
"Kenapa tak langsung kick aja coba, Mah?" tanya Gavin dengan kendaraan yang mulai berjalan keluar parkiran.
"Kita tunggu aja, kalau memang dia pergi setelah tuntas yang tak usah diperpanjang. Kalau dia masih di sini aja, atau mulutnya lebih kejam, apalagi sampai nyebarin fitnah. Ya Mamah pasti ambil keputusan untuk itu, Vin. Kau tenang aja."
Aku duduk di bangku belakang bersama mamah Dinda, sedangkan Gavin fokus mengemudi seperti seorang sopir membawa penumpangnya.
Sepertinya, waktu yang pas untuk mangadu.
"Tadi pas Abang pergi tuh, dia ada di ambang pintu soalnya mbak Canda tak tutup rapat. Aku kan kebetulan belum gerak sama sekali, jadi aku cuma bisa gigit selimut aja. Dia ngomong gini ke aku, Mah, Bang…. Enak? Awalnya dia nanya begitu. Terus dia bilang gini juga, Kau tak tau gimana mulutnya. Kau tak akan paham pola pikir dan hatinya, kau tak tau Gavin luar dalam. Nah, memang Abang tuh kenapa dan gimana?" Biar sekalian ibunya tahu, sengaja aku membuka di depan mamah Dinda.
"Gimana ya? Kan aku udah bilang masa awal itu, aku ke kau tak mau pura-pura. Masa ke Ajeng itu, kan dia bilang kan aku pengen laki-laki yang mulutnya halus, yang dewasa sikap dan pemikirannya. Kan berbanding terbalik sama diri aku sebenarnya, tapi aku naksir sama dia. Jadi karena keinginan aku pengen sama dia, jadi aku kamuflase kan sifat-sifat aku itu. Ucapan, ya aku pura-pura halus. Terus juga, pura-pura sok dewasa padahal aku pengen bercanda juga. Kan kamuflase itu tak selalu mulus, tak selalu bisa tertutupi dengan rapi. Jadi sedikit demi sedikit, kan ketahuan bahwa aku orangnya doyan bercanda, mulut juga begini. Dia ngomong banyak lah di situ, kalau aku ini bermuka dua dan banyak lagi. Makanya kenapa, di awal aku tak pernah tutup-tutupi diri aku ke kau. Karena aku tak mau kau merasa tertipu, dengan kamuflase aku biar kau nyaman. Nyatanya kan, begini aja kau pulas di ketek aku. Tanpa kamuflase apa-apa lagi, aku bisa hidup nyaman tanpa pura-pura menjadi bermulut halus dan dewasa. Dewasa ada situasinya, masa tiap hari mau serius aja. Jadi kek tertekan aku, tak berwarna hari-hari ini karena tak ada berguraunya. Kirei aja aku ledek gitu kan? Kalau aku ledek Elang ya pasti dia shock berat. Jangankan aku bilang anaknya kek marmot, anaknya kek kucing aja dia pasti marah."
Yang nampak shock mamah Dinda di sini.
"Kau ledek Kirei kek marmot, Vin?" Mata mamah Dinda terbuka lebar, dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Iya, kata Ra kek marmot. Ya udah aja, aku sering ledek dia kek marmot. Entah ngerti atau taknya, reaksi wajah Kirei kan lucu," terang Gavin kemudian.
"Terlalu bagus tak sih? Padahal kan mirip celurut loh Kirei ini."
Aku yang shock di sini. Lihatlah, ibu dan anak itu malah tertawa lepas.
__ADS_1
"Bermoncong dong Kirei, Mah?!" Aku manyun dan menahan tawa.
"Telinganya." Mamah Dinda tertawa lepas dengan mengisyaratkan kedua telinganya seperti kedua telinga yang mekar.
Celurut adalah hewan pemakan serangga bertubuh kecil yang berpenampilan mirip mencit atau tikus kecil. Biasanya yang mengeluarkan bunyi 'cuuuutttttt, cuttttttttt' ketika lewat di halaman rumah. Bentuknya sama seperti tikus, berbeda di moncong dan telinga saja.
"Kuping kakeknya nempel, abi Haris kan begitu. Bunga, Kirei, telinganya kek celurut," jelas mamah Dinda kembali.
