Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD7. Uang bensin


__ADS_3

Arman adalah mantan pacarku, ketika aku remaja dulu. Ia dulunya adalah kurir paket, entah sekarang ia berprofesi sebagai apa karena ia merantau.


“Iya, berkunjung ke sini. Ngobrol sama ibu juga katanya, Mbak sih tak tau karena baru datang.“ Mbak Canda lanjut memakan jajanannya.


Ibu hamil ini doyan keluyuran malam. Aku yakin, ia pulang dari pasar malam bersama suaminya.


“Ya udah, aku ke atas dulu.“ Aku ingin menaruh koper dan juga membersihkan diri dulu.


“Ndhuk, kamu udah pulang?“ Aku mendapat sapaan dari ibu, ketika aku tengah menaiki tangga menuju lantai dua.


Aku tinggal di ruko yang berukuran cukup besar. Lantai bawah adalah toko dan tempat pengisian galon, lantai dua adalah kamarku, kamar ibu, ruang keluarga dan ada salah satu kamar lagi. Di lantai tiga adalah dulunya kamar mbak Canda, tapi aku alih fungsikan untuk menjadi tempat kerjaku dan tempat penyimpanan beberapa barangkali yang tidak muat di kamarku. Sama sekali aku tidak ingin pindah ke kamar ini, karena banyak barang peninggalan almarhum mantan suami mbak Canda yang ditaruh di sini. Entah kenapa, aku kadang parno sendiri.


“Iya, Bu. Aku banyak kerjaan.“ Ibu tahunya aku liburan.


Hm, aku pun kecewa sebenarnya karena aku tidak jadi berlibur dan malah tahu bagaimana bang Ken padaku. Aku masih kesal saja, tentang status adik kakak sialan itu.


“Oh, iya. Abang ipar kau ambil dokumen apa gitu di ruangan kau, nanti tanyakan aja.“ Ibu melipir mendekati anak sulungnya.


Aku hanya mengangguk dan fokus membawa naik koperku sampai ke anak tangga teratas. Kemudian, aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjangku setelahnya.


Aku baru menghidupkan ponselku kembali. Banyak notifikasi masuk, setengahnya adalah dari bang Ken.


Ck, aku tengah malas untuk meresponnya. Aku mengalihkan perhatianku pada satu pesan yang Keith kirim setiap hari, hanya satu pesan rutin yang ia kirimkan.


[Gimana aktivitas hari ini?] Pesan singkat yang bunyinya berbeda-beda setiap harinya, tapi kali ini Keith menanyakan aktivitasku.


Keith, Keith. Jika kau memiliki keinginan untuk menikahiku, aku akan membantu kau untuk mendapatkan restu dari pihakku.


[Lelah, aku pulang pergi pesawat hari ini. Gimana aktivitas kau?] Aku bertanya balik, sebagai bentuk bahwa aku meresponnya.


[Aku baru pulang dinner sama Steva.] Kejujurannya membuatku kesal.


Sudah hari ini, aku mendapat keputusan gila dari bang Ken. Ditambah lagi, Keith yang menambah rasa kesalku.

__ADS_1


[Semoga kalian cepat mendapat momongan.] Aku membalasnya dan langsung mematikan ponselku kembali.


Ini yang aku lakukan, jika benar-benar tengah pusing dan tidak ingin diganggu. Membiarkan ponsel tetap dalam keadaan aktif, hanya membuat emosiku tidak terkontrol saja.


Jika sudah lelah hati, lelah batik dan lelah fisik seperti ini. Rasanya, aku ingin menikah dengan siapapun yang melamarku saja.


“Tan….“


Ya, ampun. Kini giliran bujang tanggung.


“Apa?“ Aku menoleh ke arah pintu kamarku yang terbuka.


“Aku punya uang cash, tolong masukin ke akun uang elektronik aku. Biar pulang pergi ojeknya tak cash.“ Ia mengulurkan enam lembar uang berwarna merah.


“Aduh, HP Tante mati, Chandra.“ Aku menunjukkan ponselku yang sengaja aku matikan.


“Sambil dicas, Tan. Ayo sih, Tan.“ Ia masuk ke area kamarku.


“Bentar, bentar.“ Aku duduk dan bersandar pada kepala ranjang, kemudian mengaktifkan kembali ponselku.


