
“Iya, Abang janji tak akan maksa untuk freechild. Abang usahakan KB alami, tapi kalau hamil Abang terima. Adek di mana? Biar Abang jemput.“
Lah? Kok begitu? Ada lagi yang seperti itu?
Dasar, Kenandra kentir!
“Tak usah repot-repot, Bang. Aku udah tak tertarik punya anak apa tak sama Abang.“ Aku sengaja berbicara ketus, agar usahanya makin terlihat.
“Kita bicarakan baik-baik, Dek. Abang udah terlanjur cinta sama Adek, tapi main pergi gitu aja.“ Suaranya memelas sekali, aku curiga ia hanya mengiba.
“Kalau cinta, usahanya bukan kek gitu. Bukan minjam HP orang, untuk hubungi aku. Rendah diri, ambil restu orang tua aku dan bang Givan. Aku tau dia cuma ipar, tapi dia tulang punggung kami semua. Tulang punggung mbak Canda, aku dan ibu. Kalau Abang cinta sama aku, ambil hatinya!“ Aku mencoba tegas, meski saat mendengarnya menghubungiku nyatanya aku suka juga.
“Kalau mereka memang udah restuin Abang, aku pasti diminta untuk hubungi Abang sendiri!“ Setelahnya, aku langsung memutuskan panggilanku itu.
Ia menelpon lagi pun, aku tak mengangkatnya. Aku tahu, itu pasti masih bang Ken.
Hampir saja aku merijeknya, karena telpon kedua malah datang dari Dika. Selama aku jet lag di sini, kami tidak pernah bertukar kabar. Ia sibuk dan aku sibuk tidur mencoba membiasakan diri mengikuti waktu di sini.
“Selamat siang, Ria.“ Nadanya ramah sekali.
“Kok tau di sini siang?“ Ada perbedaan waktu yang cukup signifikan antara di Indonesia dan di sini.
“Iya, aku paham ukuran waktu. Mana nomor rekeningnya, aku mau ganti manuk labakhnya?“
Laki-laki dengan iming-iming rekening di awal sungguh menggoda. Bahkan, mereka lebih memukau daripada si tampan. Katakanlah, si tampan dan si pemberani akan kalah dengan si royal.
“Aku ada kok, tenang aja.“ Aku menanggapinya halus.
“Iya aku paham, sampai kau ambil pendidikan di Brasil berarti kau memang orang berada. Tapi aku punya harga untuk kebaikan kau, Ria,” tuturnya sudah tidak terlihat terlalu formal lagi, karena ia tidak menggunakan sebutan 'saya' lagi.
“Kau salah paham, Dik. Lain waktu mungkin bisa kau tukar dengan secangkir kopi, daripada kau transfer lima puluh ribu ke aku.“ Lihatlah, tawanya langsung lepas membahana.
“Oh, bisa-bisa. Kita atur waktunya ya? Aku tak janji bisa nyusulin kau ke sana, tapi kalau aku free, aku usahakan. Kau di Brasilia kah?“
Menurutku, Dika terlalu agresif mendekati perempuan.
“Aku di Sao Paolo.“ Jaraknya cukup jauh dari Brasilia.
“Wow, pusat pendidikan terbaik di Brasil. Berapa usia kau, Ria? Nampaknya kau semangat sekali belajar.“
__ADS_1
Memang Sao Paolo pusat pendidikan terbaik ya? Pantas saja, Gibran mendapat beasiswa di sini.
“Yaaa, kemauan ipar.“ Aku terkekeh garing. Aku akan membanggakan kakak iparku, karena ia mampu membentukku menjadi wanita karir dan pendidikan yang cukup meski aku tidak bersekolah.
Ia tertawa lepas. “Patuh ya? Aku suka perempuan patuh. Dengan dia kirim kau sampai ke situ, dia mau kau jadi orang yang berhasil. Ambil kursus banyak-banyak, karena tak main-main nilai sertifikat kursus untuk sebuah pekerjaan. Kau pasti lebih paham, gimana cara ambil pendidikan tinggi di sana kan?“
Meski orangnya tidak ada di sini, aku malah mengangguk mengiyakan. “Katanya sih, aku ikut sesuai instruksi abang ipar aku aja.“
“Apa? Abang ipar? Kau harus ati-ati, meski dia ipar kau, Ria. Dia laki-laki.“ Ia terdengar kaget.
“Yap, betul. Kau pun laki-laki juga kan sebenarnya.“ Tawanya lepas lagi.
“Apa aku nampak melambai ya? Mentang-mentang aku masih bujang di usia aku sekarang, dikiranya aku ini kurang matang ya?“ Dika masih tertawa saja.
