Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD84. GPS


__ADS_3

Aku tidak mengerti, kenapa GPS di ponselku terus menerus berputar. Memang GPS selalu aktif, hanya saja aku tidak mengerti karena logo GPS itu tiba-tiba terus berputar di sebelah ikon baterai ponselku.


Meski aku sudah mematikan ponselku saat di-charger, tapi GPS itu tetap berputar ketika ponselku dinyalakan. Apa ponselku sedang memperbaharui GPS bawaannya? Tapi, biasanya ada notifikasi untuk memperbaharui aplikasi juga. Tidak main otomatis saja seperti ini.


Apa karena ponselku tidak membeli di negara ini kah? Atau, karena tadi saat penarikan uang aku menggunakan kode OTP yang aku masukan ke nomor SIM card-ku yang aku beli di sini? Jadi, karena ini kartu ATM yang nilainya rupiah. Aku harus memberikan persetujuan melalui kode OTP yang dikirim ke nomor ponsel, untuk nilai tukar yang ditetapkan di sini. Kartu ATM ini, memang bisa digunakan di mana saja. Cabangnya banyak, mungkin jika di negara kita bisa disebut ATM bersama.


Nah, apa karena proses itu kah? Tapi kan, aku tidak salah menekan kode pada mesin tersebut. Masa iya, aku dicurigai sebagai pencuri?


Ah, aku sebaiknya bertanya pada Alfonso saja.


Aku mencari keberadaannya. Dia anak gaming, dia suka menyendiri untuk bermain game. Aku menghampirinya yang duduk fokus pada ponselnya di ruang tamu ini.


Aku berbicara menggunakan bahasa campuran dan isyarat, aku menceritakan dialog dengan bahasa Indonesia saja ya biar kalian memahaminya.


“Alfonso, kenapa GPS aku nyala terus?“ Aku menepuk pundaknya, agar ia sadar dengan keberadaanku.


“Kau aktifkan, ya pasti nyala lah.“ Ia masih fokus pada ponselnya. Kedua ibu jarinya pun sibuk pada ponselnya.


“Tak, kalau tak salah. Ini terjadi setelah beberapa jam aku tarik uang di jalan sana. Aku pakai kartu debit yang bukan punya aku sendiri, tapi aku tau PINnya. Terus, mesinnya mengirimkan kode semacam kode OTP, tentang izin penukaran nilainya. Aku beri izin itu, untuk nilai yang aku ambil aja. Kode sejenis OTP itu, aku kirim ke nomor paket data aku yang di sini, karena nomor aplikasi chatting aku kan masih pakai nomor Indonesia.“ Aku menunjukkan ponselku, kemudian aku membuka kode OTP yang aku dapatkan dari mesin tadi.


“Sebentar, Ria. Aku buat kalau dulu game aku.“ Ia mendengarkan, tapi matanya masih fokus ke game online.


Aku tidak bisa membayangkan, jika jodohku seorang gamers. Pasti aku harus meluaskan sabarku, kecuali aku pun sama seorang gamers juga.


“Dah, nih. Aku kalah. Mana? Coba kau ceritakan ulang, gimana?“ Ia menaruh ponselnya, kemudian ia melongok ke arah ponselku.


“Itu tengok, GPS ini mutar terus.“ Aku menunjuk ikon GPS yang terus beroperasi di sebelah ikon baterai ponselku.

__ADS_1


“Awalnya gimana?“


Sial! Aku harus mengulang ceritaku.


“Kek yang aku bilang tadi, kau dengar tak sih tadi aku ngomong?!“ Aku ngegas di sini.


Ia tertawa kecil. “Ia dengar. Maksudnya, sebelumnya pernah kek gini tak?“ tanyanya kemudian.


“Tak pernah, Alfonso! Aku pernah penarikan dengan kode pun, GPS aku tak nyala terus begini.“ Ini bukan pengalaman pertamaku menggunakan debit dengan mata uang Indonesia.


