
"Ya begitu." Aku bergegas bangun.
Aku yang stress dan butuh cuci muka.
"Gimana? Malah pergi." Suaranya menurun kecewa, kala aku keluar dari ruanganku.
Aku tidak suka dipaksa-paksa begitu. Hal itu membuatku teringat akan tingkah ayahnya Kirei saja.
Tidak terasa, sudah waktunya pulang saja. Saat aku masuk ke ruangan, ia sudah tidak berada di ruanganku. Setelah finger pulang, aku langsung keluar kantor dan mencari keberadaan mobilku yang dibawa Gavin.
Apa-apaan ini?
"Hai!!!" Aku berseru, saat melihat mobilku tancap gas meninggalkanku.
Kenapa ia yang malah marah? Otaknya di mana?
"Kenapa? Berantem?"
Aku celingukan dan akhirnya menemukan bang Ghifar yang tengah berjalan ke arah mobilnya.
"Tak tau, Bang." Aku mengedikan bahuku.
"Ya udah, ikut Abang aja. Marah itu kalau dia begitu. Apa-apa yang buatnya tersinggung, langsung ditinggal begitu aja. Acara makan keluarga, kumpul keluarga. Kalau ada yang menyinggungnya, ya dia langsung pergi tanpa mikirin apapun. Wataknya begitu dari kecil."
Hah?
Hei, aturannya aku marah. Tapi ya yang sebaliknya padaku.
Aku bergerak untuk duduk di samping bang Ghifar yang mengemudi. Mobil pun mulai berjalan meninggalkan parkiran kantor.
"Wataknya keras-keras lembut. Jangan berpikir ada laki-laki yang wataknya sesuai keinginan kau, itu cuma ada di dalam mimpi. Lewat cerita ini, kau harus paham kalau watak pasangan kau tak bisa jadi seperti yang kau inginkan." Bang Ghifar berbicara dengan fokus mengemudi.
"Aku bingung ngadepin dia. Kan aku juga ada marahnya, Bang. Tapi dia yang malah marah balik. Aku lagi marah dan diamin dia, bukannya dibujuk, aku malah ditinggal." Aku pun ingin pasanganku mengerti tentang mauku.
"Dia tersinggung dengan sikap marah kau berarti. Dia terbiasa dimarahi orang tua secara langsung, langsung dimaki, dibentak, disalahkan contohnya. Kau marahnya diamin dia, ya dia tak terbiasa dan yang ada dia tersinggung karena kau diamin dia. Mending marahin dia tuh langsung bilang kesalahannya, nada tinggi tipis-tipis, biar dia ngerti. Kau cuekin dia, ya udah repot lagi urusannya."
Aku baru tahu dari bang Ghifar, jika harusnya begitu mengutarakan amarahnya pada Gavin. Jika sudah ia tersinggung, bagaimana dong?
"Terus gimana sekarang?" Aku bingung di sini. Aku yang marah, tapi jadi aku yang takut amarahnya berbuntut panjang.
__ADS_1
"Yaaa…. Mau tak mau, harus bujuk dia. Bilang aja kau marah begini begitu, bukan maksud diamin dia. Secara langsung kalau bisa sih. Karena kalau udah ngambek begini, rasa pedulinya itu kecil. Entah-entah dia mau balas chat kau tak. Abang taunya tuh dari kebiasaan dia tumbuh dan bersosialisasi, ya memang dia orangnya kek yang Abang bilang itu." Untungnya ada bang Ghifar yang memberitahu. Jika dengan bang Ken yang tidak memiliki keluarga dekat, sudah pasti masalah begini saja akan fatal karena memang tidak saling mengerti satu sama lain.
Begini ya untungnya memiliki calon pasangan hidup, yang memiliki keluarga besar.
"Tapi dia yang salah, Bang." Dia yang melecehkanku kok.
"Iya cara penyampaiannya yang benar, jangan kau diamkan karena dia mungkin tak sadar dan tak tau. Kau datang ke dia kan, terus kau bilang bukan maksud diamkan atau buat tersinggung. Tapi kau yang salah, karena kau begini dan begini. Kau ngomong, jangan diamkan. Itu cara yang salah dan Gavin tak akan paham, dia tak terbiasa didiamkan untuk mengerti kesalahannya."
Aku manggut-manggut. Intinya, Gavin tidak peka dengan kesalahannya. Oke, aku mengerti.
