
[Ria, kau masih bernapas kah? Mintalah keluarga kau untuk ajukan izin kau di kampus, kau tak boleh terlalu lama libur. Kecuali, kau udah tak bernapas.]
Aku terkekeh, membaca pesan Alfonso. Aku memang tidak berangkat kuliah selama tiga harian ini. Kebetulan juga, fakultasku dan Alfonso berdekatan. Jadi, mungkin ia tahu dari teman-teman satu kelasku jika aku lama tidak berangkat.
Aku belum benar-benar merasa pulih, satu hari yang lalu pun aku dalam perawatan rumah sakit. Alhamdulillah, kandunganku tidak apa-apa. Tapi katanya demamku mengkhawatirkan, membuatku harus mau dirawat inap selama satu hari satu malam.
[Fonso, pulang jam berapa?] Aku membalasnya seperti ini.
[Ini lagi pulang. Ada apa?] Ia membalas cepat.
[Temuin aku di resto Machios di seberang hotel Machios. Aku mau ada keperluan sama kau.] Aku ingin menanyakan seputar tempat mes, atau kontrakan pertahun.
[Ada kekasih kau tak? Aku takut.]
Aku tertawa geli mendapat balasannya.
[Tak kok, kau tenang aja.] Aku merasa, Alfonso lebih bisa dijadikan teman. Hana jauh, membuatku dan dirinya tidak pernah bertemu lagi atau berinteraksi untuk kepentingan kami.
[Oke, aku lagi tunggu bus.]
Aku langsung bergegas, setelah mendapat balasan dari Alfonso. Entah kenapa, aku tidak suka berhias lagi. Aku malas berdandan, meski hanya sebatas memakai lipstik. Wajahku benar-benar dalam keadaan polos, dengan pakaian tabrak warna. Aku tak mementingkan penampilanku sekarang.
Aku langsung bergerak turun dari bangunan hotel ini, kemudian aku berniat menyebrang untuk sampai di resto yang aku janjikan pada Alfonso. Aku ingin tahu juga, sebenarnya ia berinteraksi tidak dengan bang Givan.
“Ria….“ Ia datang dengan memeluk ranselnya.
“Sini duduk, Fonso.“ Aku tersenyum ramah padanya.
“Ria, kau macam mayat hidup.“ Alfonso duduk dengan bergidikan melihatku.
“Aku tak pakai lipstik.“ Aku menyeruput minuman yang aku pesan.
“Aku mau pesan makanan.“ Alfonso mengambil buku menu.
__ADS_1
“Oke, aku mau pesankan takut kau tak selera.“ Aku mengalihkan perhatianku pada ponselku sejenak.
“Ria, kau diawasi dari tadi. Aku tau, karena dia duduk di dekat pintu masuk tadi. Kau tak ngerasa kah?“ Alfonso berbicara dengan buku menu.
Ia tengah mencoba untuk tidak menarik perhatian orang.
“Siapa?“ tanyaku kemudian.
“Kekasih kau yang tinggi besar itu. Kau lagi ada masalah kah?“ Alfonso berbisik-bisik.
Aku paling malas jika bisik-bisik seperti ini. Aku kurang bisa mendengarnya jelas, apalagi ia menggunakan bahasa Inggris.
“Nanti aja ngobrolnya, kalau dia tak ada di sini. Cepatlah pesan, aku pengen makan bareng. Udah lama aku tak makan berat.“ Aku merasa sudah tidak tertarik untuk membicarakan bang Ken.
Aku benar-benar ingin membuangnya dari kehidupanku. Ia memata-mataiku seperti ini pun, karena ia tengah mencari kesalahanku. Bukan ingin tahu keadaanku, atau kabarku.
“Kau aneh, Ria. Aku bahkan makan berat empat kali sehari, biar aku tak makan snack terus.“ Alfonso memanggilkan pegawai restoran.
“Aku lagi sakit, Fonso. Aku tak selera makan terus.“ Mungkin ini yang dinamakan fase ngidam.
Aku tidak sengaja mengikuti arah pandangnya, sampai akhirnya aku pun melihat keberadaannya yang mengenakan kacamata coklat. Apa yang ia lakukan setelah pandangan kami bertemu? Ia malah memanggilkan pegawai resto, memberi uang dan ia berlalu pergi. Aku melihat dengan jelas, jika ia pergi dari sini.
