Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD8. Mengobrol hangat


__ADS_3

“Tak, sama Om Arman.“


Aku langsung menegang. Benarkah ini Arman mantan kekasihku saat di novel Canda Pagi Dinanti?


Aku langsung memakai hijabku asal, kemudian keluar dari kamar. Arman tengah berdialog dengan Ra dan Chandra, di belakang mereka ada ibu yang membawa senampan kue kering dan dua gelas teh yang asapnya mengepul.


Aduh, baru juga aku ingin beristirahat.


“Ria, maaf ganggu.“ Ia tersenyum lebar.


Saat usiaku empat belas tahun dan baru menjajal rasanya berpacaran, ya dialah pacar pertamaku. Di mana mbak Canda terus melarangku untuk bertemu dengannya, karena mbak Canda memintanya untuk datang ke rumah. Sedangkan, Arman yang masa itu masih kelas tiga SMA, dia tidak berani untuk berkunjung ke rumah wanita.


“Tak apa.“ Aku mencoba ramah dengan membalas senyumnya.


“Aku besok udah berangkat lagi ke Banda Aceh. Aku ke sini cuma mau minta nomor WA kau aja, Dek.“ Ia memberi kantong plastik berlogo minimarket.


“Tadi kau bawa buah, sekarang bawa lagi. Tak usah repot-repot kalau mau main tinggal main aja, Man.“ Ibu menaruh senampan sajian itu di atas meja.


“Ayo pulang, Dek?“ Chandra mengajak Ra dengan nada lembutnya.


“Mau minta ciki dulu.“ Ra menunjuk kantong plastik yang baru berpindah tangan padaku.


Aku selalu istighfar pada satu anak itu. Aku membuka isi plastik berwarna putih ini, dengan Ra yang langsung memilih isi di dalamnya.


“Udah, dadah….“ Ia langsung pergi mendahului kakaknya.


Ibu terkekeh dan ikut turun dengan Chandra dan Ra. Jadi, aku sendirian di sini dengan Arman?


“Duduk, Bang.“ Lumrah di sini panggilan abang dan adek.

__ADS_1


Arman mengangguk dan duduk di sofa dobel, aku menaruh kantong plastik tersebut di dekat meja dan aku duduk di sebelahnya.


“Gimana kabarnya?“ Sebenarnya aku malas berbasa-basi, tapi ia sudah mau sopan dan bolak-balik ke sini untuk menemuiku.


“Baik, kau?“ Arman selalu memasang senyum simpulnya.


“Baik juga. Kerja apa di rantau orang?“ Lapangan pekerjaan di sini banyak, tapi entah kenapa ia malah memilih merantau.


Aku dulu berpacaran dengannya, sampai ia lulus dan bekerja sebagai kurir paket. Ia dibayar perpaket dan ia banyak mengeluh dulunya, karena ia merasa tidak cocok dengan pekerjaannya.


“Jualan bihun gulung, tau tak? Bihun yang disiram telur itu, terus digulung di tusuk sate?“ Ia duduk sedikit serong ke arahku. Membuat lututnya bersentuhan dengan pahaku.


Aku mengangguk. Aku tahu, karena banyak yang berjualan bihun gulung juga di sini.


“Kenapa tak jualan di sini aja?“ Memang di sini banyak yang berjualan bihun gulung, tapi aku yakin ia pasti laku jika berjualan di sini juga. Karena di pasar malam pun, yang diburu adalah bihun gulung dan telur gulung. Itu seperti makanan best seller-nya pasar malam, bahkan seperti flash sale. Karena sudah mengantri, kadang kehabisan juga dan kami harus menunggu pedagangnya merendam bihunnya lagi.


“Mentalnya tak siap kalau di depan orang kenal.“ Ia memamerkan giginya.


“Sehari habis berapa kilo bihun?“ Aku bisa menghitung omsetnya dari jumlah bahan baku yang ia gunakan dalam sehari.


“Paling sepi itu, sekilo bihun. Kalau lagi hujan aja gitu, atau datang ke sekolahnya telat. Kalau Jum'at aku libur jualan, bingung sih tanggung sholat Jum'at. Kena razia, nanti malah repot lagi.“ Arman tertawa kecil. Tapi, menurutku tidak lucu.


“Satu gulungnya seribuan kah?“ Umumnya sih seribu setahuku, tapi aku ingin memastikan saja.


