Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD78. Mencari teman sharing


__ADS_3

[Ria, kenapa tak balas?]


[Ria, kenapa cuma dibaca aja?]


[Apa aku ada salah?]


Bukan karena dia ada salah, tapi aku yang insecure sendiri karena keadaanku yang tidak beruntung. Ingin menyesali pun bagaimana, karena hal itu sudah terlanjur.


Apa, sebaiknya aku bercerita dengan bang Givan? Aku tidak tahu harus membagi dengan siapa, karena mbak Canda banyak error-nya. Aku merasa, dia malah seperti adikku.


Aku kurang tahu perbedaan waktunya, tapi sebaiknya aku menghubunginya saja dulu agar tahu perbedaan waktunya. Aku mencari tempat yang nyaman, kemudian aku merebahkan tubuhku di sofa santai ini. Sudah pukul satu siang, aku tengah tidak sholat karena aku sedang dalam masa periodeku.


“Bang, hallo.“ Sialan, aku malah gugup untuk mulai bercerita.


“Ya, Dek.“ Ada suara kendaraan dan mesin pemotong kayu.


Bang Givan tengah berada di rumah furniture?


“Jam berapa di sana, Bang?“ Aku mencoba berbasa-basi dulu.


“Jam…. Sebelas malam, Dek. Lebih cepat sepuluh jam di sini biasanya sih.“ Suara mesin pemotong kayu sudah sedikit menjauh.


“Iya, Bang. Di sini jam satu siang, Bang. Abang lagi sibuk kah?“ Aku khawatir mengganggu pekerjaannya.


“Tak, lagi nambahin pesenan aja. Kau lagi apa, Dek?“ Aku mendengar suara seseorang yang memanggil-manggil bang Givan.


“Ya ampun, masa tak ada?“ Bang Givan berbicara pada seseorang di seberang telepon sana.

__ADS_1


“Ada, tapi pengen pakai uang Abang.“ Itu suara Gibran.


“Nih, nih. Jajan aja kek Ra. Gaya kau mau nikah, jajan masih minta Abang juga!“ Itu suara sewot bang Givan.


“Ya aku pengen, Bang!“ Suara Gibran makin jelas.


“Ya udah sana!“ Bang Givan seperti setengah membentak.


“Makasih ya, Abang?“ Suara manis Gibran dibuat-buat, aku tahu bujang kecil itu memang centil.


“Hmm, belikan untuk Abang.“ Bang Givan masih berbicara dengan Gibran.


“Abang pakai Gibran untuk urus rumah furniture?“ Aku pun tahu, tentang Gavin yang menjadi orang penting bang Givan. Setahuku juga, Gavin mengurus kebun sawit milik Ceysa. Bukan hanya ada di Pintu Rime, tapi sudah meluas di daerah tetangganya.


Sedangkan, mangge Yusuf sudah tua. Ayah dalam dokumenku adalah mangge Yusuf dan ma Nilam. Ibu menikah siri, aku tidak memiliki akta kelahiran dari orang tua kandungku.


Rumah furniture ini ada di area ladang kopi milik bang Ghifar, cukup masuk ke dalam, jadi suara mesin pemotong kayunya tidak mengganggu istirahat warga. Di sana ada rumah panggung, kolong rumah panggung tersebut dijadikan tempat produksi. Bukan kaleng-kaleng juga, rumah panggung itu cukup besar. Mungkin, hampir seukuran lapangan futsal sepertinya. Kolongnya pun tinggi, makanya bisa dibuat tempat usaha. Sedangkan rumah panggung tersebut, dijadikan sebagai kantor dan tempat pembukuan. Beberapa pohon di bagian belakang pun dipangkas, untuk dijadikan tempat sebagai penyimpanan kayu yang belum diproses.


“Udah selesai kursus bahasa Inggris, Bang. Finish satu bulan ini, baru dapat sertifikat kemarin itu. Aku baru libur hari ini, soalnya sebulan itu tak ada cuti kursus, Bang. Nanti Minggu depan jadwal baru dimulai, untuk kursus bahasa Brasil.“ Aku bisa mengawasi, karena memang pengajarannya begitu mudah dipahami.


“Bisa tak ngurus pembayarannya? Apa, Abang langsung telpon pihak sekolahnya?“ Memang semua kursus di sini diusahakan dibayarkan di awal, saat kursus bahasa Inggris itu, biayanya diurus oleh Keith. Hanya mengurus, biayanya tetap dari bang Givan.


