Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD93. Jatah Ken


__ADS_3

“Kek anak sekolah, ya ampun.“ Aku geleng-geleng kepala, saat melihatnya langsung mengecek ponselku ketika sampai di kamarku.


Karena aku pernah melihat Izza dan Chandra yang saling mengecek ponsel pasangannya jika bertemu, mereka anak SMP yang baru baligh dan saling suka.


“Dika, Dika, Dika! Blokir aja sekalian!“ bentaknya mendadak.


“Jangan teriak-teriak dong, nanti kedengaran sama penjaga rumah.“ Mereka memiliki rumah kecil di halaman belakang. “Jangan main asal blokir aja, dia udah kenal bang Givan. Aku pernah tak respon pun, dia langsung hubungi bang Givan,” lanjutku kemudian dengan menghampirinya yang duduk di tepian ranjang.


“Abang tak suka kau respon laki-laki lain, Dek.“ Ia berbicara lembut, tapi menekankan nada suaranya.


“Sama! Aku pun tak suka Abang respon wanita lain.“ Aku ingin ia bisa menjaga kepercayaanku, jika aku harus dikekang sedemikian rupa.


Belum lagi nanti jika bang Ken bertemu Alfonso, aku khawatir berpikir bahwa aku dan Alfonso punya hubungan karena begitu akrab.


“Sok cek, cek email biar meyakinkan. Laporan di semua sosial media Abang pun, tak ada ceritanya Abang respon perempuan.“ Ia menyodorkan ponselnya padaku.


Aku disuruh, kenapa tidak kulakukan? Tentu aku langsung mengeceknya, nyatanya pun memang tidak ada yang mencurigakan. Ada pesan chat dengan nama perempuan, tapi di depannya ada gelar Dr. Jelas itu temannya, atau seseorang yang bekerja pada rumah sakitnya.


Isi chattingnya pun tidak mencurigakan, isinya beberapa dokumen yang dilampirkan dalam pesan chat dan juga menanyakan tentang tanggal berapa diadakan suatu acara dalam rumah sakit. Ya intinya, seputar pekerjaan saja.


“Abang punya teman wanita?“ tanyaku sembari fokus pada ponselnya ini.


“Tak ada teman dekat wanita, teman dekat laki-laki pun tak ada. Abang tak punya teman, relasi kerja sih memang banyak. Tapi Abang tak pernah cerita, buka suara, buka tentang masalah pribadi sama siapapun. Sama Givan pun dulu jarang, kalau ditanya aja.“


Kenapa aku berpikir, karena hal ini dia menjadi tukang meledak ketika mengamuk?


“Kalau begitu, jadikan aku teman ngobrol Abang, teman berbagi pikiran dan cerita Abang dan teman hidup Abang.“ Aku langsung memeluk lengannya.


“Terlalu banyak beban, nanti bosan dengarkan Abang ngeluh aja.“ Ia melepaskan pelukanku pada tangannya, kemudian ia merangkulku.


“Ya kita sama-sama ngeluh dan dari solusi. Menurut Abang, nanti kita nikah baiknya aku sekolah lagi atau tak?“ Aku memeluk dadanya.


Bidangnya dada ini.


“Sekolah tak apa, tapi biaya dari Givan disimpan aja. Nanti Abang yang biayai. Tapi pendidikan di sini kan, harus banyak ambil sertifikat dulu, memang Adek tak keberatan?“ Ia membawa tubuh kami untuk rebahan di ranjang, tetapi kedua kaki kami masih menjuantai ke lantai.

__ADS_1


“Tak usah ambil sarjana, apa gitu yang setahun selesai?“ Jika sarjana, aku khawatir terlalu banyak mengeluarkan biaya, karena sampai empat tahun masa pendidikan.


“D1 kalau di Indonesia kan? Entah di sini apa namanya. Ya udah tak apa, nanti Abang proses. Tapi kalau Adek stay di sini kan, Abang bolak-baliknya lama di jalan. Karena entah berapa bulan sekali, Abang harus cek usaha yang di Banjarmasin dan rumah sakit yang di Malaysia.“ Ia sudah miring menghadapku dan tangannya sudah meraba-raba.


Aku tahu pikirannya.


“Besok aja coba, Bang. Duh, sekalian tuh.“ Aku menepis tangannya, kemudian aku memunggunginya.


