Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD250. Kekhawatiran mamah Dinda


__ADS_3

….. Tentang Ajeng, aku punya rencana untuk bawa dia aja. Pasti otaknya terpakai di sana, Mah. Elang pun masih kecil juga, jadi belum harus menetap untuk pendidikannya. Gimana menurut Mamah?"


Aku memiliki feeling mereka akan menikah deh. Karena bang Ken jika sudah membawa perempuan, ia pasti akan menggaulinya.


"Kau laki-laki dewasa, dia perempuan dewasa. Kau yakin bawa dia? Otaknya terpakai untuk apa?" Mamah Dinda berubah dalam mode serius. 


"Abang ke depan ya, Dek? Mau ngayun Kirei." Papah Adi bangkit dari duduknya. 


"Ya, Bang." Mamah Dinda memandang suaminya dan mengangguk. 


"Begini, Mah." Bang Ken mengembalikan fokus kami. 


"Aku kan ada usaha di Banjarmasin, masih merangkak karena ternyata yang sulit itu membangun kepercayaan pasar. Aku pakai tangan kanan kan, karena aku sibuk ini itu. Nah, dia pasti terpakai kan untuk urus itu? Tapi sebelum dia urus itu, aku ada masalah sama pengiriman alat. Jadi, aku pengen dia selesaikan dulu itu masalah. Karena benar-benar aku pengen fokus ke Hana, pengen nanganin dia sendiri, pengen tau perkembangannya setiap hari. Rumah sakit pun numpuk masalah laporan, belum ada yang aku simak. Jadi aku pengen dia sedikit berjasa untuk aku, karena aku udah bantu proses hak asuh Elang. Menurut aku, dia ini kek terlanjur kejebak permainannya sendiri. Mah, dia tuh punya uang untuk bayar pengacara. Tapi dia milih datang ke sini dan kacaukan Gavin, padahal dia ada dana untuk urus permasalahan anaknya sendiri. Ditambah uang pesangon dari Mamah itu, itu lebih dari cukup untuk urus hak asuh dan ongkos dia balik ke Brasil. Cuma kan dia tak mungkin balik ke Brasil, karena udah diputus kerjakan sama Mamah. Ya mungkin, dia bakal balik ke kampung halamannya. Sebelum tanda tangan juga dia ada bilang, aku bebas keluar rumah kan? Tuh, Mah. Kalau dia tetap di sini, yang ada dia tetap ganggu Gavin di luar rumah. Tau sendiri, Gavin sana-sini akrab semua. Singgah sebentar, jadi ngobrol. Ketemu di luar tak sengaja, pasti kena umpan lah Ajeng ini. Meski udah terkunci, keknya dia bakal curi-curi waktu untuk ganggu Gavin. Karena ada kesempatannya, karena ada waktunya. Jadi kalau dia aku bawa, kesempatan Ajeng untuk kacaukan Gavin kan jadi susah. Dia ini kek lagi praktek bumi hangus, dia gagal jadi dengan ayah kandungnya Elang, dia kacaukan Gavin biar berantakan kek dia juga. Aku hancur, dia pun harus hancur gitu. Mungkin karena dia berpikir, aku begini karena dia. Untuk masalah aku laki-laki dewasa, dia perempuan dewasa. Kalau aku memang butuh, yang penting dia sehat aja biar tak menularkan penyakit." Ia berbicara perlahan, dengan gerakan tangan dan sesekali melirikku. 


"Betul juga, Ken. Dia tak mungkin tak punya uang, tapi dia malah datang ke mari dan minta tolong cuma sama Gavin. Givan itu udah narik dia, mana surat pemanggilan kau untuk sidang Elang, biar aku urus dan kau hidup bahagia tanpa mikirin ini itu. Dia tak mau, dia bilang Gavin itu anak sambung Gavin, Gavin ada hak karena tak ada mantan anak. Proses aja sekalian, gitu kata Givan. Masalahnya, Elang ini anak Ajeng dan kita kurang sreg sama Ajeng. Kalau Ajeng dipenjara, kita tak tau di mana keluarga Ajeng dan ayah kandungnya Elang, otomatis Elang pasti keluarga kami yang ngasuh atau yang nanggung kerepotan Elang sementara kita tak tau keberadaan Elang. Gitu loh, Ken. Maka dari itu, kita kek hiraukan Ajeng aja. Karena ke sana ke sini, nanti kita yang repot sendiri karena Ajeng."


