Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD142. Khitbah


__ADS_3

“Kau???“ Mamah Dinda mengernyitkan keningnya.


“Iya, Mau. Aku udah nikah, aku nikah sama bang Ken di sana,” akuku dengan menunduk.


Aku takut mereka shock setelah mengatakan hal ini.


“Tak mungkin, Ria.“


Aku segera meluruskan pandanganku pada papah Adi. Kenapa beliau tak percaya?


“Kenapa memang, Pah?“ Bang Givan sampai mengajukan pertanyaan.


“Minggu lalu Ken khitbah seorang perempuan, kami hadir di acaranya di rumah Sukma.“ Informasi dari papah Adi membuatku langsung gemetaran.


Ya ampun, aku belum jelas diceraikannya.


Kirei menangis kembali, aku tidak sadar jika ASInya terlepas dari mulutnya. Aku segera membenahinya, dengan menyandarkan punggungku di sofa. Aku harus memiliki sandaran, daripada aku jatuh terhuyung karena rasa gemetar ini.


“Siapa perempuannya, Pah?“ Bang Givan mengajukan pertanyaan kembali.


“Kau tak akan nyangka, Van.“ Mamah Dinda menggeleng dengan tersenyum getir. Wajah beliau sudah memerah, mamah Dinda seperti menahan tangisnya.


“Kau antarkan siapa, sebelum kau antar anak gadis kau balik ke pesantren?“ Papah Adi seperti mengajak tebak-tebakan.


Apa perempuan itu orang kita sendiri?


“Siapa ya?“ Bang Givan melirik ke atas seperti mengingat sesuatu.


“Jasmine kan, Mas? Tahun ini kan Jasmine masuk pesantren.“ Mbak Canda pun seperti mengingat sesuatu.


“Ohh, anterin Hala pulang ke Pintu Rime.“ Bang Givan menjentikkan jarinya.


“Ya udah.“ Papah Adi menghela napasnya.


Maksudnya bagaimana?


“Bang Ken khitbah Hala?“ Bang Givan melebarkan matanya.


“Ya begitulah.“ Mamah Dinda mengusap wajahnya.


Ini gila.


“Dia ada di sini berarti, Mah?“ Aku tak bisa menahan rasa bergetar ini.


“Ada di rumah sakit, umi Sukma jatuh sakit,” jawab mamah Dinda kemudian.


Ya Allah, cobaan apa ini?

__ADS_1


“Kau diceraikannya belum sih, Ria? Rumah tangga kalian tak jelas betul.“ Mbak Canda terkesan memarahiku.


Tangisku pecah seketika. Aku langsung memeluk anakku sendiri, ia penguatku saat ini.


“Biarin dia, Canda.“ Bang Givan seperti menahan istrinya untuk mendekatiku.


Aku seolah tidak peduli padanya, tapi nyatanya hatiku begitu sakit mendengar kabar pertunangannya itu. Ia benar-benar menyakitiku tak terkira, setelah ia membiarkanku hamil dan melahirkan sendiri tanpa sosok suami.


Apa aku kurang saat mengabdi dan patuh padanya di awal pernikahan kita dulu? Apa ia merasa aku terlalu banyak melawan, sehingga ia benar-benar tidak bisa mempertahankanku? Apa ia tidak bisa berusaha sedikit lebih keras untuk mengambil hatiku dan mengusahakan agar kami bersama? Ia tidak ingin kami menjadi keluarga yang utuh kah?


“Yuk istirahat.“ Aku mendapat tarikan di lenganku.


“Mah….“ Aku menoleh mendongak melihat ratuku panutanku.


“Ayo istirahat.“ Mamah Dinda menarikku agar aku berdiri.


“Ya, Mah.“ Aku menyeka air mataku, kemudian mengikuti ajakan beliau.


Aku diajak berjalan ke arah kamar beliau. Kemudian, kami duduk di tepian ranjang.


“Coba lihat anak kau. Apa dia pakai susu formula juga?“ Mamah Dinda membuka kain gendong polos, yang menutupi wajah Kirei ini.


“Iya, Mah.“ Aku masih belum stabil mengatur napasku.


“Yuk sama Nenek. Bilang biyung buat sufor Adek yuk?“ Mamah Dinda keluar kembali dengan membawa Kirei.


Memiliki kesempatan untuk sendiri, aku malah melanjutkan tangisku. Aku membekap mulutku sendiri, agar aku tidak lepas menangisi kelakuan ayahnya Kirei.