“Iya, seribuan.“


Aku yakin uangnya banyak, karena menurut hitungan dalam pikiranku. Pendapatan kotornya sebulan bisa sampai lima belas juta, mungkin bersihnya sekitar dua belas jutaan. Karena ia pedagang keliling, ia tidak membayar tempat untuk lapaknya berjualan.


“Sebulan dapat ya lima belas jutaan sih?“ Jika obrolan bisnis, menurutku tidak terlalu sensitif obrolan tentang seperti ini. Tapi entah, jika Arman tidak ke sini lagi, berarti ia ilfeel padaku.

__ADS_1


“Kotor.“ Ia mengangguk. “Aku tuh mikirin kedepannya, Dek. Aku tak bisa pegang uang, tak bisa atur uang. Jujur ya? Di orang tua aja, keknya tuh tak jelas tabungan aku ini buat apa. Sedangkan, aku udah pengen nikah.“


Sesi curhat dimulai.


“Terus kau berpikir, cari istri untuk atur keuangan kau?“ Tidak disangka, Arman malah mengangguk.


“Aku kepengen punya usaha ayam petelur. Tapi aku tak punya ilmunya, Dek. Aku sore tadi main ke teungku haji, katanya tak punya usaha ayam petelur, punyanya ternak puyuh dan telurnya. Aku kan pernah dengar, kalau teungku haji di kampung punya usaha peternakan. Aku kira ayam petelur atau ayam potong gitu, ternyata bukan.“


Aku manggut-manggut. Aku mengerti, ia ingin memiliki teman yang berwawasan. Sepertiku contohnya, agar bisa membantunya untuk dirinya membuka usaha.


“Kau punya dana berapa, Bang? Mau ditujukan untuk nikah dulu atau untuk usaha dulu?“ Aku mengerti, ia tidak mau seumur hidupnya berpindah-pindah tempat terus untuk berdagang.


Mamah Dinda dan papah Adi adalah patokan masa tua yang diinginkan semua orang, termasuk aku juga. Tapi tidak di masa tua saja sih, mamah Dinda dan papah Adi sedari muda sudah di bawah atap yang mewah.


“Sekarang ada lima puluh jutaan, aku bilang ke orang tua kalau uang aku untuk beli ruko di Banda Aceh. Tapi aku pikir lagi, omset di ruko pasti tak sebesar keliling ke sekolah. Karena kalau keliling kan, kita langsung datang konsumen gitu. Kalau di ruko, pasti kita malah nungguin konsumen datang.“


Pemikirannya ada cerdasnya juga, tapi resiko berkeliling lebih besar. Ya contohnya kecelakaan, karena barang bawaan untuk berkeliling cukup banyak.


“Menurut aku, cantolin ke tanah dulu. Aku ada makelar tanah yang biasa nawarin ke bang Givan. Nanti aku tanya-tanya ke dia deh, barangkali ada tanah kosong yang murah. Tapi saran aku, kumpulkan aja dulu uangnya.“ Karena menurutku, lima puluh juta tidak cukup untuk sebuah tanah ukuran peternakan.


“Kalau gitu, aku nitip kartu ATM ya? Aku nanti nabung dari buku tabungan aja.“


Aku cenderung berpikiran jelek. Ia kira aku tidak tahu, jika zaman sekarang sudah ada penarikan tanpa kartu dan bisa juga penarikan dari buku tabungan.


“Maaf, Bang. Abang pegang sendiri aja, karena aku pun pegang kartu perusahaan.“ Bukan aku sombong, tapi memang aku pun memiliki akses untuk itu.


“Aku tuh tak bisa pegang uang, Dek. Malah nanti habis tak jelas. Dikirimkan ke orang tua, mereka malah main pakai untuk nikahi-nikahin adik aku pakai biaya aku. Tak sukanya di situ aku, Dek. Dilangkahi, pakai biaya aku. Apa ada ijab mau ganti? Kan tak ada. Dikiranya aku tak pengen nikah juga.“ Aku menangkap ekspresi kesalnya.


“Memang udah ada perempuannya?“ Aku mendengarnya mengatakan ingin menikah, sepertinya lebih dari sekali.

__ADS_1


Ia melirikku. “Lah, kan dulu aku pernah bilang kan? Kalau,….


...****************...


__ADS_2