Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD6. Adik kakak


__ADS_3

“Bentar, Dek.“ Ia tengah menyeka airnya dengan tisu.


“Cepat cek dulu. Kan katanya dokter.“ Demi apa coba, aku ketakutan sampai masih tetap membuka kakiku.


Pelepasan penuh dengan kerumitan untukku. Aku melepaskan lama yang tidak dikeluarkan, tapi aku pun ketakutan karena melepaskan yang tak seharusnya dilepaskan bersamanya.


“Hm, bagus bentuknya.“ Ia memperhatikan intiku dengan mengarahkan senter ke sana.


“Aman, Dek. Selaput dara itu bisa sobek juga karena jatuh dari sepeda, tapi punya kau masih berbentuk sempurna.“


Jelas, karena aku bisa bersepeda pun di usiaku lima belas tahun. Hanya awal saja aku rajin bersepeda untuk ke warung dan ke pasar, untuk membantu kakakku berjualan. Waktu itu pun, ya terakhir kalinya aku bersepeda juga. Karena aku disibukkan dengan karirku di perusahaan, sejak saat itu aku mulai digembleng mengejar ijazah dan sertifikat keahlian. Ya contohnya, aku bisa menjahit dan membuat busana karena ikut kursus dan mendapatkan sertifikatnya. Terakhir, aku ikut seminar tentang sebuah buku. Tapi, nyatanya aku mengantuk. Aku tidak minat membaca atau tentang teori, aku lebih suka ilmu praktek.


“Jangan lagi-lagi begitu!“ Aku langsung duduk dan memukulinya.


Ia terkekeh geli, dengan mencoba menahan tanganku. “Maaf ya? Maaf, Dek.“ Ia kini malah mencoba memelukku.


“Tak mau aku! Apaan, jarinya ke mana-mana! Tak ramah!“ Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


“Kau cuma perlu rileks, Dek. Itu enak, cuma kau kurang tenang aja.“ Lembutnya tutur yang setelah dikeluarkan itu.


“Tau ah! Apa maksudnya coba?! Memang aku ini apa? Macam aku ini perempuan yang mudah dicolok-colok. Abang punya pacar, sana aja sama pacarnya! Ngapain sama aku?! Kan Abang tak tertarik sama aku, tak cinta sama aku, mungkin Abang berpikirnya aku masih gadis dan mudah dibohongi. Kalau sekali lagi Abang begitu, tanpa izin main langsung begitu aja, aku buka kasus hukum. Mending sama pacar, pantas dengan alasan suka sama suka. Ini apa coba?! Aku juga tak open BO, aku tak kasih izin juga. Udah masuknya pelecehan dan pencabulan itu!“ Aku bersedekap tangan dengan memandangnya tajam.


“Iya, maaf ya?“ Senyumnya terlihat begitu kaku.

__ADS_1


“Motifnya apa? Cuma untuk pelampiasan n**** Abang aja kah?!“ Aku ingin tahu jelasnya.


“Tak begitu, Dek. Abang percaya sama kau, makanya dari awal Abang agak intens sama kau. Cuma, Abang juga tak mau ada hubungan kedepannya. Abang bakal dikira pedofil nantinya.“ Ia memamerkan giginya.


Jadi, intinya apa???


Oke, aku jelaskan ya pemirsa. Untuk sudut pandang orang pertama kek cerita aku gini, kekurangannya banyak. Salah satu contohnya, kalian tidak akan tahu sudut pandang tokoh lainnya selain tokoh utamanya saja. Seperti pada novel Sang Pemuda, Belenggu Sang Pemuda, Canda Pagi Dinanti dan Istri Sambung. Maklum lah, authornya amatiran. Belum mampu menguasai sudah pandang lain, atau lebih sering disebut dengan POV.


“Terus maksudnya apa? Abang intens sama aku, tapi tak ada kejelasan untuk kedepannya? Abang mau manfaatin aku???“ Aku mulai meninggikan suaraku.


“Kita adik kakakan aja gitu, Dek.“


Cuih!


Aku berani? Ya, aku berani. Sayangnya, aku munafik. Aku tak akan pernah mengakui bahwa aku tertarik padanya, nyaman dengannya, bahkan cinta dengannya. Karena aku yakin, masanya ia tahu aku memiliki rasa padanya, ia akan lebih semena-mena menjadikanku penyaluran pelepasannya.


Aku sudah siap dengan pakaianku, wewangian dan bahkan hijab yang wajib aku kenakan ketika sampai di provinsi tempat karirku berkembang. Masa bodoh dengan Bunga, biarkan ia menyusahkan ayah dan kekasih ayahnya.


“Dek, kau betul mau pulang lagi? Katanya mau liburan bareng di sini?“ Ia mengikutinya yang berjalan ke arah pintu.


Aku harus menarik kembali koper berukuran sedang, yang isinya belum aku buka sama sekali. Kesal dan kecewa memang, tapi akan lebih menyakitkan jika bertahan di sini.


“Aku punya kerjaan mendadak, Bang. Aku pergi pun, untuk menghindari tuduhan bahwa aku ini orang ketiga di hubungan Abang dengan Putri. Aku lebih sayang dengan harga diriku.“ Aku langsung membuka pintu hotel dengan sebuah kartu kamar yang aku miliki.

__ADS_1


Aku tak mau marwahku sebagai seorang perempuan yang dikenal baik-baik harus tercoreng dengan sematan orang ketiga. Biarkan orang-orang tahu aku adalah perempuan baik-baik di sisi baikku saja, yang terpenting aibku tidak diketahui banyak orang.


“Ria….“ Bang Ken memanggilku yang sudah keluar dari kamar hotel ini.


“Ria!!!!“ serunya lebih keras lagi.


Masa bodoh! Adik kakak sialan! Aku tak butuh kakak yang suka dengan kelam**ku saja. Tidak ada saudara yang lumrah dengan kegiatan ranjang, kecuali sepupu yang sudah dinikahkan.


Untuk bang Ken. Kau tenang saja, bang. Karena aku tak berniat menyebarkan kegilaan kau, dengan kamuflase adik kakak itu. Dengan perlahan, aku akan mencoba menjauhimu. Agar aktivitas kita, tidak begitu intens bertemu. Agar kami pun, bisa menjaga jarak dan menjaga perasaan kami.


Aku paham, akan sulit membuang kenyamanan yang sudah merasuk ini. Tapi, aku mengerti, bahwa melanjutkan mengejarnya yang tidak memiliki tujuan hidup denganku, hanyalah membuat lelah saja.


Tentang judul novel ini, semoga bukan dudanya si bang Ken yang dimaksud. Semoga, aku mabuk duda-duda yang lain saja. Satu lagi, semoga novel ini tidak tamat di episode sepuluh karena kejadian ini.


Rasanya aku ingin memarahi author sekarang juga, karena menarik hubungan adik kakak palsu karena tidak mau bertanggung jawab untuk kehidupanku selanjutnya. Untuk para remaja-remaja yang beranjak dewasa, pliss jangan sampai mencoba menjalin hubungan adik kakak atau friend with benefit. Hal itu merugikan perempuan saja, dengan laki-laki bebas dari tanggung jawabnya.


Sedikit mengoceh dalam batin, rupanya aku sudah sampai di Bener Meriah kembali.


“Yang abis libura kok cemberut gitu? Tadi Arman ke sini loh.“ Mbak Canda, kakak satu ibu denganku mula mengisengiku dengan kata-kata yang minim faedahnya.


“Arman?“ tanyaku memastikan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2