
“Memang aja laki-lakinya Ria tak mau berubah.“ Mbak Canda pergi ke arah lain setelah mengatakan hal itu.
Entah mengapa, aku merasa mereka tahu tentang siapa ayahnya Kirei. Tapi mereka berperilaku, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Hanya saja, ucapan mereka mengarah seperti ke hal yang mereka tahu. Tapi kenapa, mereka diam saja dan tak mencecarku tentang hal yang mereka tahu?
“Berapa lama kau bisa sembuh, Ria?“ Bang Givan menaruh Kirei di dekatku, ia sudah pulas sampai mendengkur.
Ya ampun, nak. Kau mirip sekali dengan ayahmu, apa kau takut tidak diakui olehnya. Tenang, nak. Ibu akan mengakui bahwa kau adalah darah dagingku.
“Tak paham, Bang. Sekarang pun udah sembuh, tapi memang agak linu-linu gimana.“ Aku mencoba bangun dari posisiku.
“Abang pengen jalan-jalan, pusing ada di kamar kau terus.“ Ia memandang kosong ke arah jendela.
“Abang kangen mbak Canda?“ Aku bertanya lirih.
Ia pusing, pusing karena tidak dikeluarkan. Pikirku begitu, karena rusun ini cukup luas, tidak hanya berisi kamar saja.
Ia menoleh sekilas, kemudian ia meluruskan pandangannya ke arah jendela kembali. “Tak lah, Canda ada di depan mata. Pengen refreshing, Ria.“ Ia menguap lebar setelah itu.
“Abang pusing ya ngadepin masalah aku?“ Aku memerhatikan wajahnya yang frustasi.
Ia menggeleng. “Udah jadi anak, terus kau mau apa? Abang pun tak bisa buat apa-apa, selain bantu urus anak kau. Kau harus pikirkan masa depan Kirei, tempat tinggal Kirei, kebutuhan Kirei dan operasi plastik untuk Kirei.“ Ia menoleh sekilas dengan melirik sinis.
Kok operasi plastik?
“Kirei sehat, Bang.“ Aku mengusap wajah anakku.
“Tapi dia mirip ayahnya!“ Ia bangkit dan berjalan pergi setelahnya.
Aku mengamati kepergiannya, aku menelan ludahku kasar dan kembali memandang Kirei. Bang Givan tahu Kirei anak siapa? Tapi ia diam saja? Ini seperti bukan dirinya. Pasti ada alasan di balik ini semua.
Tepat sepuluh hari, aku benar-benar fit hanya saja memang belum bisa beraktivitas berat. Setelah kontrol dan membeli obat yang harganya mahal sekali, aku diajak bepergian ke swalayan oleh mbak Canda dan bang Givan.
Bayiku amat pulas di kereta dorongnya. Tubuhnya semakin berkembang, ia semakin terlihat seperti ayahnya yang tinggi besar. Untuk ukuran bayi sepuluh hari, ia cukup panjang dengan badan berisi. Belum lagi wajahnya, yang semakin terlihat seperti Bunga. Padahal ibu Bunga dan ibu Kirei berbeda, tapi wajahnya seperti anak kembar yang berbeda usia.
Aku jadi ingat papah Adi yang memiliki anak dengan wajah yang mirip semua. Padahal bang Ken bukan anak kandungnya, ia hanya anak temannya. Tapi anak-anak bang Ken juga memiliki kemiripan yang persis, seperti anak-anak papah Adi.
__ADS_1
“Nanti beli bagasi, Mas.“ Mbak Canda selalu menempel pada suaminya.
“He'em, cobain lubricant yang katanya ada sensasi dinginnya, Canda. Aku pernah lihat iklannya di medsos.“ Bang Givan berbelok ke arah kebutuhan ranjang orang dewasa.
Entah kapan mereka melakukan hal itu di rusun, karena ranjang selalu ditempati olehku dan mbak Canda. Bang Givan tidur di lantai, dengan karpet. Atau kadang di sofa panjang, yang berada di dekat ranjang. Kadang juga, ia tidur di ruang tamu.
“Beli yang kek di film dewasa, Mas. Yang kek kecebong besar, warna pink gitu.“
Mas Givan langsung menoleh dengan tatapan kaget. “Canda! Itu alat bantu s**s!“ Bang Givan menekan suaranya.
“Ehh?“ Ia tertawa malu.
“Aka kira itu untuk kita, bukan untuk aku aja.“ Ia terkekeh geli.
Mereka sudah berumur, tapi s**s masih hidup untuk kehidupan mereka. Hal itu seolah hal terbesar, yang mereka lakukan untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga mereka.
“Ini kan? Ya udah cobain beli.“ Bang Givan langsung menjatuhkan satu kotak kardus dengan gambar benda berwarna pink.