Ia murah tertawa yang menurutku kurang lucu. Atau memang, aku yang terlalu kejam untuk meresponnya.
“Aku kira kau ada ada istri di samping kau sekarang.“ Aku tidak ingin tahu lebih juga tentang dia. Entah kenapa, aku kepikiran kembali pada bang Ken.
“Ada Bunda aku, kau bisa alihkan panggilan suara ke panggilan video.“ Detik itu juga, permintaan panggilan video langsung aktif.
Aku meraih selimut, atau benda lainnya yang sekira bisa menutupi rambutku. Kemudian, mau menerima permintaan panggilan video tersebut.
Kalian ada tidak yang merasa seperti yang aku rasa, ketika bertemu seorang laki-laki yang terlalu banyak memuji?
“Tak, ini pengaruh skincare,” jawabku yang membuatnya tertawa lepas kembali.
Hufttt…. Bosan sekali mendengar tawanya.
“Ini Bunda aku ini.“ Ia mengarahkan kamera ponselnya ke sampingnya.
“Bunda Corla,” celetuk ibu-ibu seusia ibuku, hanya saja ia berambut merah pirang. Eh, entah apa namanya? Karena hanya sekali-kalinya aku mewarnai rambut dan sekarang warnanya sudah di ujung rambut.
“Bunda aku ini, Ria. Bun, ini nih orang baik yang tak biarin aku makan pedas. Perhatiannya tentang orang-orang di sekelilingnya luar biasa.“ Dika memuji lagi, bahkan di depan ibunya.
“Hallo, Tante.“ Aku bingung ingin berkenalan seperti apa.
“Hallo, Cantik. Semangat ya belajarnya, semoga bermanfaat untuk orang-orang di sekeliling kau.“ Ia melambaikan tangannya padaku.
“Terima kasih, Tante.“ Aku mengulas senyum manis.
__ADS_1
Jika seperti ini, aku malah benar-benar semangat belajar. Karena apa? Karena teman laki-lakiku saja seorang pilot.
“Kapan-kapan, mau ke Bengkulu ya?“
Aku tau itu hanya basa-basi saja.
“Insha Allah, Tante.“ Aku tak tahu bagaimana caranya untuk akrab dengan orang asing.
“Nampaknya kau pemalu ya, Ria? Berapa usia kau? Tadi aku tanya, kau tak jawab.“ Wajah Dika kembali terlihat jelas.
Hufttt…. Akhirnya, aku tidak dihadapkan untuk banyak berdialog dengan ibunya Dika kembali. Karena jujur saja, aku bingung ingin berdialog seperti apa.
“Tahun ini aku dua puluh enam, tapi belum genap.“ Dika banyak mengeluarkan pertanyaan yang membuatku segen untuk menjawab.
Seperti, aku pemalu, dia menyebutku orang baik dan masih banyak ucapan lainnya yang membuatku malu untuk merespon seperti apa.
“Serius?“ Matanya mekar sempurna.
“Ya, setahuku.“ Barangkali ibu lupa mencatat tanggal lahirku dengan benar.
“Kok begitu? Kelahiran mana?“ Pertanyaannya semakin membuatku tidak nyaman.
“Jawa.“ Aku tersenyum kuda. Aku tidak berniat membocorkan sejarah hidupku pada orang yang baru aku kenal, karena pasti ia langsung berasumsi jelek tentang ibuku dan ayahku. Lebih-lebih, malah menuduhku hamil dengan majikan seperti mbak Canda.
Aku heran pada mbakku sendiri, karena begitu sembarangannya menuduh ibu hamil dengan suami orang lah, dengan majikannya lah.
“Iya Jawanya di mana?“ Dika sampai menelisik begitu dalam.
“Solo.“ Itu hanya nama kampung halaman ibuku, aku bahkan tidak pernah menginjak Solo.
“Ohh, Solo. Tapi logat kau tak ada Jawa-Jawanya ya?“ Ia memasang senyum mempesona.
Benar aku terpesona. Sayangnya, aku ilfeel karena pujiannya yang berlebihan dan juga caranya yang begitu agresif bertanya.
“Aku dari empat belas tahun udah di Aceh, ikut ipar.“ Aku sengaja tidak memberitahu, bahwa aku di Aceh karena ibuku awalnya bekerja bersama orang Aceh. Ya, ibuku awalnya dipekerjakan mamah Dinda dan papah Adi.
“Abang ipar itu? Kok aku curiga dengan abang ipar kau, Ria. Apa dia berniat turun ranjang nantinya?“ Dika sampai mengusap-usap dagunya yang mulus.
Hufttt…. Segala ia menyudutkan abang iparku.
__ADS_1
...****************...