Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD171. Toel-toel


__ADS_3

"Kau tadi sore toel-toel." Ia menunjukku dengan melangkah mendekat. 


"Orang tak sengaja!" Aku menutup botol air yang berada di tanganku. 


Ia malah terkekeh kecil. Aku berpikir ia akan berbuat macam, ternyata ia akan mengambil air minum juga. 


"Jangan bilang mamah, kalau aku lihat film." Ia masih fokus menekan tombol dispenser tersebut. 


Tahu pun memang kenapa? Toh, ia sudah besar juga. Bahkan, ia sudah pernah menikah. 


"Mamah tak mungkin marahin kali." Aku melangkah menjauh dari dispenser ini. 


"Mamah marah besar, karena nonton film dewasa itu sama naik motor 80KM/jam itu sama. Sama merusak otak, menurut ilmu kedokteran," jelas Gavin disertai suara dentingan gelas kaca yang diletakkan di meja bar. 


"Tau dilarang, ya jangan. Kenapa malah dilakukan?" Aku tetap melangkah, hingga menoleh ke arahnya sebelum meninggalkan dapur. 


"Kau sih toel-toel, aku kan jari error." Ia berjalan ke arahku dengan tersenyum mesum dan menarik turunkan alisnya. 


Aku sering melihat ekspresi papah Adi yang seperti itu pada istrinya. Rupanya, ekspresi mesum itu turunan. 


"Aku udah bilang, aku tak sengaja! Aku minta maaf, aku tak sengaja." Aku berbicara ngotot dan melanjutkan melangkah dengan menghentakkan kakiku. 


Tetap saja salah, dasarnya memang wanita letaknya salah rupanya. 


Aku langsung menarik selimutku kembali, kemudian memeluk Kirei. Aku suka bau keringatnya, keringat khas yang bercampur dengan aroma minyak aromaterapi bayi. 


Ceklek… 


Dengan santainya Gavin nyeruntul ke dalam kamarku. Aku sudah ketar-ketir, karena khawatir ia berlaku spontan. 

__ADS_1


"Tenang! Tak usah melirik sampai ke ujung mata gitu, aku cuma mau ambil sarung." Ia membuka lemari yang kuncinya tidak aku pegang. 


Dari awal masuk ke sini, aku memang tidak tahu akan keberadaan kunci lemari tersebut. Memang keadaannya, sudah dalam keadaan terkunci. 


"Kunci nih pintunya, nanti sesama barang ilegal ini bertabrakan." Gavin berkata setelah dirinya memegang gagang pintu kamarku. 


"Iya, iya." Aku menyibakkan selimutku, kemudian menurun satu persatu kakiku untuk menapak di lantai. 


"Kenapa kau?" Aku memperhatikan wajahnya yang masih terlihat di pintu. 


"Toel…" 


Hah?!! 


Ia mencolek dadaku, kemudian ia kabur. Apa itu misi balas dendam? Aku mendengar suaranya yang terkekeh kecil, sepertinya ia senang karena dendamnya terbalaskan. 


Sampai dadaku bergoyang, karena memang aku tidak mengenakan wadah pembungkusnya jika tengah tidur. Aku hanya mengenakan piyama dengan kancing depan. 


Ia gila sendiri, jika sudah diawali. Padahal aku sudah minta maaf, aku pun sudah terus terang bahwa aku tak sengaja. Tapi ia masih terus mencolekku asal saja, padahal aku hanya sekali menoel miliknya tidak sengaja. 


Sampai akhirnya, aku disidang mendadak. Mungkin, karena mamah Dinda dan papah Adi curiga Gavin sering tebar pesona ketika ada aku di depan matanya. Ia mencolok sekali, apalagi ketika aku ke ruangan lain, entah ke dapur atau ke ruang laundry. Ia langsung mengejarku, semata-mata hanya untuk mencolek. 


Aku tentu melakukan perlawanan, bahkan aku beberapa kali menendangnya sekenaku. Ia hanya tertawa lepas, ia seperti menganggap bahwa itu adalah gurauan biasa. Gerakan colekannya itu cepat sekali, muncul, mencolek dan pergi. Ia seperti anak kecil yang iseng, ia benar-benar iseng bukan hanya pada anaknya saja. 


