
Seperti antara sadar dan tidak sadar. Entah ini mimpi atau bukan, tapi aku sedang digagahi oleh bang Ken sekarang. Keringatku begitu memenuhi tubuhku, tiap jengkal permukaan kulitku begitu meremang dan amat panas. Aku pun merasa juga, jika jantungku berdegup kencang.
Namun, rasa ini begitu samar. Seperti, seolah aku di dalam mimpi. Telingaku pun seperti mendapat tekanan dari dalam, hingga rasanya kepalaku seperti terhimpit dan menyebabkan aku seperti ngos-ngosan untuk mencari oksigen lebih banyak.
Tubuhku dibaliknya, aku menggapai apa yang sanggup aku raih. Ia tidak menyakitiku sama sekali, malah seolah aku terbantu dengan se*s yang ia lakukan bersamaku ini.
Bahuku ditarik, punggungku seolah melengkung ke belakang untuk mengikuti tarikan yang ia lakukan. Penuh dan seperti terdesak, aku rasakan di bagian perutku. Tetapi di bagian intiku, rasanya begitu gatal dan nikmat tiada tara.
Aku begitu pasrah, mengikuti keinginannya untuk melakukan dengan banyak macam gaya. Aku tak bisa banyak melawan, karena aku merasa kecewa jika ia berhenti untuk mengambil napas yang lebih banyak.
Ia pun sama bermandikan keringatnya. Matanya begitu liar, dengan gerakan yang begitu agresif. Entah keberapa kalinya, aku mendapat pelepasanku. Aku seperti tiada hentinya untuk me*enguh, karena tak kuasa mendapat kejutan-kejutan darinya.
“Abang….“ Suaraku sampai serak.
“Cuma satu jam, Sayang. Nikmati.“ Ia merubah posisi kami, yang sering disebut dengan gaya sendok.
Apa yang hanya satu jam? Nikmati apa? Apa yang harus aku nikmati? Jadi, ini bukanlah mimpi kah?
Kejadian itu sangat cepat, aku seperti berada di dalam mimpi yang memiliki setting tempat yang cepat berubah. Aku hanya teringat, ketika bang Ken berinisiatif untuk mengipasiku di dalam kamar. Kemudian, aku tidak tahan dengan rasa gerahku dan akhirnya aku meloloskan satu persatu pakaianku.
Entah kegiatan apa yang terjadi setelahnya, karena rasanya begitu melayang. Telapak kakiku pun, terasa begitu lembut dan ringan ketika bergesekan dengan seprai kasur ini.
Aku merasa seperti ada yang mengumpul di tengah-tengah tubuhku dan di kepalaku. Aku tidak bisa menahan gejolak yang semakin mengumpul dan memuncak. Rasa itu benar nyata dan tidak bisa ditahan, aku benar-benar meledak dengan bang Ken yang memelukku erat dari belakang.
“Aku keluar…..“ Aku mencengkeram tangannya yang berada di depan dadaku. Aku mungkin akan malu sekali, jika hal ini adalah benar terjadi. Aku merasa seperti terkencing, tapi sulit untuk aku kontrol.
“Terus, Sayang.“
Namun, tiba-tiba seolah semuanya meredup. Jantungku terasa mulai berdetak normal, dengan kantuk yang benar-benar tidak tertahankan.
Hentakan masih aku rasakan, tapi aku tak mampu meresponnya lagi karena aku merasa tubuhku begitu lelah dan lemah. Mataku sulit terbuka, dengan napasku yang mulai teratur. Aku terlelap dalam sadar dan tidak sadar.
Aku merasa kualitas tidurku tidak cukup baik. Saat aku menggeliatkan tubuhku, aku merasa tubuhku begitu lelah dan linu-linu.
“Aduh….“ Aku meringis kesakitan, kala membuka sedikit kakiku.
Perih sekali tengah-tengah tubuhku ini. Rasanya seperti ada luka di bagian bawah sana.
__ADS_1
Ish, dengkuran siapa ini? Kenapa begitu keras dan mengganggu?
Aku melebarkan pandanganku. Sepertinya, sudah siang. Karena cahaya matahari menembus dari jendela kayu ini. Begitu silau, karena tidak adanya gorden yang menjadi penghalang untuk sinar matahari itu.
“Hah!!!“ Aku kaget bukan kepalang, melihat bang Ken mendengkur keras di sampingku.
“Abang!“ Aku menggoyangkan tubuhnya.
“Hmmmm…..“ Ia hanya menggeliatkan tubuhnya. Tetapi, ia malah melanjutkan dengkurannya lagi.
Aku mencoba untuk duduk, tapi rasanya kepalaku begitu berdenyut dan berat sekali. Tidak sampai di situ saja keterkejutanku. Selimutku merosot sampai ke perut, saat aku mampu duduk di tempat tidurku ini.
