Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD207. Pembahasan keuangan


__ADS_3

"Mbak Canda itu tau beres! Dia tak tau berapa pengeluaran belanjaan bulanan, plus jatah orang tua dan mertua. Dia tak tau berapa biaya token listrik sebulan, dia pun tak tau biaya kebutuhannya sendiri. Yang dia tau cuma milih belanjaan, milih barang dan milik produk, urusan pembayaran itu suaminya. Jadi tak bisa ditebak habis sepuluh juta itu tak sampai, karena dia banyak dapurnya. Yang dipegang mbak Canda itu, uang jajannya sendiri. Anak jajan, dia jajan, beli makanan mendadak, ya uang yang dikasih suaminya untuk pegangan itu. Uang belanja sayuran lain, kadang pun mereka belanja bareng, jadi bang Givan yang bayar. Pantaslah mbak Canda tak sampai habis sepuluh juta sebulan, orang untuk jajan-jajan aja. Kalau memang uang kau yang atur dan kau yang pegang, kau bisa tak kek bang Givan? Itu pun beralasan, karena mbak Canda itu kurang melek teknologi, belanja paket aja taunya COD dan bayar di minimarket. Kalau debit, transfer, itu suaminya yang proses. Kalau kau mau kek gitu, mampu tak penuhi semuanya dan kasih aku untuk uang jajan aku aja? Aku pun tak akan minta sepuluh juta juga kalau begitu." Aku emosi karena hal ini. 


Dulu bang Ken memberikan uang tak terbatas dalam bentuk kartu. Aku butuh, tinggal pakai. Memang sih, beda-beda setiap laki-laki itu. 


"Terus gimana? Kau maunya dipegang kau semua? Miliaran, Riut! Nafkah itu secukupnya, bukan semuanya. Memang mamah aku dikasih nafkah semua uang yang masuk tiap kali panen? Kan tak begitu juga kali. Tak semua hasil panen itu hak kau, karena ada uang untuk produksi kembali, ada uang untuk bayar butuh, ada uang untuk akomodasi, ada uang untuk hal yang tidak terduga kek semacamnya kena hama, kan obatnya beli untuk tanaman itu. Terus, kau maunya kek kak Canda yang token habis pun harus suami yang urus? Nanti gas habis, harus aku yang pasang? Aku tak selalu ada di rumah, kau harus sedikit mandiri kalau aku tak ada di rumah. Aku capek lah kerja, mikir, ngatur, siasati semuanya biar tertata sesuai rencana. Masa aku harus ngintilin kau belanja, ngintilin kau untuk beli sarapan dan bayarin. Mandirilah sedikit, Riut." Ia langsung berubah dalam posisi duduk bersila. 


Mungkin dia berpikir aku ingin diperlakukan seperti mbak Canda. Bukan, bukan begitu mauku. 


"Aku tak ingin begitu diratukan kek mbak Canda, aku tau kau keturunan Riyana, bukan keturunan Adinda. Pikir aku, kau harus pisahkan beberapa kartu untuk uang utama, uang produksi dan satu kartu lagi untuk uang pribadi. Jadi, misal kau punya tiga kartu. Kartu pertama, hasil panen keseluruhan dari ladang kau masuk ke situ. Terus, kah buat kartu kedua. Kau ambil berapa persen yang sekiranya lebih sedikit untuk biaya produksi semua ladang, biar kalau ada masalah ladang kan ada dana cadangan. Terus kartu yang ketiga ini, ini kek laba bersih dari keseluruhan usaha kau. Contohnya, kau ambil untuk bangun rumah, untuk beli mobil, untuk beli aset pribadi. Kalau memang kau pengen pegang kartu itu sendiri, kau harus punya kartu satu lagi untuk aku. Aku kan punya ego untuk beli barang pribadi juga, untuk barang-barang kau, barang-barang anak kau. Tapi jangan kau batasi, selagi kau mampu, aku pun punya aturan untuk beli dan untuk stop pembelian. Tapi kau harus tau, nilainya itu tak sedikit karena kau tak mau tau untuk beli kebutuhan dapur dan segala macam." Aku berbicara dengan ia yang menyimak dengan seksama. 


