istirahat dan selalu pulang ke ibunya. Maksudnya, dalam rangka libur begitu. Entah aku tidak mengerti bagaimana aturannya, karena ia yang selalu menghubungiku lebih dulu di kala memiliki waktu senggang.
[Iya.] Balask cepat.
__ADS_1
[Mungkin, ini buat kau jadi berpikir buruk tentang aku. Tapi, kau pun tetap harus tau kalau aku gagal tunangan dua kali dan gagal nikah dua kali juga. Entah masalah apa yang ada di diri aku, sampai kejadian itu terus berulang. Aku tak mau nyalahin perempuannya juga, karena bisa jadi pilihannya ninggalin aku karena tak tahan sama sikap aku. Cuma, memang aku tak tau sikap yang mana. Aku ngerasa udah baik memperlakukannya, udah anggap dia lebih dari ratuku, tapi adanya masalah kecil malah buat dia ninggalin aku gitu aja. Makanya aku masih bujang di usia tiga puluh lima tahun ini, karena kelamaan jagain jodoh orang.] Pesan yang sungguh tidak kusangka, aku sampai membaca berulang untuk memastikan sendiri.
Kenapa Dikan bisa gagal nikah berulang? Kenapa gagal bertunangan juga? Apa ia bukan laki-laki baik? Ada orientasi s**snya bermasalah? Kan bisa jadi kan?
[Orientasi s**s kau baik?] Semoga ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku ini. Aku tidak bermaksud menuduhnya sebagai seorang bencong atau, laki-laki yang melambai. Tapi, rasanya aneh saja jika laki-laki dewasa tapi gagal berulang.
Kembali, aku menarik nama kakak iparku. Aku tahu, bang Givan bukan orang yang baik. Tapi setahuku, ia hanya pernah gagal berumah tangga saja. Atau, panutanku orang baik selanjutnya si bang Ghifar. Ia pun hanya pernah gagal berumah tangga, ia bahkan selalu mendengar dan mempertimbangkan suara istrinya. Tapi panutanku yang tertua, memang pernah juga gagal tunangan. Tapi mendengar cerita beliau sendiri, karena papah Adi dibui. Yang otomatis, bisa jadi perempuannya mundur karena tidak mau memiliki suami mantan napi.
Iya kan? Benar kan?
[Aku normal, aku suka dan tertarik perempuan.] Ia membalas tanpa memberikan kalimat penyerta lainnya.
Ahh, Dika membuatku aktif bertanya kali ini.
[Alasan mereka ninggalin kau apa?] tanyaku kemudian. Jujur saja, baru kali ini aku tahu umurnya. Aku kira, ia masih berusia tiga puluh tahunan.
[Perempuan yang pertama, dia ngeluh kalau aku terlalu lama ngelamar. Padahal kan, aku ini masih sekolah khusus masa itu. Jadi pilot itu tak mudah, tak bisa lulus SMA jadi pilot. Sedangkan, aku tunangin dia sejak masanya kelas tiga SMA. Mungkin karena terlalu dini kali ya? Jadi dia berasa lama nunggu.]
__ADS_1
Aku berpikir keras. Ia kelas tiga SMA sudah bertunangan, asmaranya dini sekali. Apa karena memang aku tidak bersekolah, membuatku tidak berpacaran sejak masa sekolah? Tapi tidak penting juga sih.
[Terus, perempuan yang kedua?] Balasku kemudian.
[Perempuan yang kedua, dia ninggalin aku karena masa itu kami satu perusahaan penerbangan. Kan ada aturannya di situ, kalau tak boleh. Jadi aku resign kan? Biar bisa jalin hubungan sama dia. Cuma, karena lamanya proses aku dapat tempat baru. Dia batalin rencana pernikahan kita. Waktu itu, kami tak ada tunangan. Jadi, kita kali hubungan dan berniat untuk ke arah menikah.] Setelah membaca pesannya ini, aku berpikir wanitanya adalah seorang pramugari.
[Pramugari ya?] Aku langsung menanyakannya pada Dika.
[Iya, di tempat kerjanya juga pun ada aturannya sekian tahun baru boleh nikah. Sedangkan, dia masih pengen berkarir di sana. Ya udah, aku ngalah.] Berarti yang kedua ini, ia tidak bertunangan.
[Terus, yang selanjutnya gimana?] Ceritanya belum tuntas.
[Yang selanjutnya, tunangan lagi. Itu udah jalan empat tahun malah. Gagalnya, karena aku suka ngelarang dan dia ternyata hanya iyain aja, tapi tetap pergi bareng teman-temannya. Awalnya, aku tau dari story temannya. Aku berpikir, mungkin itu story lama terus di-posting ulang. Ternyata tak, memang aslinya dia keluyuran tanpa izin dari aku. Aku mau perempuan aku ini fokus ke aku aja, aku mau dia nurut, patuh dan tak bohongi aku. Itu sih dia udah bohong, dia tak patuh. Terus pas terungkap semua, dia bilang, ya udah kita udahan aja, aku terkekang punya hubungan sama kau. Lah? Memang harusnya gimana? Tunangan itu, ya semacam suami istri cuma tak melak hubungan s**s aja aturannya. Kita itu uang, ya uang bersama. Tiap bulan ya aku jatah dia, entah cukup atau taknya, tapi harus ada kasih. Jadi nanti menikah itu, ya hasil uang bersama. Yang repot ya ngurus rekening bersaman ini, karena dia minta uang tabungan dia kembali, aku pun ya tak ikhlas uangnya ngendap untuk dia aja sih. Memang dia siapa? Kan gitu kasarnya. Sampai berbulan-bulan lah itu kita urus uang. Berbulan-bulan juga, kita selalu penuh makian satu sama lain. Dia buka semua kejelekan aku di depan aku, di depan orang terdekat dia, di depan orang tua dia. Aku sih tak bis maki, karena cuma tau dia ini pembangkang dan pembohong.] Sungguh, aku baru tahu jika bertunangan itu seperti suami istri.
Jika seperti itu, ya kenapa tidak sekalian menikah saja? Apa karena pernikahan ini butuh banyak biaya? Sehingga mereka yang memiliki pernikahan impian, tapi dana belum sampai, mengambil jalur untuk bertunangan dulu? Tapi jika aku perempuannya, aku tak akan muluk-muluk minta pernikahan yang begitu sulit diraih. Hanya saja, memang laki-lakinya segan duluan.
[Terus yang terakhir gimana? Berarti yang terakhir ini gagal menikah kan?] Tanyaku kemudian.
__ADS_1
Cukup lama menunggu, sampai akhirnya ia membalas dengan isi pesan yang begitu panjang.
...****************...