
"Bang Ken sama Bang Givan yang disuruh, kenapa Cali sama Cala yang dikasih baskom?" tanyaku bingung, saat mamah Dinda memberikan empat baskom untuk mereka berdua. Satu anak, mendapatkan dua baskom.
"Bantuin Nenek juga ya, Dek?" Mamah Dinda memberikan empat lembar daun sawi untuk mereka juga.
"Sobek-sobek gini ya? Yang ini, taruh di baskom warna putih. Yang satu lagi, taruh di baskom warna ungu ini ya?" Mamah Dinda mencontohkan sedikit pekerjaan tersebut.
Serius anak satu tahun disuruh mengerjakan tugas dapur? Dua anak yang seperti kembar, tapi berbeda rupa itu langsung mengangguk. Mereka seperti benar-benar mengerti perintah dari neneknya.
Aku pun duduk bersama dua anak itu, dengan Kirei di pangkuanku. Aku akan mengawasi saja, daripada harus mengawasi dua laki-laki dewasa yang diminta untuk memotong rata beberapa kue mata sapi yang masih digulung itu.
"Adek Kirei mau ikutan juga?" Mamah Dinda tersenyum pada Kirei.
Kirei hanya merespon dengan senyum lebar saja, ia belum mengerti perintah apapun.
"Ne, mam Dek?" Cala menunjuk daun sawi yang berhasil ia sobek.
"Sok mamam."
Eh, kok begitu cara asuh neneknya?
"Adek doyan, mamam tak apa." Bang Givan pun tersenyum lebar pada anaknya.
Cali melongo saja, saat Cala berbicara. Mungkin ia bertanya-tanya, kenapa Cala bisa bersuara banyak.
Cala benar-benar memakan potongan sawi itu, aku yang panik melihatnya dan nenek juga ayahnya malah tersenyum saja.
"Enak tak? Kalau tak enak, keras, lepeh, taruh sini." Mamah Dinda menaruh selembar tisu pada Cala.
Cali menengadahkan tangannya. Mungkin, ia menginginkan tisu itu juga. Namun, ia tidak tahu caranya meminta.
"Nih, untuk Adek Cali nih." Mamah Dinda memberikan selembar tisu pada Cali.
Jujur, aku yang bingung melihat cara asuh mereka. Jika ibu-ibu lain, tentu sudah panik cucunya berada di dapur. Kok ini mereka malah disuruh ikut bekerja?
"Ini Mamah buat, Mah?" Bang Ken mengangkat kue mata sapi yang sudah terpotong.
Mamah Dinda menoleh ke arah mereka berdua. "Tak, Winda bawakan dari rumah ibunya."
Tuh, menantu yang lain itu malah memberikan. Mbak Canda sendiri yang malah meminta.
"Canda bawa ini juga, Mah. Aku kira, Mamah beli." Bang Givan pun menunjuk kue yang sedang ia potong itu.
__ADS_1
Cukup sulit, karena kue itu kenyal.
"Iya, minta segulung katanya buat ngemilnya. Tadinya lima, tinggal empat tuh."
"Ya ampun, istriku memalukan sekaleeeee." Bang Givan geleng-geleng kepala.
Bang Ken dan mamah Dinda tertawa geli. Bang Givan hanya menggerutu, tapi seperti melawak.
"Perasaan, makin menjadi ya setelah di rumah sendiri?" Bang Ken mulai meluncurkan sebuah kalimat untuk membuka obrolan.
Aku yang deg-degan, karena bang Givan melirik sinis ke arah laki-laki yang satu meja dengannya itu. "Jangan sok tau!" ketus bang Givan seperti membuat kapok lawan bicaranya untuk banyak omong.
"Ya memang gitu kok, Van. Siang nawarin, mah bakso nih. Sore datang, mah masak apa." Mamah Dinda mencairkan suasana.
"Demi Allah, Mah. Udah capek aku nasehati dia." Bang Givan geleng-geleng kepala.
"Biarin lah, Van. Kalau dia tak begitu, siapa nanti yang sering bolak-balik ke sini? Kalau Mamah kenapa-napa di rumah, papah lagi di ladang, Canda tak bolak-balik begitu, ya nanti tak ada yang tau."
Kenapa orang tua sering berpikir negatif tentang dirinya sendiri? Ibu pun seperti itu, ibu malah sering dibawa menginap di rumah mbak Canda.
"Gibran suruh di sini aja, Mah. Maksudnya, udah tuh tak usah buat rumah lagi. Biar Mamah ada temannya sampai besok tua. Biarpun kami dekat, kami anak laki-laki yang harus keluar rumah cari nafkah. Setidaknya, kalau Gibran tetap di sini kan? Mariam pun di sini, anak-anaknya tumbuh di sini." Bang Givan sesekali memperhatikan anak-anaknya juga.
