Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD237. Ingin bicara baik-baik


__ADS_3

"Fa, jengkol dua kilo. Singkong mix ubi lima kilo, diantar ya? Sama pengen itu juga tuh. Apa namanya?" Gavin hanya membuka kaca jendela mobilnya.


"Apa? Aku tak jual lain." Safa celingukan memperhatikan dagangannya. 


Salut aku padanya, cantik dan muda tapi tidak malu berjualan. 


"Eh, kau tak jual diri juga kah?" Gavin masih menunjuk diri Safa. 


"Sialan!" Safa reflek melepas sandalnya dan melempar sendal swallownya ke dalam mobil. 


Tawa Gavin pecah, dengan menutup kaca mobil sebelah kirinya. Kebetulan, warung Safa ada di sebelah kiri jalan. 


"Eh, sandal aku." Safa mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Gavin. 


Aku dan mamah Dinda sampai terpingkal-pingkal, Safa panik sekali kala mobil Gavin mulai jalan dengan membawa sebelah sandal jepitnya itu. 


"Serius dibawa pulang, Bang?" Aku melongok ke depan melihat sandal jepit tersebut. 


"Biar nanti dia antar barang, sekalian ambil sandalnya." Gavin terkekeh geli. 


"Dari kecil begitu kah, Mah? Aku pernah khawatir Gavin nyaman bergurau sama Safa." Aku menoleh pada ibu mertuaku. 


"Hm, hm, hm. Ke mana-mana jadinya." Gavin melirikku. 


"Ribut aja dari kecil, perempuan juga nakal Safa tuh. Waktu kecil, pernah lempar beling ke Gavin. Kena paha belakangnya, dijahit panjang gara-gara kejadian itu. Gara-garanya rebut beton melingkar untuk sumur tuh, ribut ini benteng aku, ini benteng aku, eh kejadian begitu. Pernah juga batu panas, dicutik gitu ngenain Gavin. Lempar kelereng ke kepala Gavin, bekas birunya tak hilang sampai satu tahun kemudian. Sekarang sih Safa udah ditunangin sama anaknya tante Zuhra yang nomor tiga itu, abis lebaran nikah katanya."  


Berwarna sekali kehidupan anak-anak di kampung. Aku tumbuh dan hidup di ruangan tiga kali tiga, tanpa tahu bagaimana bentuk tanah karena hidup di bangunan susun. Seperti rusun, tapi ruangannya seperti kost-kostan satu petak. 


"Yang gagal nikah itu bukan sih, Mah?" tanya Gavin kemudian. 


"Iya, setelah gagal nikah kan dia merantau kan? Dia kan jadi orang abang kau di Cirebon, urus pupuk dan peternakan di sana. Pas pulang itu, disuruh beli jengkol dan ubi gitu kan ke Safa. Pulang beli jengkol, minta ngelamar Safa dulu. Sekarang sih, ada di Cirebon lagi anaknya tante Zuhra itu." 


Mudah sekali cara pendekatan mereka. 


"Duh, dia tau tak ya kaki Safa?" Gavin bergidikkan. 


"Kenapa memang?" Aku melihatnya seperti gadis normal seperti biasa. Fisiknya pun sempurna, ia tidak kurang satu apapun. 

__ADS_1


"Tak boleh gitu loh." Mamah Dinda mendorong kepala Gavin pelan. 


"Kaki Safa kenapa, Mah?" Aku penasaran sekali. 


"Banyak bekas lukanya tuh, bekas koreng waktu kecil. Udah sembuh sekarang sih, cuma kan bekasnya tak bisa ditoleransi laki-laki rewel kek Gavin. Padahal sih, tergantung tangan laki-lakinya. Laki-lakinya hebat dan mampu, pasti licin dan tak bakal mandang kulit gitu. Laki-laki mulia, yang bisa nerima apa adanya. Tapi ia pasti istimewa, jika bisa merubah wanitanya lebih indah. "


Apa itu alasannya Gavin tidak tertarik sama sekali pada Safa? 


"Ohh…. Jaman sekarang sih banyak skincare, banyak perawatan kulit. Tak sulit lagi hilangin bekas koreng di kaki sih." Sudah canggih zamannya menurutku. 


Apalagi, Safa anak orang kaya. Pasti itu bukan hal yang sulit, karena ada uang. Gavin tengah memarkirkan kendaraannya di halaman rumah mamah Dinda, kami sudah sampai di rumah. 