"Abang pun tak suka kalau didiamkan, bingung lah pasti. Laki-laki itu ngerasa benarnya besar, jadi ya tak paham kalau harus mengerti kode," tambah bang Ghifar kemudian.
"Iya, Bang." Serba salah menghadapi anak muda, lebih tepatnya laki-lakiku yang lebih muda. Segala aku yang ditinggal, padahal aku yang jadi korbannya.
"Di sini aja, Bang." Aku minta turun di depan ruko ibu.
"Oke."
Aku langsung turun, kemudian naik ke lantai atas. Aku ingin membersihkan diri dulu, agar otakku lebih rileks dan suasana hati lebih adem.
Setelah selesai bersih-bersih, aku langsung berhias dan keluar dari ruko. Ke mana ya ibuku? Ke mana juga Kirei?
"Mana ibu, Pak Cek?" tanyaku pada paman yang menunggu toko galon dan toko sembako milik ibu.
Sepertiga waktu ibu ada di sana, sisanya untuk tidurnya sendiri. Memang ibu pasti kesepian, tapi entah bang Givan atau mbak Canda selalu menjemput ibu jika ibu telat datang ke mereka saja.
Aku turun dari teras, kemudian berjalan menuju ke sana. Ramai jika sore hari, bertepatan dengan para buruh yang pulang dan ibu-ibu yang mencari keberadaan anaknya.
Dari luar pagar, aku melihat ada bang Ken di teras rumah mamah Dinda. Ada mobilnya juga, sepertinya dengan calon istrinya juga. Mobil milikku pun ada di sana, Gavin berada di dalam rumah mamah Dinda dan papah Adi berarti.
Aku tetap melangkah menuju rumah mbak Canda. Loh? Ibu ada teras, tapi tidak dengan Kirei. Anak-anak bang Givan pun tengah bermain bersama, dengan para pengasuh yang repot menyuapi mereka.
"Kirei mana, Bu?" tanyaku kemudian.
"Diajak Ken ke rumah mamah Dinda. Bunga sama pengasuhnya pun ikut."
Ya Allah.
"Bu, nanti kalau Kirei diculik gimana? Itu bang Ken loh." Aku sudah frustasi sendiri.
__ADS_1
"Ken kan bapaknya, masa mau nyulik anak sendiri?" Ibu kadang polos sekali seperti mbak Canda.
Ibu tidak tahu saja bagaimana bang Ken dan bahayanya dia.
"Sana ambil, Ria!"
Tuh, kan? Bang Givan dengar.
"Ya, Bang." Aku turun lagi dari teras rumahnya.
Aduh, ada kak Riska di sana. Malas aku berdebat, apalagi jika ia bertanya apa milik bang Ken enak kemarin.
Mau ke sana sungkan, tapi anakku ada di sana. Ditambah juga, Gavin masih marah. Pasti seperti yang dikatakan oleh bang Ghifar, ia hilang peduli padaku.
"Kirei…," panggilku kala memasuki rumah mamah Dinda.
"Hai, baru pulang kerja kah?" sapa ibunya Bunga yang duduk di sofa tamu. Sok akrab betul dia ini.
"Iya." Aku tersenyum sekilas.
"Kata Ghifar, katanya kau ditinggal Gavin di parkiran?" tanya mamah Dinda, yang muncul dengan membawa minuman hangat.
Jika pada keluarga Riyana pasti menyebar gosip kecil saja. Padahal, bang Ghifar pun baru saja pulang kerja. Sudah absen ke rumah mamah dan sudah setor gosip saja.
"Heem, Mah. Mana tuh orangnya?" Aku tetap melangkah ke ruang keluarga.
"Di halaman belakang keknya," jawab mamah Dinda kemudian.
"Kirei mana, Pah?" Tujuanku ke sini untuk mengambil Kirei.
"Dibawa Ken ke belakang, tadi Gavin lewat dia nangis tak diajak tuh."
Hah?
Mereka di halaman belakang semua?
"Ambillin Kirei sih, Pah." Aku memandang pintu halaman belakang dari ruang keluarga ini.
"Tinggal sana aja tuh, Dek. Ada Bunga sama pengasuhnya juga. Papah baru bener duduk, baru pulang terus langsung mandi sholat." Papah Adi memijat lututnya sendiri.
__ADS_1
Aduh, mumet pikiranku.
...****************...