“Bisa, Bang. Aku ada teman yang bisa bantu arahkan juga kok.“ Aku cukup bisa bergaul meski dengan keterbatasan bahasa.


Aku memiliki seorang teman wanita, bernama Hana. Dia orang Pakistan, dia mendapat beasiswa di sini. Ia pun bukan dari kalangan biasa juga, karena memang kebutuhan hidup di rantau orang kan lumayan. Menurut ceritanya, orang tuanya adalah orang penting di distrik tempat tinggalnya. Jadi seperti orang desa, jika di sini.


Aku memiliki seorang teman laki-laki juga di sini, dia orang Brasil asli. Beberapa kali, ia pernah mengajakku berwisata kuliner setelah pulang kursus. Orangnya bisa dibilang judes dan humoris, tapi gigi depannya potong sebelah, membuatnya terlihat garang lucu. Namanya begitu unik, Afonso Duarte. Aku jadi ingat Avanza, jika menyebut namanya. Tapi bersama Afonso pun, kami murni berteman. Afonso kursus bahasa Inggris, memang untuk membekali hidupnya saja. Usianya lima tahun lebih muda dariku.

__ADS_1


“Baguslah, jaga diri ya? Terus, jangan pernah tanya apapun ke mbak kau.“ Itu seperti sebuah pesan.


“Kapan aku ada nanya ke mbak Canda?“ Aku tidak merasa menanyakan apapun. Menanyakan kabar ibu pun, aku langsung menelpon ibuku.


“Kau pernah nanya keadaan bang Ken, masanya dia kecelakaan,” jawabnya kemudian.


Aku lupa? Iyakah?


“Maaf, Bang.“ Aku tidak ingat pasti, tapi yang penting aku sudah meminta maaf.


“Hmm…. Kau betah di sana?“ Aku tahu, sepertinya bang Givan kehabisan obrolan.


“Betah tak betah, Bang. Memang ada alasannya untuk aku bisa pulang?“ Bang Givan pasti mengerti maksudku.


“Tak ada. Abang tak akan cerita, kalau yang kau tanyakan itu tentang bang Ken.“ Ia adalah orang yang paling tajam instingnya. Ia memang paling tahu dan paling mengerti dari susunan kalimat saja.


“Tak, Bang. Aku mau sharing, Bang. Aku punya kenalan di Banda, dia pilot yang lagi rehat di situ. Aku kenal di warung makan dan kita tukaran makanan, karena makanan punya dua itu pedas.“ Aku menjeda untuk mengambil napas.


“Terus?“ tanyanya kemudian.


“Terus, masa itu dia ngakuin sopir travel. Pas aku balik kartu namanya, ada logo salah satu penerbangan. Awalnya, aku masih tak percaya dia pilot. Sampai masanya di bandara esoknya tuh, aku lihat dia sama rombongannya dengan seragam rapi dan topi kebesarannya. Dia pun lihat aku, masa di bandara itu. Lebih tak nyangka lagi, dia ternyata bawa pesawat yang aku tumpangi ke transit pertama.“ Semoga ceritaku masuk logikanya dan tidak drama.


“Terus? Berarti udah sebulanan kan kenal dia? Kau udah sebulan di sana.“ Responnya beberapa waktu kemudian.


“Iya, Bang. Betul, kami udah komunikasi sebulan. Baru-baru siang ini, aku tanya banyak tentang dia. Dia pernah gagal menikah dua kali dan gagal bertunangan dua kali, sekarang dia ajak aku bertunangan, dengan alasan aku adalah perempuan baik. Aku tutupi semua tentang aku, Bang. Nama asli aku, dia tak tau. Cerita kelahiran aku dan perjalanan hidup aku, dia tak tau. Karena aku cuma bilang, aku orang Solo dan tinggal di situ karena ikut kakak ipar. Aku terlalu sungkan, untuk cerita tentang sejarah hidup aku. Dia pun nganggap aku ini sebaik-baiknya perempuan dan dia anggap aku suci, aku V. Dia bilang, bukannya laki-laki buruk sekalipun akan mencari perempuan baik-baik untuk dijadikan sebagai ibu dari anak-anaknya. Aku tersinggung dengan perkataannya, karena aku bukan perempuan baik. Aku pun harus darimana cerita, kalau aku ini udah rusak dan sulit diperbaiki lagi. Aku kasian sama dia, kalau dia dapat aku. Aku tak tega buat dia kecewa, karena sejauh kami komunikasi pun, dia udah sopan sama aku,” ungkapku kemudian.


“Dia….

__ADS_1


...****************...


__ADS_2