
Fiuh…..
Untungnya, Keith ditarik oleh staf yang lalu lalang di sini. Bertambah bingungku lagi, karena aku yang malah ditarik bang Ken masuk ke ruanganku lagi.
“Ria…. Kau harus bisa buat Bunga tetap percaya kalau ayahnya orang baik.“ Ia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang.
Aku bersandar di meja kerjaku, dengan bersedekap tangan dan menghadapnya. “Dia tak akan percaya, Bang. Kau harus mampu berubah, bukan meminta orang mengakui kalau kau orang baik. Bang Givan lebih buruk dari kau, dia jajan perempuan hampir tiap hari. Scandal pun dia ada, berulang malah. Tapi, bahkan sekarang dia tak berminat lirik perempuan lain. Kau harus tau juga, Bang. Tak satu dua orang bilang ke mereka bagaimana tentang buruknya ayah mereka, tapi anak-anaknya tak percaya karena ayahnya udah berubah baik. Mereka cuma percaya, kalau memang ayahnya emosional.“ Menurutku, bang Ken harus berubah.
Tangisan taubat seorang pendosa, lebih Allah cintai daripada tasbihnya seorang yang sombong. Aku pun yakin, semua orang pasti bisa berubah. Tak semua orang jahat, tak memiliki sisi baik.
“Aku tak minta kau komentari tentang aku, Ria.“ Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Orang-orang yang begini nih temannya iblis. Jika iblis tidak bisa membuat orang itu berbuat salah, maka iblis akan mengubah mereka menjadi jenis manusia yang merasa paling benar. Sedangkan bang Ken, ia melakukan kesalahan, tapi ia tidak mau mengakuinya.
“Terserah kau, Bang.“ Aku berjalan untuk duduk di kursiku.
Aku paling malas, jika harus berdebat dengan jenis manusia seperti itu. Lebih baik aku fokus pada pekerjaanku saja, daripada meladeninya yang seperti itu.
Di Banjarmasin pun, nanti aku akan fokus pada pekerjaanku saja. Aku akan berusaha, untuk tidak baper padanya. Karena apa? Karena bang Ken tidak pantas untuk dijadikan imam juga. Secara tidak langsung, ucapannya tadi mengandung makna bahwa ia tidak mau berubah dan tidak mau dicampuri urusannya.
Kami terdiam cukup lama, beberapa pekerjaanku pun mulai selesai. Sekarang, tinggal menunggu jam makan siang saja.
“Dek…. Abang udah order makan siang kita. Besok pagi, kemungkinan Munir datang. Malamnya, kita bakal terbang ke Banjarmasin. Abang udah konfirmasi ke Givan, dia mau transfer tapi Abang tolak.“
Diamnya ternyata tengah bekerja dan menyusun rencana.
“Aku tak punya modal besar. Bang Givan tak kasih, aku tak mungkin mampu bangun.“ Gajiku hanya dialihkan ke barang-barang, kemudian setengahnya tercabut otomatis oleh pihak Bank, untuk tabungan berjangka panjang, baru bisa aku ambil dan gunakan setelah sudah dua tahun lamanya.
“Abang kan udah bilang, manfaatkan Abang.“ Ia bangun dan berjalan ke arahku.
Aku yakin ia bisa berubah. Tapi aku pun yakin, ia tak mungkin berubah untukku. Berubah untuk diri sendiri pun tak akan terjadi. Untuk Bunga, apalagi? Ia malah menginginkan penyamaran sebagai orang baik di mata anaknya.
“Aku harus ganti dengan apa?“ Aku sedikit tegang memperhatikannya yang semakin dekat denganku.
“Kesuksesan. Abang kan udah bilang kan?“ Ia duduk di meja, tepat di hadapanku.
Seolah terhidang isi resleting celananya, karena posisinya yang salah.
__ADS_1
“Pandangan kok ke situ aja.“ Ia meraup wajahku dan terkekeh geli.
“Abang kan udah pernah bilang, kau tak buka ya tak akan terjadi apapun.“ Ia membingkai wajahku.
Aku merasa tak percaya saja dengan ucapannya, aku tak yakin untuk itu.
“Tapi Abang cium-cium aku.“ Aku bersedekap tangan dan memperhatikan wajahnya.
“Kan tak masalah.“ Semudah itu menurutnya.
“Itu masalah untuk aku.“ Aku menepis tangannya yang masih membingkai wajahku.
“Oke.“
Oke apa? Ia tidak asyik.
“Aku keberatan,” tambahku kemudian.
“Oke. Terus apalagi?“ Ia mengangkat setengah tangan kirinya, kemudian melirik ke arah jam tangannya.