Harusnya ia mencariku, saat aku tengah dirawat di rumah sakit seorang diri. Mungkin aku akan terlena kembali dengan perhatiannya, karena aku tengah dalam kondisi rapuh.
“Kau punya nomor kontaknya bang Givan, Fonso?“ tanyaku kemudian, setelah Alfonso selesai memesankan menu makannya.
“Punya, tapi kita jarang komunikasi. Terakhir dia bilang, nanya aku ambil perguruan tinggi di mana. Udah, itu aja.“
Aku khawatir kisahku malah bocor, jika bercerita dengan Alfonso. Tapi aku butuh teman, untuk mendengarkan ceritaku.
“Kalau aku cerita ke kau, apa kau bakal cerita ke bang Givan? Aku butuh teman berkeluh-kesah.“ Aku pun belum memakaan menu makananku, aku ingin makan bersama temanku.
“Tak, tapi mungkin ke ibu atau ke ayah aku. Ceritalah, kalah kau percaya sama aku.“ Aku yakin dengan ucapannya.
__ADS_1
“Aku hamil,” akuku langsung.
Ia manggut-manggut. Barulah, setelah beberapa detik ia langsung panik dengan bola mata yang mekar sempurna.
“Kau berdosa, Ria. Kau belum menikah.“ Entah agamanya apa, tapi ia tahu akan dosa.
“Aku tau.“ Aku tidak ingin menceritakan jika aku istrinya yang pisah tanpa talak. Tapi menurutku, secara halus ia sudah tidak ingin menjadikan aku sebagai istrinya lagi. Dilihat dari ucapannya kemarin.
“Mintalah tanggung jawab.“ Alfonso menyentuh punggung tanganku sekali.
Aku memandanginya yang tengah berekspresi serius. “Aku dimintanya untuk minta tanggung jawab ke kau.“
Mimik wajahnya langsung seperti ini, 😲.
“Baru aku colek kau satu kali barusan, mana mungkin kau hamil karena sentuhan kecil di kulit aja. Kau bukan sejenis cacing, bukan?“ Alfonso terlihat kesal.
“Aku tau, makanya aku biarkan dia dengan prasangkanya sendiri. Aku muak dengan sifatnya, Fonso. Dia yang berselingkuh, tapi dia nuduh aku hamil dengan laki-laki lain.“ Aku menggeleng lemah.
“Tapi setidaknya, dia harus tau kalau kau ngandung anaknya. Biar anak kau pun tau, biar besar nanti dia bisa nuntut harta warisan dari ayah biologisnya.“
Kenapa jadi harta warisan?
“Keluarga aku kaya, Fonso. Kemarin pun, aku seorang CEO.“ Rasanya aku ingin sombong saja. Aku tidak akan pernah mengajari anakku untuk menuntut harta warisan milik ayah biologisnya.
Ia terkekeh geli. “Aku percaya, tapi kau bodoh. Keluarga dari ibu aku, ada yang bernasib kek kau. Apa yang keluarga dari pihak ibu aku sarankan? Mereka minta dia lahirkan anaknya dan kasihkan ke ayahnya. Bukan apa-apa, Ria. Masa depan kau masih panjang, dia harus urus anak hasil kalian, karena kau udah lelah mengandung.“
“Aku tak mungkin tega.“ Aku tak akan pernah mengambil saran dari Alfonso.
“Terus, gimana rencana kau? Aku bisa datangi dia baik-baik, tentunya dengan kau juga, karena aku takut akan badan besarnya.“ Alfonso sampai mencontohkan tangannya seperti otot kekar bang Ken.
“Aku tak berniat jelaskan ke dia. Aku sakit hati sama dia, Fonso.“ Karena dia sudah tega menuduhku hamil dengan laki-laki lain.
“Terserah kau, Ria. Tapi aku ngerasa bersalah, karena pasti dia salah paham sama aku. Kata aku sih, ayo kita temui dia. Aku jelaskan hubungan aku sama kau sebenarnya, kau jelaskan kalau kau benar-benar hamil anaknya. Dia salah paham, Ria. Kau tak bisa biarkan dia terus dengan pemikirannya sendiri. Memang kau tak pengen bahagia sama dia kah? Kau bisa bahagia, kalau kau jelaskan, terus kau lanjutkan kehidupan kalian dengan anak kalian.“
__ADS_1
Apa aku harus mencoba saran dari Alfonso?
...****************...