
Aku mendengar suara Kirei, ia sepertinya terbangun. Tapi, aku tidak mendengar suara tangisnya. Apa ia tengah diajak berdialog dengan pakdhe dan budhenya?
“Kirei bangun kah, Mbak?“ Aku menyibakkan gorden kamar, kemudian masuk beberapa langkah.
Sialan! Mereka menodai mata suci Kirei.
Aku menutup wajahku, kemudian langsung berbalik badan. Suara *r*ngan lirih terdengar samar, deru napas memburu disertai dengan suara lengketnya air yang terus menjadi pelumas di antara gerakan mereka.
Mbak Canda tengah menggagahi suaminya di kamarku.
“Aku mau ambil Kirei, Mbak.“ Aku tetap membelakangi mereka.
Lama sekali mereka tersadarnya. Mereka melakukan di bawah selimut, hanya kepala mereka berdua yang terlihat.
“Ehh!“ Suara bang Givan terdengar kalap.
“Tunggu sebentar, Dek. Kirei biarkan aja dulu, matanya juga belum bisa lihat. Toh, dia juga lagi lihat plafon kamar.“ Mbak Canda begitu santainya berbicara.
“Maaf, Ria. Bentar aja, Abang pusing betul soalnya.“ Suara tidak enak itu, berasal dari bang Givan.
“Ya, Bang.“ Aku keluar langsung dari kamar ini.
Sepertinya, mereka lama tidak melakukan ritual itu. Sepertinya juga, mereka tidak mendengarkan sama sekali keributanku dan bang Ken. Kocak sekali memang, mereka malah mengadu h****t mereka.
“Spooning, Canda.“
Telingaku mendengar, otakku langsung membayangkan. Ngeres sudah, rasanya aku ingin menjadi kameramen mereka saja.
“Yang keras, Mas. Tanggung betul.“
Ya ampun, apa itu? Mbak Canda sampai merengek.
“Ekhmmmm….“ Suara bang Givan seperti menggambarkan kegemasannya.
Aku ke dapur saja deh, agar suara gila itu tidak semakin menggangguku. Sekian lama aku tidak pernah memikirkan sentuhan, eh malah memergoki kakak sendiri yang tengah menyenangkan suaminya.
Aku duduk di kursi makan yang menghadap pada jendela luar. Aku menatap lalu lalang di luar, banyak kendaraan berlalu lalang di sekitar rusun ini.
Jujur saja, aku terpikirkan oleh ucapan bang Ken. Ia akan melakukan apa pada anakku? Ia seolah ingin membalaskan dendamnya padaku lewat anakku.
__ADS_1
Aku juga ragu tentang semua pengakuannya, karena seolah tidak ada kebenaran di sana. Bang Ken seperti tengah membacakan sesuatu saja, bukan seperti tengah mengungkapkan bagaimana dirinya.
Menurut kalian gimana? Ia benar-benar jujur, atau memang jujur tapi tidak bersungguh-sungguh saja.
“Tolong panaskan air, Dek.“
Aku sampai tersentak kaget.
Aku menoleh ke arah kamar mandi, bang Givan baru saja menutup pintu kamar mandi. “Ya, Bang.“ Aku turun dari kursiku.
Sepertinya, mereka dari tadi. Karena baru selesai sekarang.
Aku salah fokus dengan bekas merah di bagian dada bang Givan, saat ia baru keluar dari kamar mandi. Aku tak bisa menguasai laki-lakiku seperti mbak Canda. Jangankan untuk membuat merah-merah sebanyak itu, meng****nya pun aku bisa dihitung jari.
Alasan bang Ken apa? Alasannya karena dirinya merasa begitu sensitif, nanti ia bisa keluar cepat. Sialnya, hal itu memang benar adanya. Aku bahkan pernah satu atau dua kali, ditinggal tidur kala dirinya sudah kli***s dan aku belum.
Bang Givan mengambil beberapa helai tisu, lalu mengusapkan ke wajahnya. “Taruh di gelas ya, Dek? Setengah aja.“ Ia membuang tisu tersebut, kemudian berjalan ke luar dari dapur kembali.
Untungnya, aku tidak terlalu banyak memasak air.
Bang Givan kembali lagi, ia sudah mengenakan kaosnya. Mungkin ia menyadari, jika aku sempat melirik ke arah dadanya. Ia membawa plastik ziplock kecil, kemudian langsung mengambil alih air panas yang sudah aku tempatkan di gelas tersebut.
“Apa itu?“ Aku mengamati kegiatannya, ia memasukkan bubuk dari plastik ziplock itu ke dalam gelas tersebut.