“Besok ya besok, sekarang ya sekarang.“ Ia malah memelukku dari belakang.


Aku merasakan wajahnya mendekati punggungku dan seperti mengirup aroma di sana. Bang Ken bukan benar-benar cemburu, ia hanya meminta jatahnya yang kemarin hari tak ia dapatkan.


“Besok sekalian, Bang.“ Aku tak bisa mencegah tangannya untuk tidak bermain ke sana ke mari.


“Pengen betul.“ Kepalanya pindah langsung ke ceruk leherku.


“Gemes betul, pengen Abang gigit-gigit.“ Giginya bermain gemas di sana.


Inilah kekasaran satu lagi. Ia tidak pernah mau sabar untuk membuka bajuku, seperti saat celana kulotku menjadi korban di dalam mobil itu. Kini, produk daster mbak Canda yang menjadi korbannya. Untungnya, aku mengenakan yang seharga seratus dua puluh dapat lima buah daster.


“Mampu dong. Tenang aja, Cantik.“ Ia melanjutkan untuk menyobek dasterku.


“Boleh agak kasar tak?“ Ia membuka peluang untuk dirinya sendiri.


“Kalau aku kesakitan, gimana?“ Aku sudah was-was, kala ia menurunkan penghalang di sana.


“Tak, Abang tau kira-kira. Cobain dulu sensasinya, tapi Abang janji selalu buat bikin Adek basah dulu.“ Inilah andalannya, bertutur lembut dan selalu menyebutku dengan sebutan 'adek' untuk membujukku.


“Memang Abang terbiasanya kasar?“ Jadi kemarin, ia hanya menghanyutkanku?


“Tak juga, tapi sesekali kepengen aja.“ Ia benar-benar menyobek kain daster yang masih tersisa di lenganku.


“Umphhhh….“ Aku langsung diserang di bagian dada.


Sejak kemarin, giginya bermain terus. Ia langsung membuatku tak terkontrol, karena jarinya bergerak aktif di bawah sana.

__ADS_1


“Jangan diaduk.“ Aku mendorong kepalanya yang sudah berada di tengah-tengah sana.


Dua jari itu, normalnya bergerak keluar masuk. Tapi, ia malah bergerak seperti mengaduk kopi. Ia tengah membuat pusaran angin di sana, hingga terdengar suara air yang begitu basah.


Ia membuatku tak baik-baik saja dalam waktu sekejap.


Aku memejamkan mataku, aku kaget mendapat tindakannya yang tak terduga. Ia langsung memiringkan tubuhku, kemudian ia merebahkan tubuhnya di belakangku. Aku sudah menebak posisi apa yang akan terjadi, sayangnya tepukan keras di part belakangku mengagetkanku.


“Abang….“ Aku merengek dengan mengusap-usap bekas pedasnya.


“Suaranya, Dek.“ Ia memberi serangan di punggungku.


Plak…..


Aku mendapat kejutan lagi.


Ia memburu suaraku, dengan tepukan kasarnya itu. Setelahnya, ia langsung menempatkan dan menyentaknya dengan perlahan.


Padahal, ini sudah yang kesekian. Tapi masih sakit saja, ketika ia memasukkan miliknya. Aku menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat, agar ia mengerti bahwa aku masih tidak nyaman dengan rasa itu.


“Udah basah betul padahal, Dek.“ Suaranya langsung terdengar berat.


Helaan napasnya pun begitu berat, dengan tarikan panjang. Ia mengatur napasnya, seperti menetralkan rasa yang ia rasakan sekarang.


“Berhenti dulu, Bang.“ Aku menahan pinggangnya.


“He'em.“ Ia memelukku, dengan mulut yang bekerja untuk memberi sensasi di punggungku.


“Padahal posisi ini yang paling ramah, Dek. Minim peregangan kulit, titiknya pun ngena.“ Ia bergeliya di bagian part depanku.


Ia tidak bisa menahan lebih lama rupanya, ia langsung bergerak lagi. Seiring pergerakannya pun, rasanya sudah begitu lain, ia bahkan memberi sensasi cepat dan kasar.


Kakiku bahkan terangkat sebelah, dengan suara bang Ken yang meracau tak jelas. Geramannya semakin menjadi, dengan semburan yang tidak kusangka, ia mendapatkannya secepat ini.


Aku kecewa, ini belum apa-apa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2