
"Gatal betul aku, Yang. Masa iya aku j**** di pintu?" Gavin menggerakkan miliknya di pahaku.
"Ampun! Baru juga pulang dari dokter kandungan." Aku baru akan beristirahat siang.
Aku sudah berhasil menyuapi Kirei dengan bubur instan, dengan bangganya aku memposting video singkat di sosial mediaku tentang MPASI pertama untuk Kirei. Senangnya hatiku hanya seperti itu saja.
"E***, Yang." Ia langsung memberikan serangan.
"Ya ampun, Ayang! Capek nanti mulut aku." Ia lama sekali keluar, bisa sampai satu jam sendiri.
"Tapi dikasih e*** ya? Nanti aku usahakan sendiri deh. Kasihani aku, Yang." Ia menggosokkan hidungnya di pipiku.
Benar-benar laki-lakiku ini, ia sampai berusaha setengah mati sampai bermandikan keringat. Begini ya jika orang butuh? Senyumnya sampai begitu bahagia, saat keinginannya tertuntaskan.
"I love you, Mbu. Do'ain Ayah ya, Mbu? Semoga Ayah diberi kesehatan terus, semoga diberi kelancaran mencari nafkah untuk keluarga kecil kita." Ia langsung ngusel di leherku setelah selesai.
"Iya, Ayah. Ayah pasti ada di setiap aamiinya Mbu." Aku mengusap keringatnya.
"Ayah tidur dulu ya? Nanti sore Ayah sibuk, Mbu jangan nungguin Ayah lagi ya kalau mau makan. Makan sama mamah sama papah aja, Ayah banyak kesibukan." Hitungan kedua, napasnya langsung teratur dan ia pulas dalam sekejap.
Energinya tengah dikumpulkan untuk bekerja rupanya. Bukan hanya bekerja fisik, otaknya pun bekerja juga. Ia pasti sangat lelah dan sibuk, sampai mengingatkan bahwa dirinya benar-benar akan sibuk bukan hanya sekali saja.
Malamnya, aku kedatangan bang Ken lagi setelah makan malam bersama mamah Dinda dan papah Adi. Ia membawa banyak kebutuhan Kirei, berikut dengan bubur instan Kirei juga.
__ADS_1
"Udah adem? Maaf." Bang Ken menempatkan punggung tangannya di dahiku.
"Tapi agak pilek, Bang. Rasanya kek sumeng." Aku merasakan tarikan napasku perlahan.
"Memang, kalau lagi hamil tuh daya tahan tubuh sedikit lemah. Lihat dapat obat apa dari dokter?" Bang Ken duduk di sampingku dan mengambil Kirei.
"Tak apa memang sakit begitu, Ken? Masih muda betul kehamilannya, dia malah sakit," ucap papah Adi saat aku beranjak masuk ke kamar untuk mengambil obat milikku.
"Tak apa, kalau lagi sakit itu biasanya daya tahan tubuhnya lagi otomatis naik. Demam, batuk, pilek, itu tubuh kita lagi melawan penyakit. Demam, tubuh berharap bakteri atau virus yang masuk ke tubuh itu mati karena suhu panas. Batuk, respon tenggorokan berusaha mengeluarkan bakteri atau virus yang udah terlanjur masuk ke kerongkongan. Pilek, bersin itu sebenarnya respon tubuh yang mencoba mengeluarkan bakteri atau virus yang masuk ke saluran pernapasan, atau baru masuk hidung." Penjelasan bang Ken terdengar sampai aku kembali duduk dengan membawa resep obat tersebut.
Hai, kenapa dengan Kirei? Ia melongo saja memperhatikan wajah bang Ken yang tengah fokus menjelaskan sesuatu pada papah Adi tersebut.
"Siapa itu, Dek?" Aku duduk di sofa lain, bermaksud untuk menjaga diri.
"Ini ayahnya Adek juga, Ayah Ken. Maaf ya Ayah sibuk terus, tapi ada ayah Apin kan yang selalu ada untuk Kirei?" Cengengnya ayah Ken ini, suaranya langsung bergetar saja.
"Udah ah, jangan melow aja." Papah Adi menepuk pundak bang Ken.
"Ayah Ken tau tak, Kirei mau punya adek tiga loh." Mamah Dinda membuka obrolan lain.
