
"Pandai kau tipu-tipu." Aku memicingkan mataku.
"Jangan kau-kau aja sih, sebut nama, ayang, sayang, bang, atau apa gitu. Tak enak didengar, masa kau-kau aja." Ia merangkulku dan mengusap-usap kepalaku.
"Apa mintanya? Aku kabulkan." Aku tersenyum lebar.
"Bang aja, biar nampak berwibawa." Ia mengedipkan matanya sebelah.
"Oke, Bang Apin." Aku pun membalas kedipin matanya dengan hal yang sama seperti yang ia lakukan.
"Oke, Riut. Cepat selesaikan, terus aku mau molor." Ia melepaskan rangkulannya.
"Kalau resepsi cuma empat jam, ganti baju dua kali aja. Tiga kali sama akad tuh ya?" Aku pernah mendengar teman-temanku bercerita yang ganti baju empat kali saat resepsi.
"Bukan masalah uang, tapi waktu. Apa tak habis dimakan waktu untuk ganti baju aja? Akad sekali, sama pas resepsi sekali. Akad, aku mau pakai baju adat sini. Resepsi, pakai jas dan kau pakai gaun modern berhijab. Bentar, aku carikan." Ia mengambil katalog dan membuka lembaran beberapa kali.
"Oke sip, jangan warna putih nanti aku nampak hitam." Hijab putih apalagi, aku selalu menghindarinya.
"Warna apa terserah, aku jas hitam biasa. Kemeja sih terserah, yang masuk sama warna gaun kau."
Kami terus berdiskusi, hingga warna marun menjadi pilihan. Baju adat dengan warna hijau dominan, dengan gaun dan kemeja dengan warna marun. Tak lupa juga, kami langsung memilih paket parcel hantaran. Berapa banyak? Lima puluh buah parcel, dari kitab suci, emas satu set sampai tentang baju dinas malam.
Yang membuat kami ribut saja adalah, karena Gavin ingin barang-barangnya dijadikan parcel juga. Seperti handuk, bajunya, jam tangan, minyak rambut dan lain sebagainya. Itulah, yang menyebabkan banyak parcel yang kami pilih.
"Pulang!" Perintah tersebut membuat kami kaget.
__ADS_1
"Eh, Bang. Lagi buat list barang-barang yang dibeli untuk hantaran." Gavin menunjuk buku dan pena.
"Tak usah, ipar-ipar kau ngerti. Parcel hantaran nanti dari kita-kita, isi kamar dari papah, catering dari mamah. Kau bayar pelaminan, dekorasi dan gedung aja. Abang-abang kau kasih sapi satu, untuk diolah pihak catering. Gih pulang, udah jam sepuluh." Bang Givan memasuki ruang keluarga dengan mengedarkan pandangannya.
"Alhamdulillah, banyak yang nyumbang." Gavin tersenyum girang.
"Tapi tanah Abang yang mau dibangun rumah kau itu bayar."
Kami tertawa lantang bersama. Bahkan bang Givan yang mengatakannya saja ikut menertawakan ucapannya sendiri.
"Oke, aku pulang nih." Gavin membereskan katalog miliknya.
"Kau kunci ruko, Dek. Ibu udah pulas di sana sama mbak kau." Bang Givan turun tangga kembali bersama Gavin.
Ruko ini lantai tiga, di bawah adalah usaha milik ibu yang dijaga orang lain. Lantai dua adalah kamarku, kamar ibu, satu kamar anak dan ruang televisi. Kamar atas dulunya adalah kamar mbak Canda, yang beralih fungsi menjadi tempat kerjaku dan beberapa koleksi tas mahalku. Semua kamar, memiliki kamar mandi pribadi. Kamar mandi utama, ada di lantai bawah. Ruko ini pemberian mamah Dinda, dengan nama kepemilikan Chandra.
"Kedai kopi."
Jarang sekali ia keluyuran, keluyuran pun pasti perjanjian di atas materai dengan istrinya. Pasti dijanji jam berapa pulangnya dan hendak ke mana saja. Entah aku bisa tidak membuat suamiku seperti itu.
Untungnya saat bang Givan masuk, kami tengah sibuk berdiskusi. Coba kalau kami tengah mesum, pasti langsung dibawa ke kyai untuk diruqyah. Karena yang main menikahkan secara siri adalah papah, bang Givan paling hanya diam tapi rencananya segudang. Seperti saat memergokiku di bawah selimut dengan bang Ken.