Alfonso mengambil alih ponselku. Ia melihat ke arah pesan yang masuk, yang isinya kode OTP itu. “Pesannya umum kok, isinya tentang persetujuan dan silahkan salin kode tersebut. Ponsel kau ilegal kah waktu beli?“


Hm, segala menyangka ponselku ilegal. Black market lah istrilahnya. Jadi, ponsel yang belum menebus bea cukai, ponsel yang tidak membayar pajaknya saat masuk Indonesia.


“Tak lah! Aku beli di konter besar, dengan harga normal,” jelasku kemudian.


Kok menyeramkan?


“Kau jangan nakut-nakutin aku! Itu pun karena debit abang aku, dia kasih izin untuk aku pegang dan aku pakai di sini. Bapak kau kan militer, bantu aku dong, kalau aku ditangkap polisi.“ Aku menggoyangkan lengannya.


“Kau pikir bapak aku kerja di persidangan! Bentar-bentar! Aku hubungi teman aku dulu, mana tau dia ngerti. Kalau menurut aku sih cuekin aja sih, Ria. Tapi kau panik sendiri begitu.“ Ia melepaskan tangannya yang aku goyangkan terus menerus.


“Ish! Soalnya tuh, kejadiannya setelah aku narik uang. Jadi aku berpikir, apa ini ada sangkut pautnya?“ Aku merasa aneh saja.


“Iya makanya, sebentar, aku hubungi teman aku dulu.“ Alfonso mengambil ponselnya, kemudian mengutak-atik ponselnya.


Ia begitu fokus, kemudian menghubungi seseorang dan ia berbicara menggunakan bahasa Portugis, yaitu bahasa Brasil sendiri. Sampai akhirnya, ia menaruh ponselnya dan mengambil ponselku.

__ADS_1


“Dia pun tak ngerti, karena dia tak pernah ngerasain GPS berputar terus. Mungkin katanya sepele aja, kau tak perlu khawatir.“ Ia masih memperhatikan GPS milikku yang masih menyala.


“Salah kau, karena kau nanya ke orang yang tak ngerti!“ Aku ingin sekali menampolnya.


“Ya kau pun kenapa nanya ke aku?! Aku jelas tak ngerti, kalau memang ada penarikan uang dengan kode OTP begitu. Aku tak pernah keluar negara!“ Ia malah balas nyolot padaku.


Hufttt! Buat emosi saja Alfonso ini.


Bang Givan dan Gavin tengah pergi, aku di rumah dengan asisten rumah tangga mingguan dan Alfonso saja. Sopir tengah tertidur di ruang keluarga, tidurnya sampai mendengkur.


Sungguh, aku kepikiran karena GPS ini. Apalagi, setelah Alfonso mengatakan bahwa aku dicurigai sebagai pencuri debit. Kalau memang aku pencuri debit, memang polisi di sini memiliki akses untuk debit dari luar negeri ini? Atau, alarm keamanan dari Bank Indonesia memberitahu polisi bahwa salah satu debit nasabahnya melakukan transaksi di luar negeri. Tapi aku rasa, Bank tidak mungkin membuat tindakan jika tidak membuat laporan.


Aku pernah merasakan kartu ATM milikku tert***n mesin ATM, barulah diurus dan diganti pihak Bank saat aku membuat laporan ke pihak Bank.


Apa iya bang Ken membuat laporan karena menggunakan uangnya? Kan ia sendiri yang memberiku izin. Ia pun mengatakan, bahwa ini adalah kartu saver book miliknya. Jadi sepertinya, jelas ia tidak memiliki notifikasi dari transaksi dari kartu ini.


Atau, memang bang Ken yang menipuku? Ini bukan kartu ATM saver book miliknya, melainkan kartu ATM yang biasa ia gunakan. Jadi, kemungkinan notifikasi penarikan di sini masuk ke ponselnya yang terhubung mobile banking.


Tapi, masa iya bang Ken akan menuduhku sebagai pencuri kartu ATM miliknya? Lagi pula, untuk apa mempersulit keadaan dengan melibatkan polisi hanya untuk menangkapku?


Menangkapku?


Oh, ya ampun. Kenapa aku baru mengerti. Ini bukan tentang aku ditangkap polisi, tapi agar keberadaanku diketahui olehnya.


Apa benar dugaan atas pikiranku ini?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2