Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD180. Memberi makan ego


__ADS_3

"Taktik apa? Kau berpikir itu taktik? Di mana tempatnya orang tua membiarkan anaknya berzina? Otak kau pakai, Ken!" Mata mamah Dinda sudah melotot-melotot. 


"Aku tau, Mah." Anak tua itu tak sopan sekali, ia sampai melotot-melotot juga ke mamah Dinda. 


"Kau laki-laki kan? Kau harus tegas untuk diri kau sendiri dan pasangan kau. Masalah Gavin masuk ke kamar Ria, karena kamar itu sebelumnya kamar Gavin. Kami udah tua, maaf kami lupa hal itu. Gavin masuk ke kamar masa itu, posisi Ria tak di kamar kan? Dalam artian, dia cuma masuk ke kamar yang sama kan? Kita ambil positifnya aja, mungkin Gavin ambil keperluannya di kamar itu. Itu di luar kehendak kami, kami tak tau. Tapi Papah udah bilang ke Gavin setelah kami sadar itu, Papah bilang untuk dia ambil beberapa peralatan dan pakaiannya dari kamar Ria. Karena dia tak lama di sini, jadi dia lebih baik pakai kamar yang lain. Kau jangan tarik masalah kau, dengan kesalahan yang tak Ria tau. Kalau masalah Gavin, kau tanyakan ke Gavin. Jangan seolah tambah Ria bersalah di sini. Kau izin ke Papah, untuk coba dekati Ria lagi biar rumah tangga kalian bisa utuh dan bisa akad resmi. Tapi, kesannya kau ke sini nyari kesalahan Ria terus. Kau bahas-bahas dan tarik masalah udah ada terus. Sebenarnya, keinginan kau ini pengen buat Ria ngakuin semua kesalahan yang kau tuduhkan, atau  buat Ria terkesan bersalah dari semua kejadian dalam rumah tangga kalian? Kalau memang ingin kau, buat Ria ngakuin kesalahannya. Apa kau bakal selesaikan rumah tangga kau masa Ria ngakuin itu semua? Kau berbelit-belit sekali, Ken. Udah Papah tarik contoh, gimana caranya dekati istri lagi. Tapi kau menolak saran, kau kekeh pakai rencana kau yang tak terarah itu. Bukan Papah pengen kalian berpisah, tapi Papah kasian sama kalian yang terlalu berlarut-larut gini. Dosa kalian bertambah panjang, masalah kalian tak selesai-selesai. Padahal, secara agama Ria bukan istri kau lagi. Tapi kau yang ngeklaim sendiri, bahwa kalian belum sah cerai. Talak kinayah itu sah, kalau tak campur suami istri lagi dan merujuk secara lisan kembali sampai tiga bulan setelah talak. Kau udah lama pisah, Ken. Jangankan campur suami istri kan? Merujuk secara lisan pun tak turun kan? Tuh, dilihat dari mana kau masih suami istri? Papah dukung, bukan dukung kau campuri Ria kembali. Tapi dukung untuk kau perbaiki rumah tangga kalian, terus kau akad ulang secara resmi di KUA. Kau menikah ulang, bukan rujuk lisan. Kau ngerti tak?" Tumben, papah Adi berkata lembut. 


Apa seperti ini untuk menyampaikan maksud baik pada orang yang keras? 


"Pah, tapi aku tak bilang aku ceraikan Ria." Keras-keras cengeng, ayahnya Kirei sudah mewek saja. 


"Ada namanya talak kinayah, talak secara tidak langsung dan hukumnya sah. Jadi, secara tidak langsung kau ceraikan dia dengan kalimat itu. Kek, pergi kau sana, sana pulang ke orang tua, kalau kau pergi kita pisah, kalau pisah adalah mau kau yaudah kita pisah, ditambah dengan kau ngaku duda dan kau jelek-jelekin istri kau di depan perempuan lain, itu termasuknya juga. Makanya, kenapa mulut laki-laki itu harus dijaga. Kau tiap kali datang ke Ria, ribut lagi, ribut lagi. Dekati, pedekate ulang. Jangan ribut masalah ini masalah itu, rencana ini dan rencana itu. Biar apa begitu? Apa buat kau puas kalau semua masalah kesalahan ada di Ria?" Papah Adi menjelaskan secara perlahan dan dengan suara halus. 