“Kau munafik, Dek.“ Ia menarik daguku dan mengayunkannya.
“Tak!“ Aku memberi penegasan langsung padanya.
“Abang paham, kau tak perlu jelaskan. Tenang aja, kau pasti aman.“
Aku melongo saja, ketika ia mencium kepalaku yang terlapisi kerudung. Benar-benar tidak sopan, tidak tahu diri.
Memang aku terlihat munafik? Perasaan, aku tidak memperlihatkan bagaimana aku mencintainya. Ia pun harus tahu juga, jika mungkin saja aku melupakannya, kala ia menjaga jarak denganku dan tidak sedekat ini padaku.
“Selesaikan pekerjaan kau, Abang pinjam teleponnya ya?“ Ia meraih gagang telepon kabel milik kantor.
Ia berbicara dengan bahasa Inggris, dengan staf kantor yang berjaga di depan. Ia meminta pesanan makanan atas namanya, untuk diantarkan ke ruanganku saja.
Ternyata, ucapannya benar. Esok paginya, seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun datang. Ia benar-benar bernama Munir, dengan KTP asli yang aku pinjam sebentar untuk di-copy dan dimasukkan ke data pekerja.
Bang Ken bertanggung jawab atas Munir di sini, Munir pun menyanggupi jika ia harus terikat seumur hidup, atau sampai bang Givan sudah tidak membutuhkannya lagi. Gaji sudah disesuaikan, ia pun menginginkan separuh gajinya dibayar di awal dulu untuk anak istrinya.
__ADS_1
Nah ini yang membuat sedikit bingung. Ia memiliki anak istri, ia jauh dari keluarganya dan aku memikirkan tentang keluarga mereka. Bagaimana rumah tangganya akan tetap utuh, jika mereka berjauhan.
Sedangkan, bekerja dengan bang Givan tidak ada libur. Kecuali, ada kematian anggota keluarga. Ya semoga saja, ada kebijakan baru yang lebih manusiawi setelah bang Givan memiliki putri baru lagi.
“Ceysa, Cantik.“ Aku mendatanginya yang tengah bermain pianika.
“Yes, Aunty. What do you need?“ Ia melepaskan pianikanya.
Gadis yang sopan.
“Malam nanti, Tante mau kerja di tempat lain ya? Nanti, Adek Ceysa diantar jemput om Munir yang pagi tadi datang itu. Sama, dijagain om Keith ya?“ Aku akan menghubungi Shauwi, tentang kepastian Keith datang atau tidaknya setelah aku pergi dari sini.
“Oke, Tan. Aku ngerti kok. Tante hati-hati ya? Kata ayah kan, jangan mudah terlalu percaya sama orang. Sekalipun, itu guru kita sendiri.“ Ceysa tersenyum ketika mengatakan hal itu.
“Makasih, Sayang. Jaga diri ya? Jangan lepas antingnya dan jam tangannya. Kalau udah selesai belajar, langsung calling kak Shauwi kek biasa ya?“ Percaya atau tidak, anak-anak mbak Canda dipasangi chip untuk melacak pergerakannya.
Bukan bang Givan yang mengontrol, tapi ada orang yang dipekerjakan jauh hanya untuk mengawasi chip itu bergerak. Sudah seperti anak mafia bukan? Tapi asal kalian tahu, anak pembisnis pun menjadi incaran para lawan bisnis yang licik juga.
“Siap, Tante.“ Ia memberiku hormat.
Aku terkekeh, kemudian mengusap pipinya. Anak manis, yang penurut.
“Tante ke sana dulu ya?“ Aku kepentingan lain di rumah ini.
Yaitu, memberi wejangan untuk asisten rumah tangga di sini. Memintanya juga untuk membenahi satu ruangan kosong, untuk sebagai tempat Keith melukis.
Sedangkan, tempat untuk pak Munir itu ada di luar. Garasi mobil tidak terhubung dengan rumah, tiga garasi mobil itu memiliki rumah teduh sendiri. Nah, rumah teduh yang cukup nyaman itu akan digunakan pak Munir sebagai tempat tinggalnya.
“Dek, prepare. Ternyata Abang lain klik, Abang klik pesawat yang terbang jam dua siang ini.“
Hmm, akan lebih cepat saja aku terkunci olehnya di Banjarmasin.
Aku tidak bisa menolaknya, aku merasa dikendalikan olehnya. Menolak pun bagaimana, aku tak enak hati karena bang Ken sudah keluar uang untuk mengurus perizinan pembuatan pabrik pengolahan kopi tersebut.
Doakan saja, semoga kedekatan ini hanya untuk bisnis saja.
...****************...
__ADS_1