
“Kenapa kau nyudutin aku, seolah aku berbuat sesuatu ke Dia?“ Bang Ken menaikan nada bicaranya.
Bahaya jika mereka sama-sama emosi. Meski dalam telepon, tapi ketika bertemu itu mereka pasti baku hantam.
“Karena susunan kalimat kau mengarah ke sana. Kau berbicara niat baik. Kau tak perlu ada niat baik, Bang. Kami masih bisa menuhin kebutuhan Ria, dia tak butuh niat baik dari kau. Tapi, ada apa di dalam niat baik itu? Udah gini aja, mana alamat kau? Kau kirim alamat kau, kita bicarakan langsung.“
“Biar aku ke rumah kau nanti, kalau keadaan di sini udah stabil. Kau tak perlu ke sini, Van.“ Dalam ucapan bang Ken ini, berarti ia akan meminta restu secara langsung pada bang Givan.
“Aku tak mau tau, dalam waktu dua minggu kau dan Ria harus pulang ke sini. Atau, aku yang ke sana di hari kedua minggunya kau tak datang sejak hari ini.“ Ancaman bang Givan tak main-main.
“Oke, tak sampai dua mingguan lagi kami ke sana. Kau jangan khawatir, Van. Ucapan aku bisa dipegang.“ Bang Ken masih terlihat tetap tenang.
“Oke.“
Tut, tut, tut….. panggilan langsung diputuskan sepihak oleh bang Givan. Aku harus siap mendengar tekanan dari bang Givan, bilamana kami sampai di sana.
“Usahakan, Givan jangan sampai tau kau udah tak virgin.“ Ia berbaring menyamping menghadapku.
“Kenapa? Apa Abang tak mau dipaksa untuk cepat nikahi?“ Aku tidak mengerti tentang jalan pikirannya.
“Tak, bukan kek gitu. Untuk apa? Itu aib.“ Kesannya, bang Ken tak mau terlihat buruk.
Drttttt……
Suara getar dalam ponsel yang berada di bawah bantalku terdengar. Siapa ya yang mengirimiku pesan chat bertubi-tubi?
Aku langsung mengambil ponselku, melihat isi pesan yang masuk dalam aplikasi chattingku. Sekian lama tak menghubungi, kini tiba-tiba Arman mendadak mengajakku untuk lamaran.
Gendeng memang!
[Haru Minggu nanti aku pulang ya? Gimana kalau aku bawa orang tua aku ke rumah kau?]
[Kita ngobrol bareng dulu gitu. Kalau memang sama-sama kasih restu, ya kita obrolkan untuk tanggal pernikahan.]
[Kau masih mau sama aku kan? Kau tak keberatan dengan ladang rejeki aku kan?]
“Mau kopi tak?“ Aku dikagetkan dengan suara bang Ken yang tiba-tiba berbicara.
Aku menyembunyikan layar ponselku. Aku lupa, jika ada ia di sampingku. Apa, ia sudah membaca isi pesanku?
“Boleh, aku belum ngantuk juga.“ Aku memamerkan senyum lebar padanya.
“Oke, Abang buatkan. Abang ke dapur dulu ya?“ Ia beranjak dari tempat tidurku.
Aku melihat ponselku kembali. Sebaiknya, aku membahas apa ya? Apa sebaiknya aku tidak menjawabnya dulu?
Bukhhhh….
__ADS_1
Aku mendengar seperti ada benda berat yang jatuh. Seperti koper yang jatuh. Asalnya dari kamar sebelah, dari kamar bang Ken. Katanya ia ingin membuat kopi? Tapi, ia berada di dalam kamar? Bagaimana sih?
Srekhhh…. Seperti suara body koper yang tergeser. Ada aktivitas apa sebenarnya di kamar bang Ken?
Aku memilih untuk tidak dulu membalas atau meladeni pesan dari Arman. Aku tengah bingung dengan kondisiku sekarang. Jikapun memang aku tidak berjodoh dengan bang Ken, aku akan melakukan operasi keperawanan lebih dulu sebelum siap untuk menikah.
Apa nanti aku akan dicap sebagai penipu atau pembohong? Entahlah, aku hanya mencoba untuk tidak mengecewakan suamiku kelak.
Loh? Bang Ken baru keluar dari kamarnya? Jadi benar, tadi itu bang Ken?
“Bang….” Aku menyaksikannya yang akan menuju dapur.
“Ehhh….“ Ia menoleh ke arahku dan tersenyum aneh. Seperti tengah menutupi sesuatu.
“Ini, Dek. Abis ambil kopi.“ Ia menunjukkan genggaman tangannya.
Kok kenapa harus digenggam seperti itu? Kopi kan bisa dipegang bungkusnya saja.
Atau, itu kopi bubuk? Masa iya ia mengambilnya dengan mengambil dengan tangannya langsung?
