Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD223. Mencari makan tak dikasih makan


__ADS_3

"Dia tak keberatan pas kau mutusin dia?" Aku ingin tahu tanggapan Gavin diputuskan kekasihnya, sebelum menebar undangan pernikahan kami. 


Katanya sepuluh hari dari hari kemarin, berarti mereka putus sekitar tiga hari sebelum kami menebar undangan pernikahan. 


"Dia cuma balas, ya mungkin ini yang terbaik. Terus dia blokir semua akses komunikasi kami, aku berpikir karena dia marah dan kecewa. Eh, tak taunya karena mau nikah." Ia terkekeh kecil, dengan menyambut semangkuk bubur ayamnya yang diantarkan oleh pedagangnya. 


Aku melirik ke arah jam tanganku. Pukul enam lebih dua puluh, masih pagi. Mungkin setelah sarapan di sini, Lina akan langsung berangkat sekolah. 


"Memang sebelumnya, komunikasi pakai apa ya?" Sungguh di kontak WA-nya tidak ada nama Lina, malah ada nama Safa itu. 


"Telegram, Kak."


Sial, aku tidak pernah mencurigai aplikasi itu. Pernah aku tanya, katanya hanya untuk menonton film dewasa orang Indonesia. Ya semacam disebarkan oleh pacarnya begitu, atau kebobolan videonya. 


"Maaf ya kalau ganggu hubungan Kakak dan suami karena fakta semalam itu, aku pun tak tau kalau bung Gavin udah nikah." Ia berbicara pada buburnya, karena ia hanya memperhatikan buburnya. 


"Tak apa, kami baik-baik aja kok. Yang terpenting udah tak ada hubungan spesial lagi antara kau dan suami aku." Ya kali aku mengatakan kami ribut besar, bisa girang dia. 


"Tenang, Kak. Bukan cuma kontak aku yang diblok sama dia, sosial media juga kok. Aku pun tak mungkin ganggu laki-laki bersuami. Kemarin kami dekat, karena bung Gavin sering ke rumah untuk urus surat izin usahanya itu di bapak. Jadi, kami bisa dekat dan akrab karena aku rutin buatkan minuman masa dia bertamu di bapak."


Aku mencium bau kelicikan keluarga Riyana, tapi tunggu dulu, karena sekarang aku belum bisa melerainya satu persatu. Aku masih amat cemburu dan sakit hati dengan fakta satu ini, dasar bajingan kecil rajin seleksi. 


"Ohh, gitu. Aku bayarin sekalian ya? Aku pulang duluan nih, Adek Kirei nampaknya udah bosen." Aku melirik anakku. 


Ken kecil, tak ada yang dibuang dari wajahnya. Cemberutnya pun sama, manyun-manyunnya pun sama. Alisnya tebal, telinganya seperti tikus kata mbak Canda. 


Enak sekali ia mengomentari anakku. Meski memang benar sih, telinganya seperti jamur yang mekar. Ketika memakai kerudung, telinganya tetap nampak mekar dan bahkan kerudungnya mengembang. Yang penting anakku sehat selalu, pertumbuhan dan perkembangannya sesuai usianya. 

__ADS_1


"Tak usah, Kak. Aku udah dikasih ibu kok untuk sarapannya." Ia langsung memandangku dengan merogoh sakunya. 


Dasar bocah! 


"Udah tak apa. Aku duluan ya?" Aku segera bangkit dan membayarkan dua mangkuk bubur ayam. 


Setelahnya, aku berjalan puluh. Aku tidak memiliki tujuan, masa iya ingin berkeliling terus? Yang ada, sampai rumah nanti lapar lagi. 


Kenapa tadi aku bilang keluarga Riyana itu licik? Karena memang ada kecerdasan taktik yang teraba negatif. Misalnya, tahu beres harus bayar berapa. Atau, mendekati karena ada perlunya. 


Yang ada di pikiranku, Gavin memacari anaknya pak RT agar izin usahanya ini diterima warga dan disetujui RT setempat. Apalagi ia seorang pendatang, yang menjajah kampung ini istilahnya. Orang luar menjadi bos, penduduk kampung malah menjadi buruhnya. Memang membuka lapangan pekerjaan, tapi kan terkesan seperti itu menurutku. 


Wow, ramai mobil pick up mengantri di halaman rumah. Ayah sambungnya Kirei, tengah mencatat sesuatu di kap mobil grand max sejenis pick up. Entah apa namanya lah. 


