Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD179. Terjengkang


__ADS_3

"Kau egois, Ria. Kau tak pikirkan anak kau sendiri! Apa kau pikir ayah kandung dan ayah sambung itu sama?" Kirei melongo saja, saat ayahnya berbicara denganku. 


"Abang ayah kandung, Bunga dalam pengawasan ayah asuh. Bukan masalah kan? Kau pun egois!" Ia harus ingat sulungnya. 


"Ria, kau harus paham kalau ayam jago tak sebaik ayam betina untuk jaga anaknya. Lagi pun, hidup aku lagi kacau. Kau harusnya paham, kalau aku butuh pendamping untuk akhirnya kita sama-sama dalam satu rumah. Dengan kita kembali, Bunga pun bakal aku tarik. Ada figur ayah, ada figur ibu, ada Bunga dan Kirei, kita jadi keluarga yang utuh dengan anak yang tanpa kekurangan kasih sayang salah satu orang tuanya."


Pandainya ia beralasan. 


"Kau harus tau, kalau kau punya wanita lain, Bang!" 


"Aku bisa ninggalin dia, kalau kita benar-benar kembali."


Ck, manisnya. 


"Tapi dia tak bisa kau tinggalkan, Kenandra!" Aku bangkit dan mengambil Kirei darinya. 


Nampak ia tengah emosi, aku khawatir bayi polos ini malah dilempar ayahnya sendiri. 


"Kenapa tak bisa? Itu ucapannya sendiri." Ia menatapku dari jarak dekat. 


Hmm, bertanya pulak! 


"Tanyakan ke perempuan kau itu lah! Aku panggil papah, biar jadi saksi untuk kau talak aku." Aku berjalan masuk ke dalam rumah. 


"Akhhhh…." Bajuku ditarik dari belakang, aku hampir terjengkang ke belakang. 


"HAI! KEN!!!" teriak mamah Dinda dari jauh. 

__ADS_1


Aku tengah menggendong Kirei, aku khawatir aku terjatuh bersama anakku sendiri. Meski akhirnya ia menyangga punggungku, tapi aku khawatir kakiku terpeleset dengan tarikannya. 


"Duh…. Anak kau jatuh, bisa gegar otak, Bodoh!!!" maki mamah Dinda, dengan berjalan menghampiri kami. 


Mamah Dinda buru-buru mengambil alih Kirei. Kemudian mengusap punggung Kirei yang berada di dekapannya. 


"Jangan main fisik, Ken! Kau tarik-tarik asal, Ria lagi bawa anak kau, kau jangan sengaja pengen nyelakain anak kau sendiri dengan posisi Ria yang jatuh bersama. Mamah tau, kau terkesan pengen buat fakta kalau pengen ambil alih Kirei, dengan alasan Ria lalai. Padahal, kau yang sengaja buat dia celaka!" Mamah Dinda menatap marah laki-laki yang berada di belakangku ini. 


"Pikiran Mamah sejahat itu ya?"


Aku bergeser, untuk bisa melihat ekspresinya. Ia terlihat sedih, dengan mata yang sudah memerah. 


"Kau nekat, Ken! Mamah tau kau senekat apa. Jangan bawa-bawa Kirei, Mamah tak terima kalau sampai dia terluka karena ego kau." Mamah Dinda membawa Kirei masuk. 


"Mah…." Bang Ken langsung mengejar mamah Dinda. 


Aku celingukan, khawatir ada tetangga yang menonton. Meski nyatanya, rumah ini dikelilingi tembok beton. Tetap saja, biasanya ada tetangga yang mendengar. Padahal kanan kiri rumah ini tidak ada rumah, tapi mesti saja ada yang tahu informasi tentang masalah di sini. 


"Ada apa, Dek?" Papah Adi yang baru keluar dari dalam kamar nampak bingung. Penampilannya terlihat fresh, dengan aroma sabun yang kuat. 


"Itu, Bang. Ken tarik Ria yang lagi gendong Kirei. Sampai kejengkang ke belakang dia, untung tak jatuh bareng sama Kirei," adu mamah Dinda pada suaminya. 


"Hmm, Ken. Kau ini…." Papah Adi geleng-geleng kepala. 


"Mamah tuduh aku jelek aja, aku tak berniat jahat." Ia masih berdiri di ruang keluarga ini. 


Aku melipir mendekati mamah Dinda yang memangku Kirei, Kirei nampak bingung bahkan senyumnya hilang. 