"Yaudah, nanti aku buatkan. Tiap kali panenan, nanti aku transfer. Syukur-syukur selalu lebih untuk tabungan masa nanti."


Masih ada syukur-syukurnya ternyata. 


"Tiap kali panenan itu berapa bulan sekali?" Jika ia memberikan lima puluh juta untuk empat bulan, ya sama juga bohong.


"Rolling, tiap bulan sekali aku panenan. Dua koma lima hektar ladang panen tiap bulan, aku tak pakai sistem panen serentak kek papah, biar pemasukan selalu ada tiap bulannya meski tak besar. Kalau sistemnya kek papah kan, sekali hasil itu triliunan tapi waktunya lama." Lebih cerdas pemikirannya ternyata. Mungkin karena ada otak mamah Dinda, di dalam perpaduan otak benih papah Adi ini. 


Tapi jika dipahami, lahan kopi memang agak sulit untuk dibuat panen rolling begini. Wajar sih papah Adi tidak menggunakan sistem rolling, jika sistem rolling dipakai, maka yang ada tiap hari selalu ada kesibukan besar di ladang. Jika panen serentak, maka mungkin hanya satu kali tenaga besar keluar. 


"Jangan pelit, jangan perhitungan, kan emosi aku." Aku menarik hidungnya. 

__ADS_1


"Iya, Sayang. Bukan pelit, tapi tak mau terlalu sia-sia. Aku masih pengen besarin ladang lagi, aku pengen punya banyak anak dan banyak ladang untuk warisannya." Ia menarik kedua pipiku berlainan arah. 


"Boleh, aku pasti dukung dan do'ain. Tapi kalau bisa, hamili aku setelah Kirei lima tahun aja sih. Biar aku bisa lahiran normal tuh." Entah bisa tidak, karena kemarin pun ia tidak mau dibuang di luar. 


"Kau istri aku bukan sih?" Urat Riyananya keluar. 


"Iyalah!" Kesal aku ia menanyakan yang ia tahu. 


"Sih tak mau dihamili? Aku trauma dulu, benih bujang aku ditelan terus. Untung tak tumbuh di lambung dia."


Kok tertawa aku? 


Aku memeluk lengannya dengan masih tertawa. Ia benar-benar ingin merasakan s**s bebas dalam pernikahan, maksudnya bebas nges**s semau dia tanpa aturan. 


Seburu-buru itu ya? 


"Mau gimana?" Aku masih diam memperhatikannya. 


"Tinggal pasrah aja sih, aku yang kerja. Memang kau mau apa?" Gavin sosok egois juga. 


"Gantian lah, aku kek alat." Aku langsung cemberut. 

__ADS_1


Ia terkekeh geli. "Kan aku pakai sayang, bukan pakai n**** aja." Ia menarik kaosku ke atas. 


"Aku yang pegang kendali kali ini." Aku mendorong dadanya. 


"Yang enak tuh goyangnya, pas mau ditarik ke atas itu gigit biar aku ngerasain ada sensasinya." Ia pasrah, tapi mulutnya berisik. 


"Iya sambil belajar, jangan protes aja tuh." Kesal tapi gemas sama makhluk satu ini. 


"Kau enak, tapi tak bisa berkreasi, Cantik." Mulutnya masih saja ngedumel. 


"Kau urus Kirei, nanti aku ikut senam kegel, tantra, yoga, segala macam." Aku menarik celananya. 


"Tak usah lah! Tanya aja ke ipar-ipar kau, gimana cara goyang biar berasa ke suami gitu."


Sudah tegang saja batang bervarises itu. 


"Pelit!" Aku langsung menarik miliknya. 


Ia tertawa geli. "Enak, serius. Cuma tak punya skill aja." Masih meledek aku saja. 


"Rasakan!" Aku mulai menyerangnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2