Kemudian, ia menjadi juru parkir dan tertawa dengan beberapa orang setelah muatan akan dibongkar. Aku kira ia berjalan ke arah mobil lainnya yang mengantri, ternyata ia berjalan ke arahku dan Kirei. Satu kecupan diambilnya tanpa izin dari pipiku, kemudian ia baru mencium Kirei. 


"Waduh, Ayah nyari makan malah tak dikasih makan nih. Gimana sih, Mbu?" Ia melirikku, kemudian ia berjalan ke mobil lainnya. 


Aku berjalan ka arah teras rumah, kemudian duduk bersandar di dekat pintu dan melepaskan kain gendong ini. Aduh, rasanya baju ini mati rasa. Kirei aku dudukan di pangkuanku, aku membiarkannya agar memperhatikan aktivitas di depan matanya. 


Gavin beralih dari satu mobil ke mobil yang lain, hanya untuk mencatat sesuatu yang tidak aku pahami. Kemudian, ia kembali ke depan karena mendapat seruan bahwa mobil truk dari Jawa sudah datang. 


Ia terdengar melakukan banyak perintah, hingga para sopir pick up berdatangan untuk menjadi kuli panggul jahe yang tersimpan di dalam gudang. Aku tidak tahu jumlah panenanya, tapi terlihat begitu banyak menurutku. 


"Bu…. Makan," serunya dari jauh, dengan mengusap-usap perutnya. 


"Apa maunya?" Aku tidak tega membiarkannya kelaparan begitu. 

__ADS_1


Ia berbicara sejenak dengan beberapa orang, sebelum akhirnya berjalan ke arahku dengan melepaskan kaosnya. Bukan kaos yang semalam, sepertinya ia sudah mandi. 


"Ada nasi sisa, kalau tak basi buatkan nasi goreng. Tolong ambilkan kaos lain dulu, yang kering, terus sini Kirei sama aku, sementara kau masak."


Nasi sisa? 


"Mau bubur ayam aja kah?" Sepertinya aku rela berjalan seratus lima puluh meter, untuk membelikannya sarapan? 


"Sejak kapan aku makan bubur? Kek orang sakit aja. Nasi aja, tak apa dibuat nasi goreng aja kalau belum basi. Ada telur kan? Ada kecap kan?" Ia meletakkan kaosnya yang kotor dengan tanah hitam dan keringat di lantai teras. 


Aku harus terbiasa setiap hari mencuci pakaian dengan lumpur itu. 


Aku bergerak masuk untuk mengambilkannya kaos, kemudian kembali dan memberinya kaos dengan warna gelap. Jika warna terang, bisa makin kesulitan aku mencucinya. 


"Ayah ganti baju dulu, soalnya mau gendong Kirei yang cantik. Kirei yang kek marmot kata kak Ra tuh." Gavin langsung mengangkat Kirei dariku. 


Ibu dan anak sama saja rupanya. Mbak Canda mengatakan telinga Kirei seperti telinga tikus, anaknya mengatakan Kirei seperti marmot. 


Segitu cantiknya, dengan alis yang tebal tanpa pensil alis. Ditambah dagu yang sedikit panjang tanpa filler. 


"Temani Ayah kerja, biar tau susahnya jadi Ayah. Keringatan Ayah sampai ke p*****-p*****, gerah, haus, panas meski masih pagi begini." Ia membawa Kirei pergi dengan bukunya yang digulung di saku belakang celana jeansnya. 


Gavin bersikap seolah tidak ada masalah apapun. Apa ia sadar, bahwa ini masih acara ngambekku? Ia semalam menyuruhku diam, sekarang meminta sarapan dengan sedikit paksaan. 


Masa iya aku ribut di depan pekerja, untuk menolak perintahnya itu? Apalagi, hanya sepele. Karena sarapan saja, masa mesti sampai ribut? Kan tak enak, nanti jadi tontonan pekerja. 


Aku masuk ke dalam rumah, kemudian bergerak untuk memotong bawang merah, bawang putih dan beberapa cabai. Semua rempah ini, aku dapatkan di freezer kecil di dapur. Semua bumbu membeku, aku memindahkannya sejak kemarin agar bisa digunakan. Masih segar-segar, tapi membeku. Ya mungkin sengaja agar tidak busuk, tapi cabainya kan jadi mengkisut. 

__ADS_1


Mungkin akan dibicarakan masalah ini, kala perutnya sudah kenyang dan ia tidak dalam posisi repot bekerja ini. Bisa-bisa aku langsung ditalaknya seketika, jika nyerocos saja ketika ia tengah sibuk di tengah pekerjaannya. 


...****************...


__ADS_2