
"Jam empat aku datang lagi, aturan itu infus terakhir. Jam tujuh lepas infus, kau harus udah sembuh. Kesian Kirei, Ria."
Tengah malam aku terganggu gerutuan bang Ken. Saat aku melebarkan mataku juga, ada ia berdiri di dekat tiang infus milikku. Perawakannya begitu gagah, wajahnya pun begitu tampan. Pantas saja Kirei tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik.
"Ehh, melek. Kaget." Bang Ken mengusap-usap dadanya sendiri.
Aku jadi terkekeh pelan. "Masih kaget aja, ampun deh." Ekspresinya lucu sekali kala terkejut denganku.
"Itu suami kau kalau tidur memang gitu kah?" tanyanya dengan menunjuk Gavin dengan dagunya.
Aku langsung menoleh pada suamiku yang dewasanya kadang-kadang, tapi aku suka. Mendengkur keras, pemandangan pertama yang aku lihat tentang Gavin. Tidak ada yang aneh, kecuali memang ia memakan tempat.
"Memang begitu tiap hari juga, Bang. Ada apa sih memangnya?" tanyaku kemudian.
Bang Ken terkekeh sumbang. "Lucu." Berbarengan dengan satu kata keluar dari mulutnya, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Sepertinya obat yang itu, disuntikkan lagi ke tubuhku.
"Aku udah ambil hasil tesnya, kebetulan labnya kan nonstop untuk keadaan darurat. Kau tak apa, tapi perlu cek USG deh. Hormon hCG kau ada, menandakan kau tengah hamil." Ia mengumpulkan sampah medis di nakas, kemudian merogoh kantong jaketnya.
"Tak mungkin deh, soalnya aku lagi haid." Aku langsung beralih dalam posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
"Nih hasil tesnya, aku ada curiga jadi aku daftarkan juga darah kau untuk tes itu. Nih tengok, Dek." Bang Ken menyodorkan selembar kertas tersebut.
"Duh, tak paham aku." Aku tidak mengerti apa yang harus dibaca.
Leukosit, trombosit dan segala macam dengan jumlahnya. Apalah ini, tak paham juga aku ini.
"Ini loh." Bang Ken menunjuk kolom yang dimaksud.
"Tapi aku haid, Bang. Lagi haid aku ini, hari pertama kemarin tuh." Karena sekarang sudah dini hari, makanya pagi tadi aku menyebutkan kemarin.
"Ya makanya aku bilang USG aja. Bisa jadi itu pendarahan implantasi, atau memang alarm bahwa ada gangguan dalam kehamilan. Kalau cuma sekali, fix itu berarti implantasi. Maksudnya, tak berulang tiap bulannya. Hal yang wajar terjadi, istilah umumnya nyiram bulan. Gangguan pada kehamilan itu, biasanya menstruasinya berulang dalam kondisi mengandung."
Bayangkan ekspresiku saat bangun tidur, lalu diberi keterangan yang membuat shock begini.
"Implantasi itu apa?" Aku tidak mengerti bahasa medis.
"Keluar darah saat hamil muda menandakan embrio yang berkembang menanam dirinya sendiri di dinding rahim. Jenis pendarahan ini sering terjadi sekitar waktu haid yang seharusnya. Tepatnya terjadi antara 6-12 hari setelah pembuahan, saat sel telur yang telah dibuahi ditanamkan ke dalam rahim. Tapi biasa sering terjadi, malah cuma satu atau dua hari aja. Tergantung kondisi tubuh masing-masing. Untungnya, aku pakai obat yang aman untuk ibu hamil. Kalau salah pilih obat, bisa amsyong aku dikira pembunuh janin." Ia menyatukan sampah medisnya ke kantong plastik yang ia bawa sendiri.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengusik waktu tidur suamiku. Aku menepuk-nepuk pipinya, kemudian menyebutkan panggilan kesayanganku padanya.
"Yang, Ayang Apin. Heh, bangunlah dulu." Sungguh, aku mendengar bang Ken terkekeh.
Apa lucu panggilan itu?
"Yang…." Aku menarik-narik pipinya.
"Hmm…." Ia menggeliatkan tubuhnya.
Matanya terbuka perlahan, pandangannya langsung kaget karena ia langsung melihat bang Ken. Kemudian ia melirikku dengan alis menyatu.
"Ada apa, Bu?" Ia mengucek matanya dan beralih dalam posisi duduk.
"Katanya aku hamil, Yang." Aku memberikan selembar surat itu pada suamiku.
"Kok malam-malam bisa hamil?" Ia masih mengucek matanya.