Astaga…..
Aku tidak berpakaian rupanya. Saat aku menyibukkan selimutku untuk melihat bagian bawahku pun, rupanya bagian bawah tubuhku juga tidak tertutup pakaian apapun.
Apa yang sudah terjadi?
Apa yang semalam terjadi itu nyata? Bukan mimpi.
Entah mengapa, aku tidak yakin ini terjadi padaku. Aku tidak yakin, jika baby Ken tidak mengatakan apapun juga.
Aku menyibakkan sedikit selimut yang menutupi tubuh bagian bang Ken. Aku berharap ia masih mengenakan celana lengkap. Tetapi, nyatanya meleset juga. Bang Ken pun tidak tertutupi pakaian apapun. Aku dan dia benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.
Dingin jemariku, aku gemetaran dan ketakutan. Aku tak tahan ingin menangis lepas, meski aku tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi di sini.
Bertambah dugaan lainnya, karena tanda merah baru yang berada di perut bawahku. Sebelumnya, tanda merah ini tidak ada di sini.
“Abang……” Suaraku bergetar hebat.
Aku mencoba membangunkan dirinya lagi. Aku mencoba menggoyangkan tubuhnya, agar tidurnya terganggu.
“Hmm, apa?“ Kelopak matanya mulai terbuka. Namun, tertutup kembali dengan rapat.
“Abang bangun! Aku kenapa??!“ Aku mencoba untuk tidak menangis di pagi ini, tapi aku tidak kuasa menahan rasa kalutku.
“Kenapa, Dek?“ Ia berbaring menyamping menghadapku.
__ADS_1
Matanya terlihat begitu berat untuk terbuka. Namun, terlihat bang Ken mencoba membuka matanya lebih lebar.
“Aku kenapa???“ Aku mengguncangkan tubuhnya.
Aku menangis histeris seketika. Aku tak bisa memahami dan menerima semua yang sudah terjadi.
“Hei, hei, hei! Sayang.“ Bang Ken langsung memelukku dengan erat.
Aku sesenggukan tiada henti, aku memukuli dadanya berkali-kali. Tetapi, ia tidak bergeming. Ia tetap memelukku dengan erat, mencoba untuk tidak melepaskanku.
“Aku kenapa???“ tanyaku meraung-raung.
“Tenang, Ria. Tenang, Dek.“ Ia membelengguku begitu erat.
“Aku kenapa, Bang??? Abang apakan aku???“ Aku masih begitu sulit mengontrol diriku sendiri.
Air mataku bercucuran tanpa henti. Ini lebih membuatku hancur, karena ia lebih-lebih menipu dan jahat padaku dari sebelumnya.
Aku berprasangka, bahwa ini semua ada hubungannya. Aku teringat ketika aku membaca pesan dari Arman, ia tepat berada di sebelahku.
Ia tidak marah, tapi ia malah tersenyum penuh arti. Tidak sampai di situ saja, ia malah menawariku untuk ngopi bersama. Aku sebenarnya curiga, akan suara bantingan koper dan suara geseran koper. Ditambah lagi, dengan bungkus yang katanya itu adalah kopi tapi tak terlihat dalam genggamannya.
Bertambah lagi dugaanku, karena bang Ken memisahkan antara kopinya dan kopiku. Bahkan, ia memberiku kopi manis. Bisa jadi agar untuk menyamarkan rasa yang ada pada obat yang ia bubuhkan pada kopiku.
Ya, obat. Benar, pasti ia memberikan obat pada gelas kopiku. Obat yang ia dapatkan, dari kopernya yang ia sempat jatuhkan dan geser dari kamarnya.
Aku sering minum kopi, bahkan setiap hari ketika aku begadang untuk pekerjaanku. Apa ada, aku mendapat efek luar biasa gerah dari kopi yang biasanya aku minum itu?
Tidak! Tidak ada sama sekali. Tidak ada efek tertentu, setiap aku meminum berbagai jenis kopi. Berdebar mungkin sering beberapa kali, jika aku minum kopi dengan takaran air yang terlalu sedikit.
Hei! Tapi efek itu tak sampai membuatku seperti cacing kepanasan. Aku sampai tidak tahan, dengan pakaian yang aku kenakan saking panasnya tubuh ini karena gerah.
Aku pun tidak pernah merasakan telingaku seperti tertekan, karena efek dari kopi yang bias aku minum. Aku tidak pernah merasakan meremang, jika minum kopi bersama lawan jenis seperti malam tadi.
Apa coba penyebabnya, jika bukan karena gelas kopiku sengaja ditambahkan obat?
...****************...
__ADS_1