Duh, Ajeng sudah nongkrong di teras rumah saja. 


"Bisa laser di klinik kecantikan, Dek. Cuma bayangkan aja biayanya, karena mereka biasanya mainnya perspot." Mamah Dinda lebih tahu tuh. 


"Iya ya? Bisa cantik mulus lagi ya? Tapi mau aku olah dia, sekarang udah beristri aku." Ia melirikku. 


Dasar iseng! 


"Mandi dulu, baru jemput anak." Mamah Dinda menggandeng Gavin untuk lewat di pintu samping. 


Sayangnya, aku yang tak selamat karena dihadang oleh Ajeng. 


"Ada apa sih?" Aku menghela napasku. 


"Aku masih tak habis pikir sama kau. Anak masih kecil, terhitung dua bulan aja kan baru lepas nifas. Kok udah ngejanda dan kawin buru-buru aja?" Ia bersedekap tangan di depanku. 


"Terus disebut apa waktu kau kemarin sama Gavin? Istri orang yang jadi percobaan burungnya bujang tanpa skill? Atau, istri orang yang gatal belaian. Aku bukan orang jauh, keluarga tau masalah rumah tanggaku kemarin dan kemarin kami menikah pun dengan restu semua orang. Intinya apa gitu? Bukannya kau sama Gavin udah selesai? Bahas aku dan Gavin untuk apa? Kita udah terlanjur resmi gitu loh." Aku juga bisa bersedekap tangan di depannya. 


Eh, matanya malah berkaca-kaca. Apa ia tengah mengiba? Atau tengah memutar balikkan fakta, sehingga aku yang terkesan menyakitinya. 


"Aku iri." Ia malah berjongkok dan menangis. 


Kok bisa-bisanya berubah begini? Tadi menjadi orang jahat, sekarang menjadi orang lemah. 


Apa ini bagian kamuflase juga? Ya maksudku, Gavin pandai berkamuflase dan juga Ajeng juga. 

__ADS_1


"Aku berharap Gavin bawa anak kita balik dan bujuk aku untuk rujuk. Tapi dia malah datang dengan kakaknya dan tak minta aku balik." 


Apa ini rencana awalnya itu? Tapi ia malah terjebak dengan permainannya sendiri? 


"Ya udah, ayo kita ngobrol di dalam. Aku tak tau alasan itu semua, aku belum ada masa kalian ada problem itu. Aku menghindari penyakit, untuk ngepoin apapun tentang kehidupan suamiku sebelum denganku. Karena aku udah tau gimana mulutnya, gimana sifatnya luar dalam dan gimana caranya menyikapi semua masalah sesuai porsinya." Aku menarik tangannya. 


Elang terlihat bingung melihat ibunya menangis. Ia duduk di samping ibunya, kemudian bersandar pada lengan ibunya


"Kita obrolin baik-baik, biar cepet selesai. Kau terkesan nyalahin aku sama Gavin terus, aku tak suka kau begitu." Aku mengajaknya berdiri dan masuk ke dalam rumah. 


Ajeng mengangguk, ia mau mengikuti ajakanku. Kemudian, ia duduk di ruang tamu dengan memangku Elang. Anak itu anteng sekali, dengan memandang sekeliling ruangan. 


"Mau sama adik-adik," ungkap Elang pelan. 


"Lagi bobo, Bang." Ajeng mengusap dahi anaknya. 


"Bentar ya?" Aku meninggalkannya, aku berniat berbicara dengan Gavin secara baik-baik. 


Ajeng memberi anggukan tipis. 


Aku masuk ke dalam kamarku, Gavin masih mandi dari suara siraman airnya. 


"Yang…." Aku membuka pintu kamar mandi. 


Ia berada di dalam shower box. 


"Apa?" Ia menoleh dengan membuka pintu box tersebut. 


Ia mengambil handuk, tanpa merasa malu dengan rambut bawahnya yang basah. 


"Apa, Yang? Ia mengeringkan tubuhnya. 


"Ajeng minta ngobrol." Aku memperhatikannya yang berjalan mendekat dengan melilitkan handuk di pinggangnya. 


"Aduh." Aku meringis, karena ia tiba-tiba menyerang dadaku. 


"Jangan cari penyakit." Ia keluar dari kamar mandi. 

__ADS_1


"Ya katanya dia ini mau bahas sedikit." Aku mengekorinya. 


...****************...


__ADS_2