
"Aku harus makin kaya, nebus obatnya aja satu juta tujuh ratus. Do'ain suamimu ini ya, Yang. Do'ain Ayahmu ini ya, Nak?" Gavin mengusap pipiku dan perutku bergantian.
"Pasti aku do'ain, semangat Ayang." Aku menggelayuti lengannya.
Aku tidak menyangka, Yang Kuasa langsung memberikan tiga buah hati dari dua bulan penantian ini. Semoga aku bisa membawa ketiga anakku lahir ke dunia, semoga aku bisa menjadi Ibu yang baik dan adil untuk kelima anak-anakku.
"Udah, gini aja. Kita pulang, kau istirahat, makan banyak-banyak. Kau ceritakan aja gimana gambaran rumah impian kau, nanti aku coba carikan barangnya gitu. Sambil berjalannya waktu aja, tak melulu harus siap hari ini. Nanti ada pemilihan barang lagi, nanti aku konfirmasi ke kau lagi. Kita obrolin ke mamah juga, biar mamah bisa bantu untuk carikan pengasuh bayi yang terpercaya. Masalah Cali, udah paten terhandle bang Givan. InsyaAllah, besar nanti Cali bakal mau sama kita sendiri. Pengasuh ini, untuk Kirei aja. Karena Kirei udah mulai belajar duduk nih, bentar lagi dia rambatan dan lari-larian. Kau aktivitas tipis-tipis aja, yang ringan gitu. Beresiko nih, harus diwanti-wanti dan dijaga baik-baik. Aku tak mau bayi-bayi kita kenapa-napa, aku pun tak mau kau kenapa-napa. Mungkin aku sedikit sibuk, jangan terlalu jadi pikiran, aku janjikan aku tak selamat kalau aku berani main perempuan. Pokoknya, kau yang percaya sama aku kalau aku sibuk benar. Dalam artian, aku sibuk untuk membuat ekonomi kita lebih baik lagi. Semoga kan, semoga lepas panenan ini tak nyewa tanah lagi, tapi udah garap tanah punya sendiri. InsyaAllah aku bisa ngasih makan kalian, bisa kasih penghidupan yang layak untuk kalian. Do'ain ya? Semoga tulang punggung ini sehat terus dan diberi keselamatan terus." Gavin menyentuh dadanya sendiri.
"Pasti, Yang. Do'aku tak muluk-muluk, semoga suami aku diberi kesehatan, kemudahan dalam urusannya, diberi keselamatan, dilindungi dan dijaga di manapun kau berada." Aku mengusap pelipisnya.
Senyumannya tulus sekali dan aku terkesima.
"Duduk, Yang. Matahari udah makin naik, ayo kita pulang dulu. Belanjanya di minimarket terdekat aja ya? Mau belanja apa sih?" Gavin membukakan pintu mobil untukku.
"Aku mau belanja bubur bayi untuk Kirei, aku udah bilang mamah untuk aku aja yang nyuapin Kirei. Kata mamah, ya udah katanya hari ini sekali dulu siangnya aja. Nanti tiga hari kemudian, baru dua kali sehari. Terus kalau udah dua mingguan, baru deh tiga kali sehari. Tergantung gimana respon Kirei sama makanannya, kalau responnya kurang baik, waktu untuk adaptasinya kita tambah lagi. Gitu katanya, Yang." Aku duduk di jok mobil, setelah mengatakan hal itu.
Gavin tidak menjawab, ia segera menutup pintu dan berjalan memutar. Kemudian ia masuk dan memasangkan sabuk pengaman untukku, setelah memasangkan sabuk pengaman untuknya sendiri.
"Oke, beli bubur bayi instan di minimarket terdekat. Aku belum bisa lepas rokok, maaf ya? Tapi aku usahakan, kurangi rokok dari bungkusnya." Ia memamerkan giginya dengan menoleh ke arahku.
"Sekalian aja merokok langsung sebungkusnya!" Aku memalingkan pandanganku.
Aku kira romantis, ternyata lelucon lagi.
Ia tertawa lepas, memang orangnya sulit untuk serius. Padahal obrolan kita tadi seperti membiarkan hal yang menyentuh hati, hal yang serius, tapi ia malah membelokannya sendiri. Tak apa, aku suka ia yang humoris.
