
Anak-anak, anaknya mamah Dinda yang satu ini. Ia malah tertawa lepas, kala rokok terbuka dari bawah sampai ke lutut.
"Hei, nanti kau dituduh ngapa-ngapain aku!" Aku merapatkan diri ke body mobil.
"Dih, mamah tau aku orangnya gimana. Masa iya aku ngapa-ngapain perempuan?" Ia memandang terus ke arah kakiku.
"Ish! Tak pakai celana stretch lagi, parah kau!" Ia seperti melihat sesuatu yang jijik, sampai hidungnya naik-naik.
"Sesak lah! Masa pakai span, pakai celana stretch juga?!" Mata laki-laki itu cukup membuat risih juga.
"Hm, ada-ada aja. Masuklah ke mobil, nanti gampang puter balik kalau bang Ghifar udah datang." Ia melewatiki dan membukakan pintu mobil untukku.
Romantisnya. Mungkin ia tidak sadar, jika sedikit perlakuan khususnya itu membuat wanita terbawa perasaan.
Aku langsung masuk dan duduk di kursiku tadi, yaitu di samping pengemudi. Bang Ghifar lama sekali, apa briefing itu belum selesai?
Ehh, kenapa pulak ia ikut masuk? Ia duduk manis di kursi pengemudi.
"Takut, takut ada macan lewat." Ia bersandar pada setir mobil.
Sejauh ini tidak pernah terjadi. Kecuali, rombongan gajah yang turun dari dataran tinggi untuk mencari makanan lebih. Setelah itu, mereka naik kembali. Mereka tidak rusuh, hanya saja namanya hewan liar ya pasti saja agresif.
Ia menolehkan kepalanya ke arahku, kemudian ia tertawa dan menunjuk kakiku. "Sampai sana, benangnya nanti udah lepas sampai ke resleting belakang." Tawanya usil sekali, seperti meledek habis-habisan.
Aku jadi ingin menangis saja.
"Diamlah kau, Vin!" Aku menarik bahan yang terbuka untuk menutupi kakiku.
"Kok perut kau tak cembung, setelah melahirkan tuh?" Anak itu masih mengamati tubuhku saja ternyata.
"Tak lah." Aku menegakkan punggungku dan mengusap perutku.
"Tekanan batin ya? Boro-boro gemuk, makanan masuk aja syulit." Ia tertawa renyah kembali.
__ADS_1
"Bahagiain bisa tak?! Gemukin! Kasih nutrisi, makanan yang sehat!" Aku lelah diledeknya sedari tadi.
"Bisa, kalau udah jatuh cinta lagi sih. Aku tak naksir kau, masa mau bahagiain kau?! Nanti kalau ada ser-ser pun, aku ajak nikah lah."
Entah, harus senang atau sedih. Tapi wajahku memerah lagi, meski ada sedikit kata-kaya nyelekit.
"Dulu waktu aku mabuk Ajeng, tiap hari aku ke rumahnya. Kenceng terus senjata ini, kalau udah nampak dia. Kau percaya tak? Aku naksir perempuan hamil?"
Sungguh? Aku langsung menoleh cepat. Gavin masih bersandar ke setir mobil, dengan wajah menghadapku.
"Kok bisa?" tanyaku kemudian.
"Part belakangnya besar, kalau dia jalan selalu berputar. Wajahnya kek berseri-seri, ditambah dia suka meringis kek sesak gitu waktu hamil besar. Aku tahan, aku tahan terus. Sampai tak terasa, badan ini kek selalu tertarik kalau ada Ajeng. Langsung mepet aja, udah sulit kontrol diri kalau tak ada orang. Udah takut juga sebenarnya, perlawanan Ajeng tak seberapa. Jadi aku mutusin, siri ajalah. Entah sebagai kasih makan n**** atau hanya ego belaka, soalnya udah sulit nahan-nahannya tuh."
Eh, kok ia menikah karena n****?
"Kau tak cinta sama Ajeng?" Aku menyimak ceritanya sejak tadi.
"Cinta, tapi cintanya laki-laki itu kek ke arah n**** gitu loh. Ngurusin, lembut, itu sih menurut aku karena sayang. Kalau cinta, ya hawanya mau naikin aja. Sering aku buat dia meringis, karena benar-benar aku nikahin masa dia lepas nifas."
"Kau kasar mainnya?" Aku malah semakin penasaran.
"Tak juga, tapi kan setelah nifas itu perempuan pasti ada takutnya ngelakuin hubungan lagi. Ditambah kan, keadaan aku masih baru. Baru lepas perjaka pun sama dia itu di malam pertama, karena udah tau rasanya kan pengennya lagi dan lagi."
Aduh, aku jadi membayangkan pedasnya intiku karena digarap terus menerus.
"Memang begitu? Terus bahagia gitu?" Aku memperhatikannya yang membuka lebar jendela mobilnya, kemudian ia merokok.