Bang Ken kurang pemahaman sepertinya. 


"Ya udah, Pah. Kita minta tiga bulan untuk pendekatan lagi." Bang Ken menundukan kepalanya dan tertunduk. 


Mulur lagi waktunya. 

__ADS_1


"Tak usah terlalu lama, batin Mamah kaku sendiri. Sebulan kalau tak ada kemajuan, lepasin Ria. Kasihan Hala juga, dia juga perempuan yang berhati dan berharap lebih pada kau." Mamah Dinda menepuk-nepuk paha Kirei. Kirei seperti mengantuk, ia mengeluarkan suara dengung manja. 


"Ya kan aku perlu waktu untuk usahain itu, Mah." Bang Ken menekan suaranya. 


"Iya makanya perlu sebulan aja. Kalau memang tak ada kemajuan, ya tinggalkan. Memang harapin apa kalau sebulan usaha tapi tak ada hasil? Itu bukan untuk bangun perusahaan, Ken." Mamah Dinda memposisikan wajah Kirei ke arah ketiaknya. Herannya lagi, Kirei betah dan sampai pulas dalam posisi itu. 


"Yang kasian sama aku, Bang. Aku pengen plong, aku pengen bebas." Aku menghela napasku. 


Aku tidak tahu, jika semua mata terarah ke arahku. 


Biasanya cuma gimmick, tapi entah juga. 


"Bukan terkekang, capek aja. Gimana ya? Kek seolah tak ada senangnya, tak ada udahnya. Aku ini dari dulu, udah ikhlas pisah tuh. Aku bisa kontrol stress aku waktu ngandung Kirei, aku bisa kontrol pikiran aku dari tentang Abang. Terus, sejak hamil tua sampai sekarang Abang seolah teror aku lagi. Untuk apa gitu, Bang? Udah terlanjur luka, udah terlanjur sakit. Khawatirnya, kalau kita kembali malah aku kurang berbakti dan kurang ngabdi ke Abang. Aku takut rasa hormat aku berkurang, karena kejadian-kejadian yang udah-udah. Apalagi, aku ngerasa masa hamil dan melahirkan itu tanpa peran suami dan support Abang. Aku merasa amat tersakiti, sampai hilang rasa bakti aku ke Abang." Intinya, aku khawatir semakin berani padanya. Hingga nantinya, rumah tangga kami tidak ada keberkahan sama sekali. 


Ini bukan karena pengaruh orang ketiga. Sama sekali, ini bukan karena alasannya aku memiliki feel dengan Gavin. 


"Kan Abang coba perbaiki itu semua, Ria." Ia bergeser tempat untuk lebih dekat denganku. 

__ADS_1


"Memang bisa diperbaiki, tapi apa Abang tak takut kalau keadaan hati aku untuk Abang tak kembali seperti semula?" Pasti saja aku sering mengingat luka lara itu. 


"Takut," jawabnya lirih. 


"Ya makanya aku bilang, baiknya kita udahan aja. Kalau memang kedepannya kita ada feel lagi dan kita bisa perbaiki selisih paham di antara kita, ya kita kan bisa sama-sama lagi." Aku seperti membujuk anak kecil. 


Mamah Dinda dan papah Adi benar-benar tidak ikut berbicara. Mereka orang tua, cukup menghormati anak muda. 


"Kalau kau berpikir kita bisa bersama di kemudian hari, kau salah besar, Dek. Kalau kau memang tak mau sama-sama lagi sekarang, ya nantinya pun kau akan nyesal karena kita tak bisa kembali lagi."


Aku merasakan kesombongannya. Kesombongan yg memb*** buta! Yakin benar ia, bahwa aku akan menyesal. 


"Ya berarti selamat untuk Abang, karena artinya Abang udah menemukan wanita yang tepat. Kalau memang orangnya bukan aku, aku tak masalah yang penting Abang udah menemukan pasangan yang tepat." Aku mencoba memberi makan egonya. 


Ia terlihat berpikir keras, aku berharap ia benar-benar memutuskan untuk melepaskanku. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2