Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD235. Ruang inap


__ADS_3

"Mah, aku lupa minta doa ke kalian untuk keselamatan Riska." Bang Ken menitikan air matanya, kala dalam perjalanan ke rumah sakit. 


"Ke sana ke sini udah takdir, Ken. Mungkin yang kuasa lebih sayang Riska, daripada hidup sama kau." 


Jangankan aku yang jelas memperhatikan dan mendengarkan mereka, bang Givan yang tengah mengemudi pun sampai menoleh ke belakang. Sudah keadaan seperti ini, mulut mamah Dinda tidak ada ramahnya. 


"Mah…." Bang Ken sesenggukan seketika. 


Aku duduk di bangku depan, di samping bang Givan yang tengah mengemudi. Sedangkan mamah Dinda menjadi bantal bang Ken, yang baru tersadar beberapa menit setelah kejang. 


"Berarti kan, tandanya kau belum berubah. Sampai Yang Kuasa tak rela, kalau Riska dampingi kau." 


Mulut mamah Dinda bisa membuat orang mengambil opsi bunuh diri. 


"Ambil positifnya, kau dikasih kepercayaan dan tanggung jawab besar untuk besarkan anak spesial Riska dan kau. Udah anak spesial kau tak punya ibu, kau harus bisa jadi ayah dan ibu terbaik untuk anak kalian." Suara mamah Dinda menurun halus. 


"Mamah ngomongnya gitu." Bang Ken seperti anak kecil yang ngambek. 


"Ya terus gimana? Terakhir Riska bilang ke Mamah itu, katanya udah capek nemenin kau. Mamah tak tau masalah kalian apa, tapi kehamilan di usia tua itu bahaya betul. Ditambah, anak kalian punya kelainan sejak dalam kandungan. Belum lagi, dia punya beban pikiran. Udah begini kan, ya udah mau gimana lagi? Seorang suami yang mengikhlaskan istrinya meninggal dunia itu, istrinya bisa masuk surga. Duh lupa dalilnya, Canda yang ingat." 


Ah iya, aku pun pernah mendengar arti dalil itu. Mbak Canda pernah menyebutkan semua, kala menasehatiku. 


"Itu cuma selisih paham aja, Mah. Tapi Riska nyikapin berlebihan." Suaranya begitu parau. 


"Ya entah masalahnya apa, sekarang cuma perlu ikhlaskan aja. Penyesalan kau, tak bisa buat Riska bangun lagi. Yang sehat, anak kalian butuh kau. Dia butuh ayah hebat, yang mampu secara mental, kecekatan dan finansial." Mamah Dinda mengusap-usap wajah bang Ken. 


"Mamah ngomongnya gitu." Bang Ken menangis lepas lagi. 


"Iya, maaf ya? Udah minta maaf ke orang-orang tuh, kau harusnya ngaji diri. Jangan terus bertahan dengan sifat jelek kau, semua orang bisa lelah nemenin kau. Sekarang sembuh ya? Semangat ya? Demi anak spesial kau, demi Kirei dan Bunga. Dia perempuan kah laki-laki?" Terasa sekali kasih sayang mamah Dinda di sana. 


"Perempuan lagi, Mah." Bang Ken memeluk perut mamah Dinda, karena ia berbantal pangkuan mamah Dinda. 


"Jangan pikirkan lagi penyesalan kau ke Riska, sekarang waktunya perubahan untuk anak kalian karena waktu tidak bisa mengembalikan Riska. Riska pasti senang, kalau kau bisa jaga anak perempuan yang ia lahirkan sampai bertaruh nyawa gini. Pengorbanan dia sampai nyawanya melayang tak sia-sia, kalau anak kalian tumbuh sehat dan bisa menjadi ladang pahala kau. Sayangi dia, bagaimana keadaannya, dia harta yang tak ternilai harganya karena kehadirannya dibarter dengan nyawa Riska." Mamah Dinda mencium kening bang Ken, sampai terdengar suara kecupannya. 


Sesampainya di rumah sakit, ia langsung dipindahkan dengan brankar yang disediakan di depan IGD. Bang Ken langsung mendapat perawatan, dengan aku yang mengurus formulir bang Ken. 

__ADS_1


Ia dipindahkan ke ruang inap, dengan alat bantu napas dan kantung infus berukuran besar berwarna putih seperti saat ia ditangani oleh abi Haris. Bang Givan sudah kembali pulang, hanya aku dan mamah Dinda yang menemani bang Ken di ruang inap. 


Mamah Dinda bermain ponsel, sedangkan aku melihat-lihat ruangan ini saja. Kamarnya bukan VIP lagi, tapi VVIP. Aku tidak tahu, jika asuransi pemilik rumah sakit seperti bang Ken itu terjamin seperti ini. 