"Cepat kasih keputusan ke Ken, daripada anak Papah disangka perebut istri orang. Gavin terus terang n**** katanya. Takut bablas, tapi malas mau pulang ke Lampung sendirian."


Hah? Apa lagi ini, Ya Allah? Lima hari dekat, dia langsung bilang ke orang tuanya saja. Aduh, Ya Allah. Kenapa laki-laki yang mendekatiku cenderung karena n****? Padahal, aku tidak berbadan menonjol seperti mbakku. Aku pun tidak memakai pakaian yang terbuka. 


"Maksudnya gimana?" Aku bingung dengan kalimat akhir yang papah Adi katakan. 

__ADS_1


Maksudnya apa 'malas pulang ke Lampung sendiri' itu? 


"Pulang ke Lampungnya sama kau!" Mamah Dinda seperti akan membogem kepalaku. 


Sontak aku menghindar. "Loh? Kenapa? Aku di sini kerja belum ada seminggu, aku tanda tengan kontrak tiga bulan trening. Masa aku ikut kerja sama Gavin?" Aku diminta ikut sesuai prosedur oleh bang Ghifar, karena ia berniat memindahkanku ke bagian CEO lagi jika yang mengisi posisi itu mengundurkan diri. 


"Kau urus dia di sana, cuciian, dapur, ranjang. Kau jadi istrinya begitu, Dek."


Hah? Sungguh, makin ke sini makin ke sana. Kenapa langsung menikah? Aku jadi bingung, pokok permasalahannya tadi adalah n****. Aku seolah diminta untuk pergi secara halus, tapi diminta juga untuk ikut Gavin. Ternyata, aku diutus untuk menjadi istrinya. 


"Aduh, Mah. Belum lama aku lega, ini pun masih ada masalah yang belum rampung. Masa iya harus disuruh mengabdi kembali ke laki-laki, mana ini lebih muda dari aku lagi. Aku ingat betul, kecil aku ngaji sambil jagain dia. Aku masih ingat, dia BAB dan aku yang cebok. Aku masih ingat, dia habis mandi aku yang ngeringin badannya dan aku yang nyalinin dia. Mah, kira-kira dong." Aku langsung memeluk lengan beliau. 


"Tapi dia sekarang udah baligh, dia bisa buat kau tak berkutik hanya dalam satu tarik. Jangan disamakan! Dia sekarang laki-laki dewasa, yang hormon dan l*****nya normal. Buktinya, dia tak pakai kaos aja kau yang panik. Dia yang kegerahan, kau yang kepanasan. Dikira orang tua tak paham rupanya." Papah Adi menatapku tajam dan menggeleng samar. 


Aduh, terbaca dan sialnya dipahami dengan baik. 


"Yaaa…. Ser-ser wajar aja, orang asupan mata. Aku kan tak berpikir jauh, apalagi minat cobain segala macam barang orang." Aku sedang membela diri saja. 


"Jadi, intinya kau nolak Gavin?" Mamah Dinda langsung memvonis saja rupanya. 


"Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Dek. Adek tau Gavin wataknya Allahumma paksa. Masih untung dia bilang baik-baik siang tadi, kalau kejadian kek sama Ajeng lagi gimana?" Papah Adi menggenggam punggung tangan istrinya. 


Tapi jika disadari, Gavin ini ternyata cenderung lebih suka ke janda yang belum legal. Waktu Ajeng, kan statusnya masih istri orang. Denganku, memang janda tapi tidak jelas karena bang Ken mempersulit semuanya. 


"Ya aku pun tak mau dia maksa. Tapi aku pun ada berpikirnya kek Ria, mereka ini kek kakak adik dulunya loh. Masa tiba-tiba dia jadi istrinya Gavin?" Mamah Dinda terlihat kurang mendukung keinginan anaknya. 


"Ya nyatanya naluri Gavin tak anggap kakak adek. Gimana dong? Kita udah janji sama dia dulu, untuk dukung dia kalau dia terus terang. Dari beberapa bulan yang lalu, Abang jodohkan dia tak pernah mau. Sekarang, dia minta sendiri tanpa dijodohkan. Abang pun bingung, tapi anak itu pasti kecewa kalau tau kita tak dukung." Papah Adi nampak frustasi. 


Aku pun sama bingungnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2