Bang Ken langsung terbahak-bahak, dengan memutar tubuhnya membelakangi kami. Bagaimana ya? Aku tahu ia bangun tidur, tapi kenapa suamiku mendadak blank seketika.
"Apa nih?" Ia menunjukkan selembar kertas itu.
"Kok bisa?" Matanya merah karena dipaksakan untuk bangun.
"Ada apa? Ada apa, Ken? Vin?" Papah Adi muncul dari pintu kamarku yang terbuka lebar.
Tawa bang Ken mengganggu tidur semua orang.
"Ria hamil, Pah. Kemungkinan implantasi, tapi pada panik. Kata Gavinnya, malam-malam kok hamil. Mungkin mikirnya, kalau malam hamilnya libur dulu," jelas bang Ken dengan tertawa geli.
Tersinggung aku, suamiku ditertawakan terus.
"Ohh, ya udah besok USG. Implantasi sih tak apa, mamah pun implantasi waktu ngandung Gavin sama Gibran. Untuk mastiin kondisi, USG aja besok tuh." Papah Adi membenahi sarungnya.
"Iya gitu kata aku juga, entah apa yang ada di pikiran mereka." Bang Ken mengedikkan bahunya.
"Aku waktu ngandung Kirei tak begitu, kaget loh aku. Apalagi tadi bilang, kalau berulang berarti ada masalah sama janin." Aku gagal fokus dengan penjelasan bang Ken.
__ADS_1
"Ya iya betul lah, Dek. Kalau implantasi tiap bulan, ya ada masalah berarti. Implantasi itu sekali aja biasanya, di bulan pertama aja. Sel telurnya itu pindah ke rahim, biasanya awal plasenta dibentuk kan? Biasanya pun, itu terjadi setelah usia kehamilan satu minggu. Makanya coba besok USG, sekarang lanjut tidur." Papah Adi cerdas juga masalah begini.
Mungkin karena istrinya sering hamil.
"Tapi aku kacau, Pah." Kantukku tiba-tiba hilang.
"Tuh, tak apa katanya. Lanjut tidur deh." Gavin membaringkan tubuhnya lagi.
Dasarnya kebo, memang! Ia bahkan langsung mendengkur, setelah hitungan ketiga.
"Udah tak apa, tidur aja sekarang." Bang Ken membawa sampah medisnya. "Pah, numpang tidur di depan. Tanggung, jam empat ganti infus lagi. Aku baru pulang dari luar tadi jam setengah satuan." Bang Ken berjalan ke arah pintu.
"Ada Ibu sama Kirei entah di kamar mana." Papah Adi keluar kamar lebih dulu.
"Di ruang tamu tak apa, Pah. Cuma maksudnya, aku tidur di sini gitu." Bang Ken menutup pintu kamarku lagi.
Duh, kebelet pipis.
"Yang, anterin pipis." Aku mengganggu tidurnya lagi.
"Aduh, Ceriwis!" Gavin menggigit pahaku.
Ceria, dibilangnya Ceriwis.
"Pegangin tempat infusnya tuh." Untung ceboknya bisa menggunakan selang semprot, tahu tangan kiriku terpasang infus.
Darah haid cenderung tidak ada, karena sisanya hanya kecoklatan saja. Apa benar aku implantasi saja? Kok deg-degan implantasi itu, seolah seperti penyakit bahaya? Karena memang aku kurang wawasan seputar kehamilan kali ya? Karena yang aku tahu, updatenya harga saham saja.
Mungkin karena keadaan semangat, aku jadi mendadak sehat. Bang Ken menitipkan catatan medis milikku, katanya suruh ditunjukkan pada dokter. Padahal itu catatan medis darurat, ia bahkan baru membuatnya. Karena menurut penjelasannya, dokter kandungan harus tahu jejak riwayat obat apa saja yang diminum atau disuntikkan ke tubuh ibu hamil.
Jam setengah depan pagi aku sudah ikut antrian, sepagi ini sudah mendapatkan nomor lima puluh dua dan sudah berjalan dua belas nomor di depan. Soalnya jam tujuh tadi, infus baru habis dan dosis obat terakhir diberikan katanya. Entahlah, aku tidak mengerti aturan dokter.
"Jadi kau hamil nih ceritanya?" Gavin melirikku dengan menahan senyumnya.
Aku tiba-tiba teringat lontaran kalimat dari bang Ken, yang mengatakan aku hamil dengan siapa. Moodku langsung buruk, karena Gavin seolah memojokkanku dengan kalimatnya.
Bibirku langsung rapat, kemudian aku memeluk lengannya. Benarkah hamil? Moodku jadi sekacau ini.
__ADS_1
...****************...