Bang Ken langsung memandangku. "Ah, serius? Triplets?" Bang Ken memandang anaknya yang masih terkesima memandang wajah ayah kandungnya itu. "Ya semoga Kirei tak terlantar ya? Ayah kok malah jadi harap-harap cemas." Bang Ken membawa Kirei untuk bersandar di dadanya.
Namun, Kirei menolak. Ia ingin tetap tegak dan memandang wajah ayah kandungnya itu. Mungkin, ia tengah menyalin gambaran wajah tersebut ke ingatannya.
__ADS_1
"Tenang, Ken. Meskipun anak sepuluh juga, kasih sayang itu bukan sepuluh dibagi sepuluh. Tapi sepuluh, untuk sepuluh anak. Kadarnya tetap sama, untuk masing-masing anak. Mungkin naik turun berapa persen itu pasti ada, itu di saat kita marah aja." Mamah Dinda menyampaikan dengan lembut.
"Mamah begitu ke anak-anak Mamah?" Bang Ken membiarkan Kirei tetap memperhatikannya.
"Iya, Ken. Normal, namanya orang tua. Kesal wajar aja, nanti hilang sendiri. Cuma kan karena kondisi nih, jadi kita punya saran agar Ria ambil pengasuh. Sebenarnya di sini banyak orang juga, tapi untuk gantian gitu kalau kita sholat atau aktivitas. Kirei udah bisa duduk soalnya, kadang dia siap-siap kek kau merangkak. Jadi, khawatir juga kalau lepas pengawasan." Mamah Dinda menyampaikan lebih dulu pada bang Ken tentang rencana pengasuh bayi tersebut.
Khawatirnya, bang Ken tidak terima dan berniat mengambil Kirei dariku.
"Ya tak apa, Mah. Berapa gaji pengasuh umumnya, biar aku yang bayar. Karena kan, aku kadang-kadang bisa ngasih langsung begini. Ngasih uang? Masa ngasih uang, Kirei masih kecil." Bang Ken mencium Kirei sampai berbunyi.
Kirei menoleh ke arah papah Adi. Ia mengulurkan tangannya, seolah membutuhkan bantuan.
"Tak apa, Dek. Ayah cium aja itu." Papah Adi mengerti sinyal yang Kirei berikan.
"Biasanya ramah, cengar-cengir aja." Bang Ken merelakan Kirei pindah tangan.
"Biar jadi urusan Gavin, Ken. Kau tak sempat kasih, ya udah nanti aja kalau sempat. Ingin Mamah, kau persiapkan tabungan pendidikan untuk Kirei. Masa depan Kirei yang terpenting, gitu loh. Tau, ayah sambungnya mampu. Tapi biar kau dapat nama lah gitu bahasanya, Ken. Mamah sarankan kau kasih barang begini, ya untuk pedekate ke Kirei gitu lah. Karena apa? Karena Kirei dekatnya kan memang dengan ayah sambungnya. Biar dia tau, ini ayah kandung aku, yang baik, yang selalu datang dengan kebutuhan aku. Jadinya, kedatangan kau diharapkan meski dia mengharapkan barang-barang yang kau bawa juga. Kirei tak butuh uang, InsyaAllah anak Mamah mampu cukupi dia. Tapi kau harus dikenal anak kau, jangan cuma dia kenal ayah sambungnya aja. Hasilnya tetap tak sesuai harapan kau? Ya wajar, Ken. Gavin tiap hari ada di depan mata Kirei, kau sebulan sekali pun tak nentu."
Oh, jadi bang Ken memberi Kirei barang itu tercetus dari mamah Dinda? Bang Ken tidak memberi uang, ternyata itu larangan dari mamah Dinda? Karena aku memahami di sini, memahami jika bang Ken memberi uang, yang ada harga diri anak mamah Dinda pasti tergores.
Orang tua yang pandai, yang bisa menengahi. Tanpa membuat anak kandungnya tersinggung, ia mencoba mengenalkan cucunya sendiri ayah kandungnya juga. Jadi, hubungan ayah kandung dan anak kandung tidak terputus hanya karena ibunya menikah lagi.
"Aku pun pengen sebulan sekali ada untuk dia, cuma aku masih belum bisa menata semuanya. Aku mau mastiin keadaan Ria sehat, biar aku plong gitu untuk fokus ke Hana di sana. Tentang Ajeng……
__ADS_1
...****************...