__ADS_1


"Mamah tau kau tariknya pakai tenaga, Ken. Kalau nepuk aja, tak sampai begitu. Kalau tarik pelan, dia tak sampai kek gitu." Benar ucapan mamah Dinda, bang Ken menarikku cukup kuat. Bahkan, bekas tangannya masih terasa. 


"Sama Kakek kah, Dek?" Papah Adi tersenyum manis mendekat ke arah mamah Dinda. 


Kirei sudah cengar-cengir, ia girang saat kakeknya mendekatinya. Benarkah Kirei harus kasih sayang ayahnya? Tapi kasih sayang papah Adi terlihat melimpah untuk Kirei. Beliau tidak pernah bertanya apa susu Kirei habis, apa diapers Key habis. Jika ia ingin memberi, ia langsung memberikan tanpa banyak tanya. 


"Abang sini aja." Mamah Dinda menahan tangan suaminya, hingga akhirnya papah Adi duduk di samping mamah Dinda. 


Kirei berpindah tangan pada kakeknya. Ia begitu senang, dengan menyentuh area wajah kakeknya. 


"Cara dekati perempuan lagi itu bukan pakai emosi, Ken. Bukan ribut dan debat melulu. Ajak ngobrol yuk asyik, bawa pembahasan yang menarik. Jangan datang, bahas masalah lagi. Paham kalian bermasalah, ya udah jangan bahas masalah lagi. Kalian udah tau sendiri masalah ketidakcocokan masing-masing, tak perlu diperdebatkan. Untuk apa coba? Untuk cari masalah baru? Kau tau, kalau kau salah. Ria pun tau, kalau dia punya salah juga sama hubungan kalian. Redam cekcok itu, bahas cek out keranjang kuning kek, cek out keranjang L*zada kek. Kau senang-senangilah hati perempuan, kasih makan egonya dengan barang-barang impiannya." Papah Adi berbicara, dengan meladeni Kirei bergurau. 


"Iya, datang tuh debat lagi," timpal mamah kemudian. 


Bang Ken baru bergerak untuk duduk. "Aku pengen permasalahan ini selesai dengan Ria yang paham semuanya."


"Kau paham tak, kalau kau salah? Kalau kau punya perempuan lain?" Papah Adi memandang ayahnya Kirei sejenak. Kemudian, fokusnya teralihkan pada bayi yang sering mencoba menyeimbangkan kepala itu. 


"Pah, aku kan udah terus terang ke Ria tentang itu." 


"Apa dengan terus terang itu, Ria bakal memakluminya terus menerimanya? Tak begitu konsep hati perempuan, Ken. Papah dulu pernah beristri dua, setelah ketahuan Papah minta maaf berulang kali. Apa Mamah memakluminya? Tak. Mamah berubah sampai setahun ke depan, sampai Papah cerai dengan tante Maya dan kita melakukan peresmian pernikahan. Kesalahan itu pun, sering diungkit sampai hari ini. Sampai kita udah banyak cucu, sampai kita udah tua, Papah sering disindir. Kau jangan melucu, bahas perempuan lain biar Ria ngerti." Papah Adi selalu bisa mengerti akan perasaan perempuan. 


"Mau kau gimana?" tanya mamah Dinda kemudian. 


"Ya mau Ria ngerti, kalau aku bisa ninggalin Hala demi dirinya," jawab bang Ken kemudian. 


"Hala udah Mamah telepon, jawabannya memang kek yang kau bilang. Tapi, Mamah punya pandangan lain dari keterangan Hala. Baiknya menurut Mamah, kau udahan aja sama Ria. Karena Hala tak akan lepasin kau dengan mudah, dia bilang bisa kau tinggalkan itu cuma kalimat penenang agar dia nampak lebih unggul. Jadi juara itu, bukan tentu mereka yang jadi pemenang. Tapi mereka yang dalam perjuangannya terlihat dan berkesan di hati mereka yang cuma tau dari luar. Ini konsep baru, yang cuma perempuan paham." Tapi aku yakin perempuan, tidak paham konsep yang mamah Dinda katakan. 

__ADS_1


"Mamah nyuruh aku udahan, dengan Gavin yang dibiarkan satu kamar dengan Ria. Apa itu konsep perempuan juga? Aku tau dari minggu lalu, dia masuk di kamar yang Ria tempati dan dia keluar dengan pakaian lain dari kamar itu. Jadi, jangan bodohi aku dengan taktik kalian."


...****************...


__ADS_2