__ADS_1
"Pernah aku digituin waktu di pondok pesantren tau." Ia malah curcol.
Aku menoleh ke arahnya. Memperhatikannya yang mulai perlahan menguasai mobil.
"Dijejal langsung satu bungkus?" tanyaku kemudian.
Ia mengangguk berulang. "Iya, betul. Dua belas batang rokok nyala semua ada di bibir, kondisi tangan terikat dan dijemur di tengah lapangan tengah hari pulak. Tapi tak ada kapoknya aku tuh, besoknya tetap merokok sembunyi-sembunyi." Gavin fokus pada jalan keluar dari halaman parkir rumah sakit ini.
"Gimana rasanya masa ngerokok dua belas batang itu?" Aku memperhatikan sekeliling rumah sakit. Ada orang-orang yang datang membawa termos air, ada yang keluar menggunakan kursi roda.
"Tak ada rasanya, tak aku rokok lah. Cuma dibiarkan nempel aja sampai habis dan aku jatuhin. Kena angin kan, jadi habis sendiri. Bisa radang tenggorokan mendadak, kalau sekali ngerokok langsung dua belas batang gitu." Ia melirikku dan tertawa geli.
"Apa sih motivasinya untuk tetap merokok?"
"Apa tadi?" tanyanya kemudian.
"Apa motivasinya untuk tetap merokok?" tanyaku ulang.
"Tak ada motivasi sih. Kan misalnya lagi nongkrong gitu, nawarin rokok kan wajar. Mentang-mentang aku kaya, aku nawarin uang kan tak lucu. Masa gini, uang nih bang. Kan kocak betul. Pantas juga, rokok nih bang. Gitu kan? Terus, kalau minjem korek contohnya. Minjem korek bang, wajar dong lagi nongkrong minjem korek. Coba kalau yang dipinjamnya duit? Minjem duit dong bang, yang auto bubar tongkrongannya."
Aku tertawa lepas sampai memuku-mukul pahaku sendiri. Kok ia bisa sekocak ini sih?
"Wah, itu sih memang ngada-ngada." Aku mengusap bahunya.
"Ya sok coba kalau aku tak ngerokok, di tempat kerja, ngobrol sama pengepul, ngobrol sama buruh, bakal bengek aku karena jadi perokok pasif. Kan perokok pasif, resikonya sepuluh kali lipat dari perokok aktif."
__ADS_1
"Ya kita sebagai keluarga Abang, beresiko sepuluh kali lipat dong?" Aku mencoba membalikkan persepsinya.
"Memang aku pernah ngerokok di rumah? Aku buru-buru salin kalau tak sempat mandi, biar bisa gendong Kirei atau dekati kau. Sekali-kalinya aku ngerokok di depan kau itu waktu nginep di hotel itu kan? Waktu kita pengantin baru, waktu malam pertama itu."
Ternyata sulit ya membuat laki-laki berhenti merokok? Perempuan sih, khususnya aku sendiri. Aku berhenti total, waktu tahu tengah berbadan dua. Karena kenapa? Karena aku tak mau terjadi hal yang negatif pada bayiku.
"Ya pelan-pelan dikurangi ya, Yang?" Aku bersuara lembut dan mengusap rahangnya.
"Dikurangi dari bungkusnya? Oke deh." Ia membuat bentuk huruf O dengan jarinya.
Ish! Menyebalkan sekali! Langsung naik pitam begini pun.
"Tau ah! Terserah!" Aku bersedekap tangan dan memalingkan wajahku memandang jalanan dari jendela mobil.
Ia terkekeh kecil. "Iya, Sayang. Pelan-pelan ya?" Ia mencolek dadaku.
Akulah korban toel-toel sampai hamil.
"Ayangnya tuh nurut coba, kan biar panjang umur juga. Merokok itu membunuhmu, tau tak?!" Aku mengacungkan dan menggerakkan telunjukku ke atas.
"Oke, oke. Siap, Nyonya." Gavin langsung hormat grak padaku.
Duh, gemes sekali dengan suami sendiri. Pengen rasanya aku cubiti pipinya, aku gigit bicepsnya. Aku juga ingin memencet hidungnya, seperti bagaimana ia memencet hidungku dengan gemas.
...****************...
__ADS_1