Ini swalayan besar, aku pun tidak menyangka di paling pojok kanan tersimpan alat-alat untuk mereka yang sudah dewasa. Bahkan, ada bentuk boneka yang persis menyerupai laki-laki atau perempuan. Pantas saja, di depan susunan rak ini ada yang menjaga dan lorongnya tidak terhubung dengan rak lain. Ternyata, dua rak ini untuk keperluan orang dewasa.
Saat di tempat kasir pun, alat dewasa dan gel dengan sensasi dingin itu dibungkus rapat dengan plastik yang berbeda. Ada beberapa barang yang mereka katakan harus dibeli ulang di bandara, maksudnya membayar bea cukainya begitu. Mungkin bang Givan sudah mengerti, karena ia langsung mengurusnya dari sini. Karena memang setahuku, mereka ada membeli barang elektronik berupa tablet dengan variasi warna seperti pelangi. Tablet tersebut tidak cuma satu, bang Givan pun mengatakan bahwa itu untuk anak-anaknya.
Sepertinya, barang-barang ini akan dipaketkan lebih dulu. Karena begitu banyaknya, sampai kamu meminjam troli untuk membawa plastik-plastik ini ke dalam taksi.
Hm, bertemu lagi dengan mobil itu. Tapi lihatlah pemiliknya? Pemiliknya hanya duduk di depan ruang kemudi, dengan membuka setengah jendelana. Ia ada di seberang jalan, berlainan arah dari tempat kami berada.
Ia seperti penjahat, aku khawatir Kirei diculik jika gelagat bang Ken seperti itu. Apalagi, ia sudah ada ucapan bahwa ia ingin mengambilku kembali. Pasti ia bingung karena anak ini malah ada denganku, bukan pada Alfonso seperti apa yang ia inginkan.
“Kita ke rusun dulu, Ria. Packing barang ini, mau dipaketkan aja. Anak-anak pesan coklat sama permen lunak dari sini soalnya, pasti lama juga sampainya.“ Bang Givan sudah selesai memasukan semua barang belanjaannya.
“Oke, Mas. Terus kita ke pantai.“ Mbak Canda yang malah menyahuti dengan semangat.
“Aku tak ikut lagi lah, Bang.“ Aku pernah ke sana dan menurutku tidak nyaman. Di sana banyak orang yang berjemur, atau berada di sana dengan pakaian yang cukup terbuka. Bukan masalah juga, tapi mataku risih.
“Jauh tak pantainya, Dek?“ Bang Givan baru kembali dari mengembalikan troli, entah ia mendengar tidak ucapanku barusan.
__ADS_1
“Tergantung tujuan Abang ke pantai mana, search Google aja.“ Perjalanannya memakan waktu.
“Ya kau ikut aja.“ Sepertinya tadi ia mendengar penolakanku.
Aku menggeleng. “Tak lah, Bang. Keknya pergi-pergian jauh belum aman untuk Kirei.“ Aku membiarkan bang Givan mengambil Kirei, kemudian diserahkan pada istrinya. Lalu ia melipat kereta bayi dorong ini.
“Memang tak apa kau di rusun sendirian? Ayo, kita liburan bareng.“ Ia memasukkan kereta dorong itu ke bagasi taksi juga.
“Tak apa, Bang. Aku udah biasa di rusun sendirian.“ Aku mengamati mobil bang Ken.
Mobil itu sudah melaju pergi, saat kamu bersiap-siap masuk ke dalam taksi. Ia hanya mengawasi, ia tidak berani berhadapan langsung dengan bang Givan dan mbak Canda.
Ayahmu seorang pecundang, Kirei.
Malam harinya, mereka memutuskan untuk benar-benar mengambil penerbangan untuk liburan ke pantai. Mereka mengatakan berlibur selama tiga hari, tapi dengan perjalanannya juga, aku yakin tidak akan tiga hari.
“Kunci pintunya, Ria.“
Aku mengikuti bang Givan dan mbak Canda yang akan keluar dari rusun, aku berniat mengunci pintunya.
“HP aku ketinggalan tak ya?“ Mbak Canda repot melihat isi tasnya.
“Ada di tas aku, Canda.“ Bang Givan mengenakan tas laki-laki masa kini, ia terlihat begitu muda dengan dandanannya.
“Ati-ati ya, Bang? Mbak?“ Aku memerhatikan mereka yang baru keluar dari pintu.
“Ya, Dek. Cepat kunci.“ Bang Givan menoleh sekilas ke arahku.
“Ya, Bang.“ Aku menutup rapat pintu ini, sekalian menguncinya.
Namun, pintu malah diketuk kembali kala aku sudah sampai kamarku. Pasti barang-barang mereka ada yang tertinggal.
Hufttt…..
...****************...
__ADS_1