Ah, sudahlah. Mungkin memang caranya membawa bungkus kopi itu seperti itu. Atau memang, bungkus kopinya terlampau kecil untuk ukuran tangannya. Jadi, kesannya seperti tersembunyi.
Aku sudah bersiap di sofa, dengan memainkan sebuah game dalam ponselku. Tak lama, bang Ken muncul dengan membawa dua cangkir kopi.
“Tak apa kah tadi Abang udah ngeteh tuh?“ Ia minum teh hangat sebelum mencari pelepasan tadi.
Kenapa begitu? Aneh sekali.
“Itu kopi pahit, Dek. Takut Adek salah minum nanti.“ Bang Ken kembali memberikan senyum lebar membingungkan.
Ia aneh sekali sih.
“Mau liburan tak? Rumah sama pabrik kan udah diborongkan, gimana kalau besok kita pergi liburan?“ Ia mengusap-usap pahaku.
Memang usil tangannya.
“Liburan ke mana, Bang?“ Aku tidak tahu tempat wisata di Banjarmasin ini.
Memang salah satu kantor tambang bang Givan ada di Banjarmasin juga. Tapi jelas letaknya jauh dari sini, ini daerahnya seperti tidak terjamah peradaban modern.
“Ya dekat-dekat sini aja. Gimana?“ Ia menyangga kepalanya dengan satu tangannya ke sandaran sofa.
“Boleh. Tapi lihat aja besok ya, Bang?“ Aku suka mager soalnya.
“Oke deh.“ Ia memperhatikan layar ponselku.
Aku jadi teringat dengan pesan chat tadi. Apa bang Ken memperhatikannya seperti ini juga?
__ADS_1
Hmmm, aku jadi tidak enak hati. Aku pun takut ia mengamuk lagi.
“Cicipi kopinya, Dek.“ Ia membawakannya ke tanganku.
“Oke.“ Aku menekan pause dalam gameku ini.
“Kopi apa ini, Bang?“ Aku menyeruput kopi yang rupanya hanya hangat saja ini. Bukan kopi panas, yang diseduh dengan air mendidih.
“Kopi sachet biasa, Dek.“ Senyumnya lebar sekali, kala aku menyeruput kopiku beberapa kali.
Ehh, apa mungkin ia menaruh sesuatu di kopiku? Sampai ia terlihat sangat puas, saat aku menikmati kopi buatannya.
Aku melirik ke arah permukaan kopi ini. Terlihat aman, tidak ada benda seperti debu yang mengapung. Aku mendapat informasi, bahwa jika ada racunnya itu seperti ada benda berdebu mengapung di permukaan kopi.
“Cicipi dong, Bang.“ Aku menyodorkan ke arah mulutnya.
“Abang suka kopi pahit, Dek. Kalau teh, ya sukanya teh manis.“ Ia seolah menghindar dari sodoran teh dariku.
“Tak apa, cicipi aja.“ Karena aku seperti curiga, jika di kopiku benar ada sesuatu.
Ia langsung membuka bibirnya, kemudian menempatkan gelas yang aku pegang untuk bisa ia minum. Tuh kan? Ia membuatku bingung. Kini, ia tidak terlihat seperti mencurigakan. Karena ia mau mencicipi kopiku.
Namun, setelahnya ia meminum kopinya sendiri.
“Nih, cicipi. Kopi pahit.“ Giliran ia yang menyodorkan kopinya ke bibirku.
Aku pun mencicipi kopi miliknya. Kopi pahit, benar-benar tidak ada manis-manisnya.
Kami menyelingi kopi ini, dengan obrolan macam-macam. Dari obrolan tentang pabrik, tentang beberapa mesin yang sudah dipesan. Juga, kami membahas tentang beberapa furniture yang aku inginkan untuk di rumah megah yang dibangun ulang itu.
Ehh, tapi kok tiba-tiba gerah. Padahal, udara di sini cenderung dingin jika malam. Apalagi, sekarang sudah semakin malam. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
“Gerah, Bang.“ Aku berjalan ke arah pintu rumah.
Tanpa ragu, aku membuka sebelah pintu rumah ini.
Hufttt…. Nyatanya hawanya semakin terasa panas. Rasanya, aku ingin melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuhku.
“Kenapa, Dek?“ tanyanya dengan mendekatiku yang berdiri di tengah-tengah pintu rumah.
Aku mulai gelisah. Rasanya pun, permukaan kulitku seperti meremang merinding.
Apa hawa adanya makhluk astral di sini? Tapi, masa iya ada setan sih?
“Kebelet pipis keknya aku, Bang. Bentar ya?“ Aku berjalan ke arah belakang rumah ini.
Kok aneh sekali rasanya tubuh ini. Ada apa denganku?
__ADS_1
...****************...