
"Mau ke sini katanya, rindu berat." Aku mencolek pinggangnya.
Ia tidak terlihat geli sama sekali.
"Sama Cali? Cali kan di bang Givan, Cali punya orang tua asuh sendiri." Pikirannya positif sekali.
"Sama ayahnya Cali katanya, Ayang Apin." Kini aku mengusap lengannya.
"Ck, jangan sok menyakiti diri sendiri." Ia melirikku sinis. "Gimana kejadian sebenarnya." Ia fokus memandang jalanan di depannya lagi.
"Kata papah tuh, udah ngomong sama papah aja, papah kan walinya kau dan Cali juga. Ajeng tak mau, mau ngomong sama Ayang Apin langsung. Terus kata papah, ya udah mana nomornya nanti dikasih ke Gavin. Soalnya Ajeng rela ke Lampung, nemuin kau demi obrolan itu. Katanya sayang ongkos mahal, dia kumpulkan dulu untuk ongkos ini, jadi jangan sampai sia-sia." Aku memberikan kesimpulan yang komplit.
"Terus kau save nomornya gitu?" Ia menoleh sekilas kembali.
"Tak, Bang. Kata papah, lebih baik pulang dulu sebentar. Daripada Ajeng ke sini, nanti tau rumah kita yang di sini, khawatirnya ia jadi sering ke sini. Nanti papah kirim orang dari ladang jahenya yang di sini, untuk urus panenan kali ini. Kasian kata papah, Ajeng udah ongkos banyak dan katanya sampai ngumpulin. Mungkin, ada sesuatu yang penting mau disampaikan." Sesak sekali sebenarnya membahas tentang Ajeng.
"Tak usah ladenin lah. Udah, biarin aja. Kita di sini aja, pura-pura tak tau aja. Masa pulang demi dia aja? Memang dia siapa? Sampai harus ngehormatinya sedemikian rupa. Kangen Cali, kan Cali ada di sana. Masa mau ngomong sama bapaknya Calinya? Toh ada HP juga, apa tak punya inisiatif untuk nelpon aja? Orang akad, orang cerai, bisa lewat telepon. Masa cuma ada keperluan aja, sampai rela jauh-jauh datang. Tak umum kali, kek ada sesuatunya." Kekesalannya terpancar sekali.
"Ya kan, sama halnya waktu Ajeng antar Cali, kau datangi dia sama bang Givan sampai ke Brasil. Kan bisa aja minta nomornya dari anak ayah Jefri yang ada di sana, dari kak Huna atau kak Syifa itu. Repot-repot, bela-balin ongkos." Mereka sepertinya jenis manusia yang sama.
"Kan beda kasus. Anak bayi loh, diletakan di teras. Dih, apa tak malu dia datang lagi ke rumah yang dijadikannya naruh bayinya?"
Tak terasa, kami sudah ada di parkiran rumah sakit.
"Ya mungkin sekarang dia punya kasus yang beda lagi. Mana tau, mana benar kan?" Aku memperhatikannya yang tengah menoleh untuk mencari tempat parkir.
Di Arabia, parkiran rumah sakit tak sampai penuh begini. Bahkan, rumah sakit cenderung kosong.
"Bodo amat lah! Aku ngerasa udah tak punya masalah apapun." Akhirnya mendapatkan tempat parkir juga.
"Ya Ajengnya merasanya masih ada." Ajeng lebih muda dariku.
"Jadi kau mau kita datang ke sana? Ya udah, atur aja, Ria! Kau cuma pengen nyakitin hati kau sendiri." Ia keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Aku lagi. Jelas-jelas, Ajeng yang ingin bertemu.
Pintu mobilku terbuka, kemudian Gavin mencium anaknya. "Adek priksa aja, jangan takut ya?" Ia mempersilahkan aku untuk keluar.
"Kau gendong Kirei, aku mau urus administrasi dulu." Gavin celingukan.
Kirei menepuk-nepuk lengan ayahnya, Kirei kecanduan gendong pada ayahnya. Mungkin itu permintaan kecilnya, untuk pindah di gendongan ayahnya.
"Pulangnya ya, Dek? Ayah urus data Adek dulu." Ia mendekati seorang security.
Kami diarahkan dan langsung mengantri setelah mengurus data dan mengambil nomor antrian. Batuk pilek saja diberi tindakan, karena katanya Kirei kesulitan bernapas karena ingusnya. Seperti yang ada di sosial media, hidung Kirei disemprotkan air khusus untuk mengeluarkan ingusnya. Ia menangis, gelagapan dan terbatuk-batuk.