"Mamah maunya Canda, kau cepat-cepat buat peternakan anak aja." Mamah Dinda berbalik sejenak dari depan kompor.
"Ya kau kan sama sepupu, bukan sama sekandung. Tengok Giska pakai cup aja juga, kau tak padam tak garang juga." Mamah Dinda sepertinya tahu, bahwa anaknya memiliki skandal dulunya.
Tapi kok bisa ya mereka biasa saja? Apa menurut mereka, hal itu sudah biasa? Atau, keadaan lah yang membuat mereka biasa saja?
"Kenapa tak dari dulu mereka dikawinkan aja, Mah? Daripada jadi iparan begitu kan?"
Hanya ucapan seperti itu padahal, tapi bang Givan sampai memberi gebrakan di meja makan tersebut. Sepertinya, perkataan itu tidak berkenan di hatinya.
"Terus Canda suruh sama kau begitu?!" Bang Givan memelototi bang Ken.
Aku tak menyangka, ternyata bang Givan berpikiran begitu pendek. Masa iya kak Aca dengannya, sedangkan mbak Canda dengan bang Ken. Ya logikanya, mbak Canda tetap bersama bang Ghifar.
"Kau nih kenapa sih? Ngobrol ringan aja, kau naik pitam. Kau bilang minta Ken akrabin kau, dia lagi berusaha buka obrolan sama kau, tapi kau yang sensitif betul." Mamah Dinda mendekati anaknya dan menekan bahu anak sulungnya itu.
"Tau ah!" Bang Givan meninggalkan pisau dan kursinya.
"Yayah…" Cala menangis lepas dengan mengangkat kedua tangannya, saat bang Givan berjalan cepat meninggalkan dapur.
__ADS_1
"Sana kejar, Dek." Mamah Dinda menahanku untuk tidak mengangkat Cala.
Bagaimana sih didikan di sini?
"Yah…" Cali merangkak cepat pergi dari dapur.
Memancing pergerakan Cala kah maksudnya?
"Yayah…" Cala masih menangis lepas, dengan berusaha menggeser anak duduknya.
Ngesot benar-benar mengesot. Ia bahkan bergerak cepat, untuk memindahkan alas duduknya.
Aku penasaran sekali, karena aku merasa bang Givan benar-benar meninggalkan anaknya di dapur ini. Aku bangkit dengan menggendong Kirei, mengikuti pergerakan anak-anak itu.
Bang Givan ternyata bersedekap tangan di ambang pintu rumah. Namun, muncul Gavin yang langsung menghadang kedua anak tersebut.
Cala makin menangis, tapi Cali tertawa menangis melihat ayahnya meloncat ke sana ke mari menghadangnya itu.
"Heh! Bodoh! Anak Gue!" seru bang Givan dari tempatnya.
Cala sepertinya ketakutan dengan Gavin. Ia mengesot ke arahku, kemudian memeluk kakiku. Ia masih mengis saja, tangisnya begitu pilu.
"Adek tak ada yang nolong. Hayo loh." Gavin mengunci pergerakan Cali di depan pintu kamar mamah Dinda.
Kok seorang ayah seperti itu ya? Kok geli aku melihatnya.
Bang Givan melangkah masuk, bertepatan dengan pintu kamar mamah Dinda terbuka. Papah Adi muncul, ia langsung memeluk Cali yang teriak-teriak tersebut.
"Agak gila bapaknya!" Papah Adi menendang kaki anaknya itu.
Gavin tertawa lepas, kemudian memeluk Cali yang sudah memeluk erat kakeknya. Bang Givan menendang part belakang adiknya yang tengah jongkok tersebut, hingga Gavin terjungkal ke sampai, karena tangannya seolah menahan agar ia tidak menindihi anaknya.
"Bodohnya kau! Tak mau anak takut kau, tapi kau nakutin betul. Udah macam Joker!" Bang Givan langsung mengambil Cala yang berada di dekapanku.
"Belum pantas kau ini punya anak, Vin. Ayah itu jadi pelindung gitu loh, ini sih jadi tukang bully, tukang nakutin, tukang paksa, tukang iseng." Papah Adi mengangkat anak Gavin tersebut.
"Ayah gemes ke Adek, Kek." Gavin memeluk ayahnya sekaligus memeluk anaknya.
"Belajar parenting! Kau begitu terus, tak ada ceritanya Cali ikut kau nantinya." Bang Givan mengusap-usap punggung Cala, dengan memelototi Gavin.
Duda tua, ya sewaktu-waktu saja menyayangi anaknya. Duda muda, mengerikan sekali cara asuhnya. Hmm, tak ada betulnya.
__ADS_1
...****************...