"Ya seneng aja, terpenuhi. Mungkin masa itu, aku belum bisa memilah rasa. Sedangkan setelah nikah itu, Ajeng kan tak pernah ngelawan kalau aku apa-apain. Jadi otomatis, ego dan n**** aku terpenuhi karenanya. Aku bergantung sama dia, karena cuma sama dia gitu rasa penasaran ini terpenuhi."
Seram juga cintanya seorang laki-laki.
"Memang kalau cinta itu awalnya n**** kah?" Aku sedang memilah seorang Ken yang scennya masih aku ingat.
__ADS_1
"Lain sih, aku cerita sama abang-abang yang lain pun agak beda. Cuma nih ya, kalau ego laki-laki terpenuhi itu. Perempuan itu, jadi bisa mengendalikan laki-lakinya. Mungkin saking takutnya aku berzina dulu, ditambah Ajeng juga diam aja kalau aku udah mepet terus. Jadi, opsi itu yang malah buat aku jadi jatuh cinta yang sebenarnya."
Jika perempuannya patuh, kok malah semakin membuat laki-laki terperosok padanya ya? Apa kemarin karena aku kurang patuh pada bang Ken, membuatnya tidak bisa mempertahankanku karena ia tidak berat padaku?
Ck, tapi untuk apa dipertahankan sekarang juga? Ia sudah milik perempuan lain, menyatukan kami pun pasti akan rumit.
"Terus, kau mau ngulangin kebodohan kau karena n**** sesaat itu?" Aku menggulirkan pandanganku lagi padanya.
Ia menggeleng. "Khawatirnya, karena laki-laki itu diibaratkan n****. Laki-laki pun n****nya perempuan, makanya perempuan diam aja masa diperdaya. Aku paham berhubungan badan itu, untuk perempuan ada sakitnya, ada ngilunya. Tapi karena rangsangan kita yang tiada hentinya kan, dia jadi pasrah meski udah capek gitu."
Kok aku menangkap, sepertinya dia sering meminta jatah di luar batas normal.
"Kau hyper?" Aku bertanya seperti ini, karena kalimatnya seolah mengacu ke arah itu.
"Hyper itu gimana sih? Kalau sering, memang hyper? Aku tak pernah ceritakan ini ke abang-abang aku pun, aku kira normal aja karena aku masih baru begitu." Tangannya sesekali keluar melewati jendela mobilnya, untuk membuang abu di ujung rokoknya.
Untungnya, aku benar-benar sudah lepas dari kebiasaan merokok itu.
"Mungkin yang sehari lima kali begitu." Aku pun tidak tahu tentang hyper.
Aku jadi memikirkan juga, apa aku ini hyper? Karena sekali permainan dengan bang Ken dulu terasa kurang, apalagi jika aku belum mendapatkan puncaknya sama sekali.
"Ya tak begitu juga. Tapi pas awal itu, anak kan masih bayi, masih banyak tidurnya. Jadi kadang udah keluar itu lanjut lagi, ya dua kali langsung begitu. Kadang diulang sebelum dua puluh empat jam, tapi kan Ajengnya juga mau. Aku tak pernah maksa, kek yang Ajeng sampai nangis-nangis gitu. Pas Elang udah empat bulanan, udah banyak meleknya. Ya jarang juga, sehari tak, sehari main. Sulit ambil kesempatan, kalau ada anak itu. Apalagi kalau sekamar bareng anak gitu, aku sulit konsen takut anak bangun aja."
Bang Ken tidak ada anak pun, pura-pura tidak konsen. Pernah juga, di tengah permainan malah miliknya tiba-tiba down. Memang karena usia, tapi harusnya ia bisa menjaganya karena ia seorang dokter.
"Kau nanya-nanya, lagi nguras informasi tentang laki-laki kah? Tak semuanya sama kali, apalagi aku dan bang Ken yang beda usia dan beda kebutuhan. Aku kemarin karena masih baru, mungkin kencang minta hubungannya. Setelah nambah usia, nambah pengalaman, mungkin setelah kejadian pisah kemarin pun pasti aku beda lagi. Jadi, ya itu bukan patokan. Hanya pada saat masa itu aja, tidak berlaku untuk selanjutnya. Biasanya, laki-laki tuh begitu. Ke perempuan dulu begitu, ke perempuan baru mungkin beda lagi. Tergantung pembawaannya pasangan juga, kek bang Givan gitu lah."
Hah? Benarkah? Jadi bang Ken pun bisa saja berubah kah? Padaku, ia begitu. Pada kak Tiwi dan kak Riska dulu ia mungkin tidak begitu, di masa mendatang pun mungkin ia tidak seperti itu pada pasangannya.
Tapi, apakah ia bisa berubah jika kembali lagi padaku? Apakah semuanya akan baik-baik saja dan lebih baik dari sebelumnya? Tapi apa yang seharusnya diperbaiki? Sikapku padanya kah? Agar ia bisa memberikan perubahan yang lebih baik lagi untuk membalas sikapku?
Namun, persoalannya bertambah rumit tentang Hala.
__ADS_1
Bagaimana sebaiknya?
...****************...