"Tak ada panas ya? Tapi parah banget ini pileknya. Ada yang sakit juga di rumah kah?" Dokter anak tersebut beristirahat sejenak, sebelum mengambil tindakan yang sama pada salah satu hidung Kirei kembali.
"Tak ada kok, kami orang tuanya sehat-sehat aja." Gavin sejak tadi berada di tempat paling dekat dengan Kirei.
"Bisa jadi dia alergi debu, atau sesuatu. Apa rumah kalian dikelilingi bunga? Atau lama tidak dibersihkan? Atau punya binatang peliharaan?"
Akhirnya, Kirei selesai juga diberi tindakan. Aku langsung memberinya susu formula. Untungnya, aku bersiap dengan membawa dot botol yang airnya bisa disekat dengan susu. Botol ini sangat membantu kala bepergian jarak dekat menurutku.
"Tak punya binatang peliharaan. Tapi memang di rumah ada wewangian otomatis, parfum ruangan. Ada beberapa bunga di pekarangan rumah juga."
Ah, iya. Aku baru ingat setelah Gavin menjawab.
"Bisa jadi karena wewangian otomatis itu. Kan sekali nyemprot, banyak yang keluar tuh wanginya dan wanginya kuat betul. Sampai di rumah, dilepas aja pewangi ruangan itu. Kalau masih belum sembuh setelah habis obat, bisa ke sini lagi ya? Untuk obat yang dibawa itu, distop aja penggunaannya." Dokter menuliskan resep obat untuk Kirei.
"Sehat-sehat ya, Adek Cantik. Alisnya bagus banget." Dokter memberikan resep padaku, dengan pandangannya yang terarah pada Kirei.
"MasyaAllah, tabarakAllah." Gavin tersenyum dengan mengusap pipi Kirei.
Kirei langsung merengek dan minta pindah gendong pada ayahnya. Setelah itu, kami permisi pada dokter tersebut.
Napasnya sudah lega, tapi Kirei masih rewel saja. Sedikit-sedikit, merengek. Padahal, ia tidak diapa-apakan.
__ADS_1
"Kak Cali kalah sama Adek. Adek cantik betul, kek marmot. Alisnya tebal, hidungnya tinggi, dagunya bertelur. Ish, kek Ghea Youbi Sister." Gavin menyentuh ujung dagu Kirei.
"Masa cantik kek marmot Ayah sih." Aku terkekeh, kemudian menggandeng tangannya yang terbebas.
"Masa kek Ibu? Ibu kan mukanya lonjong, kek cangkang telur."
Aku tertawa lepas. Mendadak, aku ingat pada Alfonso.
"Ayah kenapa mau?" Aku bergelayut pada lengannya.
"Cantik kalau lagi bobo, suka mandang Ibu kalau lagi bobo. Tapi kalau melek tuh jelek ya, Dek?"
Ia memuji kah meledek sebenarnya?
"Masa disuruh bobo terus?" Aku terkekeh geli.
"Cantik kok, ibu Ummu aja cantik. Masa anaknya jelek? Kan tak mungkin. Ini cucunya aja cantik betul, jadi makin love-love sama Ghea Youbi Ayah tuh."
Aku tertawa lepas, dengan menepuk pundaknya. Memujinya Kirei, makin cintanya pada Ghea Youbi.
"Resepnya taruh di situ, Bu. Nanti ke Ayah ya?" Gavin menunjuk tempat penukaran obat dan bangku kosong.
"Oke." Aku segera menaruh resep ini, lalu menghampiri tempat duduk suamiku.
"Aduh…." Bahuku ditabrak oleh seseorang yang akan berjalan menaruh resep.
Laju sekali berjalan di rumah sakit? Sudah seperti berjalan di bandara dan akan ketinggalan pesawat saja.
"Maaf, maaf." Laki-laki tersebut menghampiriku setelah meminta maaf.
Sekecil ini dunia.
Ia sepertinya benar-benar akan ketinggalan pesawat. Mungkin pesawatnya terbang sendiri tanpanya, makanya ia terburu-buru.
__ADS_1
"Ria…." Ia tersenyum manis, setelah menyadari bahwa yang ia tabrak barusan adalah aku.
...****************...