Benar, aku bahkan baru terpikirkan. 

__ADS_1


"Ya udah kek yang kata aku aja, Mah. Kalau Gavin bukan suami Ria, kalau Gavin bukan sosok panutan untuk Kirei, udah aku biarkan Ajeng kacaukan. Tapi sayangnya, Ajeng pun kacaukan ketenangan Mamah, aku keberatan akan hal itu. Jadi, biar Ria dan Kirei tetap sama Gavin dan biar Mamah pun tenang, ya jangan keluarnya Ajeng dialihkan. Mamah tuh salah langkah juga, karena malah PHK dia." 


Otak orang-orang cerdas sedang beradu. Aku yang mengantuk mendengar perdebatan tentang Ajeng, karena tidak menarik menurutku. 


"Karena Mamah pikir, dia pasti urus tentang Elang soalnya dia punya dana." Setelah selesai mendengar kalimat mamah Dinda, aku malah menguap lebar. 


Ngantukan aku ini. 


"Ya udah gitu aja, Mah. Aku tarik Ajeng, biar Ria sama Gavin tak ada halangan." Bang Ken meraup wajahnya dan merapikan rambutnya. 


"Jangan, Mah. Nanti Kirei gimana? Aku tak bisa diharapkan, aku berantakan. Aku tak bisa kasih Ria kebahagiaan kemarin, rumah tangga kami pun tak bisa kasih dia kesenangan. Ria masih muda, kasihan juga kalau harus mengabdi sama aku yang udah tua ini. Kalau memang dia tak bisa sama aku, aku lebih ikhlas dia bahagia sama yang lain."


Kantukku hilang, padahal mataku sudah berair. Harap-harap cemas, karena ia mengatakan hal itu di depan ibu mertuaku. 


"Begitu? Setulus itu? Kau masih cinta sama dia?" Mamah Dinda tersenyum manis. 


Senyumnya mengerikan. 

__ADS_1


"Apa pentingnya aku bilang begitu, Mah? Cinta atau taknya aku sama dia, tak akan mengubah keadaan. Rasanya tak pantas juga, masa aku mengakui masih cinta ke istri orang? Yang ada, suaminya malah tak terima dan buat jarak lagi di antara kita." Bang Ken melirikku, kemudian ia membalas senyum manis mamah. 


Secara tidak langsung, benar memang jika bang Ken masih mencintaiku. 


"Kau tapi bisa ya lanjutin kehidupan kau tanpa terpengaruh perasaan kau yang nyangkut ke Ria ini?" Mamah Dinda memandangku dan bang Ken bergantian. 


Aku jadi takut dicurigai selingkuh. 


"Bisa, Mah. Aku laki-laki, jangankan tak pakai perasaan, berhubungan s**s dengan musuh pun aku bisa. Urusan hati, siapa yang tau. Yang penting bagaimana sikap kita, sentuhan fisik kita pada perempuan yang menjadi pendamping kita. Ada yang namanya komitmen, komitmen itu bisa tanpa cinta."


Semoga tak semua laki-laki sepertinya, semoga suamiku tak sepertinya. Semoga aku dijauhkan dari laki-laki yang logikanya bermain dalam rumah tangganya, karena pasti begitu menyakitkan yang menjadi pendampingnya. 


"Mamah tau itu, Ken. Tapi kau yakin bisa ambil peran itu, tanpa ganggu rumah tangga anak Mamah dan mantan istri kau? Mamah punya sedikit kekhawatiran, kalau kau bakal ambil apa yang kau klaim itu milik kau, masa Mamah udah tak ada di dunia ini lagi." Tatapan mamah Dinda tersorot tajam. 


Bagaimana ini? Apa bang Ken berani memberi janji pada mamah Dinda? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2