Bubuk itu seperti berwarna kuning pucat, dengan isi yang tidak terlalu banyak. Saat tercampur dengan air, seperti ada bau jahenya.
“Ramuan menolak tua,” jawab bang Givan dengan terkekeh kecil.
“Biar tak keriput?“ Aku duduk kembali di kursi yang aku duduki tadi.
Aku ingin ke kamar, tapi khawatir bau percintaan itu masih menguar. Aku ingin mengambil Kirei, tapi khawatir melihat mbak Canda kelelahan di atas tempat tidur dengan tanpa busana. Kan tidak enak sendiri juga aku melihatnya.
“Bukan, biar gagah.“ Ia tertawa malu.
“Kan udah kan?“ Maksudku, percintaan mereka.
“Ya sebelum atau sesudahnya tak masalah, ini sih kek buat enakin badan aja tuh. Jahe sama rempah-rempah gitu, Dek.“ Bang Givan mengaduk isi gelasnya.
Oh, kalau sudah berumur itu harus menggunakan ramuan ya?
__ADS_1
“Penambahan stamina? Atau l****o?“ Aku mungkin sedikit frontal mengatakannya, karena ia sampai menoleh ke arahku.
“Ya mungkin, semacam penambah stamina. Tapi anjurannya, boleh diminum kapan aja. Tak harus, pas berhubungan aja. Yang penting rutin, seminggu tiga kali.“ Bang Givan duduk di kursi kayu di sampingku.
“Mainnya?“ tanyaku kembali.
Ia menoleh dengan menghela napasnya. “Kau kadang-kadang kek Cendol, Dek.“ Ia terkekeh kecil. “Diminumnya, Dek. Main sih kapan aja kalau ada kesempatan.“ Ia tertawa lepas setelahnya.
Jadi tadi adalah kesempatan untuk mereka, di saat aku dan bang Ken tengah ribut. Luar biasa orang cerdas ini.
“Perbedaannya gimana antara minum itu dan tak minum itu?“ Barangkali aku butuh dengan barang itu.
“Lutut tak lemas aja sih keknya, sama hangat gitu badannya. Biar keringatan parah juga, badan tak lemas betul gitu. Apalagi kan, Abang sering kerja kalau habis berhubungan. Jadi kan, butuh tenaga juga biarpun cuma duduk dan mantengin laptop. Punya papah itu tuh awalnya nyobain, tapi jadinya enak di badan tuh beli sendiri. Ya lumayan lah, untuk enakin badan sih. Itu bukan obat kuat, jadi tak bisa tuh berubah jadi Hulk atau Superhero semacamnya.“
Seperti keluhan bang Ken dulu. 'Aduh, lemes betul lututnya. Sakit betul pinggangnya, lemas betul ini badan.' sering begitu setiap selesai berhubungan badan. Alhasil, ia langsung pulas.
“BPOM kah?“ Aku paham jika itu pasti produk dari Indonesia.
“Iya, mamah rutin belikan untuk suaminya karena BPOM. Papah sampai rekomendasikan ke Abang, ya karena BPOM,” jelasnya dengan mulai menyeruput minuman itu.
Baunya seperti minuman jahe, tapi entahlah.
“Eh, nangis tuh Kirei. Sana susuin, Dek.“
Aku pun mendengar suara tangis Kirei. “Ya, Bang.“ Aku meninggalkan kursiku.
“Ya ampun.“ Aku geleng-geleng kepala, melihat kakakku tepar di balik selimut.
Hanya wajahnya yang terlihat. Lipstiknya ke mana-mana, dengan mulut sedikit terbuka. Ia sudah pulas tertidur rupanya. Pakaiannya pun, masih berceceran di mana-mana. Pasti, di balik selimutnya tidak ada baju yang terpasang.
Mbak Canda kebalikannya.
“Aduh, anak Ibu. Kasian sekali.“ Aku langsung mengangkat tubuh Kirei.
“Abis lihat live show, eh pemainnya K.O ya, Dek?“ Aku terkekeh dengan mencium pipi Kirei.
Kei mengincar mulutku, saat aku mencium pipinya. Ia haus rupanya, ia ingin ASInya.
“Yuk, kita meme dulu.“ Aku duduk di tepian ranjang dengan membelakangi pintu. Aku sering mendapat pesan dari bang Givan untuk membelakangi pintu kamar ketika sedang menyusui Kirei, agar ketika ia masuk ia tidak bisa melihatku yang tengah menyusui secara langsung.
__ADS_1
...****************...