Kamarku cukup sempit, buka pintu langsung berhadapan dengan ranjang. Di atas kepala ranjang pun ada jendela kamar. Tapi aku pun memiliki walk in closet sederhana dan kamar mandi pribadi, ya mungkin hanya berukuran satu meter setengah.


“Kirim ke akun lain aku, Tan.“


Jujur, aku mulai curiga.


“Akun yang mana?“ Aku sudah berada di aplikasi uang elektronik milikku.


“Akun ini, atas nama Ismu Nurul Izza.“


Sialan! Bujang ini ingin memberikan uang bensin untuk kekasihnya rupanya. Ya ampun, anak SMP zaman sekarang.


Eh, tidak tahu juga sih. Karena aku tidak tahu tabiat anak sekolah mau SMP ataupun SD, bahkan aku tidak pernah makan bangku sekolah.

__ADS_1


“Pantas kau tak minta tolong ke ayah biyung kau!“ Aku mengutak-atik aplikasi uang elektronikku.


“Jangan enam ratus lagi tuh, Bang. Sayang uang kau, pasti kau ngumpulin dulu.“ Aku menyarankan dengan lembut. Anak pertama kakakku ini, dari kecil minta dipanggil dengan sebutan 'abang'. Entah apa seninya, yang jelas ia ingin dituakan dari saudaranya yang lain.


“Udah tak apa, Tan.“ Ia keras kepala seperti ayahnya.


“Seratus ribu aja, lima ratusnya Tante masukin ke akun kau. Perempuan kalau dikasih jatah banyak, nanti dia malah ngelunjak, Bang.“ Itu cukup banyak untuk ukuran anak kelas dua SMP.


“Biar dia bisa berangkat sekolah sampai akhir bulan, Tan. Dia sering tak berangkat sekolah karena tak ada ongkosnya. Rumah dia kan masuknya jauh, jadi harus ojek. Ojek sama angkot pulang pergi dua puluh ribu. Keluarganya tak punya motor, omnya yang selalu antar sekarang merantau ke Banda Aceh, jadi dia harus ojek dan angkot tiap hari.“ Ia menjelaskan dengan lembut.


Aduh, sulit memang jika hatinya adalah hati Canda yang tidak tegaan. Masalahnya, aku agak berat melakukan karena Izza ini anak orang lain.


“Bilang ke ayah kau ya nanti? Kata Tante sih setengah aja dulu, biar setengahnya kau minta ayah kau. Sisanya kau tabungin lagi, Bang. Tak harus sebulan kau kasih semua, kalau habis baru kau kasih lagi. Kau dengar saran Tante, karena kalau ayah kau tau bukan dari mulut kau, dia bisa murka. Tante tau ayah kau tak pelit, tapi kejadian kau transfer begini pasti sering nantinya. Jadi lebih baik kau dengar saran Tante, biar ayah kau bisa bantu atau gimana. Izza masih punya orang tua tak sih?“ Aku memperhatikan Chandra yang tengah berpikir keras.


Aku tahu uang sakunya tak seberapa, di rumah pun ia jarang meminta uang karena banyak stok makanan di rumah. Pasti ia mengumpulkan uangnya, atau membobol celengannya.


“Ayahnya udah meninggal tiga bulan yang lalu. Ibunya jadi buruh petik di tempat kakek, kan ramai kalau musim panen aja. Apalagi, Tante tau kan sekolah aku swasta. SPP, biaya lainnya itu lumayan.“


Pantas saja Chandra sampai kasihan pada anak perempuan ini. Anak perempuan itu pun pernah dibawa main ke sini, ia dikenalkan oleh mbak Canda ke beberapa keluarga. Anak perempuan yang santun, begitu cantik dan begitu putih.


“Ya udah, sini Tante kirim. Kau bilang ke ayah kau besok ya? Kau ceritakan, kalau kau ngasih Izza uang bensin.“ Aku langsung mentransfer dana sesuai yang pemuda tanggung ini inginkan.


“Ya, Tan. Nanti, aku cari waktu yang pas untuk ngobrol.“ Chandra memberikan ke tanganku, uangnya yang berjumlah enam ratus ribu itu.


“Bang…. Bang Chandra.“ Suara cempreng ini.


Uhh, aku selalu dibuat kesal dengan pemilik anak ini. Aku tidak suka dengan salah satu keponakanku yang satu ini, rasanya aku ingin mengajaknya berkelahi saja.


“Kau naik sendirian, Dek?“ Chandra keluar dari kamarku.


“Tak, sama om Ar…..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2