Sudah seperti hotel bintang lima, bahkan wangi kamarnya menenangkan dan tidak seperti bau obat. Ranjang untuk keluarga yang menemani pun menggunakan ranjang king size, brankar yang bang Ken pakai pun agak lain. Terlihat besar, kokoh dan nyaman kasurnya. 


"Ria…." Bang Ken menurunkan alat bantu napasnya. 


"Ya, kenapa? Butuh sesuatu?" Aku berjalan mendekat. 


Ia menggeleng, ia menatapku begitu dalam dan lekat. Entah apa arti tatapannya, tapi aku sudah biasa saja. Tidak sar, tidak ser dalam hati. 


"Bu…."


Mampus! 


"Ya, Yah." Aku menoleh ke arah pintu, entah sejak kapan suamiku ada di sana. 


"Pulang. Kirei masih flu, dia rewel untuk ditinggal lama. Udah ada papah juga sama bang Givan." 


Benar saja, papah Adi masuk diikuti dengan bang Givan yang membawa tentengan. 


"Ayo, Mah." Gavin memandang ibunya. 


"Ayo, ayo." Mamah Dinda berjalan ke arah pintu. 


"Sehat-sehat ya, Ken? Mamah pulang dulu," pesan mamah Dinda dengan menoleh bang Ken. 


Bang Ken hanya mengangguk samar. Ia benar-benar down sepertinya, kesehatannya menurun drastis.


"Pulang dulu, Bang." Aku mengambil ponselku yang berada di atas nakas. 


"Ya," sahutnya samar sekali. 


Gavin menyambutku dengan rangkulan, sayangnya rangkulan tiba-tiba menjadi kuat hingga aku menepuk-nepuk tangannya agar melonggarkan tangannya di sana. 

__ADS_1


"Ayang tuh." Aku meliriknya sinis. 


"Panas hati aku." Ia memandang lurus ke depan. "Hamil lah, Bu. Biar paten tak bisa lepas dari aku gitu." Ia melirikku dengan wajah ditekuk. 


"Iya sok, hamili sok." Aku tidak mau ambil pusing memikirkan kenapa aku belum hamil-hamil, karena kami pun baru dua bulan menikah juga. 


Ditambah, aku belum begitu mengharapkan kehamilan karena aku memiliki rawat sesar dan Kirei pun baru enam bulan. Aku khawatir jahitanku pecah di dalam, atau lain sebagainya. Aku orang awam, yang memiliki pengetahuan medis kurang. Jadi aku berpikir sesuai bayangan saja. 


"Mah…," panggil Gavin pada mamah Dinda yang berada tiga langkah di depan kami. 


"Hm, apa?" Mamah Dinda menyelaraskan langkah kakinya dan memandang kami. 


"Tips menghamili Ria, Mah." 


Ya ampun, anak ini. Aku yang malu loh.


"Jangan terlalu sering main, jadi kualitas air m*** kau kurang tokcer. Seminggu dua atau tiga kali aja gitu." 


Frontal seperti ini, jujur aku yang malu sendiri mendengarnya. 


"Tapi kepengen, Mah. Maksud aku, ya suami istri kan wajar aja mau berapa kali sehari." Gavin merangkul ibunya juga. 


"Ya wajar-wajar aja, tapi kan jadi ada penurunan kualitas air kau kalau keseringan dikeluarkan. Jadi ibaratnya, baru dikeluarkan langsung produksi ala kadarnya lagi. Tiga hari sekali lah gitu." Mamah Dinda memberi saran dengan nada kecil. 


"Alasannya kenapa sih harus tiap hari?" Aku menoleh pada suamiku. 


"Memang kenapa sih? Kau kan doyan juga, butuh juga. Kalau udah tua, kita kan cuma bisa ngobrol aja."


Benar juga sih. 


"Oh, iya. Aku tuh keberatan Ajeng ada di rumah, Mah." 


Kami sudah sampai di parkiran rumah sakit. 


"Ya Mamah juga udah bilang, tujuannya untuk apa gitu kan? Kau juga udah buang Cali, jadi Cali mau di sini dimasak atau dikeringkan pun tak masalah, karena kau udah buang dia. Istilahnya, barang yang dibuang kan tandanya udah tak dipakai dan udah tak berfungsi. Katanya belum tuntas ngomong sama Gavin. Ya Mamah bilang, tuntasin dan jangan berani datang lagi ke sini." 

__ADS_1


Memangnya apa yang belum tuntasnya ini? Aku jadi ingin mengintimidasi suamiku. 


...****************...


__ADS_2