"Tapi biasanya anak yang begitu tuh cerdas dan hoki ya, Mah? Aku pernah ada teman suku Tionghoa tuh bilangnya gitu." Gavin melirikku dari spion tengah.
"Cepat tanggap biasanya sih. Anak Mamah telinganya tebal-tebal, makanya keras kepala semua. Telinga tuh kek budek apa gimana gitu tuh, kalau dikasih perintah tuh mesti diteriakin aja." Mamah Dinda geleng-geleng kepala.
"Saking aja Mamahnya yang cerewet." Gavin tertawa geli.
"Ada masanya hal itu dirasakan kita kelak nanti punya anak cucu juga, Mah." Aku mengusap-usap lengan mamah Dinda.
"Pasti ngerasain lah, kau pasti jadi keluarga besar juga kek Mamah." Ia tersenyum padaku.
"Aku masih ada takut untuk hamil, Mah. Riwayat sesat, takut jahitan di dalam perut pecah pas bayinya tumbuh." Aku mengusap-usap perutku sendiri.
"Hmm, pantesan tak hamil-hamil." Gavin melirik dari spion tengah kembali.
__ADS_1
"Kau cuma takut suami kau yang sekarang memperlakukan kau sama kek kau hamil kemarin." Mamah Dinda memicingkan matanya.
"Ah, tak juga. Malah aku mikirin kan, gimana kalau hamil tapi rutin melayani suami di ranjang?" Aku memutar mataku ke atas.
Kadang ada pikiran seperti itu, karena suamiku masih merasakan hawa-hawa pengantin baru.
"Trimester pertama malah disarankan libur dulu sampai waktu yang ditentukan loh. Tak boleh buang dalam juga selama hamil, karena takutnya rahim masih memproduksi telur dan jadinya punya kehamilan kembar tapi beda usia."
Ilmu nih.
"Oh begitu ya, Mah?" Aku menyimak dengan serius.
"Iya, begitu biasanya sih. Tergantung saran dokter aja nanti. Yang menentukan gender anak kita laki-laki atau perempuan tuh, itu bawaan dari benihnya laki-lakinya loh. Satu gen, belum tentu sama juga. Kek papah kan, dominan anak laki-laki. Keturunan papah mix anaknya, karena ada pengaruh dari gen Mamah." Mamah Dinda menunjuk dirinya sendiri.
"Mau laki-laki, mau perempuan. Yang penting sehat, Mah." Harapan Gavin tidak muluk-muluk.
"Doa Mamah pun begitu aja dulu. Makanya alhamdulillah, anak banyak itu ngurusnya tak susah karena sehat-sehat semua. Kecil ngurusnya tak susah, eh pas besar nyusahinnya." Mamah Dinda tertawa geli.
"Ada aja gitu ya, Mah?" Aku mendengarkan obrolan ini dengan pasti, karena nantinya pasti akan terpakai di masa mendatang.
"Bukan ada aja, semuanya rata bawa beban masing-masing untuk orang tuanya. Yang benar-benar berasa betul sih Givan, Dek. Mental Mamah, pikiran Mamah, kesehatan Mamah, diolah habis-habisan di anak itu aja. Jadi tak sangka juga, yang paling jadi beban malah jadi panutan adik-adiknya, bisa ngemong pas tua tuh, waktu kecil dia sedikit ngemong banyak ngajak ributnya. Apalagi sana Ghifar, musuh betul dari kecil. Tapi kalau tau Ghifar dinakalin temannya, dia tak terima dan maju untuk adiknya itu. Dia lebih rela adik-adiknya dibuat nangis sama dirinya sendiri, ketimbang adiknya nangis gara-gara orang lain. Ngurus Icut juga itu, sabar dan telatennya dikuras habis-habisan, karena mudah sakit. Jangankan hujan-hujanan, kena angin hujan aja dia flu. Tapi namanya juga anak, tau anak bawa beban, ya kita malah senang kalau dibebani. Karena kita orang tuanya, andalan mereka gitu kan? Yang penting ingat sama orang tua, susah senang sama orang tua. Jangan susahnya sama orang tua, senang-senangnya lupa orang tua. Mamah sama papah tuh tua nanti sama anak, makanya bela-belain utamain anak karena berharap di hari tua dilimpahkan kasih sayang sama anak-anaknya." Mamah Dinda tersenyum amat lebar.
__ADS_1
Harapannya amat besar dan terlihat sekali.
...****************...