Mamah Dinda lama tak datang-datang, ia seperti sengaja memberiku waktu sendiri untuk menuntaskan tangisku. Aku mendengar obrolan samar. Apa mungkin mamah Dinda keluar kembali untuk mewawancarai bang Givan dan mbak Canda? Bagaimana ini? Orang tua sudah ikut-ikutan terbawa masalahku. Belum lagi jika ibu tahu, ibu adalah manusia yang jika sudah benci ya akan tetap benci sampai kapanpun.


“Mamah….“ Itu seperti suara perempuan lain, aku merasa asing dengan suara itu.


“Hei, ini di depan,” seru mamah terdengar di telingaku.


Aku segera menghapus air mataku, kemudian membuka pintu kamar ini. Wanita muda yang terlihat baru bangun tidur, berjalan ke arah ruang tamu dengan jilbab yang asal menempel.


“Ehh, ada bang Givan.“


Siapa dia? Ia penghuni baru di sini? Apa ia istrinya Gavin? Tapi menurut mbak Canda, Gavin lama pulang, ia tinggal di Lampung. Perempuan itu pun mengenal bang Givan.


“Ada apa, Dek?“ Mamah Dinda menghampiri perempuan tersebut, kemudian membawanya ke arah ruang keluarga.


Aku masih berdiri di ambang pintu kamar, jelas melihat mereka berdua yang berjalan ke arah ruang keluarga yang berada di hadapanku. Perempuan itu, tengah hamil besar ternyata.


Perempuan tersebut memandangku sejenak, kemudian ia langsung duduk di sofa ruang keluarga bersama mamah Dinda yang masih menggendong Kirei dengan sebotol dot sufor itu.


Kirei diajarkan mengenal susu formula, karena ASIku tidak selancar ASI mbak Canda menurut mbak Canda. Kata bang Givan juga, agar Kirei terbiasa mandiri tanpa ASI di saat aku harus kerja nantinya.

__ADS_1


“Siapa itu, Mah?“ Aku mendekati mereka.


“Tanya dong.“ Mamah Dinda tersenyum lebar.


Perempuan tersebut menoleh ke arahku dan tersenyum manis. “Istrinya Gibran, Kak.“


Hah? Si kecil itu sudah menikah? Mamah Dinda dan papah Adi menikahkan anaknya begitu dini? Itu di luar dugaanku.


“Kapan?“ Aku duduk di sofa lainnya.


“Udah sekitar tujuh bulan yang lalu, aku juga udah hamil tujuan bulanan.“ Ia mengusap-usap perut besarnya.


Ya ampun.


“Kau tak diundang, nikahnya di gedung loh.“ Mamah Dinda menaikturunkan alisnya.


Aku jadi terkekeh. Plong sekali rasanya, setelah menangis seorang diri, aku mendapat gurauan kecil.


“Borong empal gentong khas Cirebon loh.“ Menantu baru mamah pun menaikturunkan alisnya.


Alhasil, kami jadi tertawa bersama.


“Udah tau kan, Dek? Ini Ria, adiknya kak Canda tuh.“ Mamah Dinda menunjuk ruang tamu, mungkin karena keberadaan mbak Canda yang ada di sana.


“Oh, iya-iya. Aku sering lihat, Mah. Cuma mungkin Kak Ria tak kenal aku. Aku orang sini, Kak. Tiap hari lewat depan rumah.“ Ia terlihat ramah juga.


“Oh ya? Aku tak tau.“ Sepertinya ia asyik diajak mengobrol.


“Dia tak akan tau, dia wanita karir, Dek.“ Mamah Dinda menunjukku dengan menepuk pangkuan menantunya.


“Oh ya? Aku beban suami, Mah.“


Ia lumayan lucu, kami tertawa kembali.


“Aku baru bangun, Mah. Terus order makanan, lupa tak ada cash,” ungkap menantu baru tersebut.


“Oh, iya. Coba bilang yang anternya, sekalian pesan yang lain. Nanti Mamah sekalian yang bayar semuanya. Bang Givan lapar katanya.“


Menantu baru tersebut langsung bersemangat memainkan ponselnya.


“Kau tak ada uang cash, atau memang tak punya uang?“ Pertanyaan mamah Dinda pada menantunya, cukup membuatku geli.


Aku tertawa lepas.


“Tenang, Mah. Bapak aku juga kaya.“ Istrinya Gibran membuatku semakin tertawa lepas.


Keluarga ini, membuatku tertawa lepas. Menantu barunya ternyata satu server, ia bisa mengimbangi keluarga ini dalam hal humor.

__ADS_1


Masalah berat tak begitu terasa, mamah Dinda seolah mengajarkan agar aku bisa mengatur kesedihanku secukupnya saja.


...****************...


__ADS_2