Aku sekarang merasa sebodoh itu, kala terjerat cintanya bang Ken. Awalnya seolah begitu indah dan memabukan, tapi akhirnya membuatku trauma besar.
Esok harinya, aku bekerja setengah hari karena dijemput Gavin agar aku ikut dengan mamah Dinda dan mbak Canda. Rupanya, ia menjadi sopir kami yang akan melakukan treatment bersama.
__ADS_1
"Nanti ke mall sekalian, aku udah buat list untuk hantaran," ujar mbak Canda yang duduk di sebelah Gavin yang mengemudi.
Aku baru merasakan sekarang, bagaimana pernikahan yang penuh dengan rencana dan acara di dalamnya. Persiapan pun bukan main-main, segala sapi disediakan. Aku merasa dimuliakan oleh keluarga ini, aku merasa martabatku mahal di mata mereka.
Padahal, aku hanya seorang janda. Janda beranak dari pernikahan siri yang tidak beruntung. Tapi keluarga Riyana seolah tengah menikahkan perawan dan bujang, dengan acara yang megah dan persiapan yang luar biasa.
Treatment yang luar biasa mahal dan memakan waktu. Gavin sampai cek in ke hotel terdekat, sambil menunggu kami selesai. Treatment sampai enam jam, kemudian langsung dilanjutkan dengan berbelanja ke mall.
Treatment sampai menghabiskan dana sekitar seratus dua puluh jutaan, dengan mamah Dinda yang meng-handle biayanya. Berbelanja untuk hantaran di mall, dengan dana yang ditanggung oleh mbak Canda.
Gavin hari ini hanya menjadi sopir dan menyumbang tenaga saja. Ia nampak bosan, saat aku tanya katanya ia tidur tiga jam di hotel, sisanya adalah rebahan dan bermain ponsel.
Aku jadi rindu dengan Kirei. Saat aku pulang, Kirei malah sudah pulas bersama ibu. Mereka sama-sama mendengkur, kepulasan mereka berada di titik ternyamannya.
Rutinitas harian dan kesibukan akan persiapan, tidak terasa menghabiskan waktu begitu cepat. Hingga hari esok, adalah hari di mana kami akan menjadi pasangan yang halal.
Pernikahan bang Ken? Salah satu di antara kami tidak ada yang datang, hanya sejumlah uang yang dikirimkan ke rekening bang Ken. Termasuk juga dengan bang Apin, calon ayah sambungnya Kirei. Kirei sudah begitu lengket dengan Gavin, tidak dengan Cali padaku. Ia selalu memukulku dengan mainannya, kala aku mencoba mendekatinya.
Ibunya hanyalah biyung, ayahnya adalah ayah Givan. Ia tidak mau siapapun mengambil posisi itu di hatinya, hingga Gavin merelakan anaknya tetap tumbuh dalam asuhan bang Givan dan mbak Canda.
Kebutuhan Cali tentu Gavin penuhi, bahkan Gavin lebihkan agar digunakan juga oleh Cala, sengaja sebagian ucapan terima kasihnya pada bang Givan karena sudah mengasuh anaknya sebaik ini. Cali tumbuh dengan sehat dan aktif, bahkan ia sudah bisa mengucapkan beberapa suku kata.
Yang membuatku salut pada bang Givan dan mbak Canda adalah, karena mereka begitu telaten mengurus Cali tanpa membandingkan anak siapa pun dan tanpa membuat iri akan kasih sayang. Bahkan, bang Givan marah besar jika Gavin selalu mengisengi Cali dan meledek Cali.
Semoga besar nanti kau paham, bahwa aku dan Kirei tidak bermaksud merebut ayah kandung kau. Hanya saja, keluarga ayah dan ibu asuh kau tidak bisa melepaskanmu dan kau pun tak mau untuk tinggal dalam keluargamu ini. Tapi mungkin besar nanti kau akan mau sendiri dan akan mengerti sendiri.
__ADS_1
"Tidur, Nduk. Besok harus sehat, kuat, biar resepsinya lancar." Ibu mengusap kepalaku dengan tersenyum lebar.
...****************...